Featured Posts

Cerita Tentang Kasih Bapa >> What They Say About Bible << Alkitab itu apa? Mulanya saya membaca Alkitab seperti kewajiban saja, seperti rutinitas, dan saya melihatnya seperti sebuah buku pedoman hidup saja, yang...

Read more

Keluarga Oh.. Keluarga “ Sekali lagi kudengar suara piring pecah, AKU AKAN PERGI DARI SINI !!!!!” Jeritku dalam hati. “Tetapi jeritan itu tak dapat kulakukan, aku tak dapat melarikan diri dari neraka ini. Aku nggak...

Read more

Waduuh... Bocor!!! Rencana untuk sampai rumah secepatnya ternyata harus digagalkan karena ban motor yang kempes, dan ternyata ini bukan sekedar kempes tapi bocor. Terpaksa harus menuntun motor kesayangan menuju tambal...

Read more

Lagi Patah Hati? Siapa yang pernah merasakan rasanya patah hati? Hmm.. biasanya anak-anak muda pernah nih merasakan yang namanya 'patah hati' entah itu karena ditolak gebetan, karena tiba-tiba diputusin pacar, atau mungkin...

Read more

Tekhnik Membelah Roti Pelajaran hari ini adalah bagaimana cara membelah roti coklat dengan benar menjadi 2 bagian yang adil. Alat yang dibutuhkan tentu saja pisau yang tajam. Bagaimana kita tahu kalau pisaunya cukup tajam?...

Read more

twitter

Follow on Tweets

  •  

Cerita Tentang Kasih Bapa

Category : Asides

>> What They Say About Bible <<

Alkitab itu apa?
Mulanya saya membaca Alkitab seperti kewajiban saja, seperti rutinitas, dan saya melihatnya seperti sebuah buku pedoman hidup saja, yang kalau kata-katanya dituruti bakal mendatangkan kehidupan yang lebih baik.
tapi lama-kelamaan saya disadarkan lebih jauh,

Sebenarnya isinya adalah kata-kata dan cerita tentang kasih seorang Bapa. Lihat, isinya tidak melulu berupa perintah dan peringatan tetapi keluh kesah seorang Bapa tentang kelakuan anak-anak-Nya… Seringkali Tuhan menyesalkan kelakuan manusia, seringkali menceritakan kemarahan Tuhan, tapi juga betapa seringnya karena kasihNya yang besar, Tuhan berbalik dan reda akan amarahNya, lalu Dia memperbaharui janji-janji yang dilanggar, dan membuat janji baru supaya anak-anakNya sanggup bertobat dan kembali kepadaNya.

Secara keseluruhan, isinya adalah, kata-kata Tuhan yang menyatakan kepada kita bahwa Dia mengasihi kita, dan menunjukkan segala yang telah dilakukanNya untuk kita. Mulai dari jaman Adam dan Hawa, Nuh, Musa, Daud, sampai Tuhan sendiri yang turun sebagai manusia yaitu Tuhan Yesus, dan selanjutnya cerita kisah para rasul sampai ramalan-ramalan dan nubuatan kejadian-kejadian yang akan datang.

Jadi buat apa Alkitab? Buat apa semua firman-firman dariNya itu? Semuanya untuk menunjukkan bahwa Dia sangat mengasihi kita (ciptaanNya yang sering murtad ini), sampai Dia sendiri rela mati demi kita.

NB: Saya tidak bohong, benar isi Alkitab adalah cerita kasih seorang Bapa^^

-Tuhan Yesus memberkati-

Sonny Ketsit – Komikus & Illustrator

Keluarga Oh.. Keluarga

Category : Asides, Simply Articles

“ Sekali lagi kudengar suara piring pecah, AKU AKAN PERGI DARI SINI !!!!!” Jeritku dalam hati.

“Tetapi jeritan itu tak dapat kulakukan, aku tak dapat melarikan diri dari neraka ini. Aku nggak bisa lari dari kenyataan ini, dan aku nggak bisa membuat papa dan mama berhenti berkelahi !!! “ Kataku dalam hati

Dan tidak berapa lama kemudian, aku bersimpuh penuh air mata, memejamkan mata, berlutut di tepi kasurku, dan hanya mengucapkan sepatah kata “ Tuhan……”

“Klik..”

Kutekan tombol berwarna merah pada remote TV-ku, dan berakhirlah cerita di atas. Yah, walaupun hanya sebatas sebuah cerita singkat di sebuah stasiun TV swasta, tapi cerita itu cukup membuat hatiku merinding. Antara bersyukur dan sedih, betapa tidak, agaknya cerita itu sangat nyata, bahkan di dalam dunia ini, terjadi pada sahabatku, temanku, dan tetangga-tetanggaku.

Harta yang paling berharga adalah keluarga. Masih ingatkan dengan lagu itu? atau mungkin sinetron itu? Dulu aku paling suka dengan sinetron ini, Keluarga Cemara, karena bagiku inilah sinetron yang bermakna dan memberikan pesan yang dalam, bahwa dalam kekurangan merekapun, mereka tetap memiliki kelebihan, yaitu sebuah keluarga.

Bagaimana dengan kalian, mampukah berkata bahwa memiliki keluarga adalah harta yang paling bermakna? Mampukah berkata bahwa keluarga adalah sebuah kelebihan yang kita miliki? mampukah kita berkata keluarga kita adalah sebuah mukjizat?

