Featured Posts

Lagi Patah Hati? Siapa yang pernah merasakan rasanya patah hati? Hmm.. biasanya anak-anak muda pernah nih merasakan yang namanya 'patah hati' entah itu karena ditolak gebetan, karena tiba-tiba diputusin pacar, atau mungkin...

Read more

Tekhnik Membelah Roti Pelajaran hari ini adalah bagaimana cara membelah roti coklat dengan benar menjadi 2 bagian yang adil. Alat yang dibutuhkan tentu saja pisau yang tajam. Bagaimana kita tahu kalau pisaunya cukup tajam?...

Read more

Jadilah Tenang Hari ini, pas lagi membaca sebuah buku, ada sebuah cerita yang menarik bagiku, agak sedih sih, tapi kita bisa belajar sesuatu dari kisah ini. ... Seorang janda miskin bernama Siu lan memiliki seorang...

Read more

Yang Meringankan Segalanya Kejadian 29:20 "Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel." Wah, karena cintanya...

Read more

Mengampuni Orang Yang Menyakiti Kita? Enggak Adil! Mengampuni masalahnya bukanlah pada siapa yang menyakiti, tapi pada sakit hati itu sendiri. Yang menyakiti kita bisa siapa saja, bisa orang asing, bisa pendeta, bisa keluarga atau bahkan orangtua kita...

Read more

twitter

Follow on Tweets

  •  

Makan Malam Biasa dengan Sajian yang Tidak Biasa!

Category : inFOStainment

Malam itu bukanlah malam yang biasa. Makan malam yang sungguh sangat istimewa. Bukan karena di tempat istimewa, dengan harga istimewa atau dengan kekasih yang istimewa. Hanya sebuah tempat makan murah, ala kadarnya, dengan harga yang ringan di kantong, di pinggir jalan, dengan sebutan khas  “nasi pus-pus”.

Yang membuat istimewa bukanlah nasinya, bukan juga pus-pus (walaupun banyak kucing di situ.. hehehe…) bukan juga lauk pauknya, sambelnya atau minumannya. Tapi karena di malam itu, di tempat itu, Tuhan mengijinkan aku merasakan sesuatu dan melakukan sesuatu.

Makan malam yang biasa ini menjadi tidak biasa saat datang seorang pemuda dengan perawakan yang tidak biasa. Di tangannya memegang sebuah kantong bekas bungkus permen yang di dalamnya ternyata ada beberapa uang logam. Sesaat kemudian dia sudah duduk di hadapanku, siap memesan makanan dan minuman, dengan segenggam uang logam di tangannya, yang terlebih dahulu dihitungnya. Dengan sedikit malu ia memesan sebuah nasi dengan sambal di dalamnya, dengan lauk sebuah gorengan dan air putih dingin. Hanya itu? Yah, hanya itu, dan dia makan dengan sangat lahap.

Kulihat dia menghabiskan sisa nasi dan bakwan terakhir di piringnya. Dan kembali mengeluarkan “dompetnya” kembali menghitung logam demi logam, dan kembali memesan. Sebuah nasi dengan sebuah gorengan, menu yang sama dengan harga yang sama. Dan ia kembali makan.

Aku tahu ini malam yang tidak biasa, karena sebelum duduk makan, ia berkata kepadaku,

“ Bang, Makan..”

“Oh, abangnya di belakang..” Jawabku. Mungkin dia pikir aku yang berjualan.

Dan saat logam demi logam ia keluarkan, jantungku berdegup kencang, What should I do?

Aku mengacuhkan degupan jantungku,

“Ahh, hal biasa !!!” kataku dalam hati.

Tapi saat kulihat dia mengeluarkan logam dan menghitungnya untuk kedua kalinya, aku tidak tahan lagi. Bahkan sempat kudengar orang yang makan di sebelahku berkata “Kasihan”.

Saat kudengar kata “kasihan” kedua kalinya, aku semakin tidak tahan. Aku kumpulkan segenap tenaga dan kasih untuk berdiri, mengambilkan sepotong telur dadar, kutempatkan pada piring pemuda itu, kuambil sebuah nasi lagi dan sebuah bihun goreng untuknya.

“Makan aja, gw yang bayar. Santai aja bro.” sebuah senyum kulemparkan kepadanya.

Entah darimana kekuatan dan keberanian itu datang, tiba-tiba aku sudah berada di samping pemuda tadi, dan ngobrol dengan dirinya. Dan kutahu bahwa dia ngamen di angkutan umum untuk membantu ibunya di rumah. Dia tidak dapat merasakan bangku kuliah, bahkan bangku sekolah. Dan ternyata DIA BERUMUR SAMA DENGANKU !!!

Setelah selesai makan, kutawari lagi dia, ternyata dia sudah kenyang dan terpikir olehku untuk membawakan dia makanan untuk bisa dimakan dia dan ibunya di rumah. Setelah itu dia pamit dan mengucapkan terima kasih.

Dengan tersenyum ada sebuah kalimat melintas di dalam hatiku, “Kasih lebih dari sekedar kasihan.” Dan Tuhan mengajarkan langsung hari ini, sebuah malam yang luar biasa, makan malam yang istimewa.

“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” 1 Yohanes 3:18

Tapi sayangnya ada sebuah kalimat yang lupa aku ucapkan kepadanya, yang membuatku menyesal hingga saat ini.

Seandainya aku mengucapkan kata itu. Seandainya aku menatap dia penuh yakin dan berkata mengenai ini saat itu. Dan Seandainya aku berkata, “ Yesus mengasihimu.” Mungkin pemuda itu akan memiliki kesempatan untuk tau, bahwa Yesus mengasihi dirinya, sama seperti Yesus mengasihiku.

Aku harap dia bisa mendengar itu lain kali, baik melalui diriku maupun melalui orang lain.

“Yesus mengasihimu Dani !!!”

Ditulis oleh KSW

Siapa yang jahat? Ayo ngaku!

Category : inFOStainment

Pernahkah kita berkenalan dengan seseorang dan kita bilang ke teman kita sambil berbisik-bisik ,” Sepertinya dia bukan orang baik- baik”. Atau mungkin kita bilang sebaliknya ,” Sepertinya dia orang baik”. Apa yang menjadi dasar buat kita menilai seseorang baik atau jahat? Bagi sebagian orang, mungkin itu intuisi, perasaan tidak enak yang muncul sewaktu berkenalan dengan seseorang. Mungkin juga bentuk muka dan penampilan orang itu misalnya, alis miring ke atas, bertato jangkar di tangan kanan, bertato naga di punggung, berkacamata hitam dan membawa pedang kayu? Atau mungkin garis keturunannya? Apa sebenarnya yang membedakan orang jahat dan orang baik? Kenapa kita menyebut seseorang baik seperti malaikat dan jahat seperti iblis?

Lombroso berpendapat bentuk muka seseoranglah yang menunjukkan seseorang jahat atau baik. Tepatnya namanya Cesare Lombroso, seorang mantan dokter bedah tentara di kota Pesare di Itali bagian utara. Lombroso berpendapat bahwa seorang kriminal bisa langsung dikenali dari bentuk mukanya. Kriminal cenderung mempunyai rahang yang lebar,tulang pipi yang tinggi, tangan yang panjang ( bukan, bukan perumpaman tapi memang ukuran tangannya panjang) dan kuping yang besar. Teorinya cukup terkenal di abad 19 walaupun pada akhirnya ditinggalkan karena, tentu saja, tidak ada data ilmiah yang menjadi dasarnya.

