“Boleh ngga kita anak-anak Tuhan punya impian besar? Boleh ngga kita punya keinginan jadi traveler keliling dunia? Boleh ngga kita mau banget punya kehidupan yang settle, bisa senang-senang, punya rumah, mobil, asuransi, dan jaminan hidup yang layak? Boleh ngga kita beli tas mahal merk “Hermes” yang harganya lima-puluh jutaan sebiji, atau sepatu merk“Zara” yang harganya ratusan juta sepasang? Boleh ngga…. Boleh ngga…
Doraemon-Nobita-HD-1024x575

Manusia… seperti dalam lagunya Doraemon yang dinyanyikan Nobita seperti ini: “Aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini ingin itu banyak sekali…” Itulah gambaran hati manusia, penuh dengan keinginan.

Apa sih yang bisa menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas? Boleh ngga kita punya”KEINGINAN”?

Brothers n sisters, kalo kita manusia selalu ingin jawaban yang instan: “Boleh atau nggak”, tapi Tuhan Yesus sering menjawab pertanyaan manusia dengan pertanyaan lagi. Berkali-kali, Tuhan Yesus mengajukan pertanyaan yang tingkatnya lebih dalam dari pertanyaan yang diajukan orang kepada-Nya.

Dalam Matius 19:16-26 kita melihat percakapan antara seorang muda yang kaya, yang menyangka dirinya bisa memperoleh hidup yang kekal karena semua perbuatan baiknya, dengan Tuhan Yesus yang memperdalam pertanyaan di orang muda yang kaya tadi, kepada sebuah tantangan penyerahan diri yang total. “Bersediakah kamu melepaskan semua yang kamu miliki untuk memperoleh sesuatu yang lebih bernilai?” Begitu kira-kira tanggapan Yesus.

Kalau kita baca Alkitab, kita mungkin ngga akan menemukan suatu pernyataan legalistik yang menjelaskan “boleh atau ngga” dalam banyak hal. Termasuk dalam keinginan-keinginan hidup sehari-hari. Tetapi jenis jawaban yang Alkitab berikan buat kita adalah sebuah jawaban yang memperdalam pertanyaan bagi hati kita sendiri. Pertanyaan kita seringkali dangkal, sedangkal keinginan kita. Tidak ada jawaban yang mendalam yang dapat dimengerti oleh orang yang mengajukan pertanyaan yang dangkal sifatnya. Hanya jika kita mengalami sebuah perenungan yang lebih dalam tentang arti tujuan hidup kita yang direfleksikan dengan kehendak Allah yang terdalam, maka kita akan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hidup kita.

Ada beberapa hal yang perlu direnungkan saat kita bertanya apakah kita boleh mengejar semua kebahagiaan di dunia ini. Dengan merenungkan hal-hal ini, maka kita akan memiliki pertanyaan yang lebih mendalam dan tepat sasaran, yaitu kepada kondisi hati kita sendiri, dan kepada pemahaman kita tentang perubahan hidup di dalam Tuhan.

“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” – 1 Yoh. 2:15-17

Pertama kita akan melihat sebuah PERBEDAAN bahwa kehidupan manusia dalam dunia ini dikendalikan oleh KEINGINANNYA SENDIRI (sejarahnya panjang, kita harus tarik garis keadaan ini dengan pemberontakan manusia di Taman Eden), sedangkan orang-orang yang telah ditebus dan menjadi ciptaan baru, hidup karena KEHENDAK ALLAH. Perjalanan seorang pengembara berbeda dengan seorang utusan. Kita sering melihat dalam film tentang para koboi yang mengembara. Mereka terlihat keren dengan semua penampilannya dan aksinya. Seringkali sang koboi memberantas para bandit yang ia temui di jalan. Tapi dia sebenarnya tidak punya tujuan hidup yang jelas, sehingga perjalanan si koboi yang penuh ketegangan itu cuma diakhiri dengan romantisme sepi tentang perjumpaan dengan seorang wanita, kabur ke negeri seberang dengan membawa emas yang banyak, dan hidup bersenang-senang di sana. Bagi dunia, itulah akhir petualangan yang bahagia, dan kisah-kisah seperti ini laku keras di pasaran. Kisah The Chronicles of Narnia adalah salah satu kisah yang menawarkan akhir yang berbeda. Sebagai gambaran petualangan iman di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, semua tokohnya berkarya bukan semata untuk kesenangan, namun dengan alur yang selalu berkaitan dengan dua kata: TUGAS MULIA!