Bagaimana mungkin papaku yang suka memaki dan memukuli mamaku bahkan memaksa kakakku menyerahkan gajinya adalah harta yang bermakna? Bagaimana mungkin mama yang sering memarahiku tanpa alasan dan sangat cerewet itu dapat dibilang sebuah mukjizat? Bagaimana mungkin keluargaku adalah sebuah kelebihan dimana aku merasa tidak ingin dilahirkan di dalam keluarga ini? Apakah ini yang namanya harta yang paling berharga?

Aku sangat tahu bahwa Keluarga Cemara itu tidak selalu ada di dalam keluarga kita. Sosok Abah yang begitu sabar dan bijaksana ditambah sangat sayang terhadap Emak dan anak-anaknya seringkali tidak kita jumpai dalam figur papa kita yang selalu bermuka muram durjana, atau sosok Emak yang selalu men-support Abah dan selalu ada untuk anak-anaknya tidak ada dalam figur mamaku yang sangat cerewet itu. Tapi paling tidak kita bisa mengetahui bahwa kita menginginkan keluarga yang seperti itu.

Terkadang saat aku menulis atau bercerita mengenai keluarga, aku sedih, karena ada begitu banyak pertanyaan yang tidak dapat aku jawab. Bukan karena aku tidak tahu jawabannya, tetapi karena aku tidak mengetahui bagaimana rasanya dalam posisi mereka. Pertanyaan atau masalah mereka selalu seputar keluarga yang rusak, yang papa mamanya selalu berantem, selalu terdengar piring pecah atau makian dari balik dapur atau kamar tidur, tidak ada doa-doa kecil dalam keluarga, tidak ada duduk melingkar di ruang keluarga untuk berbagi cerita seharian ini, tidak ada jamuan makan malam bersama atau bersama-sama menikmati makan siang di luar bersama-sama. Aku tidak bisa memberikan jawaban itu kepada mereka, aku tidak bisa berpura-pura merasakan apa yang mereka rasakan padahal sama sekali tidak kurasakan.

Tetapi aku sangat mengerti hal itu, walaupun tidak mengerti bagaimana sakitnya di dalam keadaan itu, tapi aku mengerti bagaimana hancurnya hidup dan hati itu.  Aku tahu mungkin ini akan terdengar aneh bagi kalian yang sedang merasakan keluarga yang hampir hancur, tapi percayalah sebobrok apapun keluarga itu, masih lebih baik daripada tidak punya keluarga. Segalak-galaknya papa itu, masih lebih baik daripada tidak punya papa atau kehilangan papa yang galak itu. Secerewetnya mama kalian, masih lebih baik daripada tidak punya mama atau kehilangan mama secara tiba-tiba. Kadang kita akan merasa memiliki saat sudah kehilangan, jadi jangan pernah menghilang atau menghilangkan apa yang telah kita miliki. Pertahankan itu dan tetaplah bertahan, karena aku percaya, bahwa Yesus turut bekerja dan peduli dalam permasalahan keluarga kita.

Bagi kalian yang sedang berjuang untuk keutuhan keluarga kalian, bagi kalian yang sedang berdoa untuk papa dan mama kalian, tetaplah berjuang dan tetaplah berdoa. Akan ada saatnya mutiara indah itu muncul dari balik pekatnya laut, akan ada saatnya mukjizat itu menampakan dirinya di tengah keluarga kalian, dan akan ada saatnya kalian akan dipakai untuk menjadi jalan dan jembatan untuk keluarga kalian.

Dan bagi kalian yang telah memiliki keluarga terindah, telah mendapatkan harta dan mukjizat itu, janganlah lelah untuk mengucap syukur, karena masih banyak yang belum merasakan itu, dan jadilah keluarga bagi yang memerlukan sebuah keluarga.

Satu hal yang aku yakin dari sebuah keluarga, bahwa keluarga bukanlah bagian dari hidup, tetapi itulah hidupmu.

Pesanku, selagi kita bisa mendoakan papa, mama, kakak, adik, papa angkat, mama angkat, opa, oma, siapapun itu yang ada dalam keluarga kita, selagi kita bisa, yuk kita berdoa untuk mereka. Sambil kita meresapi sepenggal lagu dari Keluarga Cemara ini :

Harta yang paling berharga adalah keluarga

Istana yang paling indah adalah keluarga


Be blessed….

Oleh KSW_FOS Community

Waduuh… Bocor!!!

Category : Asides

Rencana untuk sampai rumah secepatnya ternyata harus digagalkan karena ban motor yang kempes, dan ternyata ini bukan sekedar kempes tapi bocor. Terpaksa harus menuntun motor kesayangan menuju tambal ban terdekat yang tidak dekat.

Motor terasa berat saat di gas, padahal gigi satu, dan lagi ditambah stang motor yang agak goyang sedikit. Dan setelah dilihat, ternyata bener, ban motornya bocor. Dan akhirnya rencana pulang agak sorean harus batal karena dipaksa menuntun motor untuk menambal bannya.

Sampai di bengkel, ternyata si “Lae”, sudah siap dengan peralatan tempur seadanya untuk menambal ban yang bocor. Dimulai dengan mengeluarkan ban dalem motorku, lalu memeriksa titik bocornya dengan menggunakan seember air, trus ditandai dengan paku. Dua lobang kecil di ban dalam motorku yang cukup membuatku berjalan 1 kilometer mencari tukang tambal ban.

