<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Saat persahabatan dimulai dalam sebuah Unforgettable Moment</title>
	<atom:link href="http://fos-community.com/2009/12/saat-persahabatan-dimulai-dalam-sebuah-unforgettable-moment/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://fos-community.com/2009/12/saat-persahabatan-dimulai-dalam-sebuah-unforgettable-moment/</link>
	<description>Simple but Powerful - Stand in Unity not in Uniform</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Sep 2010 08:12:58 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
	<item>
		<title>By: angel</title>
		<link>http://fos-community.com/2009/12/saat-persahabatan-dimulai-dalam-sebuah-unforgettable-moment/comment-page-1/#comment-144</link>
		<dc:creator>angel</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 03:21:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://fos-community.com/?p=623#comment-144</guid>
		<description>@yanu..
salam kenal.. ^o^
wah dari padang ya? (minahasa itu padang kan ya,bener kan?!..hehe)hebat ya, udah smpe padang...
moga2 smpe 1indonesia d,kl perlu smpe luar negeri,hehe
ayo saling suport &amp; menguatkan dalm iman..!!
ciayo..!!!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@yanu..<br />
salam kenal.. ^o^<br />
wah dari padang ya? (minahasa itu padang kan ya,bener kan?!..hehe)hebat ya, udah smpe padang&#8230;<br />
moga2 smpe 1indonesia d,kl perlu smpe luar negeri,hehe<br />
ayo saling suport &amp; menguatkan dalm iman..!!<br />
ciayo..!!!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: yanu</title>
		<link>http://fos-community.com/2009/12/saat-persahabatan-dimulai-dalam-sebuah-unforgettable-moment/comment-page-1/#comment-143</link>
		<dc:creator>yanu</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 13 Dec 2009 06:42:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://fos-community.com/?p=623#comment-143</guid>
		<description>Hidup untuk menghidupkan sesama
Renungan: Lukas 10:25-37

Tuhan Yesus mengajarkan perumpamaan orang Samaria yang murah hati. Sikap itu tidak hanya mengajarkan nilai kebaikan, atau pesan moral yang harus dilakukan orang beriman. Namun mengajarkan suatu yang lebih mendalam tentang &quot;visi hidup&quot; dan makna perjuangan hidup Kristiani. Hidup untuk menghidupkan sesama manusia, supaya setiap manusia di setiap tempat di bumi ini mendapatkan hak untuk melangsungkan hidupnya sebagai citra Allah.

Pesan itu menjadi relevan dan aktual pada zaman kini, ketika hidup bersama diwarnai dengan &quot;keegoisan&quot; dan &quot;roh egosentrisme&quot; yang merasuki batin manusia, sehingga melahirkan serentetan tindak kekerasan dalam hidup. Manusia berlomba-lomba mencari untuk mendapatkan sesuatu &quot;sebanyak banyaknya&quot; bagi kepentingan diri sendiri, bahkan kalau perlu mengorbankan hidup sesamanya. Tujuan hidup sekadar diisi dengan rangkaian aktivitas untuk mencari, memuaskan, dan memenuhi kepentingan pribadi, tanpa mau peduli lagi dengan nasib dan penderitaan hidup orang lain.

Bentuknya tampak dalam perilaku manusia yang menindas dan kejam. Berlaku &quot;hukum rimba&quot; dan &quot;tangan besi&quot; untuk menyingkirkan orang lain. Bahkan, kalau perlu memakai kekerasan dan senjata sebagai alat ampuh untuk membinasakan sesamanya. Itu merupakan fenomena sosial yang banyak terjadi. Apalagi di Jakarta, perilaku beringas dan tindak kekerasan merupakan fenomena sosial yang menonjol, baik dalam lingkup skala kecil sampai besar, seperti penjambretan, penodongan, perampokan, kekerasan terhadap perempuan, sampai pembunuhan, penembakan, dan peledakan bom yang mengakibatkan derita dan korban nyawa manusia.

Di tengah situasi hidup yang sulit karena dampak krisis yang melanda negara Indonesia, kita seolah-olah membenarkan, dan mengesahkan berperilaku hidup untuk mengejar kepentingan diri sendiri. Hidup tanpa mempedulikan hidup dan kehidupan sesama.

Orang Samaria adalah sosok gambaran manusia biasa yang masih mempunyai ketajaman hati nurani dan belas kasihan. Ia mempunyai visi &quot;hidup untuk menghidupkan sesama,&quot; tanpa memandang ras, suku, dan agama. Bahkan, tindakan itu dilakukan untuk musuhnya. Suatu tindakan yang jarang dijumpai.