Dalam The Chronicles of Narnia bagian pertama; Peter, Susan, Lucy, dan Edmund adalah empat orang anak biasa yang “dipanggil keluar” (ekklesia) dari kenyamanan dan rutinitas hidup keseharian mereka, dan “dibawa masuk” ke dalam sebuah petualangan memulihkan sebuah negeri yang dahulunya adalah sebuah negeri yang berdaulat di bawah pemerintahan Aslan, seekor singa yang merupakan gambaran dari Kristus. Orang-orang biasa ini diberi tugas khusus dan disertai luar biasa oleh kekuatan Sang Singa – seringkali tanpa mereka sadari. Melewati semua ketegangan, persoalan, dan konflik, akhirnya mereka berhasil memulihkan negeri itu sebagai negeri kepunyaan Aslan, bukan kepunyaan mereka. Namun akhir dari kisah itu menggambarkan bahwa mereka berempat dipercayakan negeri itu untuk memerintah sebagai raja dan ratu bersama Aslan. Lalu mereka kembali ke dalam realitas sehari-hari mereka sebagai anak-anak dengan identitas yang terus mereka bawa, melekat dalam natur mereka: Sebagai raja dan ratu Narnia. Petualangan yang baru, tugas yang baru, panggilan pelayanan yang baru, dan kemuliaan yang terus dinyatakan.

Kisah sang koboi hanya menjadi suatu kisah picisan pengejaran kebahagiaan duniawi, terjadi dalam waktu sementara, berakhir dengan meninggalnya si koboi. Semua film jagoan seolah “tidak rela” jika pemeran utamanya digantikan atau mati di tengah petualangan, karena film itu semata bercerita tentang dia. Kisah Narnia menjadi kisah yang kekal, dengan tokoh yang berganti-ganti namun tetap menggambarkan suatu nilai kemuliaan yang sama. Kisah Narnia tidak berpusat pada tokoh seorang “jagoan”, tetapi kepada kisah kemuliaan Aslan, Sang Pencipta, Pemelihara, dan Penebus yang terus dipancarkan sepanjang zaman.

 

narnia_collage_by_supereilonwypevensie-d4h6l6x

Saya berpikir, jika Yesus sedemikian rupa menderita dan mati bagi segala dosa dan kesia-siaan hidup kita, akankah kita gunakan karya penebusan itu hanya  untuk mengakhiri cerita sebagai koboi yang bersenang-senang di negeri yang jauh bersama wanita idamannya dan sekarung emas? Atau untuk kemuliaan yang tiada tara, yang menyertai kehidupan kita di dunia, untuk terus memancarkan kehidupan dan memberitakan karya Kristus di sepanjang masa kehidupan kita, dan mempersiapkan generasi berikutnya sebagai pewaris iman?

“Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan!” – Pengkhotbah 11:9 –

Kedua, kita perlu menyadari: “Kita mungkin bisa memilih apa yang jadi keinginan kita, tapi kita ngga bisa memilih untuk menghindar dari konsekuensi atas keinginan-keinginan kita.”

Kalau kita memilih untuk jadi Nobita, kita akan tetap jadi anak kelas 4 SD yang keinginannya tidak pernah habis. Sayangnya dalam kehidupan kita tidak ada kantong ajaib Doraemon yang bisa memenuhi segala keinginan kita. Keinginan yang salah menyebabkan kita terjebak pada sikap hati yang salah. Sikap hati yang salah terhadap keinginan-keinginan itu, membuat kita memiliki karakter yang salah. Karakter yang salah dan terus dipupuk, membuat kita menjadi korup dan tidak mencapai panggilan hidup kita dalam kehendak Allah.

“Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu. Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? –Yakobus 4:1-4

Sifat dari keinginan yang muncul dari hawa nafsu manusia adalah ketidakpuasan yang mutlak. Ngga ada satupun hal di dunia ini yang bisa memuaskan hawa nafsu manusia. Pemeliharaan Allah cukup untuk kebutuhan semua orang, tetapi ngga pernah cukup untuk keserakahan satu orang saja. Karena keinginan ini mengikat manusia dan membuat manusia menginginkan kepuasan yang sebenarnya ngga akan pernah terpuaskan, maka dari situlah semua masalah antar manusia timbul.

