Featured Posts

Cerita Tentang Kasih Bapa >> What They Say About Bible << Alkitab itu apa? Mulanya saya membaca Alkitab seperti kewajiban saja, seperti rutinitas, dan saya melihatnya seperti sebuah buku pedoman hidup saja, yang...

Read more

Keluarga Oh.. Keluarga “ Sekali lagi kudengar suara piring pecah, AKU AKAN PERGI DARI SINI !!!!!” Jeritku dalam hati. “Tetapi jeritan itu tak dapat kulakukan, aku tak dapat melarikan diri dari neraka ini. Aku nggak...

Read more

Waduuh... Bocor!!! Rencana untuk sampai rumah secepatnya ternyata harus digagalkan karena ban motor yang kempes, dan ternyata ini bukan sekedar kempes tapi bocor. Terpaksa harus menuntun motor kesayangan menuju tambal...

Read more

Lagi Patah Hati? Siapa yang pernah merasakan rasanya patah hati? Hmm.. biasanya anak-anak muda pernah nih merasakan yang namanya 'patah hati' entah itu karena ditolak gebetan, karena tiba-tiba diputusin pacar, atau mungkin...

Read more

Tekhnik Membelah Roti Pelajaran hari ini adalah bagaimana cara membelah roti coklat dengan benar menjadi 2 bagian yang adil. Alat yang dibutuhkan tentu saja pisau yang tajam. Bagaimana kita tahu kalau pisaunya cukup tajam?...

Read more

twitter

Follow on Tweets

  •  

Di Balik Pintu

Category : FOSters Creativity, inFOStainment

coba lihat!
ada apa di balik pintu?
mungkin hal yang sangat menyenangkan
atau juga yang menakutkan
dalam tiap bagian, pastikan kamu melaluinya tanpa penyesalan

jangan paksa membuka pintu yang bukan milikmu
bukankah setiap manusia memiliki pintu masing-masing?
dan jangan memaksa untuk mengintip pintu yang bukan pintumu
karena dengan demikian kamu menjadi si sok tahu, dan percayalah, kamu akan iri dengan apa yang kamu intip

buka matamu lebar
bersiap untuk kejutan!!
siapkan tangan untuk tanggung jawab baru yang akan dipercayakan padamu
siapkan kaki untuk rute yang akan kamu jalani
siapkan air mata yang akan tumpah pada bantalmu
siapkan senyum untuk bunga-bunga merah jambu yang akan merekah pada harimu
siapkan saja!
karena kamu tak pernah tahu apa yang akan terjadi

jangan ingat apa yang sudah diambil darimu
namun tetap syukuri apa yang tersisa bagimu
dan nantikan yang akan disiapkan untukmu
karena bila kamu terus mengingat yang sudah tak ada, yang sudah diambil, maka perjalanan hidupmu adalah perjalanan yang menakutkan, karena pada akhirnya semua yang ada padamu akan tiada
tapi akan menjadi berbeda bila kamu tetap bersyukur dengan apa yang masih tersisa dan yang akan disiapkan bagimu
pada ujung hari, kamu akan tersenyum walau telah kehilangan banyak hal
karena kamu akhirnya akan menemui Dia yang mempunyai segalanya dalam hidupmu
dan walaupun semua sudah tiada, ingatlah, kamu masih memiliki Yesus!

ada apa di balik pintu?
menyenangkan atau menakutkan
adalah hal yang harus kamu lalui
percaya saja!
pintu yang disiapkan-Nya adalah masa depan yang membawamu pada kemenangan

Ditulis Oleh ENS_FOS Community

Cinta-Ku Padamu

Category : FOSters Creativity

Cinta-Ku padamu hembusan angin yang meniup-niup keningmu dari kelelahan hari,

menyusuri hati dan menyejukkanmu akan mimpi

Cinta-Ku padamu lengkungan warna yang menempel pada biru langit dan jatuh pada senyummu juga lekat di hatimu yang merah jambu

Cinta-Ku padamu cemerlang bintang yang menyelinap jendela mengisi pancar matamu

Cinta-Ku padamu matahari pagi yang setia bahkan ketika kau mendua dan mengaburkan janji untuk selamanya

Ketika kau tak juga mengerti mengapa Kulakukan dan bertanya apa yang harus kaulakukan, rasakan saja cinta-Ku yang sederhana dalam makna nyata yang selalu ada,

dan berbahagialah… bersama-Ku

Cinta-Ku padamu

adalah matiku,

yang Ku-nyatakan dalam debaran jantungmu.