Tugas si “Lae” itu belum selesai, setelah menemukan 2 titik bocornya, kemudian dia menghaluskan sisi/daerah sekitar titik itu, dikerok sedemikian rupa sehingga daerah itu menjadi agak sedikit halus. Setelah itu “Lae” itu mengambil senjata utamanya untuk menambal, diambilnya sepotong tambalan, direkatkan ke titik bocor itu, lalu menuangkan cairan untuk menyalakan api. Proses selanjutnya adalah menunggu hingga api itu padam dan tertamballah titik bocor itu.

Hal serupa dilakukan juga untuk titik selanjutnya. Dan akhirnya selesailah proses penambalan ban yang cukup memakan waktu. Oh Iya ada yang kelupaan, sebelum memulai proses menambal, “lae” itu mencari penyebab bocornya, diraba-raba ban luar, dan akhirnya menemukan sepotong kecil paku/kawat.

Selesailah sudah proses menambal itu, dan aku bisa melanjutkan perjalanan kembali. Pengalaman ban bocor yang luar biasa.

Luar biasa ??? Ahh, kayaknya biasa-biasa aja deh.. Apanya yang spesial dari cerita diatas ?? Ban bocornya, tambal bannya, “Lae”-nya, atau prosesnya ??? SEMUANYA !!!

Yah, karena pengalamn itu aku jadi kenal yang namanya istilah “bocor Rohani”, Whatzz, apaan tuh??

Yap, seperti sebuah ban yang bocor, titik sekecil apapun dalam kerohanian kita akan dijadikan celah bagi iblis untuk mengambil alih kehidupan kita. Perlahan tapi pasti, melalui titik kecil itu, kerohanian kita akan semakin kempis, lalu menjadi kering, dan akhirnya benar-benar mati. Ini yang bahaya, karena titik itu seringkali tidak kita sadari, dan parahnya lagi banyak yang tersadar saat kerohanian mereka berada di titik kritis.

Titik bocor itu bisa berupa karakter kita yang belum diubahkan, contohnya egois, gampang tersinggung, iri hati, mudah terbakar api cemburu, gampang ngambek, gampang mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati atau karakter buruk lainnya. Titik itu bisa juga berupa akar pahit dan kenangan masa lalu yang belum diselesaikan. Atau juga dapat berupa dosa-dosa tersembunyi yang belum diakui dan masih dilakukan. Titik-titik ini akan menyedot habis kerohanian kita sehingga tanpa sadar kita mulai menjauh dan dijauhkan dari Tuhan. Repotnya, yang kita sadari adalah Tuhan yang meninggalkan kita, Tuhan yang tidak setia sama kita, pokoknya semua salah Tuhan deh, wah bahaya !! Padahal sebenarnya ada titik-titik yang belum kita beresin.

Titik itu bisa berupa akrakter yang belum diubahkan, akar pahit dan dosa-dosa tersembunyi.

Titik itu perlu ditambal, dan proses tambal-menambal itu nggak gampang dan nggak mengenakan. Butuh proses yang cukup panjang dan butuh lebih dari sekedar kemauan untuk menambalnya.

Proses pertama yang dibutuhkan adalah SADAR kalau ternyata kita sedang mengalami kebocoran. Seandainya aku nggak sadar kalau banku bocor, mungkin aja aku akan memacu motorku dengan kecepatan penuh untuk sampai dirumah dengan kondisi ban yang bocor, dan akibatnya adalah pelek motor jadi rusak, ban jadi semakin nggak karuan bentuknya, dan dapat berakibat kecelakaan. Fatal kan? Itu baru ban bocor, gimana kalau kita nggak sadar kerohanian kita sedang bocor, akan berujung pada kematian kekal, dan yang bakalan ketawa pertama adalah si iblis.

Setelah sadar, lalu begegas mencari tukang tambal ban, supaya bannya bisa ditambal. Aku suka dengan kata-kata “mengejar Pemulihan”. Karena sadar aja belum cukup, harus ada tindakan nyata dengan membawa “kebocoran” itu pada ahlinya supaya didiagnosa dan segera diobati. Ahlinya ban bocor adalah si “lae” itu, dan ahlinya bocor rohani yah Tuhan Yesus donk.

Sampai di tempat si ahli, pertama kali harus dicari titik bocor itu. Dan media yang paling ampuh adalah air, karena dengan air, akan terlihat titik yang tidak terlihat. Setelah terlihat, baru ditandai supaya nggak hilang. Ini proses yang cukup susah seandainya tidak ada air, karena titik itu begitu kecil sehingga tidak terlihat. Kadang titik bocor rohani kita begitu kecil, sehingga tidak terlihat oleh mata kita, terlalu kecil untuk kita sadari. Jadi perlu media penghantar untuk menemukan titik itu. Air adalah perlambang pertobatan dan pelepasan. Saat kita merasa tidak tahu apa yang salah dengan kita, dimanakah letak titik itu, bawa dalam doa supaya Yesus menunjukan titik itu. Dan doa ini memerlukan kerendahan hati dan pengakuan bahwa ada yang sedang tidak beres di hidup kita.

Sampailah kita pada proses penambalan, di “kikir” dulu daerah dimana titik itu ada. Kalau aku berpikir proses ini membuat lubang itu menjadi terlihat dengan jelas, dan juga supaya titik itu dapat ditambal. Mungkin inilah saat dimana titik itu dibersihkan sebersih-bersihnya, supaya saat ditambal tidak ada yang mengganjal. Dalam dunia rohani aku mengenal kata pemberesan, dimana setiap akar pahit dicabut hingga akar-akarnya, setiap masalah diselesaikan seselesainya, dan setiap doa diakui sejujur-jujurnya, nggak gampang memang, apalagi mengingat “titik bocor” itu susah untuk dilupakan, susah untuk diakui dan susah untuk dimaafkan. Tapi harus dilakukan, karena ini juga sama pentingnya dengan menambal.

