Featured Posts

Cerita Tentang Kasih Bapa >> What They Say About Bible << Alkitab itu apa? Mulanya saya membaca Alkitab seperti kewajiban saja, seperti rutinitas, dan saya melihatnya seperti sebuah buku pedoman hidup saja, yang...

Read more

Keluarga Oh.. Keluarga “ Sekali lagi kudengar suara piring pecah, AKU AKAN PERGI DARI SINI !!!!!” Jeritku dalam hati. “Tetapi jeritan itu tak dapat kulakukan, aku tak dapat melarikan diri dari neraka ini. Aku nggak...

Read more

Waduuh... Bocor!!! Rencana untuk sampai rumah secepatnya ternyata harus digagalkan karena ban motor yang kempes, dan ternyata ini bukan sekedar kempes tapi bocor. Terpaksa harus menuntun motor kesayangan menuju tambal...

Read more

Lagi Patah Hati? Siapa yang pernah merasakan rasanya patah hati? Hmm.. biasanya anak-anak muda pernah nih merasakan yang namanya 'patah hati' entah itu karena ditolak gebetan, karena tiba-tiba diputusin pacar, atau mungkin...

Read more

Tekhnik Membelah Roti Pelajaran hari ini adalah bagaimana cara membelah roti coklat dengan benar menjadi 2 bagian yang adil. Alat yang dibutuhkan tentu saja pisau yang tajam. Bagaimana kita tahu kalau pisaunya cukup tajam?...

Read more

twitter

Follow on Tweets

  •  

Cabe atau Garam?

Category : Simply Articles

“Jadilah garam dunia”

Itu adalah salah satu pesan Yesus kepada kita semua yang sering kita dengar, sering dikhotbahkan, atau mungkin sering menjadi inspirasi berbagai tulisan. Tujuannya adalah supaya kita menjadi teladan dan memberikan “rasa” dimanapun kita ditempatkan.

Istilah “bagai sayur tanpa garam” membuat fungsi garam terlihat sangat penting. Walaupun harganya terbilang cukup terjangkau atau bahkan ada beberapa yang murah, tetap saja dianggap penting untuk menciptakan atau memperkuat rasa. Begitu pentingnya garam, sampai-sampai seorang ibu akan rela berlari ke toko terdekat untuk membeli garam pada saat dia sedang asyik memasak jikalau garamnya habis.

Rasanya sih memang asin, tapi kalau sudah dipadu dengan berbagai bumbu racikan dan isi yang ada di dalamnya, maka bisa menjadi makanan mewah ala hotel berbintang 5 atau makanan sederhana yang dibuat dengan cinta kasih oleh seorang ibu. Bahkan ada juga lho yang suka “gadoin” garam sebagai camilan di saat iseng,hehehehhhe…

Nah sekarang coba bayangkan seandainya seorang ibu berinisiatif untuk menggantikan kedudukan garam sebagai penyedap dan penguat rasa dengan ulekan cabe rawit plus cabe merah nan pedas. Sekadar untuk berinprovisasi, maka garam itu diganti dengan ulekan cabe yang sangat merah merona, dimasukan ke dalam panci sesuai selera (kebetulan selera ibu ini doyan pedas..). Sayur tanpa garam, dan ekstra ulekan cabe rawit plus cabe merah nan pedas, apa jadinya yah ? Aku yakin suami beserta anak-anaknya akan segera bergegas untuk pergi ke restoran terdekat tanpa bersuara, hehehhehe…

Dimana-mana kita semua udah tau pastinya bedanya rasa garam sama cabe rawit, sipp…betul sekali, kalau garam kan asin, tapi kalau cabe rawit pedesnya bukan main. Malahan bisa bikin kita meringis sambil nangis dan sama sekali nggak bikin manis muka kita..hehhehehe… Makanya nggak heran, saat berhadapan dengan makanan ekstra pedas, seringkali kita mengelus-elus perut sambil bilang “Dalam Nama Tuhan Yesus..”

Mungkin inilah alasan kenapa Tuhan Yesus tidak menyuruh kita menjadi “cabe dunia” tetapi menjadi “garam dunia”. Bukannya untuk “memedaskan” dunia tapi untuk “menggarami” dunia.

“Kok bukannya menjadi garam malah menjadi cabe rawit yang bikin sakit perut yah ?”

