Featured Posts

Lagi Patah Hati? Siapa yang pernah merasakan rasanya patah hati? Hmm.. biasanya anak-anak muda pernah nih merasakan yang namanya 'patah hati' entah itu karena ditolak gebetan, karena tiba-tiba diputusin pacar, atau mungkin...

Read more

Tekhnik Membelah Roti Pelajaran hari ini adalah bagaimana cara membelah roti coklat dengan benar menjadi 2 bagian yang adil. Alat yang dibutuhkan tentu saja pisau yang tajam. Bagaimana kita tahu kalau pisaunya cukup tajam?...

Read more

Jadilah Tenang Hari ini, pas lagi membaca sebuah buku, ada sebuah cerita yang menarik bagiku, agak sedih sih, tapi kita bisa belajar sesuatu dari kisah ini. ... Seorang janda miskin bernama Siu lan memiliki seorang...

Read more

Yang Meringankan Segalanya Kejadian 29:20 "Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel." Wah, karena cintanya...

Read more

Mengampuni Orang Yang Menyakiti Kita? Enggak Adil! Mengampuni masalahnya bukanlah pada siapa yang menyakiti, tapi pada sakit hati itu sendiri. Yang menyakiti kita bisa siapa saja, bisa orang asing, bisa pendeta, bisa keluarga atau bahkan orangtua kita...

Read more

twitter

Follow on Tweets

  •  

Saat persahabatan dimulai dalam sebuah Unforgettable Moment

Category : Eventgelism

Momen apakah yang paling berharga di dunia ini? Saat melihat foto-foto Friendship Evangelism Camp 27-29 November 2009 kemarin (yang juga udah di-upload di facebook), aku menyadari kalo ternyata tuh yang diabadikan selalu momen-momen berharga yang nggak terlupakan yah…

Kenapa kita mengabadikan suatu momen? Karena di kemudian hari pasti kita ingin punya kenangan yang nggak terlupakan dengan momen itu. Kita selalu punya foto-foto kelahiran, foto wisuda, foto retreat, foto baptisan, foto bareng keluarga, foto bareng sahabat, dan foto yang mengabadikan momen-momen bahagia lainnya. Kita nggak pernah tuh nyimpen foto waktu kita lagi ngambek, atau foto kita lagi berantem sama sahabat, atau foto-foto yang berisi momen-momen menyedihkan lainnya.

Yah guys, kita selalu ingin mengingat saat-saat berharga. Waktu kita bertobat dan lain sebagainya. Kita nggak pernah ingin mengingat masa-masa terburuk dalam kehidupan kita. Saat aku melihat betapa banyaknya foto Friendship Evangelism Camp kemarin, aku percaya itu bukan karena ada panitia yang kurang kerjaan sehingga foto-foto terus, atau bukan karena terlalu banyak orang narsis yang ikut camp ini (hehe, bercanda…), tapi karena begitu banyak momen berharga yang ingin kita ingat dari camp ini.

Saat hari pertama kita telah merasakan bagaimana atmosfer persahabatan dibangun, lalu pemulihan hati Bapa, saat-saat fellowship dengan sahabat-sahabat baru. Kita tertawa dan menangis bersama di FEC, kita lewati suka dan duka bersama, kita tenggelam dalam hadirat Tuhan, kita ambil komitmen sama-sama, dan kita juga diutus untuk menjadi Friendship Evangelist, sahabat-sahabat yang terbaik di dalam Tuhan. Sahabat, semua itu telah kita lalui bersama, dan pastinya kita ingin FEC nggak hanya untuk sekedar berlalu. Apa yang telah kita alami di sana, sangat berdampak di dalam hati setiap kita yang hadir, dan nggak terlupakan sampai hari ini.