Dan inilah proses yang ditunggu-tunggu, mengambil sepotong karet lain, ditempel dititik bocor itu, lalu dipanaskan dan di press menggunakan mesin ala kadarnya. Tunggu sekitar 10 menit, dan akhirnya tertambalah titik itu. Proses terakhir yang mungkit bagi si “ban” menyakitkan, mengingat dirinya harus dibakar dalam api yang menyala berjam-jam. Tapi ibarat sebuah bejana tanah liat yang sedang dibentuk, pada akhirnya, setelah semua proses itu selesai, jadilah sebuah bejana yang indah. Jadilah sebuah ban yang kembali siap dipakai untuk berkendara, tertutuplah titik itu. Proses ini yang seringkali ditinggalkan atau dilupakan saat ada titik-titik bocor di kerohanian kita. Kecenderungan untuk puas pada proses pemberesan, membuat kita terhenti untuk melakukan proses ini, proses bertobat, penyadaran akan arti penebusan.

Dalam bahasa aslinya, bertobat artinya metanoia, ibarat orang yang dompetnya tertinggal, ia tidak hanya sadar saja dan diam ditempat, tetapi dia berbalik arah dan mengambil dompet itu. Ada sebuah tindakan yang dilakukan, ada sebuah komitmen yang dibuat. Ini yang dinamakan pertobatan sejati, saat kita mengambil sebuah langkah untuk “say No” dengan karakter-karakter buruk kita yang lama, untuk “say no” dengan semua akar pahit dan kenangan masa lalu kita, dan “say no” untuk segala dosa yang membuat kita ketagihan.

Dan sembari mengatakan “no” untuk hal-hal itu, kita mengingat perkataan Yesus di kayu salib, “ TETELESTAI…”, SUDAH SELESAIHE PAID IT ALL !!!

Si “Lae” membuyarkan lamunanku, banku sudah selesai di tambal dan siap jalan kembali, dan aku harus membayar sejumlah uang untuk tambalan itu. Satu hal yang aku dapatkan hari ini, bukan hanya banku yang ditambal, tetapi kerohanianku dan kehidupanku sudah ditambal olehNya, sebuah tambalan bukan dengan karet bekas, tetapi dengan darah yang mahal yang tercurah dan air mata yang menandakan kerinduanNya kepadaku.

Dan aku harus membayarnya………………….dengan hidupku.

Thanks Jesus.

Ditulis oleh KSW_FOS Community

Lagi Patah Hati?

Category : Asides

Siapa yang pernah merasakan rasanya patah hati? Hmm.. biasanya anak-anak muda pernah nih merasakan yang namanya ‘patah hati’ entah itu karena ditolak gebetan, karena tiba-tiba diputusin pacar, atau mungkin karena melihat orang yang secara diam-diam kita sayang tiba-tiba jadian sama orang lain.. Duuuh.. rasanya tak dapat diungkapkan dengan kata-kata..

Nah.. biasanya lagi, kalo yang namanya lagi patah hati, kita jadi enggak semangat buat ngapa-ngapain.. Makan males, belajar males, kerja males, mandi males (waduh?) dan yang paling gawatnya lagi sampai-sampai ke gereja juga jadi males! Ini dia nih FOSters yang kadang-kadang mungkin kita enggak sadari.. Sewaktu kita lagi patah hati karena masalah cinta, beberapa dari kita malah jadi cenderung menjauh dari Tuhan, jangankan baca Alkitab, doa aja juga males, kita mungkin lebih memilih menghabiskan waktu kita buat curhat sama sahabat-sahabat kita dibanding ‘curhat’ sama Tuhan…

FOSters, kalian tahu enggak, kalo kita punya Allah yang bukan cuman punya kasih tapi Dia adalah Kasih itu sendiri.. GOD is Love.. Dan kasih yang Dia miliki bukan sembarang kasih, tapi kasih yang sempurna.. Kita mungkin mikirnya kalo masalah lain sih Tuhan mungkin mengerti tapi kalo masalah hati dan masalah anak muda seperti ini, apa Tuhan mau peduli juga? Apa Tuhan tahu yah rasanya saat aku bilang “Tuhan aku sayang sama seseorang tapi orang itu enggak bales rasa sayang aku, dan sekarang hati aku rasanya sedih banget..”

FOSters 2000 tahun yang lalu Dia datang menyatakan kasih-Nya pada umat-Nya, dan apa yang terjadi? banyak yang menolak-Nya, mengkhianati-Nya, bahkan hingga saat ini.. Kalau kalian pikir bahwa Tuhan enggak tahu rasanya ditolak, kalian harus berpikir ulang. Apa yang kita rasakan saat sedang patah hati karena cinta, ENGGAK ADA APA-APANYA dibanding apa yang pernah Ia rasakan..

