fresh_water

Air, siapa yang sangka bahwa benda ini sangat membuat manusia ketergantungan. Coba saja hidup tanpanya, yakin deh nggak ada satu manusia pun yang mampu hidup tanpanya. Mungkin jika dirunutkan, inilah hal kedua paling dibutuhkan manusia dalam hidupnya dari ketiga hal yang paling dibutuhkan manusia untuk hidup. Nomer satu sudah tentu udara, kedua air dan ketiga adalah cinta (ciyeee ileee…)

Guys, siapa yang sadar bahwa air begitu penting bagi hidup kita? Sudah tentu semua sadar. Tapi seberapa sadar? Tengoklah dapurmu, beberapa air galonan sudah siap stok disitu bukan, tengok juga isi kulkas deh, pasti buanyak banget beraneka ragam minuman yang jika disajikan dingin lebih nikmat. Atau coba buka keran air, pastinya bakalan ada air yang mengalir deras mengucur. Air begitu dekat dengan kita, sehingga saat kita sadar kita butuh air dapat dengan mudah mengambil dan menikmatinya. Pernah sesekali karena keasyikan bermain dengan laptop sehingga tanpa berasa sudah lebih dari 5 jam tidak minum, alhasil tenggorokan kering, mata kunang-kunang dan kepala pening. Langsung deh berburu ke bawah minum segelas air yang melegakan.

Lain di rumah lain di padang. Terkadang karena begitu mudahnya mendapatkan air kita sampai lupa bahwa air itu butuh perjuangan, sama seperti cinta (lagi-lagi cinta..hahaha). Saking mudahnya mendapatkan segelas air (bahkan segalon pun bisa), kita jadi lupa bahwa air itu sangat bernilai dan berharga.

Ada sebuah kisah nyata, dimana air dirasa begitu berharga dan bernilai, bahkan cenderung tak ternilai dengan uang sekalipun. Beberapa kilo jauhnya dari rumah, beberapa kilo jauhnya dari peradaban bahkan hanya beberapa meter jauhnya dari mata air, air seteguk saja luar biasa mahalnya. Pengalaman ini didapatkan saat sedang mengeksplore hobi dan alam, menikmati indahnya ciptaan Tuhan yang bernama Ceremai.

Yap Ceremai, sebuah gunung maha indah yang terletak di bilangan Kuningan dekat Cirebon Jawa Barat, memiliki ketinggian 3078 mdpl, menyimpan banyak cerita dan pengalaman yang tak terlupakan. Hanya saja ceremai menyimpan sedikit mata air, dan begitu banyak tanjakan yang cukup menguras tenaga untuk dilalui.

Pengalaman ke Ceremai memberi banyak pembelajaran, termasuk dalam hal menikmati hal kedua yang paling berharga bagi hidup manusia, yaitu air. Terkenal dengan gunung yang sangat sedikit dan jauh sumber mata airnya, maka diputuskanlah bahwa kami yang ingin mendaki disana harus membawa dan memanajemen persediaan air sebaik-baiknya. Minimal satu orang membawa 2 botol air ukuran 1,5liter di tasnya ditambah dirigen ukuran 5-10 liter untuk perbekalan tim. Dan yang kebagian untuk membawa dirigen itu adalah diriku.

Well, tidak mudah mendaki sebuah gunung yang cukup tinggi dan dengan medan yang menantang dengan beban berat. Sudah tentu tas/keril yang dibawa sudah cukup berat, ditambah lagi pegangan tangan dirigen ukuran 5 liter. Rasanya ingin buang saja itu dirigen yang penuh air saking berat dan lelahnya. Bahkan di setiap peristirahatan dirigen itu selalu dibanting ke tanah agar lekas dapat beristirahat. Tapi urung rasanya membuang dirigen itu, setiap selesai istirahat akhirnya dirigen itu dibawa lagi walau berat tapi dengan satu tujuan, agar tim tidak kekurangan air. Yah lagi-lagi tentang air.

Sampai di tempat camp, air itupun langsung didistribusikan dan dimanajemenkan agar tim tidak kekurangan. Dipisahkan untuk yang buat minum dan masak. Minum dan masak doank? Yah begitulah, untuk keperluan sanitasi, mandi, dll menggunakan tisu basah.. (iuhhh… haahahaha). Yah begitulah kami anak gunung, sudah terbiasa ber-iuuhhhhh-ria.. hahahhaha…

Bersiap-siaplah tim untuk muncak, bawa sekitar 4 botol aqua ukuran 1,5 liter dan ditambah masing-masing orang bawa tempat minum kecil yang ditenteng masing-masing. Persiapan muncak butuh lebih dari sekedar niat lhoo… harus ada strategi dan manajemen logistik yang baik. Bukan cuma modal nekad doank tapi butuh pertimbangan matang, itu yang jarang kami temui pada diri para pendaki-pendaki jadian yang mentereng naik ke gunung hanya sekedar untuk selfie semata.