Lombroso bukan orang pertama yang mengemukakan teori ini. Di abad sebelumnya, abad 18, seorang dokter dari Vienna bernama Franz Joseph Gall percaya bahwa sifat seseorang ditunjukkan oleh bentuk tengkorak kepalanya.
Mungkin garis keturunan kalau begitu? Kalau ayahnya kriminal ya anaknya kriminal juga? Kalau iya, berarti mungkin saya kriminal juga dan memang saya pernah dituduh seperti itu. Pertama kali saya berkunjung ke rumah pacar saya, saya ngobrol-ngobrol dengan neneknya. Saya sendiri lupa bagaimana awalnya, yang pasti neneknya kemudian bilang kalau anak angkat itu biasanya bukan orang baik – baik. Waktu itu saya cuma tersenyum dan tidak ngomong apa – apa. Kenapa? Karena saya sendiri anak angkat. Mama saya meninggal waktu melahirkan saya dan papa saya kabur waktu mama saya mengandung. Dan walaupun saya rasa saya bukan orang suci, tapi kecuali melanggar lampu merah, rasanya saya ga pernah bikin perbuatan kriminal

Saya menemukan fakta yang menarik dari 2 buku mengenai soal orang baik dan jahat ini. Yang pertama buku “ Evil” karangan Roy F. Baumeister dan buku “ People Of The Lie” karangan M. Scott Peck. Menurut Baumeister, orang-orang yang melakukan perbuatan jahat tidak pernah merasa dirinya jahat. Mereka punya banyak cara untuk menjelaskan perbuatan mereka.

Yang pertama adalah mengecilkan perbuatan mereka. “ Ah, saya cuma mukul beberapa kali kok, dianya aja yang cengeng. Dipukul dikit aja langsung pingsan”. Bahkan pembunuh berantai yang diwawancara pun meremehkan perbuatan mereka seolah-olah itu tidak seberapa.

Yang kedua adalah, saya tidak punya pilihan dan saya terpaksa melakukannya. Itulah yang dikatakan prajurit – prajurit Jerman yang membunuh orang – orang Yahudi di masa Perang Dunia 2. Mereka mengakui bahwa mereka menembak para penduduk Yahudi tapi kemudian melemparkan kesalahan itu dan berkata, “ Kami diperintahkan untuk itu. Kami terpaksa melakukannya”.

Alasan yang ketiga, kejahatan itu dilakukan untuk kebaikan korbannya. Ketika terjadi kerusuhan etnis di Rwanda, orang-orang dewasa membunuh anak-anak kecil dengan alasan mereka lebih baik mati karena anak yatim piatu tidak akan bisa bertahan di masa perang. Pemilik budak di Amerika mengatakan kalau mereka melakukan kebaikan untuk para budak karena mereka membawa Injil bagi para budak itu.

Sebenarnya masih banyak alasan lain, tapi intinya tetap sama. Sangat jarang ada penjahat yang mengakui kesalahannya dengan terus terang. Kebanyakan dari mereka menghindari untuk mengakui kesalahan mereka dengan berbagai cara dan karenanya menolak untuk bertanggung jawab atas perbuatan jahat yang mereka lakukan. Untuk alasan yang tidak diketahui, manusia mempunyai kecenderungan untuk menolak mengakui diri mereka sebagai orang jahat sekalipun mereka jelas – jelas melakukan kesalahan. Bahkan sampai batas yang bisa membuat orang tidak bisa berkata-kata. Seorang pemerkosa yang diwawancara mengatakan kalau korbannya beruntung diperkosa olehnya karena nama mereka jadi masuk ke koran dan terkenal. Dan ini bukan sekedar menolak mengaku salah karena takut dihukum, tapi alasan-alasan itu dipakai untuk membenarkan diri dan menghilangkan rasa bersalah.

M. Scott Peck bahkan menemukan kasus yang lebih menarik. Sepasang orangtua datang kepadanya untuk meminta pertolongan bagi anak mereka yang bermasalah di sekolah. Setelah diwawancara, ternyata anak ini tidak menyukai sekolahnya dan dia ingin masuk ke jurusan yang lain. Tapi orangtuanya menolak untuk mendengarkan dia dan tetap memaksanya masuk ke sekolah itu. Ketika sepasang orangtua ini mendengar laporan itu, mereka tersenyum dengan sopan dan berkata kalau sekolah itu sekolah yang terbaik. Yang menarik disini bukan saja mereka tidak mengaku salah tapi mereka bahkan tidak mengakui kalau mereka bisa membuat kesalahan. Mereka merasa kalau mereka sudah melakukan yang terbaik untuk anak mereka dan kalau ada masalah pastilah masalahnya bukan di mereka tapi di anak itu sendiri atau di teman dan guru anak itu. Sama sekali tidak terlintas di pikiran mereka kalau mereka juga bisa salah mengambil keputusan.

Buat saya kedua buku ini menarik karena walaupun pengarangnya dua orang yang berbeda dan meneliti orang-orang yang berbeda tapi ternyata hasilnya sama. Orang-orang yang melakukan kejahatan tidak mau mengakui kejahatan mereka. Dan mereka mencari berbagai macam pembenaran untuk perbuatan mereka, dan sedihnya seringkali agama yang menjadi alasan. Paling tidak itulah yang dilakukan tentara perang Salib. Prajurit Kristen yang tertangkap musuh seringkali dibebaskan setelah bersumpah untuk tidak berperang lagi. Tapi ketika mereka kembali ke kelompok mereka, mereka menyadari kalau kelompok mereka kalah dan mereka harus berperang lagi. Tapi mereka juga sudah bersumpah, jadi bagaimana? Jalan keluarnya? Keluarlah peraturan bahwa melanggar sumpah yang diberikan pada orang bukan Kristen bukanlah dosa.

Lalu bagaimana dengan orang suci? Saya pernah membaca satu paradoks mengenai orang suci, “ Orang suci adalah orang yang paling menyadari dosa-dosanya”. Dan setelah saya membaca mengenai orang jahat, saya pikir paradoks ini memang benar. Daud tentu saja bisa diam-diam saja soal perkaranya dengan Batsyeba, bahkan sekalipun nabi Natan menulis hal itu, Daud bisa saja menghapuskannya. Tapi nyatanya cerita Daud tetap bisa kita baca sekarang ini yang berarti Daud mengakui kesalahannya dan tidak berusaha menyembunyikannya. Begitu juga dengan Petrus, hanya Petrus dan Tuhan saja yang tahu soal ayam jago kan? Tapi nyatanya kitab Injil menulis cerita pengkhianatan Petrus. Dan Agustinus, bapa gereja di abad pertama, di masa tuanya menulis bukunya yang paling terkenal, “ Confession” yang menceritakan dosa-dosanya di masa lalu.

Dan saya pikir itulah yang membedakan orang baik dan orang jahat. Orang baik bukanlah orang yang sedikit berbuat salah dan orang jahat banyak berbuat salah. Kita semua sudah berdosa, tidak ada seorangpun yang tidak berdosa. Bedanya hanya sebagian menolak mengakui kesalahan mereka dan hidup dengan pembenaran diri sendiri, sebagian lagi mengakui kesalahan mereka dan mencari pengampunan.

Tentu saja mengakui bahwa kita bersalah saja tidak cukup. Rasa bersalah tanpa pengampunan hanya akan menjadikan seseorang putus asa, sama seperti Yudas. Yudas bunuh diri bukan karena Tuhan tidak mengampuni, tapi karena Yudas tidak mencari pengampunan seperti Petrus memohon ampun. Kita semua berbuat salah, tapi hanya yang mengakui dan meminta ampun akan dikuduskan.

Terakhir, ini sebenarnya pertanyaan pribadi dan ga perlu dipikirin jungkir balik. Saya selalu bertanya-tanya kenapa sesudah Adam dan hawa makan buah, Tuhan tidak langsung menghukum mereka? Tentunya waktu mereka memetik buah itu pun Tuhan langsung tahu kan? Tapi Tuhan tidak langsung muncul, Adam dan Hawa bahkan masih sempat membuat cawat dari pohon ara. Bahkan waktu Tuhan datang pun Tuhan tidak terburu – buru, Tuhan “ berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk’. Bahkan sepertinya Tuhan berpura-pura tidak tahu dan tidak langsung menuduh Adam dan hawa.

Saya bertanya-tanya, seandainya waktu itu Adam langsung mengaku salah dan memohon ampun daripada melemparkan kesalahan pada Hawa “ Perempuan yang kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.’. Seandainya waktu itu Adam meminta ampun, akankah Tuhan mengampuni? Akankah kita dibuang dari firdaus?