Dan karena Ia tahu rasanya, Ia juga peduli dengan keadaan hati kita.. Tuhan sanggup memulihkan hati kita karena Dia memiliki Kasih yang sempurna yang dapat memenuhi hati kita. Dan saat hati kita dipenuhi oleh Kasih Allah (Kasih Agape) Percaya deh, kita enggak lagi tergantung oleh perasaan kita yang sering berubah karena cinta. Dengan kasih Allah kita bisa mengasihi orang lain dengan lebih tulus dan enggak peduli LAGI PATAH HATI atau enggak. kita akan selalu semangat menjalani hidup^^. Karena kita tahu Allah selalu berada di dekat kita dan Kasih yang dari Allah cukup untuk membuat kita selalu bersukacita :)

Mazmur 34:19 “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”

So Be Blessed FOSters! Love Your Lord and Live Your Life Graciously^^

Ditulis oleh : LNY_FOS Community

Tekhnik Membelah Roti

Category : Asides, Pojok Tukang Bakmi

Pelajaran hari ini adalah bagaimana cara membelah roti coklat dengan benar menjadi 2 bagian yang adil. Alat yang dibutuhkan tentu saja pisau yang tajam. Bagaimana kita tahu kalau pisaunya cukup tajam? Mudah. Jatuhkan sehelai rambut ke atas mata pisau, jika rambut terpotong dengan sendirinya berarti pisau itu cukup tajam. Kalau tidak terpotong? Asah lagi sampai tajam. Kalau sudah, kita potong roti itu jadi 2.

Masalahnya, supaya adil berarti ke dua bagian yang terpotong harus sama beratnya kan? Kelebihan atau kekurangan 0.0000000000001 gram saja berarti sudah tidak adil kan?

Dan supaya adil, pastinya kedua bagian roti harus sama enaknya. Kan enggak adil kalau satu bagian sedikit hangus atau bantat sementara bagian lainnya matang sempurna. Dan pastinya jumlah coklat di dalam masing-masing bagian juga harus sama banyak dan enaknya kan?

Itu baru masalah fisik roti, belum orang yang akan menerima roti itu sendiri. Kalau salah satunya anak kecil sedangkan yang lainnya orang dewasa, bagaimana supaya adil membaginya? Apakah adil membagi roti jadi 2 bagian sama besar? Ataukah harusnya yang lebih tua mendapat bagian lebih banyak? Atau harusnya yang anak kecil karena badannya lebih kecil? Tapi bukankah orang dewasa badannya lebih besar yang berarti butuh lebih banyak energi sementara anak kecil dengan sedikit roti pun mungkin sudah kenyang? Atau justru anak kecil harus lebih banyak karena dalam masa pertumbuhan dan butuh lebih banyak makanan?

Bagaimana kalau penerima roti itu pria dan wanita? Haruskah pria lebih banyak karena wanita makan lebih sedikit? Sayang kan kalau sisa rotinya dibuang? Belum lagi kalau yang perempuan sedang diet. Atau karena emansipasi keduanya harus dapat bagian yang sama besar? Sekalipun mungkin sebagian akan dibuang?

Dan bagaimana pula kalau salah satu pihak tidak terlalu suka roti? Apakah yang suka roti harus mendapat bagian lebih banyak? Tapi kan suka atau tidak suka roti, kedua pihak tetap harus mendapat bagian yang adil kan? Tapi adilkah kalau pihak yang menginginkan harus melihat barang yang diinginkannya dibuang oleh orang yang tidak suka?

Menyiapkan roti – sudah!

Menyiapkan pisau pusaka – sudah!

Membagi 2 dengan adil – ??? Apa yang disebut adil itu?

Tuhan yang mendatangkan bencana alam yang menimpa orang baik dan orang jahat.

Tuhan yang menyediakan matahari yang menumbuhkan makanan bagi orang jahat dan orang baik.

Tuhan yang membuat anak – anak terlahir sehat tapi juga terlahir cacat.

Tuhan yang membuat neraka bagi orang-orang yang menolakNYA.

Tapi Tuhan yang sama juga mengorbankan diri buat orang-orang berdosa itu supaya mereka bisa tinggal di surga.

Tuhan yang mendatangkan air bah dan Tuhan yang merancang bahtera.

Tuhan yang membebaskan Israel dan mendatangkan tulah Mesir

Tuhan yang bertaruh dengan iblis dan menghajar Ayub.

Tuhan yang membimbing Mother Theresa dan Tuhan yang membiarkan phedofil menjual foto korban mereka di internet.

Apakah Tuhan adil?

Tapi ketika kita menemui kesulitan dalam konsep keadilan bahkan ketika kita ingin memotong roti, bagaimana kita bisa menilai keadilan Tuhan?

Ketika kita kesulitan mengatur keluarga kita sendiri, bagaimana kita bisa memerintah Tuhan mengenai bagaimana mengatur dunia?

Karena Tuhan adalah Tuhan dan Ayub adalah manusia.

Dan supaya Ayub mengerti itu, Tuhan menghabiskan 4 pasal (Ayub 38-41) untuk mengomeli Ayub dari dalam badai, Dan sekali lagi Tuhan menyatakan dirinya adalah Allah yang membentuk bumi ini dan Ayub yang mungkin saat itu gemetar menyadari kalau dirinya yang belum pernah turun ke dasar laut mencoba menghakimi Pencipta laut itu sendiri.

Ketika Ayub membawa pertanyaan mengenai penderitaan dan ketidakadilan, Tuhan tidak mengambil papan tulis atau memutar slide pertemuannya dengan iblis. Tuhan adalah Tuhan, Dia tidak perlu menjelaskan soal perbuatanNYA. Dia tidak berhutang kepada kita dan tidak punya kewajiban untuk menjelaskan. Tuhan yang memberi dan Tuhan yang mengambil, semuanya kepunyaan Dia.