Banyak peserta yang nggak tahu kalo panitia sangat berjuang keras agar camp ini bisa jadi dilaksanakan. Tiga minggu sebelum acara, peserta baru 10 orang, itupun panitia semua. Terjawab saat seminggu sebelum acara, peserta telah jadi 80 orang lebih. Karena banyak yang cancel, akhirnya jadilah 70 orang peserta yang ikut. Hari ketika berangkat, panitia masih kekurangan dana 13 juta. Kami nggak tahu dari mana akan dapat segitu banyak. Bahkan sampai hari kedua dan ketiga, dana yang diharapkan nggak kunjung tiba. Dalam kondisi seperti itupun, kami merasakan tuntunan tangan Tuhan yang dahsyat. Kami harus tetap bisa tersenyum dengan tulus, tetap memberikan yang terbaik bagi semua peserta, menjaga atmosfer rohani supaya nggak nge-down, dan semua bagian acara dapat berlangsung dengan sangat indah. Singkat cerita, hari ketiga setelah selesai outbound, tepat sebelum pulang, ada donatur yang Tuhan pakai untuk transfer dana sesuai kebutuhan kami. Wow! Tuhan itu emang baik banget. FEC yang tadinya udah hampir mustahil jadi dilaksanakan, ternyata benar-benar menjadi unforgettable moment di hati setiap orang yang ikut.

Pastinya kita ingat kalo masih banyak sahabat kita yang kurang diperhatikan di luar sana, temen-temen kita yang merasa di-reject atau di-ignore oleh lingkungannya, mereka yang butuh uluran tangan yang menolong saat mereka lemah, guys, di situlah kita harus masuk ke dalam hidup mereka, dan menjadi jawaban. Biarlah kita sebagai anak-anak Tuhan menjadi sahabat-sahabat terbaik bagi orang-orang di sekitar kita. Biarlah Injil diberitakan bagi generasi kita, pertama-tama bagi orang-orang yang terdekat dengan kita, yaitu keluarga dan sahabat-sahabat kita. Ingat selalu akan momen-momen yang berharga ini. Sahabat, dunia tidak akan pernah sama lagi dengan kehadiran kita yang membawa kabar baik. Setelah camp ini, yuk kita ingat dan lakukan setiap komitmen yang udah kita buat. Ingatlah bahwa dunia ini butuh lebih dari sekedar diinjili dengan khotbah, tapi dunia ini membutuhkan sahabat-sahabat yang rela memberikan hidupnya agar kita menyatakan Tuhan Yesus, Sahabat yang sejati.

Persahabatan yang udah kita mulai di FEC dengan sahabat-sahabat baru kita, pertahankan itu dengan sungguh, karena suatu saat nanti ada saatnya dimana kita tidak akan bisa berdiri sendiri lagi, dan saat itu terjadi, yang akan berdiri bagi kita adalah sahabat-sahabat terdekat dan orang-orang yang kita kasihi di sekitar kita. Biarlah bukan hanya sekedar foto yang mengabadikan persahabatan kita, namun persahabatan kita menjadi hal yang abadi dalam hati setiap orang yang disentuh kasih Allah melalui kehadiran kita bagi sahabat kita setiap waktu dan dalam setiap kesukaran, itulah yang membuktikan pada dunia bahwa persahabatan kita abadi di dalam Tuhan.

fec2009

“Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku…” (Yoh 15:13-14a)

See u guys at the next Unforgettable Moment… Saat itu tiba, biarlah lebih banyak lagi sahabat kita dimenangkan dalam kasih Tuhan, kasih Sang Sahabat Sejati, Kasih yang terbesar. Amin.

_Y.K.T_

Comments (3)

wah,yg ikut buaanyaakk yakh.. :)

Hidup untuk menghidupkan sesama
Renungan: Lukas 10:25-37

Tuhan Yesus mengajarkan perumpamaan orang Samaria yang murah hati. Sikap itu tidak hanya mengajarkan nilai kebaikan, atau pesan moral yang harus dilakukan orang beriman. Namun mengajarkan suatu yang lebih mendalam tentang “visi hidup” dan makna perjuangan hidup Kristiani. Hidup untuk menghidupkan sesama manusia, supaya setiap manusia di setiap tempat di bumi ini mendapatkan hak untuk melangsungkan hidupnya sebagai citra Allah.