Bayangkan, di mata orang Yahudi, sosok orang Samaria amat dibenci. Namun, tindakan si Samaria tidak surut. Itulah visi pelayanan yang sejati. Visi itu tidak berhenti menjadi tindakan karitatif sosial, atau tindakan berbagi kasih yang dilakukan dengan &quot;setengah hati.&quot; Ia melakukan dengan sungguh sungguh, dan mendaya-gunakan seluruh potensinya untuk menghidupkan dan menyelamatkan orang lain yang menjadi korban. Tentu saja itu merupakan tindakan yang amat mulia.

Apa yang ada dalam benak pikirannya? Tentu saja bukan sekadar mencari nama besar atau supaya terkenal, atau menjadi orang populer. Tindakan si Samaria yang menolong orang terkapar itu tidak akan menjadikan dirinya menjadi orang terkenal, bahkan akan rugi dihitung secara kalkulasi materi.

Baginya hidup bukan mencari untung rugi. Hidup adalah untuk berbagi dalam kehidupan dan berbagi kasih dengan apa yang ada.

Visi dan perjuangan untuk menghidupkan sesama itu tidak berhenti di awang-awang, atau diprogramkan menjadi agenda pelayanan Gereja secara insidental. Namun, benar-benar dilakukan secara konkret oleh si Samaria melalui tindakannya.

Sikap itu dikontraskan dengan sikap orang Lewi (kaum yang menyebut dirinya orang beragama) yang mempunyai tugas mulia, sebagai biduan di Bait Allah, maupun sikap si Imam yang tentu saja mengetahui, memahami, dan lebih mengerti seluk beluk ajaran dan doktrin agama yang mengajarkan nilai-nilai kebaikan. Namun, mereka berdua ternyata gagal mengejawantahkan nilai-nilai kebaikan karena hanya melewatinya dari seberang jalan. Buktinya orang sekarat tetap terkapar di pinggir jalan menjadi sosok korban yang tidak berdaya.

Perilaku imam dan Lewi mau mengingatkan agar pelayanan &quot;altar&quot; (ritual keagamaan), jangan berhenti bermuara pada tindakan religius vertikal yang memisahkan diri dengan sesamanya, tetapi harus mengalir menjadi pelayanan kepada sesama yang membutuhkan. Yaitu, &quot;orang terkapar.&quot;

Menutup diri dan sikap eksklusif seperti diperankan sosok Imam dan orang Lewi dikritik dalam Alkitab. Masalah utamanya bagaimana kita dapat mengejawantahkan pelayanan untuk menghidupkan sesama manusia?

Lihatlah pelayanan dan perjuangan orang Samaria untuk menghidupkan sesamanya. Pertama, ia mau mendekati korban, bukan berteori tentang diakonia, atau pelayanan sosial masyarakat yang muluk muluk. Ia memberikan dirinya secara langsung dan menyediakan fasilitas untuk korban yang diwujudkan dengan tindakan untuk mengangkat dan mendudukkan &quot;orang yang tidak berdaya&quot; ke atas keledai tunggangannya.

Sementara itu, si Samaria rela berjalan kali di sampingnya. Itu adalah tindakan pelayanan konkret yang mau menempatkan orang lain sebagai subjek, bukan diperlakukan sebagai objek yang menjadi alat belas kasihan.

Tindakan berikutnya adalah mencari tempat penginapan, sehingga orang yang tidak berdaya dapat dirawat dengan baik. Itu adalah tindakan yang lebih dalam maknanya, yaitu memberikan tempat yang layak, supaya si korban dapat pertolongan yang tepat, dapat disembuhkan dan dirawat semestinya. Itu adalah simbol pelayanan yang utuh dan total. Dalam bahasa sekarang ia memanggil mobil ambulans dan mengantar ke rumah sakit.

Akhirnya, si Samaria bersedia memberikan depositonya. Ia bersedia membayar dan kehilangan sejumlah uangnya untuk menghidupkan sesamanya. Itu adalah pelayanan yang holistik dan menyeluruh dengan mengerahkan segala kemampuan daya dan tenaga, dana, serta mencurahkan apa yang ia miliki untuk menghidupkan sesamanya.

Sikap itu merupakan sesuatu yang langka dijumpai, sehingga tidak salah kalau akhirnya tindakan itu dipuji oleh Yesus. 

Sikap itu mau mengajarkan pola &quot;ketertutupan,&quot; diganti dengan &quot;hospitality,&quot; yang ditunjukkan dengan sikap keramahtamahan, keterbukaan, persahabatan dengan semua orang, dan akhirnya bermuara pada tindakan kasih terhadap sesama.