Ditulis oleh ENS_FOS Community

Cerpen – Mungkin Aku Dihipnotis

Category : FOSters Creativity

Mungkin aku dihipnotis, jelas aku diracuni. Semua tentangmu adalah palsu, dan aku dengan senang hati tertipu. Aku menggilaimu dengan sepenuh hati, dan waktuku hanya padamu. Segenap rindu tak pernah habis, bertambah kuat dan kukuh, dan pikiranku roboh, dan hatiku hancur, dan hidupku hancur.

Siang dan malam hanya untukmu. Siksa dan dera aku terima. Air mata tak jadi soal. Ayah dan Ibu tak lagi ada dalam ruang hatiku. Sahabat tak pernah jadi yang terindu. Bahkan Yang Maha Kuasa tak lagi kukenal. Kutolak semua, hanya kau yang tersisa. Pun seluruh hidupku, kau yang berkuasa. Jadi apa yang tersisa?

Aku mengaduh, kau tak mau tahu. Dengan begitu cerdik, kau rayu aku. Dan aku dengan rindu, datang lagi padamu.

Tidak pernah tahu, kapan aku sadar? Kapan aku tidak sadar? Semua waktu terasa sama saja, sebentar melayang, sebentar terempas dan aku kesakitan. Dan aku datang lagi padamu, dan aku jatuh hati lagi padamu.

Harus jujur kah? Baiklah. AKU SANGAT KESEPIAN DAN AKU SANGAT KESAKITAN!

Mengapa semua berubah saat kau datang? Tidak pernah aku merasakan sensasi luar biasa saat dengan sadar aku mencobamu untuk pertama kalinya, lalu tanpa sadar aku mencobamu untuk tak terhitung kalinya. Kau manis dalam kerongkonganku, lembut dalam pikiranku, kau sensasi luar biasa dalam hatiku. Lalu aku mencoba dengan tusukan di lengan, dan aku makin suka. Ini candu, aku gila dalam candu.

Mengapa semua hilang saat kau datang? Kini aku tiada memiliki selimut hangat untuk menghangatkan kantung air mataku yang membeku, yang tak lagi dapat menetes karena terlalu banyak air yang mengalir darinya. Kutingggalkan semua, semua! Aku malu, aku takut, aku jatuh dalam candu.

Dengan kesadaran tingkat tinggi kunyatakan pada seluruh dunia: kaulah yang terburuk dalam hidupku. Memilihmu adalah keputusan paling ceroboh dari setiap kecerobohanku. Waktuku bersamamu adalah waktu paling sia-sia. Aku patah hati, dan barulah aku tahu ternyata air mata dapat mengalir sedemikian deras karena hati yang patah.

Aku malu dan takut kembali pada orangtua, pada sahabat, pada Tuhan. Aku meninggalkan mereka dan mereka tak akan pernah sudi menerimaku kembali, itu firasatku. Dan aku gembira sampai sesak nafas karena firasatku salah! Mereka menerimaku kembali, dengan air mata yang deras yang juga mengalir deras dari mataku. Aku datang hanya dengan pakaian yang melekat pada tubuhku, tanpa membawa bingkisan sebagai tanda penyesalan. Namun mereka menyambutku bak anak raja, memeluk aku sedemikian erat karena aku telah pulang.

Dan dengan kesadaran paling tinggi yang baru kali ini kualami, aku menyatakan pada dunia: bahwa Tuhan menerimaku dengan seutuhnya. Ia bahkan menantikan aku hari demi hari, aku tahu ini, karena Ia yang memberi tahu kepadaku. Setelah sekian lama, aku merasakan lagi kasih yang dahulu kutinggalkan. Dan sedikitpun kasih-Nya tak berubah, malah aku bertambah dekat pada-Nya. Aku tahu ini, karena ia yang menunjukkannya. Kini hatiku menyatu kembali, baru aku tahu ternyata hati yang patah dapat sembuh pula. Aku tahu ini, karena aku mengalami dan merasakannya.

Aku menyesal, tapi itu tidak berguna. Sakit hatiku bukan lagi topik utama. Tidak berguna dan tidak menjadi topik utama KARENA TUHAN SUDAH MEMULIHKAN DAN MEMAAFKAN AKU, dan pun aku MEMAAFKAN DIRIKU SENDIRI. Kini aku tahu, kau hadir bukan karena kebetulan. Aku menjadi semakin kuat saat aku tidak terpaku pada masa lalu, melainkan mengarahkan hidupku pada masa yang kujelang. Aku dan Tuhan sudah berjanji, kami akan selalu berjalan bersama, INI JANJI UNTUK SELAMANYA.