Satu hal yang pasti, kita tidak banyak berubah dari jaman Adam. Kita tetap mempunyai kecenderungan untuk menolak mengakui kesalahan dan melemparkan tanggung jawab. Kita berusaha mencapai Tuhan dengan menunjukkan diri kita sebagai orang baik. Padahal yang diinginkan Tuhan sama seperti yang diinginkan Yusuf. Ketika saudara-saudaranya mengakui dosa mereka, Yususf langsung memeluk dan mengampuni mereka dan memebawa mereka hidup di dalam kerajaannya, jauh dari penderitaan dan kelaparan.

Orang jahat mencari pembenaran, tapi orang suci mencari pengampunan.

Ditulis oleh Tukang Bakmi

Untuk yang Lebih dari Permata

Category : inFOStainment

Kasihan kau, Via. Kau begitu tergila-gila pada seorang pria yang tidak akan pernah kau miliki. Pria itu berhidung mancung, selalu dengan kemeja yang licin. Tingginya tak lebih dari 170 cm, dagunya runcing dan itu membuat ketampanannya semakin kuat. Sebagian rambutnya berwarna hitam dan sebagian berwarna putih. Matanya ramah dengan kerutan di sekelilingnya. Bila pria itu tersenyum, kerutan di sekitar bibirnya akan tertarik. Pria itu humoris dan cerdas. Ia bijak dan berwibawa. Karena ia seorang Pendeta yang sudah berkeluarga, maka kau tidak akan pernah memilikinya.

Kasihan kau, Via. Hatimu tertancap pada seorang pria yang tak mungkin kau raih. Pria itu bermata tajam, dan mata itu memancarkan kecerdasan dan wibawa tiada tara. Kacamata tanpa bingkai membuat pesonanya semakin menjadi-jadi. Suaranya merdu dan senyumnya luar biasa dengan lesung pipinya. Tingginya tak lebih dari 170 cm dan ia berkulit coklat. Setiap kali pria itu berbicara dengan buku di tangannya, kau akan tahan diam dengan fokus yang sulit dipercaya selama dua jam pelajaran, sesuatu yang tidak biasa untuk gadis tujuh belas tahun seperti mu. Hampir tiap malam kau membaca buku yang selalu dipegang pria itu saat mengajar di kelas, dan karenanya kau hampir hapal isi buku tersebut.

Via, malang benar kau. Berpikir kalau ini tidak wajar dan kau merasa sedih. “Kenapa bukan pemain basket, atau seorang anggota OSIS yang aku sukai?” demikian kau terus berpikir dan makin lama kau makin terpuruk saja. Kau merasa berbeda, merasa aneh, karena pria dalam hatimu adalah pria yang sudah berkeluarga dan pria dengan selisih usia dua puluh tahun.

Setelah sedih yang berkepanjangan, kau sadar bahwa… Bahwa sudah lama sekali kau berangan-angan “seandainya, ya seandainya, Ayahku seperti dia”. Ah Via, air matamu mengalir lagi, saat kau sadar bahwa… Bahwa kau menginginkan sosok Ayah berhidung mancung dengan senyum ramah. Atau Ayah dengan mata tajam nan cerdas dan penuh wibawa. Kini kau tidak lagi merasa aneh, tapi kau hancur. Kenyataan, perasaan, dan keinginan membuat kau semakin sedih. Kau memiliki Ayah yang luar biasa tampan, itu pendapat semua orang. Tapi bahkan ketampanan tak akan pernah menyembuhkan luka pada punggungmu, luka yang terbentuk dari ikat pinggang Ayah. Tidak pula luka pada hatimu, yang kian lama kian sakit. Ah Via, kasihan benar kau…

Akan menjadi orang tua seperti apa kita nanti? Mungkin hal itu masih jauh dari pikiran dan angan-angan, masih sepuluh, delapan, atau lima tahun lagi saat kita berkeluarga. Akankah  yang lebih dari permata, yang kita nantikan dalam kehidupan keluarga kita kelak, yakni anak-anak kita, mengalami kepahitan yang anak-anak lain rasakan atau  yang pernah atau sedang kita alami? Bukan hal yang terlalu dini bagi kita untuk belajar menjadi seorang yang penuh kasih dan menjadi peduli. Walau masih sepuluh, delapan, atau lima tahun lagi,  untuk yang lebih dari permata dalam kehidupan berkeluarga kita kelak, yakni anak-anak pilihan-Nya, anak-anak yang lebih dari permata bagi Tuhan dan yang begitu dikasihi-Nya melebihi apapun.

Ditulis Oleh_ENS FOS Community

Istana Kaca yang Dibangun Kembali

Category : inFOStainment

Beberapa tahun sudah berlalu sejak peristiwa runtuhnya istana kaca dan raja terdahulu sudah kembali ke tahtanya dan meredakan kekacauan. Dan sang raja yang gagal, kembali ke kehidupannya semula sebagai petani. Jika dulu dia selalu mengomel tentang hidupnya, petani ini sekarang perlahan-lahan mulai mensyukuri hidupnya dan berbahagia mengolah ladang kecil di pojok kerajaan.

Sampai tiba harinya raja datang kembali ke rumahnya. Kali ini petani tidak kaget lagi, dia justru takut dan cemas karena dia tahu apa tujuan raja datang ke rumahnya. Dan ketakutannya memang menjadi kenyataan karena raja memintanya untuk bertukar tempat dengannya lagi. Berbeda dengan dulu dimana petani langsung menyambar kesempatan ini tanpa pikir panjang, kali ini petani justru enggan untuk menyetujui pertukaran ini.

“ Aku sudah puas dengan kehidupanku sekarang. Memang tak banyak yang bisa kulakukan tapi hidupku tenang dan damai. Kenapa aku harus mengambil kehidupan sebagai seorang raja?”

“ Karena kau tidak ditakdirkan untuk hal yang biasa-biasa saja tapi ada takdir besar yang menunggumu. Tentu saja menjadi petani pun hal yang baik, tapi kau mempunyai potensi yang melebihi hal itu dan akan sangat menyedihkan kalau kau menyia-nyiakan potensi itu”, jawab raja.

“ Haruskah aku kembali ke kerajaanmu? Tidak bisakah aku pergi ke kerajaan lain? Mungkin penduduk di kerajaan lain tidak akan mengetahui kegagalanku dan mungkin mereka akan menerimaku dengan baik?”

“ Kau bisa saja pergi ke kerajaan lain dan memulai pemerintahan baru disana, tapi itu tidak berarti kerajaanmu akan aman. Lagipula peristiwa runtuhnya menara kaca itu menjadi berita hangat dimana-mana. Kau tidak akan pernah tahu apakah berita itu sampai ke kerajaan lain atau tidak. Dan mungkin suatu hari nanti berita kegagalanmu akan membuat mereka menghancurkan lagi istana kaca yang kau diami disana”

“ Tapi jika aku kembali ke kerajaanmu, bagaimana aku bisa memerintah? Pendudukmu sudah mngetahui kegagalanku dan mereka akan menolakku. Apa gunanya aku menjadi raja kalau mereka menolakku?”, tanya petani itu.

“ Kalau kau mau, aku bisa menggunakan otoritasku sebagai raja untuk membuat mereka mematuhimu sebagai penggantiku. Tapi, kau harus tahu, mereka akan mematuhimu bukan karena otoritasmu tapi otoritasku. Mereka akan mematuhimu bukan karena mereka menghormatimu tapi karena kedudukanmu sebagai raja yang kuwariskan”

“ Bagaimana aku bisa meminta mereka untuk menghormatiku?”, tanya petani itu lagi.

“ Kau tidak bisa meminta mereka untuk menghormatimu. Orang terhormat tidak perlu meminta ntuk dihormati orang lain. Kalau dia memang orang terhormat, tanpa diminta pun orang akan menghormatinya. Orang yang meminta dihormati bukan orang terhormat, melainkan orang yang gila hormat”

“ Tapi, bukankah kau sendiri yang mengatakan kalau tanpa kepercayaan rakyat tidak akan ada negara? Jangankan menghormatiku, mereka bahkan melemparkan batu ketidakpercayaan padaku. Bagainana aku bisa meminta mereka mempercayaiku?”