Orang yang serakah ngga akan bisa berbagi, karena untuk kepuasan dirinya sendiri pun ngga akan pernah cukup. Mari kita ngga bicarakan dulu arti “berbagi” ini dalam konteks uang. Kita bicara tentang waktu. Waktu adalah suatu anugerah yang mahal dari Allah yang diberikan bagi manusia secara gratis, tapi seringkali dijual oleh manusia kepada manusia lain dengan seharga sejumlah uang atau kenyamanan. Manusia modern berpikir waktu adalah miliknya sendiri (bukan milik Tuhan), sehingga banyak diantara kita sebagai orang yang sudah dikuasai pemikiran modern ini, ngga bisa memberikan waktu kita secara gratis buat orang lain. Kita menjual waktu kita; “Siapa yang menguntungkan saya dan memberi saya kenyamanan, boleh membeli waktu saya.” Akibatnya, kita kehilangan persekutuan kita yang natural dengan Allah dan sesama kita. Kita kehilangan keintiman dan menggantikannya dengan transaksi. Kita kehilangan “relasi” dan mendangkalkannya menjadi sekadar “koneksi”. Dalam hal ini, setiap pemberian manusia bagi Allah atau bagi sesamanya juga dibalut dengan keinginan, bukan ketulusan. Kita memberi A, karena kita ingin A1. Kita memberi B, karena ingin B1. Nah, kalau soal waktu saja kita sudah ngga rela untuk berbagi, bagaimana dengan hal-hal lainnya di hidup kita yang berbau “benda ekonomis”? Kita cenderung tidak berbagi, tapi menghabiskan segala sesuatunya sendiri, karena merasa; “Itu kan hasil keringat saya, itu punya saya. Kalau orang lain mau, usaha sendiri dong.” Bukankah jelas bahwa dari keinginan duniawi kitalah timbulnya berbagai persoalan dalam relasi antar manusia?

Konsekuensi dari keinginan yang tidak berlabuh kepada Allah adalah persahabatan dengan dunia. Persahabatan dengan dunia berarti menganggap diri COCOK dengan nilai-nilai dunia. Dalam bagian ini kita merenungkan: “Jika apa yang saya inginkan membuat saya tidak lagi berpikir seperti Kristus, tidak lagi merasakan belas kasihan seperti Kristus, dan saya menggantikan semua itu dengan pola hidup duniawi, akankah saya membibitkan terus keinginan itu, bahkan menyiram dan memupuknya hingga jadi terlalu besar untuk saya cabut kembali?”

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” – Roma 12:2

Ketiga, sebagai Ciptaan Baru di dalam Kristus, seluruh hidup kita punya PERNYATAAN AKAN KEMULIAAN ALLAH dan FUNGSI KEKEKALAN dalam hal apapun yang kita inginkan.

“Saya bisa beli barang branded yang mahal dengan uang hasil keringat saya sendiri, itu halal.” Benar. Tapi coba renungkan lebih dalam, apakah dengan melakukan itu kita sedang memuliakan Allah? Apakah saya sedang melakukan sesuatu yang memiliki dampak kekekalan dalam semua ini baik bagi diri saya sendiri, maupun untuk orang lain?

Mengetahui kehendak Allah dari mulai apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna, adalah suatu perjalanan progresif dalam hidup kekal. Orang yang hidup sementara untuk dirinya sendiri hanya akan berpikir apa yang baik bagi dirinya. Tetapi orang yang NATUR nya sudah diubahkan menjadi ciptaan baru akan mulai berpikir dalam kerangka hidup kekal. Kalaupun kita diberi kelimpahan dalam kehidupan kita di bumi, itu bukan hal yang salah, sejauh kita memiliki penghayatan terhadap dua hal di atas: Apakah ada kemuliaan Allah yang saya nyatakan melalui tindakan saya ini, dan apakah ini memiliki dampak kekekalan? Untuk apa kita mengumpulkan harta di bumi, jika semuanya hanya untuk dihabiskan oleh ngengat dan karat? Tapi jika harta duniawimu itu digunakan sebesar-besarnya untuk kemuliaan Allah, maka itu akan mengerjakan sesuatu yang kekal. Harap dipahami baik-baik bahwa ini bukan karena Allah menginginkan harta duniawimu, tetapi karena di mana hartamu berada, di situ pulalah hatimu (Lukas 12:34). Untuk kita menjadi merdeka, caranya bukan dengan menumpuk harta duniawi dan membeli kemerdekaan kita dari dunia (kekayaan, kesenangan, jaminan, penampilan, jabatan, dan popularitas); melainkan dengan MELEPASKAN HAK atas harta duniawi kita ke dalam tangan Allah, dan mempersilakan Allah menggunakannya melalui tangan kita untuk Kerajaan-Nya di bumi.