Pesan itu menjadi relevan dan aktual pada zaman kini, ketika hidup bersama diwarnai dengan “keegoisan” dan “roh egosentrisme” yang merasuki batin manusia, sehingga melahirkan serentetan tindak kekerasan dalam hidup. Manusia berlomba-lomba mencari untuk mendapatkan sesuatu “sebanyak banyaknya” bagi kepentingan diri sendiri, bahkan kalau perlu mengorbankan hidup sesamanya. Tujuan hidup sekadar diisi dengan rangkaian aktivitas untuk mencari, memuaskan, dan memenuhi kepentingan pribadi, tanpa mau peduli lagi dengan nasib dan penderitaan hidup orang lain.

Bentuknya tampak dalam perilaku manusia yang menindas dan kejam. Berlaku “hukum rimba” dan “tangan besi” untuk menyingkirkan orang lain. Bahkan, kalau perlu memakai kekerasan dan senjata sebagai alat ampuh untuk membinasakan sesamanya. Itu merupakan fenomena sosial yang banyak terjadi. Apalagi di Jakarta, perilaku beringas dan tindak kekerasan merupakan fenomena sosial yang menonjol, baik dalam lingkup skala kecil sampai besar, seperti penjambretan, penodongan, perampokan, kekerasan terhadap perempuan, sampai pembunuhan, penembakan, dan peledakan bom yang mengakibatkan derita dan korban nyawa manusia.

Di tengah situasi hidup yang sulit karena dampak krisis yang melanda negara Indonesia, kita seolah-olah membenarkan, dan mengesahkan berperilaku hidup untuk mengejar kepentingan diri sendiri. Hidup tanpa mempedulikan hidup dan kehidupan sesama.

Orang Samaria adalah sosok gambaran manusia biasa yang masih mempunyai ketajaman hati nurani dan belas kasihan. Ia mempunyai visi “hidup untuk menghidupkan sesama,” tanpa memandang ras, suku, dan agama. Bahkan, tindakan itu dilakukan untuk musuhnya. Suatu tindakan yang jarang dijumpai.

Bayangkan, di mata orang Yahudi, sosok orang Samaria amat dibenci. Namun, tindakan si Samaria tidak surut. Itulah visi pelayanan yang sejati. Visi itu tidak berhenti menjadi tindakan karitatif sosial, atau tindakan berbagi kasih yang dilakukan dengan “setengah hati.” Ia melakukan dengan sungguh sungguh, dan mendaya-gunakan seluruh potensinya untuk menghidupkan dan menyelamatkan orang lain yang menjadi korban. Tentu saja itu merupakan tindakan yang amat mulia.

Apa yang ada dalam benak pikirannya? Tentu saja bukan sekadar mencari nama besar atau supaya terkenal, atau menjadi orang populer. Tindakan si Samaria yang menolong orang terkapar itu tidak akan menjadikan dirinya menjadi orang terkenal, bahkan akan rugi dihitung secara kalkulasi materi.

Baginya hidup bukan mencari untung rugi. Hidup adalah untuk berbagi dalam kehidupan dan berbagi kasih dengan apa yang ada.

Visi dan perjuangan untuk menghidupkan sesama itu tidak berhenti di awang-awang, atau diprogramkan menjadi agenda pelayanan Gereja secara insidental. Namun, benar-benar dilakukan secara konkret oleh si Samaria melalui tindakannya.