Pertanyaan ini terlontar saat aku sedang YM-an dengan salah satu penulis (yang mungkin anda kenal) yang suka “berjualan bakmi di pinggiran jalan” (hehehhe..). Beliau menceritakan mengenai kisah, atau bisa dibilang kesaksian, mengenai seorang yang mendapat siksaan sejak kecil oleh orang-orang yang mengakui dirinya “Kristen”, sampai-sampai dia tidak mau menjadi seorang Kristen dan trauma dengan kekristenan.

Jadi teringat juga dengan cerita Mahatma Gandhi, orang paling berpengaruh di India dan dikalangan penganut hindu di sana, yang kecewa dengan perlakuan orang-orang yang mengaku “Kristen” tetapi sama sekali nggak mencerminkan sikap seperti kristus. Pada akhirnya Mahatma Gandhi kagum kepada Kristus, tetapi kecewa kepada orang-orang Kristen.

Friends, apakah hidup kita lebih pantas disebut sebagai garam atau cabe rawit. Apakah dengan keberadaan kita justru “menyedapkan” lingkungan sekitar kita, atau malah membuat lingkungan kita jadi meringis karena “kepedesan” ?

Berbicara mengenai dampak, itu juga berbicara mengenai karakter kita. Karena karakter itu akan timbul menjadi sikap yang natural saat kita berada di lingkungan kita. Lalu bagaimana dengan karakter kita, apakah itu bisa diteladani ?

Aku seringkali berpikir dan merenung setelah menjalani sebuah hari, pertanyaannya sederhana, “Bagaimana kehadiranku hari ini, apakah menjadi berkat atau kutuk, apakah menjadi teladan atau menjadi sindiran? “

Apakah dengan kemarahanku, orang lain merasa terberkati, atau justru dengan bercandaanku orang lain merasa tersindir dan marah. Selalu ingat, bahwa kita akan selalu disorot oleh dunia, karena kita bukan berasal dari dunia ini. Dan apa yang berasal tidak dari dunia ini akan selalu dilihat oleh dunia ini, entah itu untuk mencari kesalahan atau mencari keteladanan. Berhati-hatilah dalam bertindak, berkata, berpikir, bahkan saat bercanda.

………..Karena kita ini adalah “garam dunia” bukannya “cabe dunia”

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Matius 5:16

Be blessed everyday…

Ditulis oleh KSW_FOS Community

Ngik.. Ngik.. Ngik..

Category : Simply Articles

Uuuhhhhhh… Sepertinya tidurku kali ini akan terganggu lagi. Hariku akan berulang lagi, dan aku benci mengakui ini,

“AKU BENCI DIRIKU !!!”

Setiap kudengar suara beberapa orang bercakap-cakap, biasanya berakhir dengan tali pengekang di leherku yang ditarik paksa untuk membangunkan aku dari tidur nyenyak. Aku sangat tahu pasti kemana aku akan dibawa dan bagaimana aku diperlakukan.

Beban lagi yang harus kubawa, orang dengan kayu dan cambukan lagi yang aku lihat, jalanan becek dan berlubang lagi yang harus kulalui, suara anak-anak kecil yang mengejekku karena tubuhku kecil mungil dan tidak rupawan, dan sepertinya hari ini akan berakhir dengan pegalnya keempat kakiku, bekas rotan di badanku, peluh di wajahku, ejekan yang bersemayam selalu dari anak-anak kecil itu, dan muka tertunduk saat masuk ke rumahku.

“ Aku masih muda, masih tak berotot baja seperti yang lainnya. Kenapa harus aku lagi ? “

Begitu pikirku saat kedua orang tadi mendekatiku.

Dan benar dugaanku, lagi-lagi aku menjadi korban, lagi-lagi aku menjadi alat bagi mereka, lagi-lagi keringatku akan mengucur deras. Begitu mereka melepas tali tambatku, langsung aku keraskan diriku, sebisa mungkin menarik diriku menjauhi mereka, sebisa mungkin membuat mereka terjatuh karena tidak kuat menarikku, tapi apa daya, aku masih sangat muda, tenagaku tak sebanding dengan mereka. Yang ada, semakin aku melakukan itu, semakin sakit leherku dibuatnya. Ditambah rasa kantuk yang masih melanda, aku menurut saja terhadap mereka.

Mereka membawaku kepada seorang pria yang mereka panggil “Guru”, tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda, sekilas kulihat wajahnya yang penuh kasih dan kebijaksanaan itu. Tapi tetap saja Yesus memegang tongkat, hanya saja tanpa cambuk.

Kulihat ke kiri dan ke kanan, tidak ada barang yang harus aku bawa, tidak ada beban yang harus aku angkut, lalu untuk apa aku dibawa ke sini, ke hadapan sang “Guru” ini ??