“ Betul, mereka tidak percaya lagi padamu. Reruntuhan istana kaca itu adalah bukti yang sangat nyata atas ketidakpercayaan mereka. Kau harus mengerti, kepercayaan bukanlah sesuatu yang diminta dan diberikan. Kepercayaan adalah sesuatu yang harus kau usahakan. Kau tidak meminta seseorang mempercayaimu, kau berusaha menunjukkan kalau kau bisa dipercaya.”

“ Tapi, bagaimana aku bisa membuat mereka mempercayaiku? Apa yang harus kulakukan untuk membuat mereka mempercayaiku lagi?’

“ Kali ini aku tak bisa membantumu, itu sesuatu yang harus kau pikirkan sendiri. Tapi akan kuberi beberapa petunjuk, mengakui kesalahanmu dan meminta maaf adalah langkah awal yang benar. Kegagalanmu akan menyertaimu sepanjang hidupmu dan orang akan selalu membicarakan hal itu. Menutupi hal itu dan berharap orang melupakan sama saja dengan menyiapkan tumpukan batu siap lempar di depan istana kaca yang akan kau bangun”.

“ Dan kau harus melakukan sesuatu yang berharga yang melebihi semua kegagalanmu. Seberapa besar kegagalanmu, sebesar itu jugalah kau harus menanggungnya dan melakukan hal yang melebihi kegagalan itu. Sampai suatu hari nanti orang bisa berkata tentang dirimu bukan lagi “ dia orang gagal” melainkan “ Dulu dia orang gagal, tapi sekarang…..”. Kegagalanmu di masa lalu tak akan pernah hilang, tapi bukan berarti masa kini dan masa depanmu hilang”

Petani itu merenungkan hal itu. Dia tahu kalau dia bisa memilih untuk hidup tenang di pertaniannya atau pergi ke kerajaan lain. Tapi dia juga tahu kalau itu hanya mengubur kegagalannya dan menjauhi takdirnya. Dia tahu apa yang harus dia lakukan sekarang tapi dia juga tahu kesusahan yang akan menimpanya.

Esok harinya, sementara raja tidur di pondoknya, petani ini pergi ke kota untuk melakukan apa yang harus dia lakukan.Tentu saja penduduk kota mengenali bekas raja mereka yang gagal ini dan mereka mengolok-oloknya, beberapa bahkan mencoba mengusirnya pergi. Tapi petani ini tetap pergi ke tempat dia harus pergi, yaitu ke reruntuhan istana kacanya. Istana kacanya yang dulu megah sekarang hanya tersisa puing-puing.

Tanpa mempedulikan penduduk kota yang mengejeknya, petani ini mengambil puing-puing kaca satu demi satu dan merekatkannya kembali. Berhari-hari dia melakukan hal itu, merekatkan pecahan kaca dan membangunnya kembali. Seringkali bangunan yang baru dibangunnya itu kembali harus hancur karena ada penduduk kota yang melempar batu ketidakpercayaan, tapi petani ini mengambil kembali serpihan kaca yang hancur dan merekatkannya.

Sampai tiba harinya dimana kehormatan dipulihkan dan kepercayaan dinyatakan adalah hari dimana istana kaca kembali berdiri. Dan raja sejati memenuhi takdirnya.

Ditulis oleh Tukang Bakmi

P-E-R-S-A-H-A-B-A-T-A-N

Category : inFOStainment

P- Pengaruhi orang-orang di sekitar kita terus menerus dengan kasih Allah sampai menghasilkan perubahan hidup, sebaliknya begitu juga, kita harus mau dipengaruhi oleh nilai-nilai yang baik dari orang-orang di sekitar kita supaya kita juga mengalami perubahan hidup itu.

E- Extra-mile, “jika sahabatmu memintamu berjalan bersamanya sejauh satu kilometer, berjalanlah bersamanya sejauh dua kilometer…” Jika sahabatmu memintamu memberikan waktumu untuknya, berikan juga hati dan telingamu untuk mendengarkannya. Ini salah satu prinsip yang membuat sebuah hubungan menjadi sangat bermakna, sebuah hubungan yang berkorban, melakukan sesuatu yang “lebih” dari apa yang kebanyakan orang lakukan.

R- Rencana Tuhan harus tergenapi sempurna bagi orang-orang yang kita kasihi. Kalau ada kerinduan yang sebesar ini bagi sahabat kita, tindakan yang bisa kita lakukan adalah mendampingi sahabat kita dengan konsisten sampai rencana Tuhan digenapi dalam hidupnya. Tanyakan kabarnya di saat-saat ia menghadapi kesulitan, tawarkan bantuan bagi dia, doakan lewat telepon atau beri waktu untuk mengunjungi sahabat kita, karena adakalanya sahabat kita kelelahan menghadapi masalahnya sendiri.

S- Sukacita akan selalu ada dalam hubungan yang sifatnya saling membangun. Walaupun kadang ada masalah di antara kamu dan sahabatmu, tapi semua itu pasti menghasilkan sukacita pada akhirnya dan bukan perpecahan. Tujuan dari adanya masalah dalam sebuah hubungan adalah untuk mengajarkan kepada kita tentang bagaimana menghadapi orang-orang yang kita kasihi dalam jangka waktu panjang. Sukacita selalu membuat sebuah hubungan menjadi hidup dan bersemangat.

A- Arahkan hubungan itu kepada hal-hal yang semakin besar. Ada tanggung jawab yang semakin besar dalam setiap hubungan, maka itu kapasitas kita dalam menghadapi orang-orang di sekitar kita juga harus semakin besar. Kedekatan kita harus semakin terjaga, komunikasi ditingkatkan, buat project-project yang melatih tanggung jawab kita untuk memelihara suatu hubungan, misalkan setiap minggu minimal tanyakan kabar satu kali, doakan minimal satu orang sahabat setiap hari, mengunjungi minimal satu orang sahabat sebulan sekali, lalu tingkatkan kapasitasmu dalam membangun hubungan itu.

H- Hargai waktumu bersama orang-orang yang kamu kasihi. Jangan tenggelam ke dalam suatu kesibukan yang berlebihan sehingga merusak hubunganmu dengan orangtua, pacar, sahabat, apalagi Tuhan. Relasi lebih penting daripada kesibukan semata. Relasi yang dekat itu sifatnya mengisi, sedangkan kesibukan itu sifatnya mengambil, contohnya relasi dengan Tuhan itu lebih penting daripada sibuk pelayanan.

A- Ampuni, doakan, dan motivasi orang-orang yang kita kasihi ketika mereka berbuat suatu kesalahan. “Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia ini bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yohanes 3:17). Perkataan ini berlaku juga buat kita sebagai anak-anak Tuhan. Gimana kita bisa membawa pertobatan buat orang-orang di sekitar kita kalo perkataan kita isinya adalah kata-kata penghakiman? Bahasa kita adalah bahasa kasih, yang di dalamnya ada pengampunan dan penerimaan yang tulus bagi sesama kita.

B- Bagikan hidupmu dan buka hatimu. Saat Tuhan mengutus sahabatmu untuk menolongmu ketika mengalami kesulitan, jangan menutup diri. Memang dalam beberapa hal, apa yang kita alami mungkin aja terasa memalukan. Atau kita merasa walaupun kita ceritakan masalah kita ke siapapun, tetep aja nggak bisa bantu. Cobalah dulu untuk membuka hati bagi mereka, sahabat-sahabat rohani dan orang-orang yang terdekat dengan kita seperti orangtua seringkali menjadi alat Tuhan yang efektif untuk menyampaikan isi hati-Nya di saat kita menghadapi suatu masalah dan tidak bisa mendengar suara-Nya dengan jelas. Keterbukaan yang tepat selalu menjadi awal dari sebuah pemulihan.