Amsal 23:18

“Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang. “

Ditulis oleh ENS_FOS Community

Pilihan Pelangi

Category : FOSters Creativity, Lifestyle

Namanya Pelangi. Ia hidup di bumi dan karenanya ia juga memiliki pilihan-pilihan seperti makhluk bumi lainnya, manusia.

Pelangi dapat dengan bebas menaruh adiknya di atas lemari, sehingga sang adik dapat berhenti mengacaukan pembuatan makalahnya. Namun Pelangi memilih untuk bermain bersama adik kecil selama lima belas menit, lalu berkutat kembali di depan komputer.

Berbohong sedikit pastilah hal yang lumrah untuk gadis seusianya, lagipula Mama tidak akan mengerti bahwa semua gadis di dunia membutuhkan itu. Tapi Pelangi memilih mengaku pada Mama bahwa ia mengambil selembar uang berwarna biru untuk membeli parfum, walaupun ia tahu bahwa pengakuan itu berarti tidak akan ada uang saku selama tiga hari.

Setelah putus, Pelangi dapat menjalin hubungan yang lebih berani, lebih menghebohkan, untuk menunjukkan pada mantannya, pada kekasih mantannya, bahwa ia adalah salah satu gadis terkenal dan dapat dengan mudah mencari pengganti. Tapi Pelangi memilih untuk menunggu, dan menanti yang terbaik untuknya.

Selalu ada kesempatan untuk mengintip “majalah kaum dewasa” milik seorang penghuni kelasnya, namun Pelangi memilih untuk menutup mata walaupun ia penasaran juga.

Pergi ke Mall pada hari Minggu bersama teman-teman yang lama tak ditemuinya pastilah amat sangat menyenangkan, tapi Pelangi tetap memilih untuk beribadah di gereja walau ia tahu, ia akan dicap sebagai “si sok rohani”.

Pelangi tak dapat memilih di keluarga mana ia akan dilahirkan, dibesarkan. Tapi ia dapat pergi dari rumah dan bila beruntung, ia akan diasuh oleh keluarga tanpa “piring terbang”. Meskipun demikian, ternyata Pelangi memilih untuk bertahan, dan tetap berlutut dalam doanya.

Ia tidak dapat menentukan, apa yang akan terjadi esok hari, untuk hal apa lagi air matanya akan tertumpah. Ia bisa mengambil sebotol obat serangga dan meminumnya dalam sepuluh detik. Tapi ia memilih untuk berharap dan percaya pada Sang Pencipta yang menciptakan hari-hari dalam hidupnya.

Begitu banyak pilihan, sangat membingungkan. Tidak semua pilihan yang dipilih membuat Pelangi senang, tenang, puas diri. Kadang ia merasa takut, khawatir, tertuduh, benarkah ini atau itu adalah pilihan yang tepat?

Meskipun pikiran dan hati Pelangi bingung, dan semakin bingung dengan semua pandangan dan pendapat berjuta orang di sekelilingnya, tapi hidup bagi Tuhan tak pernah disesalinya. Pelangi selalu memiliki pillihan. Ia bisa saja lari, sembunyi, menolak. Tapi Pelangi memilih untuk menghadapinya. Benar-benar tak ragu sedikitpun ia, bahwa hidup bagi Tuhan yang begitu mengasihi Pelangi, adalah pilihan yang paling menyenangkan untuknya. Pilihan yang kadang sulit… Tapi sulit bukan berarti tidak mungkin kan?

Pelangi sudah memilih. Nah, bagaimana denganmu?

Ditulis Oleh ENS_FOS Community

Aku Rindu..

Category : FOSters Creativity

Hari-hari seperti ini datang lagi, saat gemuruh menderu jantungku, saat pikiranku kalut dan hatiku ciut, sepi menjalari tiap tulang, mataku terpejam dan kemudian terbuka, aku tak dapat terlelap, tak dapat pula untuk tetap terjaga, aku rindu Kekasihku…

Maaf, maaf… Untuk kesekian kalinya aku terbenam dalam makalah dan berita yang harus kumuat dalam buletin kampus, dan karena itu aku belum sempat menjawab pesan Kekasihku, belum dapat menemui Kekasihku, kini aku rindu dan aku kalut…

Percayalah, kertas-kertas berisi berita yang membuatku menutup mata empat jam setiap harinya, tak dapat merenggut waktuku lebih lama lagi. Karena sehebat apapun berita yang kususun, tak pernah sehebat kisahku dengan Kekasihku. Aku rindu…

