Featured Posts

Cerita Tentang Kasih Bapa >> What They Say About Bible << Alkitab itu apa? Mulanya saya membaca Alkitab seperti kewajiban saja, seperti rutinitas, dan saya melihatnya seperti sebuah buku pedoman hidup saja, yang...

Read more

Keluarga Oh.. Keluarga “ Sekali lagi kudengar suara piring pecah, AKU AKAN PERGI DARI SINI !!!!!” Jeritku dalam hati. “Tetapi jeritan itu tak dapat kulakukan, aku tak dapat melarikan diri dari neraka ini. Aku nggak...

Read more

Waduuh... Bocor!!! Rencana untuk sampai rumah secepatnya ternyata harus digagalkan karena ban motor yang kempes, dan ternyata ini bukan sekedar kempes tapi bocor. Terpaksa harus menuntun motor kesayangan menuju tambal...

Read more

Lagi Patah Hati? Siapa yang pernah merasakan rasanya patah hati? Hmm.. biasanya anak-anak muda pernah nih merasakan yang namanya 'patah hati' entah itu karena ditolak gebetan, karena tiba-tiba diputusin pacar, atau mungkin...

Read more

Tekhnik Membelah Roti Pelajaran hari ini adalah bagaimana cara membelah roti coklat dengan benar menjadi 2 bagian yang adil. Alat yang dibutuhkan tentu saja pisau yang tajam. Bagaimana kita tahu kalau pisaunya cukup tajam?...

Read more

twitter

Follow on Tweets

  •  

Cerpen – Tak Akan Pernah Sama

Category : FOSters Creativity

sad_silhouette

“Gua udah enggak percaya lagi kalo Tuhan itu ada Ren..”

Faren masih mengingat jelas kata-kata terakhir yang diucapkan Destin sahabatnya. Masih terekam jelas bagaimana pandangan nanar Destin dan matanya yang sembab saat mengucapkan kalimat itu. Saat itu ia mencoba menguatkan dan menyadarkan Destin dengan segenap kata-kata yang dapat ia ungkapkan. Tapi hasilnya Destin tetap diam, teguh pada pendiriannya. Peristiwa ayah ibunya yang tiba-tiba dibunuh oleh para perampok membuat dia kehilangan kepercayaan bahwa Tuhan itu ada. Selama ini ia merasa percuma melayani Tuhan yang ternyata membiarkan kejadian buruk terjadi dalam hidupnya. Ia kecewa. Sangat kecewa.

Semenjak itu Destin mengundurkan diri dari pelayanan dan tidak pernah lagi hadir ibadah kaum muda ataupun ibadah minggu. Banyak yang mau mencoba mengunjunginya, tapi semuanya ditolak.. Beberapa bulan setelah kejadian itupun Destin pindah rumah bersama adiknya dan tidak ada yang pernah tahu keberadaannya.

***

“Destin?!” Faren menyapa perempuan yang tampaknya akan memasuki sebuah Café. “Faren! Duh kangen banget gua sama lo.” Destin menyambut sapaan Faren dengan ceria sambil memeluknya. Tak terlihat lagi raut muka Destin yang kecewa dan putus asa. Ia terlihat sudah menata hidupnya dengan baik. 2 tahun ternyata waktu yang cukup untuk membuat Destin kembali menjadi gadis yang ceria dan terlihat optimis. Pikir Faren. “Eh kita makan siang bareng yuk!” —

Makan siang mereka hari itu diwarnai canda tawa dan saling tukar informasi mengenai hal-hal apa saja yang sedang sibuk mereka lakukan. Terbukti Destin memang telah menata hidupnya kembali dengan baik. Ia telah mendapat pekerjaan di perusahaan asing dan kini ia tinggal di sebuah apartemen bersama dengan adiknya. Mereka masih nyaman bercakap-cakap hingga akhirnya “Lo gereja di mana Tin?” Faren bertanya tentang hal yang ia anggap biasa.”Gereja? Ngapain?” Destin tertawa menjawab pertanyaan Faren. “Lo gak inget ya Ren, kalo gua udah enggak percaya Tuhan itu ada?” Destin kembali melanjutkan kalimatnya “Dan lo tau gak, selama dua tahun ini, gua banyak ketemu sama orang-orang yang ternyata sepikiran sama gua. Gua ngerasa bebas banget bisa ngeliat pandangan yang berbeda selain pandangan dari iman Kristen yang kadang suka enggak masuk akal dan bodoh. Maaf..” kata-kata terakhirnya diucapkan dengan nada yang lebih rendah, karena ia tidak ingin terdengar menyinggung sahabat lamanya itu. Faren terdiam mendengar kata-kata Destin yang terdengar cukup tajam di telinganya. Dari dulu dia tidak pernah menjadi orang yang ahli dalam berdebat. Ia sama sekali tidak tahu apa yang harus ia kemukakan untuk jawaban yang tidak ia duga dari seorang Destin yang kini hidupnya terlihat sangat baik.