Tantangan bagi kita, apakah kita hanya mau hidup seperti ember (menerima untuk dirinya sendiri) atau mau memberi diri dan berjuang untuk menghidupkan sesama kita?

Selamat mengasihi !

Setelah lebih dari 1900 tahun, perumpamaan ini di KUTIP
oleh almarhum Dr. G.S.S.J Ratulangi sebagai filosofi kehidupan
warga Minahasa.
SI TOU TIMOU TUMOU TOU
(Manusia hidup untuk menghidupkan manusia)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hidup untuk menghidupkan sesama<br />
Renungan: Lukas 10:25-37</p>
<p>Tuhan Yesus mengajarkan perumpamaan orang Samaria yang murah hati. Sikap itu tidak hanya mengajarkan nilai kebaikan, atau pesan moral yang harus dilakukan orang beriman. Namun mengajarkan suatu yang lebih mendalam tentang &#8220;visi hidup&#8221; dan makna perjuangan hidup Kristiani. Hidup untuk menghidupkan sesama manusia, supaya setiap manusia di setiap tempat di bumi ini mendapatkan hak untuk melangsungkan hidupnya sebagai citra Allah.</p>
<p>Pesan itu menjadi relevan dan aktual pada zaman kini, ketika hidup bersama diwarnai dengan &#8220;keegoisan&#8221; dan &#8220;roh egosentrisme&#8221; yang merasuki batin manusia, sehingga melahirkan serentetan tindak kekerasan dalam hidup. Manusia berlomba-lomba mencari untuk mendapatkan sesuatu &#8220;sebanyak banyaknya&#8221; bagi kepentingan diri sendiri, bahkan kalau perlu mengorbankan hidup sesamanya. Tujuan hidup sekadar diisi dengan rangkaian aktivitas untuk mencari, memuaskan, dan memenuhi kepentingan pribadi, tanpa mau peduli lagi dengan nasib dan penderitaan hidup orang lain.</p>
<p>Bentuknya tampak dalam perilaku manusia yang menindas dan kejam. Berlaku &#8220;hukum rimba&#8221; dan &#8220;tangan besi&#8221; untuk menyingkirkan orang lain. Bahkan, kalau perlu memakai kekerasan dan senjata sebagai alat ampuh untuk membinasakan sesamanya. Itu merupakan fenomena sosial yang banyak terjadi. Apalagi di Jakarta, perilaku beringas dan tindak kekerasan merupakan fenomena sosial yang menonjol, baik dalam lingkup skala kecil sampai besar, seperti penjambretan, penodongan, perampokan, kekerasan terhadap perempuan, sampai pembunuhan, penembakan, dan peledakan bom yang mengakibatkan derita dan korban nyawa manusia.</p>
<p>Di tengah situasi hidup yang sulit karena dampak krisis yang melanda negara Indonesia, kita seolah-olah membenarkan, dan mengesahkan berperilaku hidup untuk mengejar kepentingan diri sendiri. Hidup tanpa mempedulikan hidup dan kehidupan sesama.</p>
<p>Orang Samaria adalah sosok gambaran manusia biasa yang masih mempunyai ketajaman hati nurani dan belas kasihan. Ia mempunyai visi &#8220;hidup untuk menghidupkan sesama,&#8221; tanpa memandang ras, suku, dan agama. Bahkan, tindakan itu dilakukan untuk musuhnya. Suatu tindakan yang jarang dijumpai.</p>
<p>Bayangkan, di mata orang Yahudi, sosok orang Samaria amat dibenci. Namun, tindakan si Samaria tidak surut. Itulah visi pelayanan yang sejati. Visi itu tidak berhenti menjadi tindakan karitatif sosial, atau tindakan berbagi kasih yang dilakukan dengan &#8220;setengah hati.&#8221; Ia melakukan dengan sungguh sungguh, dan mendaya-gunakan seluruh potensinya untuk menghidupkan dan menyelamatkan orang lain yang menjadi korban. Tentu saja itu merupakan tindakan yang amat mulia.</p>
<p>Apa yang ada dalam benak pikirannya? Tentu saja bukan sekadar mencari nama besar atau supaya terkenal, atau menjadi orang populer. Tindakan si Samaria yang menolong orang terkapar itu tidak akan menjadikan dirinya menjadi orang terkenal, bahkan akan rugi dihitung secara kalkulasi materi.</p>
<p>Baginya hidup bukan mencari untung rugi. Hidup adalah untuk berbagi dalam kehidupan dan berbagi kasih dengan apa yang ada.</p>
<p>Visi dan perjuangan untuk menghidupkan sesama itu tidak berhenti di awang-awang, atau diprogramkan menjadi agenda pelayanan Gereja secara insidental. Namun, benar-benar dilakukan secara konkret oleh si Samaria melalui tindakannya.</p>