Penaku menari dan memercikkan tinta tentang cinta, suaraku mengalun dan membisikkan nama Kekasihku. Aku tersenyum mengingat masa-masa indah, masa-masa paling luar biasa dalam hidupku. Saat kisah kasih goyah, Kekasihku selalu meyakinkanku bahwa akulah yang tercinta, dan semua akan baik-baik saja. Betapa lembutnya Kekasihku, betapa herannya aku. Kekasihku membuatku istimewa, membuatku menjadi wanita seutuhnya, karena aku memiliki seluruh cinta Kekasihku. Bagiku, tiada yang lain, menempati posisi nomor satu dalam hatiku, satu-satunya tempat dalam pikiranku, pertama dan terakhir dalam hidupku, hanya Kekasihku, yang tercinta, yang antara aku dan Kekasihku saling memiliki, kisah cinta termegah.

Rinduku sepenuh mati, bukan separuhnya lagi.

Sungguh aku tidak perduli, apakah berita yang membuatku hanya terpejam empat jam setiap harinya, akan diwartakan atau tidak. Aku benar-benar tidak mau tahu, apakah guru besar pemimpin redaksi akan memuji atau menertawakan artikelku. Hal itu terasa sangat tidak berguna, saat waktuku tak lagi kunikmati bersama Kekasihku.

Rinduku mengiris sendi, tidak hanya tergores lagi.

Aku sangat rindu pada-Mu, Yesusku.

Ditulis oleh : ENS_FOS Community

Untuk yang Lebih dari Permata

Category : FOSters Creativity

Kasihan kau, Via. Kau begitu tergila-gila pada seorang pria yang tidak akan pernah kau miliki. Pria itu berhidung mancung, selalu dengan kemeja yang licin. Tingginya tak lebih dari 170 cm, dagunya runcing dan itu membuat ketampanannya semakin kuat. Sebagian rambutnya berwarna hitam dan sebagian berwarna putih. Matanya ramah dengan kerutan di sekelilingnya. Bila pria itu tersenyum, kerutan di sekitar bibirnya akan tertarik. Pria itu humoris dan cerdas. Ia bijak dan berwibawa. Karena ia seorang Pendeta yang sudah berkeluarga, maka kau tidak akan pernah memilikinya.

Kasihan kau, Via. Hatimu tertancap pada seorang pria yang tak mungkin kau raih. Pria itu bermata tajam, dan mata itu memancarkan kecerdasan dan wibawa tiada tara. Kacamata tanpa bingkai membuat pesonanya semakin menjadi-jadi. Suaranya merdu dan senyumnya luar biasa dengan lesung pipinya. Tingginya tak lebih dari 170 cm dan ia berkulit coklat. Setiap kali pria itu berbicara dengan buku di tangannya, kau akan tahan diam dengan fokus yang sulit dipercaya selama dua jam pelajaran, sesuatu yang tidak biasa untuk gadis tujuh belas tahun seperti mu. Hampir tiap malam kau membaca buku yang selalu dipegang pria itu saat mengajar di kelas, dan karenanya kau hampir hapal isi buku tersebut.

Via, malang benar kau. Berpikir kalau ini tidak wajar dan kau merasa sedih. “Kenapa bukan pemain basket, atau seorang anggota OSIS yang aku sukai?” demikian kau terus berpikir dan makin lama kau makin terpuruk saja. Kau merasa berbeda, merasa aneh, karena pria dalam hatimu adalah pria yang sudah berkeluarga dan pria dengan selisih usia dua puluh tahun.

Setelah sedih yang berkepanjangan, kau sadar bahwa… Bahwa sudah lama sekali kau berangan-angan “seandainya, ya seandainya, Ayahku seperti dia”. Ah Via, air matamu mengalir lagi, saat kau sadar bahwa… Bahwa kau menginginkan sosok Ayah berhidung mancung dengan senyum ramah. Atau Ayah dengan mata tajam nan cerdas dan penuh wibawa. Kini kau tidak lagi merasa aneh, tapi kau hancur. Kenyataan, perasaan, dan keinginan membuat kau semakin sedih. Kau memiliki Ayah yang luar biasa tampan, itu pendapat semua orang. Tapi bahkan ketampanan tak akan pernah menyembuhkan luka pada punggungmu, luka yang terbentuk dari ikat pinggang Ayah. Tidak pula luka pada hatimu, yang kian lama kian sakit. Ah Via, kasihan benar kau…