“Lagipula..” Destin tiba-tiba melanjutkan perkataannya. “Kalo Tuhan itu ada, Dia enggak akan membiarkan kedua orangtua gua meninggal secara sadis kayak gitu… Kalo Dia bener-bener ada bukannya Dia Allah yang penuh kasih?” Destin kemudian mengaduk minumannya dan tidak melihat ke arah sahabatnya itu. Faren kini tahu bahwa waktu dua tahun ternyata tidak sanggup menghapus kekecewaan sahabatnya itu terhadap Tuhan. “Bukan..  Bukan seperti itu.. ” Faren mencoba menyanggah pernyataan Destin. “Kalo Tuhan itu ada Dia enggak akan membiarkan kita mengalami kematian ke-2 karena dosa.Dan nyatanya Dia emang turun ke dunia dan nebus dosa kita supaya kita bisa dapet hidup yang kekal.. Itu kasih-Nya”

Yeah whatever… ” Destin menanggapinya acuh..

“Emangnya lo enggak kangen?”

Destin setengah terbahak mendengar pertanyaan Faren “Kangen? Kangen sama apaan? Sama rutinitas pelayananan yang buang-buang waktu dan gak digaji itu? sama kegiatan ke-Kristenan yang kurang kerjaan?”

Faren terdiam sesaat mendengar tanggapan Destin yang masih saja sinis.

“Bukan..”

“Sama Tuhan Yesus.” Lanjut Faren

Kini giliran Destin yang terdiam. Tiba-tiba ia tidak lagi memiliki hasrat untuk menjawab pertanyaan Faren dengan sinis. ia hanya mampu terdiam. Tidak tahu apa yang harus ia katakan. Akhirnya perbincangan makan siang mereka kembali dilanjutkan tanpa satupun menyinggung kembali masalah kepercayaan masing-masing. Faren merasa sia-sia untuk meyakinkan kembali sahabat lamanya itu. Dan Destin pun malas jika orang lain mengusik apa yang ia percayai saat ini.

***

Di apartemennya,

Entah mengapa kata-kata Faren tadi siang terus mengganggu pikirannya..

Lo gak kangen?

Sama Tuhan Yesus..

Kangen? Lucu pikirnya. Ia mencoba tertawa ketika pikirannya menganggap pertanyaan itu lucu. Namun yang ada ia malah tiba-tiba mengeluarkan air mata. Punggungnya bersandar pada pintu kamarnya ketika ia mulai meneteskan air mata. Ia mencoba sekuat hati menahan emosi yang serasa akan tumpah.

Tapi itu sia-sia.. Air matanya tidak dapat lagi dibendung. Saat ini ia tidak dapat lagi membohongi dirinya. Pertanyaan sederhana itu begitu mengena dalam hatinya.

Ia merindukan-Nya.

Sangat merindukan-Nya.

Selama 2 tahun berjalan tanpa-Nya ia merasa ada bagian yang hilang dalam hatinya. Semuanya tidak sama seperti ketika ia masih memiliki waktu pribadi untuk memuji dan menyembah Nama-Nya. Ia sangat merindukan saat-saat itu. Merindukan hadirat-Nya kembali.. Rasa rindu itu begitu menyentak hingga ke dalam dasar jiwanya.. Semua ingatannya berputar kembali ke saat di mana ia merasa dikecewakan. Saat di mana ia berusaha sekuat tenaga membereskan luka hatinya sendiri. Ya, sendiri.. Saat ia memutuskan tidak akan pernah lagi percaya bahwa Tuhan itu ada. Dulu luka itu terasa jauh lebih baik jika ia menutupnya dengan penyangkalan itu. Tuhan itu tidak ada. Tapi kini mengapa ia merindukan-Nya. Mengapa jiwanya merindukan sesuatu yang tidak ada? Logikanya tidak dapat menerima semua ini.

Namun tangisnya, kerinduannya, kehangatan yang menyentuh hatinya, seketika itu juga meruntuhkan pertahanan logikanya. Ia lelah, lelah dalam penyangkalannya.