Tuhan tidak perlu menjelaskan diriNYA, bumi ini sendiri adalah bukti keTuhananNYA. Jangankan menciptakan bumi, kita bahkan belum sanggup mengebor sampai ke inti bumi atau mengendalikan pergerakan lempeng benua. Tapi, seperti Ayub, bahkan mungkin lebih kasar darinya, kita menyebut Dia bodoh dan tidak kompeten. Dan dengan membawa roti yang berantakan terpotong-potong, kita menghadap Tuhan dan berkotbah mengenai keadilan.

Ayub melakukan hal itu, dan seandainya saya Tuhan, saya akan lemparkan dia ke ujung semesta karena berani mempertanyakan keputusan Pencipta Alam Semesta. Tapi, saya bukan Tuhan dan Tuhan jelas bukan saya. Dan karena itu Tuhan mengampuni Ayub, dan karena itu Tuhan menjelaskan dirinya lewat Yesus, dan karena itu Tuhan mati di kayu salib.

Karena Tuhan adalah Tuhan

Ayub 11:7-9 Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa? Tingginya seperti langit–apa yang dapat kaulakukan? Dalamnya melebihi dunia orang mati–apa yang dapat kauketahui? Lebih panjang dari pada bumi ukurannya, dan lebih luas dari pada samudera.

Ditulis oleh Tukang Bakmi untuk BASH

Jadilah Tenang

Category : Asides

Hari ini, pas lagi membaca sebuah buku, ada sebuah cerita yang menarik bagiku, agak sedih sih, tapi kita bisa belajar sesuatu dari kisah ini.

Seorang janda miskin bernama Siu lan memiliki seorang putri kecil berumur 7 tahun yang bernama Lie Mei. Kemiskinan memaksanya membuat kue dan menjajakannya untuk biaya hidup mereka berdua. Tidak seperti anak pada umumnya, hidup penuh kekurangan membuat Lie Mei tidak pernah bermanja-manja kepada ibunya.

Pada suatu malam di musim dingin, tepatnya musim salju, saat selesai membuat kue, Siu Lan melihat keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Siu Lan berpesan kepada Lie Mei, anaknya, untuk menunggu di rumah karena akan membeli keranjang baru.

Saat pulang dari membeli keranjang kue, Siu Lan menemukan pintu rumah tidak terkunci dan Lie Mei tidak ada di tumah. Siu Lan menjadi marah. Putrinya benar-benar tidak tahu diri. Sudah Hidup susah, masih juga pergi bermain dengan teman-temannya. Lie Mei tidak menunggu rumah sesuai pesannya.

Dengan kesal Siu Lan menyusun kue-kuenya ke keranjang barunya, dan pergi menjajakan kue di tengah badai salju. Yah mau bagaimana lagi, mereka harus mendapatkan uang untuk makan.

Namun sebagai hukuman, pintu rumah di kunci Siu Lan dari luar agar Lie Mei tidak bisa pulang. Putri kecil itu harus diberi pelajaran, pikirnya geram. Lie Mei sudah berani kurang ajar.

Sepulang dari menjajakan kue, Siu Lan menemukan putrinya tergeletak di depan pintu, membeku dan sudah tidak bernapas lagi. Jeritan Siu lan membelah kebekuan salju. Ia menangis meraung-raung, namun tetap Lie Mei tidak bergerak. Dengan segera Siu Lan membawa anaknya masuk untuk menghangatkannya.

Siu Lan mengguncang-guncangkan tubuh Lie Mei, namun tidak ada gerakan. Dan tiba-tiba sebuah bungkusan kecil terjatuh dari tangan Lie Mei. Siu Lan membukanya, ada sepotong biskuit kecil dibungkus dengan kertas yang ada tulisannya. Itu adalah tulisan Lie Mei dalam kertas usang, dan saat Siu Lan membacanya, dia hanya terdiam penuh penyesalan, karena itulah tulisan terakhir yang dia baca dari anaknya.

“ Hi..hi… mama pasti lupa. Ini hari istimewa bagi mama. Aku membelikan biscuit kecil ini untuk hadiah. Uangku tidak cukup membeli biscuit yang besar. Hi..hi… Mama, selamat ulang tahun….”

Sahabat mungkin terharu bahkan menitikan air mata saat membaca kisah itu. Ini adalah kisah nyata yang terjadi pada tahun 2007, di tulis lagi oleh pak Xavier Quentin Pranata dalam bukunya Laugh is beautiful.

Menyesal, oww…pasti. Seandainya menjadi Lie Mei, aku yakin pastinya penyesalan yang luar biasa sekali, dan mungkin akan bersifat permanen bahkan seumur hidup. Semuanya itu diawali karena pikiran negatif dan emosi yang begitu besar, sehingga mengambil kesimpulan dan langkah yang salah. Akibatnya adalah kehilangan yang paling berharga dalam hidupnya, bahkan setelah itu kehilangan kehidupan karena ada berton-ton penyesalan yang telah menanti.

Secepat dan setepat apapun langkah yang kita ambil, jika berdasarkan emosi sesaat dan negative thinking, percaya deh nggak bakalan bener. Pasti ada-ada aja masalah yang akan ditimbulkan, dan selalu berujung penyesalan. Nggak ada hasilnya dan cenderung merugikan.

“Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.” 1 Petrus 4:7

Ketenangan adalah kunci, sama saat kita sedang berenang, bukan hanya kemampuan berenang dan pernapasan yang harus kita kuasai, tetapi ketenangan dalam air. Karena dalam ketenangan itu kita dapat bergerak dan bernafas secara teratur. Begitu juga dalam menjalani hari-hari ini, ketenangan adalah kunci, untuk kita bisa melihat, merasakan, berfikir dan melangkah dengan tepat dan teratur. Kalo emosi kan jadinya suara Tuhan nggak kedengaran, tertutup sama ego kita dan justru malah kita dengerin suara iblis. Karena saat kita menguasai diri dan menjadi tenang, saat itulah Tuhan akan berbicara dan memberikan jawaban atas semua masalah dalam hidup kita.

“Jadilah tenang supaya kamu dapat berdoa…”

Ditulis Oleh KSW_FOS Community

Yang Meringankan Segalanya

Category : Asides

Kejadian 29:20
“Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel.”

Wah, karena cintanya yang begitu besar kepada Rahel sampai-sampai Yakub yang disuruh bekerja tanpa gaji selama tujuh tahun itu menganggapnya seperti beberapa hari saja! Ternyata dari semenjak dahulu kala, cinta merupakan kekuatan terbesar yang bisa membuat seseorang melakukan sesuatu yang sulit menjadi terasa mudah.

Seperti itulah seharusnya kita mentaati Firman Tuhan.. Mungkin memang kadangkala kita merasa sangat sulit untuk melakukan hal yang benar. Tapi jika kita mencintai Tuhan dengan sungguh-sungguh segala sesuatu menjadi begitu mudah. Saat kita pelayanan di Gereja kita tidak lagi berpikir itu sebuah beban/ kewajiban, saat kita melakukan hal yang jujur dalam pekerjaan kita, kita tidak lagi merasa tertekan, saat kita harus melakukan yang berbeda dengan teman-teman sekolah/kuliah kita yang lain (tidak mencontek misalnya) kita tidak lagi merasa kuatir atau takut, saat apapun yang berat yang harus kita lakukan untuk kemuliaan Nama Tuhan semua terasa begitu ringan.. Karena apa? Karena cinta… Karena kasih yang kita miliki bagi Dia…

Itulah yang sesungguhnya Bapa kita inginkan, kita melakukan segalanya bagi Dia atas dasar Kasih…

Saat ini, jika engkau memiliki kesulitan untuk merasakan cintamu pada-Nya, jujurlah dalam hatimu dan minta Tuhan Yesus mengajarimu untuk mengenal-Nya dan pada akhirnya bisa jatuh cinta kepada-Nya.. Karena Dia sesungguhnya adalah Bapa yang sangat rindu untuk dekat dengan kita semua..

Seperti Yakub yang mengganggap bekerja tujuh tahun itu seperti beberapa hari saja karena cintanya pada Rahel, seperti itulah seharusnya perasaan kita ketika mentaati Firman-Nya – Melakukan semuanya atas dasar cinta dan itulah yang meringankan segalanya :)

Mengampuni Orang Yang Menyakiti Kita? Enggak Adil!

Category : Asides

Mengampuni masalahnya bukanlah pada siapa yang menyakiti, tapi pada sakit hati itu sendiri. Yang menyakiti kita bisa siapa saja, bisa orang asing, bisa pendeta, bisa keluarga atau bahkan orangtua kita sendiri. Siapa pun yang menyakiti kita itu bukan masalahnya, masalahnya adalah apakah kita mengampuni atau tidak. Kita tidak memilah-milah siapa yang boleh diampuni dan siapa yang tidak, kalau keluarga sendiri ampuni aja tapi kalau orang asing atau bukan keluarga jangan diampuni. Siapapun yang menyakiti kita harus kita ampuni, sesusah apapun. Bukan hanya karena Tuhan meminta kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita dan karena Tuhan bilang kalau kita enggak ampuni orang lain maka Tuhan juga enggak akan ampuni kita.

Kita mengampuni demi diri kita sendiri. Kok bisa? Karena sakit hati dan dendam yang tidak dibereskan merusak hidup kita sendiri. Pernah sakit hati karena orang lain kan? Kalau inget orang itu atau peristiwa itu pasti bawaannya kesal dan marah. Kalau sakit hatinya ringan sih, misalnya karena orang itu ngerebut pangsit punya kita waktu makan baso, beberapa jam atau beberapa hari juga ilang. Kalau ada yang sampe dendam seumur hidup gara-gara pangsit, ya ampun…kan cuma pangsit gitu loh. Tapi kalau yang sakit hatinya bener-bener sakit, hal itu enggak akan hilang dengan begitu saja. Dan bagi sebagian orang, kekesalan dan dendam itu muncul terus setiap hari dan bikin panas kepala.

Saya ngeliat sendiri efek dari yang namanya sakit hati dalam kehidupan mama saya sendiri. Mama saya pernah sakit hati oleh saudaranya sendiri puluhan tahun yang lalu, dan mama saya menolak untuk mengampuni hal itu. Orang biasanya mikir,”Ah nanti seiring waktu juga sakit hati sih ilang sendiri” tapi kenyataannya enggak seperti itu. Kalau denger cerita mama saya kayanya tambah lama justru ceritanya tambah dramatis dan dendamnya tambah panas. Tiap kali mama saya inget orang itu, pasti dia marah lagi. Yang enggak mama saya sadari adalah pelan-pelan mama saya berubah jadi orang yang mengasihani diri sendiri dan bawaannya stress terus. Saya bukan lagi ngejelekin mama sendiri nih, tapi saya pengen bagiin apa yang bisa dipelajari dari hidup mama saya.