A- Akui kesalahan dan berani meminta maaf duluan saat hubunganmu dengan sahabatmu sedang diwarnai konflik. Kita belajar untuk mengampuni, itu nggak mudah. Sebaliknya, meminta maaf duluan juga pasti nggak mudah. Nah, saat kita mengerti kalo orang lain aja punya kekurangan, kita juga harus berani mengakui kekurangan kita dan meminta maaf. Dengan kita mengakui kelemahan kita duluan, kita sedang membangun kekuatan yang akan mengatasi kelemahan-kelemahan itu. Orang yang kuat justru adalah orang yang menyadari kelemahannya, karena dengan begitu kita mengerti di sisi lemah apa kita harus memperbaiki diri, sehingga kita memiliki karakter dan kepribadian yang semakin memberkati baik bagi diri sendiri maupun bagi orang-orang yang kita kasihi.

T- Tuhan hadir dalam setiap hubungan yang kita bangun di dalam Dia. Kalo persahabatan kita mempunyai visi untuk kepentingan Allah, pasti Dia juga yang menjaga persahabatan kita itu. Kalo pacaran dibangun dalam Tuhan, Tuhan juga yang menjaga hubungan itu. Tentukan dasar setiap hubungan yang kamu bangun, di atas apa kamu membangunnya, akan sekuat itulah nanti hubungan itu.

A- Alami pengalaman-pengalaman yang baru. Jadilah kreatif dalam hubunganmu, Belajarlah dengan giat untuk membangun suatu hubungan sama giatnya dengan saat kamu belajar untuk ujian Fisika atau Akuntansi. Sebuah hubungan yang diuji dengan waktu bisa saja mengalami kebosanan atau titik jenuh. Inilah musuh utama sebuah hubungan: titik jenuh. Sebab itu mintalah hikmat dari Tuhan supaya kamu bisa menjadi lebih kreatif dalam membangun hubungan.

N- Nyatakan kepada dunia apa yang telah kamu alami dari hubungan persahabatanmu itu. Biarlah dunia diberkati oleh kesaksian atas persahabatan yang dialami oleh anak-anak Tuhan. Buktikan bahwa kita memiliki Tuhan Yesus yang adalah sahabat sejati, yang memiliki kasih terbesar sebagai Seorang Sahabat (Yoh 15:13). Saat kita, anak-anak Tuhan, membangun sebuah hubungan, itu akan menjadi gambaran bagaimana Allah membangun hubungan dengan kita manusia. Sebab itu miliki nilai-nilai yang Tuhan Yesus tunjukkan sebagai Sahabat: Pengorbanan, Kasih, Penerimaan, Kemurahan Hati, Ketegasan yang membangun, Kesetiaan, Memiliki Visi yang jelas, dan banyak hal lainnya yang akan kita temukan jika kita mengenal Dia.

Istana Kaca

Category : inFOStainment

Di suatu negeri yang jauh, tapi mungkin juga tidak terlalu jauh, mungkin juga dekat, atau bahkan mungkin kita tinggal di negeri tersebut, hiduplah seorang petani sederhana.  Petani ini adalah seorang yang sangat biasa, bukan petani yang terkenal atau luar biasa, orang biasa seperti teman-teman kita atau keluarga kita atau bahkan seperti diri kita sendiri. Hanya saja, petani ini sangat sering mengomel tentang kehidupannya. Dia selalu berkata,

“ Sendainya aku ini seorang raja yang memerintah negeri ini, pasti hidupku akan luar biasa. Aku akan terkenal, semua orang mengenalku dan aku bisa memerintahkan bawahanku untuk melakukan apa saja”

“ Menjadi raja pasti sangat menyenangkan, tidak ada yang perlu dikuatirkan. Cukup hanya mengeluarkan kata perintah dan semua orang akan menjalankan. Sungguh suatu kehidupan yang sangat mudah”

Petani ini sering sekali mengomel soal mudahnya hidup seorang raja kepada keluarga, teman-temannya atau bahkan orang asing yang baru dia temui di tengah jalan pun dipaksanya untuk mendengar omelannya. Sampai suatu saat omelannya sampai ke telinga raja. Raja yang mendengar hal ini pun mendatangi petani itu ke rumahnya.

Petani yang melihat kedatangan raja di rumahnya tentu saja terkejut. Tapi dia lebih terkejut lagi ketika tahu kalau kedatangan raja ke rumahnya justru untuk mengangkatnya menjadi raja, dengan satu syarat. Syaratnya adalah petani itu harus tinggal di istana raja. Tentu saja petani itu langsung setuju dengan syarat semudah itu. Lagipula bukankah seorang raja memang harus tinggal di istana? Dengan segera dia dan seluruh keluarganya berkemas – kemas untuk pindah ke istana raja.

Keesokan harinya, raja sendiri mengantar petani ini ke kota untuk menempati istananya. Sepanjang jalan petani ini sibuk membayangkan kemegahan rumah barunya. Dan harapannya memang menjadi kenyataan, beberapa kilometer dari kota dia sudah bisa melihat bangunan besar yang berdiri megah dan tampak bersinar mengkilap di bawah sinar matahari. Semakin dekat dia ke istana barunya, semakin kagum petani ini dibuatnya. Ternyata istana yang akan ditempatinya seluruhnya terbuat dari kaca yang dibentuk dengan indah dan sangat bersih mengkilap. Belum pernah dia melihat bangunan seindah, sebersih dan begitu bersinar seperti istana ini. Dengan gembira dia berulangkali mengucapkan terimakasih pada raja. Raja hanya tersenyum dan berkata kalau petani ini membutuhkannya, dia akan ada di rumah petani itu yang dulu.

Sesuai keinginannya, kehidupan sebagai seorang raja memang menyenangkan. Petani ini bisa memerintah semua orang di kerajaannya dengan mudah. Petani ini hidup bermalas-malasan sepanjang hari dan hanya memrintah orang-orang di sekitarnya. Sampai suatu hari dia menyadari kalau kerajaannya tampak sepi, tidak terlihat ada orang yang berlalu lalang di jalan dan semua toko tutup. Dengan heran dia bertanya kepada menterinya apa yang terjadi. Menterinya berkata,

“ Yang mulia, mereka semua sedang tidur dan bersantai di rumah.”

“ Apa? Mereka tidur? Lalu bagaimana dengan pekerjaan mereka? Bagaimana mungkin mereka semua melalaikan pekerjaan mereka? Kenapa mereka bisa semalas itu?”, petani ini berteriak dengan marah.

“ Tapi yang mulia, rakyat hanya melihat kehidupan yang mulia selama ini. Mereka rakyat yang sederhana dan patuh, ketika mereka melihat gaya hidup yang mulia, mereka pun berpikir kalau hidup seperti itulah yang benar dan seharusnya. Tolong jangan hukum kami yang mulia, kami hanya mengikutimu”, jawab menterinya sambil berlutut.

Dan petani itu pun tersadar kalau istananya memang terbuat dari kaca yang berarti semua orang bisa melihat ke dalam istana dan mengamati bagaimana kehidupannya. Dan dengan perasaan sedikit menyesal, esok harinya dia mulai menjalankan tugas-tugasnya sebagai raja dan tidak lagi memerintah orang-orang. Walaupun begitu, petani ini masih menyukai kehidupannya sebagai seorang raja.

Suatu hari, petani ini memperhatikan kalau setiap orang yang melewati istananya selalu berhenti, menunjuk-nunjuk dan saling berbisik-bisisk dengan pejalan lain. Petani ini, yang sekarang sudah belajar dari pengalamannya, langsung memanggil menterinya dan menanyakan apa yang terjadi.

“ Oh, mereka semua membicarakan betapa kotornya istana ini dan betapa joroknya yang mulia sebagai seorang raja”, jawab menterinya.

“ Istanaku kotor? Dimananya yang kotor? Sepengetahuanku istana ini sangat bersih”,

“ Memang betul yang mulia, yang kotor hanya satu jendela saja.”

“ Hanya satu jendela? Kalau begitu kenapa semua orang mempermasalahkan hal itu dan mengataiku sebagai raja yang jorok?”