Dia mengelus wajahku, memandangku dan tersenyum kepadaku seakan berkata “jangan kuatir”, dan dengan sedikit lompatan kecil, kini Dia sudah berada di punggungku. Dia menunggangiku, bukan beban ataupun barang, tapi orang. Baru kali ini aku merasakan sensasi ini. Aku merasa dipercaya, aku merasa dikasihi.

Sedikit berat, tetapi aku mau berjuang untuk berjalan, aku mau untuk tetap melangkah sedikit demi sedikit. Rasa sakit di kakiku menahan bobot tubuhnya tak membuatku berhenti, aku tetap melangkah, aku mau berjalan, karena aku dipercaya olehNya.

Rasanya, jalan ini asing bagiku. Tidak ada lubang di sana sini, tidak ada tanah becek yang akan mengotori kakiku, bahkan ada kain-kain berserakan di tanah, ada juga beberapa baju-baju layak pakai, mungkinkah ini akibat angin yang menerbangkan ribuan jemuran para ibu rumah tangga? Sepertinya tidak, karena ada banyak daun-daun juga di jalan ini, dan aku akan melaluinya, sungguh luar biasa.

Aku menajamkan telingaku, tidak ada kata “Bodoh”, “malas”, “pendek”,”kecil”, “kuntet” atau makian lainnya yang kudengar. Yang ada hanyalah kata yang belum pernah kudengar sebelumnya, berulang-ulang dan sangat keras. “Hosana… Hosana..” seperti itulah kata itu terdengar di telingaku, dan aku sadar, bahwa di kiri dan kananku yang tadinya kosong, kini dipenuhi tatapan mata yang melihat ke arahku diiringi tepuk tangan meriah dan kata ini diulang terus menerus. “ Hossana..hossana….hossana..”

Ada apa gerangan, sedang bermimpikah aku?? Aku merasa begitu berharga dan terharu hari ini. Aku dipercayai, aku dikasihi, aku dielu-elukan?? Oh bukan aku yang dielu-elukan, tapi yang ada di atasku, tapi akupun sudah cukup merasa berharga walau hanya seperti itu.

Hari ini, yang kukira akan berakhir dengan tragis, ternyata berakhir dengan luar biasa. Hari yang kukira akan melelahkan, ternyata menjadi menyenangkan, dan muka tertundukku, kini menjadi muka terangkat dengan air mata bahagia di kelopak mataku.

Siapakah Dia ???

Dia yang ada di atasku, Dia yang menunggangku, Dia yang menjadikanku berharga, Dia yang membuat keledai muda sepertiku dilihat banyak orang bahkan diceritakan dan dibaca oleh seluruh dunia. Dia yang dengan lembut mengelus badanku dengan tangannya, bukan dengan kayu dan rotan, Dia yang tersenyum kepadaku dan mempercayaiku, Dia yang namanya dielu-elukan, dan Dia yang tidak malu menaiki keledai muda yang bodoh dan malas ini.

Aku dengar ada yang memanggilnya Guru, ada yang menyebutnya Raja, ada yang memanggilnya Tuan, tetapi bagiku cukup memanggilnya Sahabat, karena baru kali ini aku merasa ada yang mau bersahabat denganku. Dan baru kali ini aku merasakan tangan manusia menyentuhku dan berbicara kepadaku, katanya “ Terima kasih sahabat..”

Dan andaikan kalian menjadi diriku, tidak ada tindakan lain yang bisa kita lakukan selain menatap matanya dan berkata dengan lembut “ ngik….ngik….ngik…” yang artinya “Terima kasih juga Sahabatku..”

Ps : Bukan karena keledai itu berharga makanya Yesus mau menaikinya, tetapi justru karena Yesus mau menaikinya, maka keledai itu menjadi berharga. Kita berharga dan bernilai karena Yesus telah bersedia mati di kayu salib untuk menggantikan kita, untuk menebus kita, dan untuk menjadikan kita sahabatNya. Tak ada kasih yang lebih besar dari kasih seorang sahabat yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Lihatlah dirimu, pandanglah dirimu, dan sadarilah bahwa engkau begitu berharga bagiNya.

Meski tak layak diriku

Tetapi kar’na darahMu dan kar’na Kau memanggilku

Kudatang, Yesus, padaMu

(Kidung Jemaat no. 27 bait 1)

Oleh KSW_FOS Community

Diremuk.. Disobek..