Sikap itu dikontraskan dengan sikap orang Lewi (kaum yang menyebut dirinya orang beragama) yang mempunyai tugas mulia, sebagai biduan di Bait Allah, maupun sikap si Imam yang tentu saja mengetahui, memahami, dan lebih mengerti seluk beluk ajaran dan doktrin agama yang mengajarkan nilai-nilai kebaikan. Namun, mereka berdua ternyata gagal mengejawantahkan nilai-nilai kebaikan karena hanya melewatinya dari seberang jalan. Buktinya orang sekarat tetap terkapar di pinggir jalan menjadi sosok korban yang tidak berdaya.

Perilaku imam dan Lewi mau mengingatkan agar pelayanan “altar” (ritual keagamaan), jangan berhenti bermuara pada tindakan religius vertikal yang memisahkan diri dengan sesamanya, tetapi harus mengalir menjadi pelayanan kepada sesama yang membutuhkan. Yaitu, “orang terkapar.”

Menutup diri dan sikap eksklusif seperti diperankan sosok Imam dan orang Lewi dikritik dalam Alkitab. Masalah utamanya bagaimana kita dapat mengejawantahkan pelayanan untuk menghidupkan sesama manusia?

Lihatlah pelayanan dan perjuangan orang Samaria untuk menghidupkan sesamanya. Pertama, ia mau mendekati korban, bukan berteori tentang diakonia, atau pelayanan sosial masyarakat yang muluk muluk. Ia memberikan dirinya secara langsung dan menyediakan fasilitas untuk korban yang diwujudkan dengan tindakan untuk mengangkat dan mendudukkan “orang yang tidak berdaya” ke atas keledai tunggangannya.

Sementara itu, si Samaria rela berjalan kali di sampingnya. Itu adalah tindakan pelayanan konkret yang mau menempatkan orang lain sebagai subjek, bukan diperlakukan sebagai objek yang menjadi alat belas kasihan.

Tindakan berikutnya adalah mencari tempat penginapan, sehingga orang yang tidak berdaya dapat dirawat dengan baik. Itu adalah tindakan yang lebih dalam maknanya, yaitu memberikan tempat yang layak, supaya si korban dapat pertolongan yang tepat, dapat disembuhkan dan dirawat semestinya. Itu adalah simbol pelayanan yang utuh dan total. Dalam bahasa sekarang ia memanggil mobil ambulans dan mengantar ke rumah sakit.

Akhirnya, si Samaria bersedia memberikan depositonya. Ia bersedia membayar dan kehilangan sejumlah uangnya untuk menghidupkan sesamanya. Itu adalah pelayanan yang holistik dan menyeluruh dengan mengerahkan segala kemampuan daya dan tenaga, dana, serta mencurahkan apa yang ia miliki untuk menghidupkan sesamanya.

Sikap itu merupakan sesuatu yang langka dijumpai, sehingga tidak salah kalau akhirnya tindakan itu dipuji oleh Yesus.

Sikap itu mau mengajarkan pola “ketertutupan,” diganti dengan “hospitality,” yang ditunjukkan dengan sikap keramahtamahan, keterbukaan, persahabatan dengan semua orang, dan akhirnya bermuara pada tindakan kasih terhadap sesama.

Tantangan bagi kita, apakah kita hanya mau hidup seperti ember (menerima untuk dirinya sendiri) atau mau memberi diri dan berjuang untuk menghidupkan sesama kita?

Selamat mengasihi !

Setelah lebih dari 1900 tahun, perumpamaan ini di KUTIP
oleh almarhum Dr. G.S.S.J Ratulangi sebagai filosofi kehidupan
warga Minahasa.
SI TOU TIMOU TUMOU TOU
(Manusia hidup untuk menghidupkan manusia)

@yanu..
salam kenal.. ^o^
wah dari padang ya? (minahasa itu padang kan ya,bener kan?!..hehe)hebat ya, udah smpe padang…
moga2 smpe 1indonesia d,kl perlu smpe luar negeri,hehe
ayo saling suport & menguatkan dalm iman..!!
ciayo..!!!!

Post a comment