“ Yang mulia, istana ini terbuat dari kaca yang mengkilap. Bahkan kotoran sedikit saja pun akan langsung terlihat dan semua orang akan langsung memperhatikannya “

Dan petani ini pun tersadar kalau istananya memang terbuat dari kaca yang memang terlihat sangat indah dan mengkilap, tapi sebaliknya kotoran sedikit apa pun yang menempel akan langsung terlihat jelas. Dan esoknya, petani ini beserta semua pegawainya bekerjasama memebersihkan istana. Kali ini, petani ini mulai terganggu dan mulai tidak menyukai istana dan kehidupannya sebagai raja.

Selain harus selalu terlihat rajin, dia juga masih harus selalu menjaga kebersihan setiap jengkal istananya. Semua ini menguras tenaganya dan tanpa disadarinya pekerjaannya semakin terbengkalai dan semakin lama kerajaanya semakin kacau. Rakyat mulai tidak puas pada raja yang baru ini dan protes mulai terdengar dimana-mana. Kemarahan rakyat ini makin lama makin panas sampai suatu hari seorang penduduk yang sangat marah melemparkan batu ke istana kaca sang raja. Dan petani ini melihat dengan ketakutan ketika batu itu dengan mudahnya menghancurkan pintu kaca istananya. Satu batu diikuti batu-batu yang lain dan dalam sekejap istananya yang megah hancur berserakan dimana-mana. Kali ini petani ini tidak tahan lagi dan segera lari meninggalkan istananya untuk mencari raja di rumahnya yang dulu.

Ketika sampai di rumahnya yang dulu, petani ini melihat raja sedang menanami ladangnya dengan muka bahagia. Petani ini dengan segera menghampirinya dan memohon sang raja untuk kembali ke kota dan membereskan semua kekacauan. Raja menatapnya dan bertanya,

“ Kenapa? Bukankah engkau sudah mendapatkan keinginanmu? Kenapa sekarang kau ingin bertukar tempat kembali denganku? Apakah kau tidak menyukai istanamu?”

“ Tidak, aku tidak mau lagi jadi raja dan tinggal di istana kaca. Istana itu memang indah tapi aku tidak mau lagi tinggal di dalamnya. Setiap hari aku harus berhati-hati karena semua orang memperhatikan hidupku. Dan setiap hari juga aku harus mengamati istanaku supaya tidak ada satupun kotoran menempel yang akan membuatku ditunjuk orang lain. Dan bahkan setelah semua yang kulakukan, ketika rakyat tidak puas dan melempari istanaku, dengan mudah istana itu hancur. Aku tidak mau lagi menjadi raja dan tinggal disana.”

“ Tapi, kau tidak bisa menjadi raja tanpa tinggal di istana kaca. Itu adalah syarat semua raja! Menjadi pemimpin berarti membagi hidupmu dengan semua rakyatmu, hidupmu bukan lagi milikmu sendiri. Karena itu seorang pemimpin harus tinggal di istana kaca supaya semua orang bisa melihat kehidupannya dan belajar darinya. Apakah kehidupan itu baik atau buruk akan mempengaruhi semua orang yang dipimpinnya.”

“ Tinggal di istana kaca berarti semua orang akan memperhatikanmu. Sedikit saja kotoran menempel di istanamu, semua orang akan langsung membicarakan hal itu seolah-olah istanamu adalah tempat terjorok di muka bumi. Dan, istana kaca, sama seperti bahan penyusunnya, walaupun terlihat indah mengkilap tapi sangat rapuh. “

“ Suatu kerajaan berdiri karena kepercayaan rakyatnya, tapi ketika rakyat kehilangan kepercayaannya maka batu ketidakpercayaan sangat mudah menghancurkan istana kaca yang megah.”

“ Raja, kembalilah ke kota dan ambillah lagi kedudukanmu. Aku tidak pantas menjadi raja. Aku ingin menjadi raja karena membayangkan betapa enaknya menjadi terkenal, memerintah orang-orang dan punya berbagai hak istimewa. Aku tidak pernah memikirkan tanggung jawab sebagai seorang raja. Aku tidak pantas menjadi raja”

“ Kau sudah mengerti sekarang? Hanya orang-orang yang mengetahui beratnya tanggung jawab menjadi raja dan bersedia memikul tanggung jawab itu seumur hidupnya yang bisa menjadi raja yang baik. Untuk saat ini, kembalilah menjadi petani. Suatu saaat nanti jika kau bisa merasa bahagia melakukan pekerjaan kecil di sudut kerajaan ini, jika kau sudah siap untuk menerima tanggung jawab seorang raja, aku akan memanggilmu kembali untuk menjadi penerusku.”

Ditulis oleh : Tukang Bakmi

Kadangkala kita melihat kedudukan sebagai pemimpin rohani adalah sebuah kedudukan yang sangat menyenangkan, begitu berkilau karena bisa menjadi pusat perhatian. Tapi ternyata tanggung jawab sebagai pemimpin rohani dalam sebuah pelayanan begitu berat. Hidup dan integritasnya harus kuat supaya dapat menjadi teladan bagi orang lain. Karena kejatuhan sebuah pelayanan berawal dari kejatuhan pemimpinnya.

FOS Community

Between Commitment and Change

Category : inFOStainment

Wah, sudah tahun baru nih yah….

Met Tahun baru semuanya, maaf yah kalau terlambat ngucapinnnya, seharusnyakan dari kemarin-kemarin, yah daripada tidak sama sekali…hehehhe…

Ada beberapa hal yang akrab dalam tahun baru, suara terompet, bakar-bakaran, ibadah tutup tahun, begadang, sampai petasan yang nan indah. Di tahun baru, seringkali kita membuat sebuah perefleksian kecil baik itu sendiri maupun bersama keluarga, flashback tahun 2009 dan membuat resolusi untuk 2010. Biasanya ada beberapa hal yang kita harapkan, inginkan, komitmenkan bahkan ada yang kita komitmenkan kembali (perpanjang kontrak komitmen..hehehhhe). Dan nggak jarang juga ada pemulihan yang terjadi di awal tahun 2010.

Guys, aku mau sharing sedikit, ada sebuah kebiasaan yang selalu aku lakukan setiap menjelang tahun baru, aku biasanya membuat semacam refleksi pribadi di kamarku sendiri. Dan tahun lalu ada hal unik yang aku lakukan, yaitu aku menuliskan beberapa poin komitmenku dan harapanku kepada Tuhan di komputer, dan tadinya ingin di cetak lalu ditempelkan di sebuah sudut kamarku sebagai pengingat.

Dan pada saat refleksi kemarin, memasuki tahun 2010, aku teringat akan file itu, lalu aku mencari dan akhirnya mendapatkan sebuah resolusi dan perjanjian yang sengaja aku tulis dengan Tuhan setahun yang lalu. Aku jadi teringat saat-saat aku menuliskan hal itu, jadi di tulisan itu terdapat 4 poin yang akan aku komitmenkan dan 4 poin yang aku harapkan dan doakan. Sama-sama 4 poin, tapi saat aku melihat poin demi poin yang aku tuliskan sendiri itu, aku hanya bisa terdiam sedih dan bertanya dalam hati, karena ada beberapa komitment yang gagal aku tuntaskan hingga akhir tahun, sedangkan saat aku melihat harapan dan doa yang aku panjatkan, semuanya telah Tuhan jawab dengan cara yang ajaib. Padahal sama-sama 4 poin, tapi ternyata justru lebih banyak komitmen yang gagal aku lakukan. Disitulah aku kembali diingatkan dengan sebuah ayat yang berbunyi seperti ini :

“ Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diriNya.” (2 Timotius 2:13)

Padahal yang membuat komitmen adalah aku sendiri, tetapi aku sendiri yang seringkali menyangkalnya, seringkali mengingkarinya, seringkali mengkompromikannya, dan ngga jarang seringkali sengaja melupakannya.

Entah beberapa banyak hal yang telah kita komitmenkan, semangat pada awalnya, tapi jarang yang tetap setia hingga akhirnya, padahal sekali lagi, kita sendiri yang membuat komitmen itu, dan kita sendiri yang melanggarnya. Apa lebih baik nggak usah buat komitmen atau bikin janji dengan Tuhan yah, daripada setiap kali bikin janji atau komitmen kita juga yang mengingkarinya?