<p>Sikap itu dikontraskan dengan sikap orang Lewi (kaum yang menyebut dirinya orang beragama) yang mempunyai tugas mulia, sebagai biduan di Bait Allah, maupun sikap si Imam yang tentu saja mengetahui, memahami, dan lebih mengerti seluk beluk ajaran dan doktrin agama yang mengajarkan nilai-nilai kebaikan. Namun, mereka berdua ternyata gagal mengejawantahkan nilai-nilai kebaikan karena hanya melewatinya dari seberang jalan. Buktinya orang sekarat tetap terkapar di pinggir jalan menjadi sosok korban yang tidak berdaya.</p>
<p>Perilaku imam dan Lewi mau mengingatkan agar pelayanan &#8220;altar&#8221; (ritual keagamaan), jangan berhenti bermuara pada tindakan religius vertikal yang memisahkan diri dengan sesamanya, tetapi harus mengalir menjadi pelayanan kepada sesama yang membutuhkan. Yaitu, &#8220;orang terkapar.&#8221;</p>
<p>Menutup diri dan sikap eksklusif seperti diperankan sosok Imam dan orang Lewi dikritik dalam Alkitab. Masalah utamanya bagaimana kita dapat mengejawantahkan pelayanan untuk menghidupkan sesama manusia?</p>
<p>Lihatlah pelayanan dan perjuangan orang Samaria untuk menghidupkan sesamanya. Pertama, ia mau mendekati korban, bukan berteori tentang diakonia, atau pelayanan sosial masyarakat yang muluk muluk. Ia memberikan dirinya secara langsung dan menyediakan fasilitas untuk korban yang diwujudkan dengan tindakan untuk mengangkat dan mendudukkan &#8220;orang yang tidak berdaya&#8221; ke atas keledai tunggangannya.</p>
<p>Sementara itu, si Samaria rela berjalan kali di sampingnya. Itu adalah tindakan pelayanan konkret yang mau menempatkan orang lain sebagai subjek, bukan diperlakukan sebagai objek yang menjadi alat belas kasihan.</p>
<p>Tindakan berikutnya adalah mencari tempat penginapan, sehingga orang yang tidak berdaya dapat dirawat dengan baik. Itu adalah tindakan yang lebih dalam maknanya, yaitu memberikan tempat yang layak, supaya si korban dapat pertolongan yang tepat, dapat disembuhkan dan dirawat semestinya. Itu adalah simbol pelayanan yang utuh dan total. Dalam bahasa sekarang ia memanggil mobil ambulans dan mengantar ke rumah sakit.</p>
<p>Akhirnya, si Samaria bersedia memberikan depositonya. Ia bersedia membayar dan kehilangan sejumlah uangnya untuk menghidupkan sesamanya. Itu adalah pelayanan yang holistik dan menyeluruh dengan mengerahkan segala kemampuan daya dan tenaga, dana, serta mencurahkan apa yang ia miliki untuk menghidupkan sesamanya.</p>
<p>Sikap itu merupakan sesuatu yang langka dijumpai, sehingga tidak salah kalau akhirnya tindakan itu dipuji oleh Yesus. </p>
<p>Sikap itu mau mengajarkan pola &#8220;ketertutupan,&#8221; diganti dengan &#8220;hospitality,&#8221; yang ditunjukkan dengan sikap keramahtamahan, keterbukaan, persahabatan dengan semua orang, dan akhirnya bermuara pada tindakan kasih terhadap sesama.</p>
<p>Tantangan bagi kita, apakah kita hanya mau hidup seperti ember (menerima untuk dirinya sendiri) atau mau memberi diri dan berjuang untuk menghidupkan sesama kita?</p>
<p>Selamat mengasihi !</p>
<p>Setelah lebih dari 1900 tahun, perumpamaan ini di KUTIP<br />
oleh almarhum Dr. G.S.S.J Ratulangi sebagai filosofi kehidupan<br />
warga Minahasa.<br />
SI TOU TIMOU TUMOU TOU<br />
(Manusia hidup untuk menghidupkan manusia)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: angel</title>
		<link>http://fos-community.com/2009/12/saat-persahabatan-dimulai-dalam-sebuah-unforgettable-moment/comment-page-1/#comment-142</link>
		<dc:creator>angel</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 08:13:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://fos-community.com/?p=623#comment-142</guid>
		<description>wah,yg ikut buaanyaakk yakh.. :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah,yg ikut buaanyaakk yakh.. <img src='http://fos-community.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