Akan menjadi orang tua seperti apa kita nanti? Mungkin hal itu masih jauh dari pikiran dan angan-angan, masih sepuluh, delapan, atau lima tahun lagi saat kita berkeluarga. Akankah  yang lebih dari permata, yang kita nantikan dalam kehidupan keluarga kita kelak, yakni anak-anak kita, mengalami kepahitan yang anak-anak lain rasakan atau  yang pernah atau sedang kita alami? Bukan hal yang terlalu dini bagi kita untuk belajar menjadi seorang yang penuh kasih dan menjadi peduli. Walau masih sepuluh, delapan, atau lima tahun lagi,  untuk yang lebih dari permata dalam kehidupan berkeluarga kita kelak, yakni anak-anak pilihan-Nya, anak-anak yang lebih dari permata bagi Tuhan dan yang begitu dikasihi-Nya melebihi apapun.

Ditulis Oleh_ENS FOS Community

Cerpen : (Mungkin) Aku Tidak Bisa..

Category : FOSters Creativity

Tak lama kemudian tangisnya pecah dan ia berlari dengan mata terpejam. Karena matanya terpejam dan kakinya terus berlari, ia tersandung. Ia tersandung dan yang lain tertawa kian keras. Ia tersandung maka ia menangis kian keras. Aku diam, tak tertawa, tak menangis. Kusaksikan Tasya di teriakkan “monster kelinci” karena kedua gigi depannya lebih besar dari gigi yang lain, dan karena tubuhnya lebih besar bahkan dari anak laki-laki. Itu terjadi tiap hari sampai Tasya pindah rumah. Tak ada lagi teman bermain “ibu-ibu-an”. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa, karena aku masih kecil, masih tujuh tahun.

Aku bukan satu-satunya yang tahu di dunia ini. Tapi semua orang hanya diam. Saat gambar tangan kepala sekolah menempel jelas pada pipi Michael, kami hanya menarik napas tertahan. “Bukan Michael yang pakai uang tabungan kelas kami selama satu tahun, Bapak Kepala Sekolah. Bukan!! Yang pakai Pak Joni wali kelas kami!!”, aku ingin berteriak begitu, tapi aku tidak bisa. Karena aku murid SMP dan dia guru.

Masih merah dan basah. Rupanya ia begitu kesal dan marah hingga ia mencakar-cakar lengannya tanpa sadar bahwa itu sakit. Katanya ia sayang ibunya dan ibunya sayang padanya. Hanya saja saat itu ibunya mabuk dan untuk kesekian kalinya ibunya menyeretnya untuk tidur di halaman, tanpa bantal. Tiga minggu kemudian seorang yang lain menunjukkan luka di nadi tangannya. Ia bilang ia hampir mengiris uratnya, tapi tidak jadi karena ia takut, sangat takut. Ia juga bilang beberapa hari belakangan ia tidur dengan pisau dapur di bawah bantalnya, kalau-kalau Ayahnya mengamuk lagi, maka keputusannya sudah bulat untuk mengiris uratnya. Tiga kesamaan dari mereka adalah: mereka berdua perempuan, mereka berdua sahabat baikku, dan kami sembilan belas tahun. Aku hancur, karena aku tak bisa melakukan apa pun, aku tak bisa mencampuri masalah keluarga orang lain.

Ku lihat tangannya masuk ke tas pengunjung toko itu. Sebuah dompet ungu dengan hiasan bunga mawar berpindah dengan cepatnya ke dalam jaket kulitnya. Aku tak bisa mencegahnya. Karena dia laki-laki dan aku perempuan.

Bibirnya gemetar dan napasnya tersengal. Ia bilang ia ingin bercerai karena suaminya seringkali memukulnya. Aku tidak bisa mengatakan apa pun. Ini antara anaknya dan suaminya.

Cucuku menjerit. Cucuku sakit, kanker. Jarum suntik menusuki tubuhnya, senantiasa. Ia masih sembilan tahun, ia perempuan, dan ia cucu yang paling ku sayang. Biarkan tubuhku yang hancur, tapi jangan cucuku! Aku yang renta tak bisa berbuat apa-apa. Aku bukan Tuhan.

Disini aku terbaring. Setiap kali aku menarik napas, aku serasa mengangkat seember cucian. Mataku tak dapat melihat dengan jelas, hanya terdengar desah napas suamiku yang duduk di kananku. Sepi sekali disini, dan aku dapat mencium aroma bunga pemakaman.

Tanpa sadar, pikiranku melayang bebas ke masa lalu. Seandainya, waktu itu aku dapat berlari mengejar Tasya, dan mengatakan kalau aku lebih suka bermain ibu-ibuan dengannya dibanding bermain dengan anak-anak yang selalu mengejeknya. Seandainya aku melakukannya, mungkin, hanya kemungkinan, Tasya tidak akan pindah dan aku tidak akan menangis.