Wah jangan sampai berpikiran seperti itu yah, karena aku percaya saat kita membuat sebuah komitmen, itu adalah awal dimana akan terjadi perubahan. Ada semacam pengakuan dan keinginan untuk berubah saat kita mengucapkan sebuah komitmen, dan pastinya hal itu dilandasi karena kita melihat betapa besarNya kasih Allah di dalam hidup kita. Tetapi ingat, bahwa perubahan bukanlah perubahan sampai terjadi perubahan. Aku sangat suka kata-kata ini.

“Perubahan bukanlah perubahan sampai terjadi perubahan”

Komitmen adalah awal dimana perubahan akan terjadi, awal dimana pemulihan akan dinyatakan, awal dimana hal-hal yang baru akan kita terima, tetapi ingat bukan hanya sampai disitu. Aku pernah bilang kepada salah seorang sahabatku, bahwa yang namanya perubahan, pemulihan bahkan sukacita bukan hanya sebuah mukjizat, tetapi semua itu adalah pilihan. Dimana saat kita memilih untuk pulih, maka pemulihan itu akan segera datang kepada kita, saat kita memilih untuk bersukacita bahkan di saat yang paling sedih sekalipun, saat itulah sukacita itu datang kepada kita. It’s all about choice. Dan begitu juga dalam komitmen, bukan hanya pilihan untuk membuat komitmen atau tidak, tetapi pilihan untuk menjalankannya hingga menjadi sebuah perubahan atau tidak.

Tidak ada kata terlambat untuk memulai hal yang baru, dan tidak ada kata terlambat untuk mewujudkan komitmen kita. Komitmen bukan hanya berbicara mengenai tahun baru, tetapi bicara mengenai hari-hari yang kita jalani di tahun yang baru ini, akankah Dia mendapati kita tetap setia hingga akhir, sama seperti Tuhan yang akan selalu setia kepada kita.

JanjiNya selalu dapat kita pegang dan Dia pasti melakukan tepat pada waktunya. Lalu bagaimana dengan janji kita kepada Dia, akankah dapat Dia pegang dan kita lakukan senantiasa ??

Kuberjuang sampai akhirnya, Kau dapati aku tetap setia.

Ditulis oleh KSW

Cerpen – Hatimu, Ibu..

Category : inFOStainment

Untuk semua Mama, selamat “Hari Mama”. Pelbagai wejangan yang kami (benar, kami semua) terima, membuat kami semakin dewasa. Walaupun sedikit banyak kami membuat hari-hari Mama menjadi sepuluh kali lebih berat, Mama asyik2 saja tuh. Mama bukan Mama yang sempurna, tapi pasti yang terbaik yang kami miliki *Sejuta sayang dari kami untuk semua Mama*

Ibu, kita hidup dalam dunia patriarki, dimana kaum Adam lebih tinggi dari kaum Hawa. Lebih tinggi dari derajat, hak, dari cita-cita hidup. Apakah derajat? Hanya manipulasi yang mengatasnamakan kemanusiaan dalam hal tinggi dan rendah hidup manusia. Bahkan hak terdengar sebagai gema tanpa getaran, tak ada dampak, tak ada keseimbangan.

Mengapa tidak apa bila Ibu mencuci pakaian di rumah tetangga untuk makan hari ini, dan haram bila Ayah melakukan hal yang sama? Mengapa Ibu berkeringat dan Ayah tidur-tiduran di depan TV? Mengapa cap merah tangan Ayah boleh tergambar dalam pipi Ibu sedangkan Ibu hanya boleh diam, mengeluarkan air mata diam-diam?

Kita ini laksana pemain cadangan dalam sebuah pertandingan sepakbola, yang setelah berpeluh dan berlatih habis-habisan bahkan tak pernah menjejak rumput dalam satupun pertandingan. Kita ini bak karyawan yang duduk paling belakang dalam sebuah rapat yang kurang penting (karena bila rapat penting, jangan harap kita diundang) yang setelah lembur berminggu-minggu dan kantong mata lebam, bengkak, tak kunjung disebut namanya.

Ibu memasak. Ibu memperbaiki atap. Ibu mencuci di rumah tetangga. Ibu di dapur, di kamar, di kebun, di atap, Ibu dimana-mana. Ibu tidak makan, tidak apa-apa. Ayah belum disiapkan makan, ini bahaya.

Tak pernah Dinda sesalkan Ibu adalah seorang perempuan. Dinda hanya hancur, hanya tak berdaya. Apakah revolusioner yang menyerukan pembebasan? Kita ini masih terkungkung dalam sebuah tembok batako yang bernama keluarga, yang beratap kekhawatiran tentang apa yang akan kita makan. Kita kaum feodal, dipimpin oleh para bangsawan. Sistem tirani, jangan pernah sebut demokrasi!

Oalah Ibu, hentikan cintamu! Ayah tak akan pulang, hari ini, esok, lusa. Mengapa Ibu masih bersimpuh dan menyebut “suamiku” sambil meringis? Pikiran Dinda bias. Katakan pada Dinda dengan pelan dan lambat-lambat agar Dinda mengerti, kenapa Dinda harus menyapanya dengan kata “Ayah”? Ooh tidak Ibu, Dinda tidak membencinya, karena bahkan Dinda tidak mengenalnya.

Sekali lagi Ibu, tolong hentikan cintamu. Lutut Ibu sudah lecet dan harus segera diobati. Hati Ibu patah dan harus segera dilem. Dinda sudah mencoba untuk waktu yang cukup lama menyebut “Ayah” sambil bersimpuh, namun pintu tak kunjung terbuka dan menampakkan bayangnya. Mengapa Ibu, hatimu sekeras baja? Pikirmu seteguh tanduk rusa? Imanmu, ahh bagaimana Dinda menggambarkannya? Apakah Ayah akan pulang Ibu? Ahh, Dinda jadi berharap lagi…

***

mum_2Dinda, Ayah dan Ibu adalah satu, jadi bagaimana Ibu dapat berhenti lalu bersantai sambil minum kopi sedangkan separuh dari Ibu sedang mencari-cari jalan pulang? Ayah bukannya tak mau pulang, Ayah hanya sedikit lupa jalan pulang. Ibu tak boleh tertidur, karena saat Ayah pulang nanti, Ibu harus sudah ada di pintu untuk menyambutnya masuk. Ibu dan Ayah akan sangat senang bila Dinda mau bersama-sama menyambut Ayah di pintu. Kami adalah satu, kami sudah berjanji. Oh iya,  soal mencuci itu tidak jadi soal, bagaimana ya Dinda, habis Ibu senang melakukannya. Ahh Ibu jadi berdebar-debar, siapkan dirimu sayang, Ayah segera pulang.

Klarifikasi dan Permohonan Maaf

Category : inFOStainment

Shalom FOSters.. Di penghujung tahun ini kami ingin menyampaikan sebuah klarifikasi dan permohonan maaf. Di bulan May tahun 2009 kami pernah membuat sebuah artikel kesaksian yang berjudul Dewa Klasik Alexander – Ketika Kasih Karunia Menjadi Lebih Berharga. Ternyata kami mengetahui bahwa sahabat kami Dewa Klasik telah menarik kesaksiannya seperti yang dikutip pada blog Julita Manik – A Sorry Letter from Dewa Klasik

******

From: DEwa Klasik
Date: Fri, 13 Nov 2009 06:43:20

Saya ingin mengklarifikasi email yang beredar mengenai kesaksian saya. Ada banyak hal yang tidak benar. Dan itu bukan kesalahan siapa pun. Tapi kesalahan saya sendiri. Dengan ini saya sangat menyesal atas kesalahan yang telah saya buat dan saya bertobat dari kesalahan yang telah saya lakukan. Saya tau, hal ini akan mengecewakan banyak orang yang mengenal saya. Saya hanya bisa mengatakan maaf dan berikan saya kesempatan untuk memulai hidup baru untuk memperbaiki kesalahan yang saya buat. Saya minta maaf buat pihak yang merasa dirugikan atas kesaksian saya tersebut.