Perjalanan ke puncak kurang lebih diprediksikan sekitar 3-4 jam, berangkat pukul 10.00 pagi diprediksi sampai puncak pukul 13.00 dan sampai camp lagi tempat saat maghrib. Dengan perbekalan yang sudah diperkirakan cukup untuk sekitar 10 orang kami berangkat.

Sayangnya perkiraan kami meleset jauhh, treknya yang cukup membuat kaki senat-senut, ditambah ada beberapa teman kami yang cidera kakinya, dan ada pendaki wanita diantara kami, alhasil perjalanan kami molor jauh dari perkiraan waktu awal. Pukul 13.00 belom sampai puncak, bahkan pos terakhir sebelum puncak saja tidak keliatan. Yang parahnya, karena perjalanan yang cukup melelahkan, persediaan air bukan saja menipis, tapi habis. Bahkan sampai tidak ada air untuk perjalanan pulang. Yap plannya amburadul dan alhasil kami semua kehausan.

Baru kali ini ngerasain kehausan yang parah di gunung, ditempat yang mungkin terlhat segar dan asri karena daun-daun hijau dan pemandangan indah, tapi sejujurnya Ceremai inih berbeda, lebih menantang karena air sama sekali susah. Dan dalam keadaan yang haus inilah mental dan keteguhan hati seorang pendaki diuji.

Saking hausnya, melihat ada air dibotol aqua yang berwarna kuning-kuning (you know what lah) pingin diambil kemudian diteguk. Untung saja kawan mengingatkan. Alhasil sampai ke pos terakhir saya ngemutin daun jambu yang cukup lumayan ada airnya. Ditambah ngambil beberapa lumut yang menempel di pohon, berharap ada air disitu.

Baru kali ini air terasa sangat mahal, air terasa sangat dibutuhkan, air terasa sangat jarang. Aku tak bisa ngambil air dari kulkas jika sekedar haus, ndak bisa segera berlari ke keran kamar mandi terdekat untuk mendapatkan air mengalir yang banyak, disini gunung bung, hutan luas dan mata air jauhnya naun jubile ke bawah. Air…air…air…air…. Saya butuh air….

Di tengah kondisi tersebut, saya jadi teringat mengenai istilah air hidup, dimana dikatakan bahwa Firman Tuhan seperti air kehidupan, seperti oase di tengah padang gurun. Mungkin terdengar biasa saja jikalau kita mendengar dan membaca firman itu di rumah, yang persediaan air sangat banyak melimpah ruah. Tapi hal itu sungguh berbeda sekali saya teringat di tengah bahaya dehidrasi, kelelahan dan kekeringan di dalam hutan rimba di gunung yang terkenal jarang airnya.

Firman itu memberikan kekuatan sepenuhnya di tengah kehausan. Bukan hanya bagi fisik yang kelelahan dan kehausan, tapi bagi jiwa yang merindukan pembaharuan. Seperti ada setetes air yang melegakan masuk melalui hati menuju kerongkongan. Walaupun tetap haus, akan tetapi ada kemampuan baru. Firman Tuhan begitu lembut terdengar melalui telingan, bahkan dipikiran kembali diputar begitu banyak kasih dan kuasanya dalam hidupku. Saat itulah aku tersadar penuh akan pentingnya kata “Air Kehidupan”.

Alam adalah bukti cinta kasih Tuhan kepada kita. Alam adalah bentuk bahasa kasih. Alam adalah bukti nyata hal-hal yang ingin Tuhan tunjukan kepada kita. Hari-hari ini aku belajar banyak dari alam, melalui suara angin, melalui sengatan matahai, melalui flora dan fauna yang kutemui dan melalui bukit-bukit serta gunung yang kudaki. Bahasa cinta itu mengali deras bahkan seringnya menghasilkan air mata terharu.

Melalui alam aku belajar bahwa Tuhan selalu ada
Melalui alam aku belajar bukti cinta kasih nyata
Melalui alam aku belajar bahasa kasih sesungguhnya
Dan melalui alam aku belajar bahwa Firmannya begitu nyata dan sempurna
Sama persis seperti air yang melegakan
Di kala mendaki gunung yang terkenal jarang air

Dari Ceremai aku belajar memaknai air kehidupan, baik itu makna air sesungguhnya maupun bentuk dari Firman Tuhan. Hargailah air kehidupan itu, selagi engkau dapat dengan mudah mendapatkannya, selagi Air itu masih datang menghampirimu.

Salam Lestari,

Tian_KSW

Comments

comments