Seandainya aku mengatakan Pak Joni yang memakai uang kelas, mungkin Michael tidak akan dipermalukan, dan hatiku tidak akan retak melihat laki-laki pertama yang kusayangi difitnah seperti itu.

Kalau saja aku memberikan waktu sedikit lebih banyak, seandainya aku lebih sering mengunjungi mereka, seandainya aku lebih memilih berbicara dengan mereka dibanding mengerjakan artikel yang saat itu kupersiapkan untuk kukirim ke koran, mungkin kedua sahabatku tidak melukai tubuh mereka dan mencoba untuk mati.

Aku rindu sahabatku, anakku, cucuku, bahkan orang-orang yang tidak kukenal. Air mata mereka jatuh ke bahuku, dan aku tak dapat berkata apa pun, tidak melakukan apa pun. Kini aku kesepian, dan dalam waktu dekat suamiku juga akan kesepian. Dalam diam, aku menangis dan merasa hancur. Apa yang dapat kulakukan untuk suamiku? Tidak ada, karena aku hampir mati.

Seringkali kita memutuskan “aku tidak bisa. Tidak bisa karena aku masih muda, karena aku perempuan, aku terbatas, aku tidak kaya”, dan daftar panjang lainnya. Kini pikir kembali, benarkah demikian? Sebelum terlambat , pikirlah! Yang berlalu tidak akan kembali, dan yang terlambat akan sangat sulit diobati. Penyesalan akan sesuatu yang tidak kita lakukan akan terasa berkali lipat lebih menyakitkan dibandingkan bila kita melakukan hal yang kita yakini, walaupun hal itu tidak diingat orang, walaupun hal itu terasa tak berharga. Nah, sudahkah kita mengambil keputusan?

Pengkhotbah 6:12 “Karena siapakah yang mengetahui apa yang baik bagi manusia sepanjang waktu yang pendek dari hidupnya yang sia-sia, yang ditempuhnya seperti bayangan? Siapakah yang dapat mengatakan kepada manusia apa yang akan terjadi di bawah matahari sesudah dia?”

Ditulis Oleh ENS_FOS Community

Sepuluh Pertanyaan di Dua Ribu Sepuluh

Category : FOSters Creativity

Satu. Kalau musim kemarau lagi-lagi lebih panjang dari musim hujan, bagaimana Pak Joni dan keluarganya menghadapi hari-hari yang panas tanpa air di rumahnya?

Dua. Ketika Nenek di ujung jalan terbatuk-batuk di depan rumahnya, akankah orang-orang diam saja sambil berpura-pura tak mendengar (walaupun batuknya memecah cakrawala) dan mereka lewat begitu saja seperti yang selalu terjadi?

Tiga. Mungkinkah orang-orang akan sembuh dari kebutaan mereka dan melihat dengan jelas bahwa tempat sampah begitu besar dan kosongnya sehingga mereka tak perlu lagi membuang sampah di selokan?

Empat. Setelah anak-anak itu pingsan dan muntah-muntah, apakah kepala sekolah di sekolah dasar persimpangan empat akan berhenti menghukum anak didik mereka, padahal anak-anak itu cuma terlambat dua menit?

Lima. Sedemikian menariknyakah berbisik-bisik di ujung jalan sampai para ibu lupa memandikan bayinya?

Enam. Mungkinkah bapak-bapak di pos ronda akan berhenti main kartu dan menonton televisi bersama anak-anak dan isteri mereka?

Tujuh. Apakah Tika lebih suka mencubiti adiknya sampai biru keunguan ketimbang bermain barbie?

Delapan. Karena anak kelima ibu itu sakit dan mereka tak punya rumah, mungkinkah pemilik rumah akan bersabar dan mengijinkan ibu yang sudah janda dan memiliki enam anak itu untuk tinggal walau hanya sebentar?

Sembilan. Apakah kasih akan punah dan menjadi legenda seperti halnya Dinosaurus?

Sepuluh. Apakah yang BISA AKU LAKUKAN untuk mereka?

Ditulis oleh : ENS

Cerpen – Hatimu, Ibu..