Saya berharap ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Saya berjanji hal ini tidak akan terulang lagi. Saya menyadari dengan kata maaf tidak cukup karena ada harga yang harus saya bayar dengan kesalahan yang sudah saya lakukan. Sekarang saya menanggung konsukensi dari apa yang telah saya buat. Namun saya bersyukur karena Tuhan masih memberikan kasih karunia kepada saya untuk memperbaiki semua ini. Saat ini saya ada dalam pengawasan dan mentoring oleh seorang hamba Tuhan. Saya berharap saya bisa bangkit kembali dan memulai kembali dari nol pelayanan yang telah saya tinggalkan untuk kurun waktu tertentu.

with love,

Dewa Klasik Alexander

******

Kami pun telah menarik kesaksian tersebut dari website dan notes Facebook FOS Community. Mungkin banyak yang merasa kecewa dengan hal ini tapi buat kami ini adalah sebuah pelajaran supaya kita bisa melihat jauh ke dalam lubuk hati kita masing-masing. Apakah kita benar-benar mengenal Tuhan Yesus secara pribadi atau kita hanya menggantungkan iman kita kepada kesaksian orang lain. Saat kita memiliki fokus hanya kepada Yesus, iman kita tidak akan mudah berguncang, berapa banyak pun pemimpin rohani yang jatuh kita akan tetap berdiri teguh karena kita mengenal Yesus dan selalu menjadikan Dia satu-satunya sumber pengharapan.

Dan untuk sahabat kami, Dewa Klasik. Bukan kali pertama seseorang mengecewakan sesamanya dan Tuhan. Bahkan di Alkitab terdapat banyak tokoh-tokoh yang terjatuh dalam dosa dan kesalahannya tetap dituliskan. Namun kisah hidup mereka tidak berhenti ketika mereka jatuh, mereka tidak lari dari konsekuensi dan menyerah, mereka bangkit dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang jauh luar biasa sehingga orang-orang dapat berkata “Dulu ia adalah seorang pezinah/penakut/pembunuh tapi kini ia membuktikan bahwa ia bertobat dengan sungguh-sungguh dan mengerjakan hal-hal yang luar biasa bagi kemuliaan Tuhan.”

Karena itulah kami akan  mendukung Dewa untuk tetap kuat menanggung konsekuensi dari kesalahannya dan menaruh pengharapan sebagai sahabat bahwa ia akan bangkit serta menunjukkan kesungguhan dari pertobatannya dan suatu saat mengerjakan hal-hal yang lebih dahsyat bagi kemuliaan nama Tuhan.

Untuk semua pembaca setia artikel-artikel dari FOS Community, kami dari tim redaksi memohon maaf atas artikel tersebut dan ke depannya kami akan berusaha untuk lebih berhati-hati dan teliti dalam membuat sebuah artikel kesaksian.

Buat semua FOSters, semoga klarifikasi ini tidak akan membuat semangat natal kita memudar :)

Jesus Loves U all..

FOS Community

Pohon Terang.. Pohon Terang.. Sungguh Indah Rupamu..

Category : inFOStainment

Wah nggak terasa yah udah masuk ke bulan natal, pohon natal sudah dipasang, lagu-lagu natal sudah mulai didendangkan, beberapa hadiah natal untuk someone special juga sudah mulai dibeli, dan yang nggak kalah seru, rapat natal juga sudah mulai digelar untuk melakukan perayaan natal di gereja, persekutuan atau komunitas masing-masing. Wah serunya natal kali ini.

Ngobrol-ngobrol, siapa yang pernah denger Judul di atas tuh? Aku ingat sekali waktu kita kecil seringkali menyebut pohon cemara buatan yang dipajang di rumah pada saat natal adalah pohon terang, kenapa terang? karena ada lampu-lampu kerlap-kerlip yang dipasang melilit pohon itu sehingga saat dinyalakan lampunya terlihat sangat menarik. Kadang ada beberapa lampu yang disertai musik pengiring supaya lebih menarik.

Pernah suatu ketika, saat membantu mama memasang pohon terang itu, ternyata saat dicoba dinyalakan lampunya, tidak semua lampu menyala, bahkan lebih banyak yang mati daripada yang nyala, dan tidak ada kerlap-kerlip yang terlihat, sehingga tidak indah lagi. Dan alhasil, keesokan harinya, aku disuruh mama menjelajah ke berbagai toko buku rohani di manapun, untuk mencari lampu yang baru, supaya pohonnya kembali terang dan indah dipandang. Dan setelah diganti dengan yang baru, pohon itu kembali menjadi indah dipandang, menyejukan hati, memberikan arti dan membuat suasana rumah lebih indah pada waktu malam.

Sedemikian penting arti lampu natal di sebuah pohon, sampai-sampai kita rela menjelajah satu per satu toko buku, mencoba semua jenis lampu yang ada di sana, untuk membuat indah pohon yang hanya berwarna hijau atau putih itu. Terang itu menarik lho, makanya nama pohon natal itu adalah pohon terang, bukannya pohon gelap.

Kalo terang begitu penting bagi sebuah benda mati, sebuah pohon, yang seringkali kita lambangkan untuk natal, atau kita pasang di rumah kita saat natal, pastinya terang juga luar biasa penting bagi kita, bagi hidup kita, anak-anak Allah. Jangan lupa terang itu menarik lho. Terang itu membuat suasanan menjadi “lebih hidup’. Terang membuat orang tertarik.

Seberapa terangkah cahaya Kristus memancar dari kehidupan kita sehingga banyak orang yang tertarik untuk melihat dan mengenal pribadi yang pernah menjadi manusia, pernah menjadi bayi yang lahir di palungan itu, untuk menebus dosa kita semua?

Seberapa kerlap-kerlipkah diri kita, karakter kita, hidup kita, sehingga saat ada seseorang yang sedang berada dalam kegelapan, langsung melihat dan menuju ke arah, darimana cahaya itu berasal ? Trus gimana caranya menunjukan terang itu ??

I want tell you about this, terang itu tidak kita tunjukan secara sengaja, tetapi memancar keluar dari hal-hal yang kita lakukan sehari-hari, dari hal yang paling sederhana, contohnya tersenyum dengan orang yang mungkin tanpa sengaja memandang kita, kenal atau tidak kenal.

Menunjukan semangat kerja atau belajar kita di kantor/sekolah/kampus, atau juga berani berkata tidak untuk mencontek atau memberi contekan, atau membuat suasana di sekitar menjadi lebih ceria dengan kehadiran kita, atau mengucapkan selamat pagi, siang, atau sore terhadap tukang parkir di sekolah/kampus kita, satpam, Office Boy/Girl di kantor, kepada pengamen yang secara tidak sengaja kita temui, kepada rekan kerja, kepada bos yang nyebelin, kepada temen yang mukanya paling jutek sedunia, atau kepada siapapun.

Ingat guys, terang akan membuat seseorang tertarik, jadi nggak perlu yang namanya iklan, promosi, atau musim diskon untuk yang namanya terang. Dan bukan kita yang memancarkan terang itu, tetapi Yesus yang ada dalam kita, so it all about Jesus not us. Selama kawat-kawat tipis yang ada dalam sebuah lampu itu masih terhubung satu sama lain, maka saat dialiri listrik akan nyalalah lampu itu, sama juga dengan kita, saat kita tetap dan terus terhubung sama Tuhan, rajin saat teduh, memiliki hubungan yang dekat dan intim dengan Dia, maka saat Tuhan mengijinkan kita bertemu dengan orang-orang di sekitar kita, saat itulah terang itu akan terpancar.

Pohon terang… pohon terang sungguh indah rupamu

Gimana kalo kita gubah sedikit liriknya, kayaknya akan lebih bermakna untuk moment natal ini,

Hidup terang… Hidup terang… Sungguh indah kasihNya

Jangan cuma pohon aja yang terang di natal kali ini, tapi jadilah “pohon-pohon” siap untuk terang terus bagi sekeliling kita. Okeh..

>> “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16) <<

By : KSW