Mending kalau stress cuma di pikiran, tapi mana ada stress yang enggak bawa pengaruh ke badan? Karena stress, mama saya jadi sering sakit maag, belom lagi mama saya punya penyakit diabetes dan akhirnya tahun kemarin mama saya meninggal. Saya enggak tahu seberapa besar pengaruh stress terhadap kesehatan mama saya walaupun saya pikir pasti ada pengaruhnya. Yang bikin saya sedih adalah karena hidup mama saya enggak bahagia sampe akhir hidupnya. Mama saya enggak bahagia karena selama bertahun-tahun dia enggak bisa ngelepasin masa lalu dan sakit hatinya. Saya bukannya enggak pernah minta mama saya mengampuni dan melupakan, sering malah. Tapi mama saya menolak karena dia enggak mampu melupakan, tapi alasan yang utama adalah dia enggak mau melakukan hal itu karena menurutnya enggak adil kalau dia melepaskan orang itu begitu saja.

Di mata saya, yang enggak adil adalah kenyataan bahwa orang itu menyakiti mama saya berpuluh-puluh tahun yang lalu, orangnya sendiri juga enggak peduli dan menjalani hidupnya sendiri, tapi mama saya membiarkan sakit hati terhadap orang itu merusaknya terus selama hidupnya. Memang enggak adil kalau seseorang tiba-tiba menampar kita, tapi lebih enggak adil lagi kalau sesudah orang itu menampar kita, kita terus-terusan memegang pipi dan menangis dan menolak melanjutkan hidup. Tentu saja saya juga pernah sakit hati, tapi saya enggak mau mengulang hidup yang sama dengan mama saya. Betul seseorang pernah menampar saya, tapi saya menolak untuk membiarkan kelakuan orang itu terus merusak hidup saya selanjutnya.

Memberi pengampunan melepaskan kita dari kerusakan lebih lanjut. Mengampuni orang yang bersalah pada kita itu bukan cuma sekedar kata-kata indah dan ideal, itu adalah teknik survival. Mengampuni bukanlah masalah mampu atau enggak mampu, kalau masalah kemampuan enggak akan ada yang mampu mengampuni. Mengampuni adalah masalah mau atau tidak mau. Kalau kita bilang enggak mau, ya peganglah terus sakit hati itu dan biarkan itu bikin kita stress. Kalau kita bilang mau, Roh Kudus yang selanjutnya akan memampukan kita mengampuni. Masalah mau atau enggak mau enggak ada hubungannya dengan kehebatan seseorang atau kerohanian seseorang, itu adalah masalah pilihan.

Sekalipun yang menyakiti kita pendeta, pertanyaannya tetap sama, ”Apakah kita akan membiarkan orang itu terus bikin kita stress karena kita enggak mau mengampuni ataukah kita melepaskan pengampunan?” Bisa saja jika memilih menolak mengampuni karena merasa itu enggak adil, tapi resikonya adalah hidup yang terus terikat masa lalu, dan menurut saya itu lebih enggak adil. Jangan meremehkan ikatan masa lalu, itu membentuk masa depan kita tanpa sering kita sadari. Anak yang dibesarkan oleh orangtua yang sering memukuli anak-anaknya seringkali bertumbuh jadi ayah yang juga ringan tangan ke anak-anaknya. Anak-anak dari keluarga bercerai seringkali juga mengalami perceraian waktu mereka dewasa. Dan korban pelecehan seksual terkadang menjadi pelaku. Seorang teman yang pernah mengalami pelecehan seksual sewaktu kecil dan merasa dirinya enggak berharga lagi akhirnya terlibat seks bebas waktu dewasa. Menolak mengampuni suatu dosa membuat kita terikat dengan dosa itu dan memaksa kita terus hidup bersama dosa itu.

Ditulis oleh Tukang Bakmi untuk majalah Gfresh

Menjadi Sahabat Terbaik

Category : Asides

Seorang sahabat yang akan bertumbuh menjadi sahabat terbaik adalah mereka yang membuka dirinya terhadap sahabatnya. Saat-saat kesukaran ia tidak mengurung diri atau menjauh dari sahabat-sahabatnya. Justru ia mencari pemulihan dari Bapa melalui orang-orang di dekatnya, membiarkan dirinya diinspirasi dan disentuh oleh dampak dari sahabat-sahabatnya, dan meneruskan pemulihan itu bagi mereka yang membutuhkan.

Amsal 17:17. “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.”

17:17. Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.

Pesan dari Sahabat

Category : Asides

Guys, aku mo share sesuatu yang kudapat dengan kalian..

“Berhentilah mendatangkan pencobaan terhadap hatimu sendiri.. Berhentilah menenggelamkan dirimu dan minum dari mata air yang pahit, yang bisa membuat hatimu pahit.. Berhentilah meletakkan batu bata lagi untuk membangun tembok diri, tinggalkan pekerjaan itu .. Jangan biarkan dirimu bertahta atas hatimu sendiri. Turunlah dari sana, biarkan Yesus memimpin hatimu menuju kedewasaan. Bukalah hatimu juga bagi anak-anak Tuhan yang lain, karena hati mereka telah dipulihkan dan ada konselor agung “Roh Kudus” dalam hati mereka yang dapat mendengar suara Tuhan untukmu saat kamu tidak mendengar suara-Nya dengan jelas.”

Dengarkan dan Berubah..

Mat 5:1-12, Mat 16:24-26, Yoh 4:13-14, Mat 37:1-8

Y.K.T