Menyadari bahwa kita BUKAN PEMILIK, namun PENGELOLA SAJA dari harta duniawi yang Allah percayakan kepada kita, akan membuat kita memiliki keinginan-keinginan yang benar dalam hidup ini. Keinginan untuk  mempersembahkan yang terbaik kepada Allah, keinginan untuk meningkatkan kualitas kehidupan orang lain, keinginan untuk menyatakan kerajaan-Nya di tengah dunia, adalah sebagian dari bentuk keinginan yang benar yang muncul dari kehendak Allah. Keinginan seperti itulah yang membuat John Wesley, salah satu hamba Tuhan yang luar biasa itu mempersembahkan 90 persen dari penghasilannya untuk melayani Tuhan dan orang-orang miskin, membangun fasilitas pendidikan di berbagai tempat, serta untuk membangun orang lain dan membuat mereka semakin cerdas secara rohani dan intelektual agar mereka bisa berkarya di tengah dunia; dan ia hanya mengambil 10 persen dari penghasilannya yang cukup untuk kehidupannya sehari-hari saja. Semua gaya hidup itu muncul dari kebiasaannya berdoa setiap hari bagi orang-orang yang berkekurangan. Tidak kurang dari 4 jam sehari, ia berlutut dan berdoa bagi kebutuhan banyak orang agar mereka bertemu dengan kehendak Allah yang akan mengubah keadaan mereka. Jubah imamnya lusuh di bagian lutut karena seringnya ia berdoa. Lebih dari itu, ia menyatakan kesediaan dirinya untuk dipakai Allah dan berkarya bagi mereka.

Karena kita diberi tanggung jawab untuk visi pemulihan segala sesuatu di dalam Kristus, maka kita diberikan natur kekekalan di dalam hati kita sebagai anak-anak-Nya melalui kehadiran Roh Kudus. Natur kekekalan ini berlawanan dengan natur kedagingan yang sifatnya kesenangan sementara. Maka secara etika di tengah dunia, orang Kristen juga diajar untuk ngga mengeksplorasi keinginan dirinya pribadi sebesar-besarnnya dengan merusak alam, menghancurkan hidup orang lain, melakukan pemborosan dan gaya hidup sia-sia, apalagi menginggalkan Tuhan. Renungkan keinginan-keinginan kita dalam cara pandang kekekalan.

Jadi mari kita ulangi pertanyaan kita tadi…

“Boleh ngga kita anak-anak Tuhan punya impian besar? Boleh ngga kita punya keinginan jadi traveler keliling dunia? Boleh ngga kita mau banget punya kehidupan yang settle, bisa senang-senang, punya rumah, mobil, asuransi, dan jaminan hidup yang layak? Boleh ngga kita beli tas mahal merk “Hermes” yang harganya lima-puluh jutaan sebiji, atau sepatu merk “Zara” yang harganya ratusan juta sepasang? Boleh ngga…. Boleh ngga…

Dan sebagai encounter atas pertanyaan itu, mari kita bertanya pada hati kita:

-          Apakah semua itu muncul dari keinginan duniawi saya, atau karena kehendak Allah?

-          Apakah saya memahami konsekuensi dari keinginan-keinginan saya itu sampai titik finalnya?

-          Apakah saya menyatakan kemuliaan Allah dan melakukan sesuatu yang berdampak kekal bagi diri sendiri dan orang lain melalui semua itu?

Yang terpenting adalah: “APAKAH KITA DITEBUS OLEH DARAH KRISTUS UNTUK MEMBUAT KITA HIDUP BAGI KESENANGAN DIRI SENDIRI, ATAU BAGI DIA?”

- YKT @ 2014 -

Comments

comments