… Telah Merupakan Kekalahan Bagi Kamu

conflictDi manakah di dunia ini kita nggak akan lagi menemukan perselisihan? Jawabannya seringkali nggak tergantung pada ada atau nggaknya kondisi seperti itu. Firman Tuhan bilang jika perdamaian itu tergantung pada kita sebagai anak-anak Tuhan, sedapat-dapatnya perbuatlah demikian (Roma 12:17-18). Jadi sebagai anak-anak Allah yang harusnya membawa damai ke tengah dunia, sadar atau nggak sadar kitalah “penentu perdamaian dunia!”

”Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Roma 12:17-18)

Hidup dalam kasih dan perdamaian adalah salah satu kemenangan orang Kristen! Kalau kita berkata kita mau hidup bagi Yesus, bertumbuh dalam karakter Ilahi, dan ingin memuji menyembah serta memuliakan Tuhan, maka terlebih dahulu kita harus menciptakan kondisi yang terbaik untuk kita bisa sama-sama bertumbuh. Dalam situasi yang penuh kasih itulah kita bisa saling menopang untuk jadi pemenang.

Siapa yang harus menciptakan suasana itu? Apakah itu masih menjadi tanggung jawab Allah? Dia telah memberikan Roh Kudusnya buat kita, supaya kita mampu menciptakan kedamaian itu. Ya, kitalah yang harus membiasakan diri untuk hidup rukun satu sama lain. Dalam komunitas anak-anak Tuhan  yang penuh dengan perselisihan, penuh dengan rasa nggak mau mengalah, rasa selalu menyalahkan satu sama lain, kemenangan Injil akan sulit bahkan mustahil untuk kita capai. So, nggak heran kalo dikatakan bahwa adanya perselisihan aja di antara kita, itu sudah merupakan sebuah kekalahan bagi anak-anak Tuhan. Let’s try to check these words out:

“Apakah ada seorang di antara kamu, yang jika berselisih dengan orang lain, berani mencari keadilan pada orang-orang yang tidak benar, dan bukan pada orang-orang kudus? Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia? Dan jika penghakiman dunia berada dalam tangan kamu, tidakkah kamu sanggup untuk mengurus perkara-perkara yang tidak berarti? Tidak tahukah kamu bahwa kita akan menghakimi malaikat-malaikat? Jadi apalagi perkara-perkara biasa dalam hidup kita sehari-hari.” (1 Kor 6:1-4)

See? Paulus sebagai rasul yang banyak merintis jemaat di abad mula-mula udah mengingatkan kita tentang ini. Lah apa kita nggak baca Alkitab dan belajar dari situ? Paulus bilang banyak orang Kristen yang berselisih satu sama lain antar saudara seiman sendiri, dan nggak bisa menyelesaikan perkara-perkara biasa yang terjadi di antara mereka. Banyak di antara orang Kristen justru “curhat” dengan orang-orang yang nggak beriman untuk mencari jalan keluarnya.

Terbalik yah? Seharusnya kita membantu menyelesaikan masalah-masalah di antara orang yang nggak beriman dengan meminta nasihat pada sahabat seiman kita. Justru antara anak Tuhan berselisih satu sama lain dan minta bantuan sama teman-teman kita yang nggak seiman untuk menyelesaikan masalah itu. Tidakkah kita berpikir bahwa ini adalah suatu hal yang memalukan?

“Hal ini kukatakan untuk memalukan kamu. Tidak adakah seorang di antara kamu yang berhikmat, yang dapat mengurus perkara dari saudara-saudaranya? Adakah saudara yang satu mencari keadilan terhadap saudara yang lain, dan justru pada orang-orang yang tidak percaya? Adanya saja perkara di antara kamu yang seorang terhadap yang lain telah merupakan kekalahan bagi kamu. Mengapa kamu tidak lebih suka menderita ketidakadilan? Mengapakah kamu tidak lebih suka dirugikan? Tetapi kamu sendiri mendatangkan ketidakadilan dan kamu sendiri mendatangkan kerugian, dan hal itu kamu buat terhadap saudara-saudaramu.” (1 Kor 6:5-8)

Kenapa kita nggak mengalah aja walaupun menderita kerugian, itu kata rasul Paulus. Bukan tanpa alasan dia berkata seperti itu. Yesus sebagai teladan iman anak-anak Tuhan juga telah lebih suka menderita buat kita, daripada menghakimi kita. So, what’s the reason you don’t want to do that?

Suatu kesalahan yang amat besar kalo kita tetap melakukan hidup Kristen kita seolah nggak terjadi apa-apa, padahal banyak perselisihan yang nggak kita selesaikan. Sebenarnya menyelesaikan perselisihan di antara anak-anak Allah yang notabene “para pembawa damai” itu harusnya sangat mudah, karena Roh Kudus memampukan kita untuk mengalah. Tapi nggak heran hal itu jadi sulit karena kita minta nasihat pada teman-teman kita yang nggak seiman. Ya jelas lah, kita yang seharusnya jadi terang, jadi trendsetter, jadi dampak, dan jadi jawaban, justru ingin mengikuti cara orang-orang yang belum dipenuhi Roh Kudus dalam menyelesaikan masalah.

Di akhir jaman nanti, anak-anak Tuhan lah yang akan bersama Tuhan menghakimi dunia. Kalo perselisihan ringan aja kita nggak mampu tangani, apakah Tuhan akan mempercayakan kerajaan-Nya untuk “diperintah” oleh orang-orang yang justru masih bermasalah? Kita tahu jawabannya, dan seringkali permasalahannya adalah apakah kita bersedia melakukan firman untuk mengasihi dan mengalah untuk menjadi pemenang?

“Kasih itu…tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain…” (1 Kor 13:5)

Memang jadi masalah banget saat kita udah males-malesan baca Alkitab dan menemukan jawaban dari situ. Jadi masalah banget kalo kita udah segan melakukan apa kata firman Tuhan. Jadi masalah banget kalo kita lebih mudah mengangguk-anggukkan kepala saat lihat kekerasan dan kelicikan di sinetron dan film action yang dilakukan tokohnya untuk membereskan masalah-masalahnya, daripada mendengar khotbah tentang kasih dan pengampunan. Berhentilah jadikan cara pandang dunia sebagai “kitab suci” yang kita ikuti bertahun-tahun, mulailah turuti kehendak Bapa untuk kita hidup saling mengasihi. Karena saat kita menolak untuk mengampuni, sesungguhnya kita sedang menolak kerinduan Hati Bapa.

Seorang pemenang sejati adalah seorang yang telah mengalahkan dirinya sendiri. Kemenangan sejati anak-anak Tuhan ditentukan oleh penundukkan tabiat berdosa kita kepada kehendak Roh Kudus. Kekristenan sejati dimulai saat kita membuka hati kita untuk menerima pengampunan dari Tuhan, dan meneruskan pengampunan itu kepada orang-orang yang pernah atau sedang menyakiti kita.

Adanya perselisihan saja sudah merupakan kekalahan bagi kamu… Tetapi adanya pengampunan dan penerimaan, itu saja sudah merupakan kemenangan bagi kamu.

Keep winning! Stand up for Jesus!

Comments

comments