Category : FOSters Creativity

Untuk semua Mama, selamat “Hari Mama”. Pelbagai wejangan yang kami (benar, kami semua) terima, membuat kami semakin dewasa. Walaupun sedikit banyak kami membuat hari-hari Mama menjadi sepuluh kali lebih berat, Mama asyik2 saja tuh. Mama bukan Mama yang sempurna, tapi pasti yang terbaik yang kami miliki *Sejuta sayang dari kami untuk semua Mama*

Ibu, kita hidup dalam dunia patriarki, dimana kaum Adam lebih tinggi dari kaum Hawa. Lebih tinggi dari derajat, hak, dari cita-cita hidup. Apakah derajat? Hanya manipulasi yang mengatasnamakan kemanusiaan dalam hal tinggi dan rendah hidup manusia. Bahkan hak terdengar sebagai gema tanpa getaran, tak ada dampak, tak ada keseimbangan.

Mengapa tidak apa bila Ibu mencuci pakaian di rumah tetangga untuk makan hari ini, dan haram bila Ayah melakukan hal yang sama? Mengapa Ibu berkeringat dan Ayah tidur-tiduran di depan TV? Mengapa cap merah tangan Ayah boleh tergambar dalam pipi Ibu sedangkan Ibu hanya boleh diam, mengeluarkan air mata diam-diam?

Kita ini laksana pemain cadangan dalam sebuah pertandingan sepakbola, yang setelah berpeluh dan berlatih habis-habisan bahkan tak pernah menjejak rumput dalam satupun pertandingan. Kita ini bak karyawan yang duduk paling belakang dalam sebuah rapat yang kurang penting (karena bila rapat penting, jangan harap kita diundang) yang setelah lembur berminggu-minggu dan kantong mata lebam, bengkak, tak kunjung disebut namanya.

Ibu memasak. Ibu memperbaiki atap. Ibu mencuci di rumah tetangga. Ibu di dapur, di kamar, di kebun, di atap, Ibu dimana-mana. Ibu tidak makan, tidak apa-apa. Ayah belum disiapkan makan, ini bahaya.

Tak pernah Dinda sesalkan Ibu adalah seorang perempuan. Dinda hanya hancur, hanya tak berdaya. Apakah revolusioner yang menyerukan pembebasan? Kita ini masih terkungkung dalam sebuah tembok batako yang bernama keluarga, yang beratap kekhawatiran tentang apa yang akan kita makan. Kita kaum feodal, dipimpin oleh para bangsawan. Sistem tirani, jangan pernah sebut demokrasi!

Oalah Ibu, hentikan cintamu! Ayah tak akan pulang, hari ini, esok, lusa. Mengapa Ibu masih bersimpuh dan menyebut “suamiku” sambil meringis? Pikiran Dinda bias. Katakan pada Dinda dengan pelan dan lambat-lambat agar Dinda mengerti, kenapa Dinda harus menyapanya dengan kata “Ayah”? Ooh tidak Ibu, Dinda tidak membencinya, karena bahkan Dinda tidak mengenalnya.

Sekali lagi Ibu, tolong hentikan cintamu. Lutut Ibu sudah lecet dan harus segera diobati. Hati Ibu patah dan harus segera dilem. Dinda sudah mencoba untuk waktu yang cukup lama menyebut “Ayah” sambil bersimpuh, namun pintu tak kunjung terbuka dan menampakkan bayangnya. Mengapa Ibu, hatimu sekeras baja? Pikirmu seteguh tanduk rusa? Imanmu, ahh bagaimana Dinda menggambarkannya? Apakah Ayah akan pulang Ibu? Ahh, Dinda jadi berharap lagi…

***

mum_2Dinda, Ayah dan Ibu adalah satu, jadi bagaimana Ibu dapat berhenti lalu bersantai sambil minum kopi sedangkan separuh dari Ibu sedang mencari-cari jalan pulang? Ayah bukannya tak mau pulang, Ayah hanya sedikit lupa jalan pulang. Ibu tak boleh tertidur, karena saat Ayah pulang nanti, Ibu harus sudah ada di pintu untuk menyambutnya masuk. Ibu dan Ayah akan sangat senang bila Dinda mau bersama-sama menyambut Ayah di pintu. Kami adalah satu, kami sudah berjanji. Oh iya,  soal mencuci itu tidak jadi soal, bagaimana ya Dinda, habis Ibu senang melakukannya. Ahh Ibu jadi berdebar-debar, siapkan dirimu sayang, Ayah segera pulang.

Cerpen : Lengkung Sempurna

Category : FOSters Creativity

Rena kecil bersandar pada kursi kesayangannya. Matanya yang bulat bercahaya memandang rintik-rintik hujan yang turun dengan rapi dari langit. Rambutnya bak tirai hitam kemilau tertimpa sinar lampu, beberapa helai rambut terurai pada pipinya yang lembut dan merah jambu. Bibir tipisnya melantunkan lagu yang dikarangnya sendiri. Dua ibu jari tangan yang dimilikinya, hanya dua dari sepuluh yang seharusnya, bergerak-gerak seirama seturut alunan lagu yang dinyanyikannya.