Dalam tangisnya, Destin hanya sanggup berucap “Aku merindukan-Mu Tuhan.. Ampuni aku… ampuni aku.. Aku merindukan-Mu..”

Karena sesungguhnya jiwanya tahu, semua tak akan pernah sama tanpa kehadiran-Nya.

“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.” – Mazmur 42:2

“Aku akan pergi pulang ke tempat-Ku, sampai mereka mengaku bersalah dan mencari wajah-Ku. Dalam kesesakannya mereka akan merindukan Aku.” – Hosea 5:15

Sesering apa kita kecewa dengan peristiwa yang terjadi dalam hidup kita? Seringkali kita kecewa karena kenyataan yang ada di hadapan kita dan kekecewaan itu membuat kita tidak melihat Kasih-Nya, Janji-Nya,  dan Rancangan-Nya, jangan biarkan kekecewaan menguasai kehidupan kita dan menghancurkan segalanya. Dia setia dan tak ada satu perkara pun yang Ia biarkan terjadi hanya karena Ia ingin melihat kita menderita. Semua perkara Ia rancangkan untuk hari depan yang indah.(Yer 29:11)

_LNY_

Cerpen ini diikutsertakan dalam Writing Competition CIBFest 2009

Comments (2)

kangen sm Tuhan..??
gw prnah tuh kyk gt.,ikutan share y^-^
jd wktu SMP gw sbnr’a ud percaya c sm Tuhan,tp g tw knp gw pnya prtanyaan2 yg d dlm hati gw yg seolah2 gw menghujat & g percaya Tuhan., tp tu gw coba lupain n g gt mslh, tp gr2 gw pernah pnya pikiran “bnr g c kl mang Tuhan Yesus tu ada?”..
gw coba mulai nantang Tuhan, gw bilang,”kl mang dy pnya kuasa, coba dy bs g kasih gw suatu mainan yg gw pngen g..(krn wktu tu mainan yg gw mw ckp mahal harganya n wktu tu kluarga gw lg krisis..; dipikir2 konyol y..;jd malu,hehe..) truz slama 1 bln g dapet2, n gw mlai bilang.,”yah,masa gitu doank g bs, katanya yg punya alam semesta” [jgn diikutin y..;sumpah malu bgt..]truz gm mlai g doa n sate., [tp kgrja ttep..soalnya takut diomelin,.hehe] smpai akhirnya jd kgn sndr, kpengen bs curhat lg[krn wktu smp gw jrg bgt brgaul,jd tmn'a cm DIA doank]] tp gw gengsi,krn kan crta’a gw lg marahan..
smpe akhirnya.,Tuhan ksh gw apa yg gw pingin.. ywd,otomatis gw tepain janji gw.,gw mulai”contact2an” lg.. tp cm sbgai rutinitas doank,coz gw trlalu asyik ngamain sm mainan gw..
smpe akhirnya Tuhan bilang k gw,Dia bknnya g mw ngabulin apa yg gw minta,tpDy cm g mw nantinya waktu gw abiz sm mainan gw.. tp gw malah ngambek n ngejauhin Dy. tp ktka Dia ngabulin permintaan gw,Dy kasih apa yg gw mau,tp gw malah sibuk sm mainan baru gw.. pdhl itu biar gw balik lg sm dy.,tp apa jadinya..
Dy sedih.. jadi apa yg seharusnya yg Dy lakuin?? ngasih ap yg gw mw,atw ngga…???
dr situlah gw sadar n nangis. gw ngrasa jahat bgt.,n akhirnya gw smpe bilang emang seharusnya mainan itu g dikasih aja..mainan tu ud ambil alih hdp gw.,hampir stiap saat gw mainin,malah pernah smpe berantem sm ade gw gara2 berebutan..
n akhirnya gw mnta maaf n mendingan g ad aja..
n bnr aja, g lm kemudian mainannya rsk.. wlpn sdh, tp gw mikir tu lbh baik..
so,guyz jgn prnah egois y..
percaya d kl Tuhan psti kasih yg TERBAIK bwt qt..

nb: perkataan Tuhan yg wktu negor gw,cm inti dr apa yg Dy bilang.. untuk persisnya gw g inget..he2
smoga pengalaman gw bs jd berkat..^-^

ow., masuk y trnyata..??
pdhl td internet nya ge eror..
sory tulisannya g gt jelaz., ngetik nya buru2,takut diomelin,bukannya krja malah ngelakuin hal lain..hehe..

Post a comment