Matanya terbelalak kagum saat seberkas warna pelan-pelan muncul di langit. Melengkung sempurna dengan kemilau jingga, hijau, merah jambu dan biru. Rena kecil menempelkan wajahnya pada kaca jendela, ingin melihat lebih jelas rupanya. Rena kecil berusaha turun dari kursi kesayangannya, tapi ia tidak punya jemari kaki, juga telapak kaki. Beruntung sang Ibu datang tepat waktu dan membawa Rena kecil menuju beranda untuk melihat lengkung sempurna di langit.

window rainbow

“Ibu, siapa yang menggambar langit dengan crayon?” Rena kecil bertanya pada Ibunya.

“Oh, Seorang yang sangat luar biasa”. Ibunya menjawab sambil membelai rambutnya bak tirai hitam kemilau yang tertimpa sinar lampu.

“Benarkah?”

“Tentu sayang”.

“Mengapa Dia menggambar di langit? Rena punya buku gambar yang bagus”.

“Mengapa? Agar semua orang dapat melihat keindahannya, Rena sayang”.

“Rena senang melihatnya”.

“Ya, Ibu juga”.

“Oh, Rena ingat sekarang. Pasti yang menggambar itu adalah Tuhan yang seringkali Ibu ceritakan. Benar kan Bu?”

“Benar, Rena anak pintar”.

“Rena tidak bisa menggambar seindah itu, tapi Tuhan bisa. Pasti ada yang membuat-Nya senang. Rena bisa gambar bagus kalau Rena sedang senang”.

Ibunya tersenyum dan menjawab, “Ya sayang, ada hal besar yang terjadi di Sorga dan membuat-Nya senang. Tahukah Rena apa yang membuat-Nya senang?”

Rena kecil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“Karena ada seorang anak cantik yang sedang melihat ke langit dan senang melihat gambar-Nya”.

“Benarkah Ibu?”

“Tentu sayang, dan apakah Rena tahu yang lebih indah dari warna-warna di atas sana?”

Rena kecil kembali menggeleng kuat-kuat.

“Oh, adakah yang lebih indah lagi Ibu?”

“Tentu Rena sayang, yang jauh lebih indah dari warna-warna itu, adalah Rena sendiri”.

Rena kecil terbelalak heran.

“Benarkah Ibu? Rena lebih indah?”

Ibu mengangguk, tersenyum dan berkata, “Tuhan menggambar warna-warna itu untuk Rena, untuk anak tercantik yang sangat disayangi-Nya”.

Rena kecil kembali memandang warna-warna di langit, senyumnya mengembang, lebih indah, jauh lebih indah dari warna-warna di langit sana.

Rena kecil kini sudah besar. Tumpukan diagram dan kertas-kertas penuh garis mengisi hari-harinya. Rena tidur larut, Rena bangun pukul tiga pagi, Rena tenggelam dalam diagram dan kertas-kertas penuh garis. Rena besar bersandar pada kursi kesayangannya, menarik napas sepanjang yang ia mampu. Hujan yang rapi turun dari langit, membawa warna-warna yang membentuk lengkungan dari ujung ke ujung langit yang lain. Rena besar meletakkan penanya dan memandang ke langit. Beberapa kali ia melihat warna-warna di angkasa, tapi semua lengkungan warna tak lagi terasa istimewa pada masa-masanya belakangan. Ia rindu, sangat rindu, memandang warna-warna itu dari mata seorang gadis kecil, memberi waktu yang tulus untuk warna-warna di langit. Ia ingin, sangat ingin, melihat warna-warna menakjubkan dari hati gadis kecil, tak ada kesombongan, hanya kekaguman.

Mutiara menitik dari mata Rena yang bulat bercahaya. Rena rindu hari-harinya yang teduh, Rena rindu Ibu. Seperti bunga mawar dengan tetesan embun, Rena tersenyum dan berkata, “Ibu, suatu hari nanti kita akan menikmati kembali warna-warna di langit, bukan hanya kita berdua Bu, tapi kita bertiga. Rena, Ibu, dan Tuhan”.

Rena besar terlelap dalam sejuknya hari setelah rintik-rintik hujan yang rapi.  Lengkung sempurna di langit turun ke bumi, dan menetap dalam senyum Rena.

E.N.S