Category : Eventgelism, Simply Articles

Setelah kemarin kita publish liputan dari FOS Community Fellowship 14-16 Maret 2010, sekarang saatnya membagikan salah satu hal yang kita dapatkan di event kemarin di sesi paling awal. Di sesi pertama ini Ps. Ferry Felani berbicara mengenai PROSES. Proses apakah itu? Kita baca yuk tulisan dari salah satu FOSters yang telah menulis kembali khotbah PS. Ferry Felani di FCF kemarin^^

Kira-kira apa yah yang diremuk dan disobek? Apakah kerupuk? Oh tidak, apakah itu sebuah telur? Tidak juga… (gajebo mode : on), hehe.

Kali ini aku pengen banget bagiin sesuatu yang sangat memberkati aku dan bagi temen-temen yang lain juga.

Akhir-akhir ini kebanyakan kita suka yang manis-manis. Apalagi khotbah yang meninabobokan. Terus dan terus suka yang manis-manis. Bahas berkat, berkat dan berkat, kasih karunia, kasih karunia… hanya itu yang ingin kita dengar. Kadang kita nggak mau ditegur. Sehingga banyak di antara kita mengalami Diabetes Rohani. Punya luka yang nggak sembuh-sembuh. Walaupun lukanya sudah lama tetapi nggak sembuh-sembuh dan sukar untuk disembuhkan, Itulah cirri-ciri terkena penyakit Diabetes Rohani. Hanya mau yang manis-manis. Padahal yang pahit itu yang selalu menyembuhkan. Contohnya saja obat, walaupun pahit rasanya tetapi menyembuhkan. Contoh lain kalau kita ketemu lebah sering kita bilang “pahit, pahit, pahit” hehe. so, sebenarnya banyak yang pahit-pahit itu malah menyembuhkan.

Apa hubungannya dengan judul di atas? DIREMUKKAN… ketika kita mau dan siap untuk dipakai sama Tuhan, Tuhan mau meremukkan kita terlebih dahulu. Meremukkan apa yang ada dalam diri kita. Terutama Tuhan mau meremukkan keangkuhan kita. Satu saat ketika kita sudah menyerahkan dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat mungkin kita merasa kok masalah kayaknya seneng banget yah menghampiri kita? Ada sebuah kesaksian dari seorang hamba Tuhan, waktu dia baru mengalami lahir baru, keuangan keluarganya malah jadi sulit. mau membeli sesuatu saja, hamba Tuhan ini harus berdoa dulu. Padahal dulunya ketika dia masih berada pada masa manusia lama, dia mudah membeli sesuatu bahkan sering mentraktir temen-temennya. Saat masa-masa kesulitannya dia akhirnya mau menerima bantuan dari temen-temennya. Padahal dia sendiri paling nggak mau menerima bantuan dari orang lain. Tetapi dia terima karena dia tahu Tuhan lagi mau meremukkan dirinya. Remuk dari yang namanya keangkuhan.

DISOBEK… layaknya kertas kado. Sebenernya kertas kado itu diciptakan buat disobek. Buat apa lagi coba kalau nggak buat disobek? Kadang ada orang yang mau buka kertas kado itu pelan-pelan, dijaga jangan sampai sobek. Seperti itulah kadang kita dengan dosa. Sayang untuk menyobek dosa. Padahal harusnya dosa itu harus disobek seperti kertas kado.

Setelah kita mau diremuk dan disobek, kita harus menggunakan hidup sebaik-baiknya. Jangan sampai kita tidak mempergunakan waktu dan hidup dengan sebaik-baiknya. Andai saja salah satu dari kalian dikasih Blackberry dari seorang sahabat kalian, apa yang kalian lakukan? Apakah hanya dipajang di dinding, segelnya nggak dibuka sampai kapanpun dengan alasan mau menghargai dan menghormati yang memberikan blackberry itu? Atau kita hanya pakai buat telepon dan sms saja? Beh… rugi banget kali! Padahal fasilitas dari Blackberry nggak hanya bisa telepon dan sms doang, tapi bisa internet-an, radio, ada kamera, bisa BBM-an (BlackBerry Messengers) dan fasilitas lengkap lainnya. Sayang banget kan kalau kita hanya bisa menggunakan telepon dan sms saja dan nggak mau menggunakan fasilitas lainnya? Itu sama saja seperti kita yang nggak mau hidup maksimal alias hidup di bawah kapasitas rata-rata. Guys, jangan mau hidup kita di bawah kapasitas! Yuk, kita maksimalkan hidup kita untuk kemuliaanNya. Hidup harus ada tujuannya, agar kita tahu bagaimana kita memaksimalkan hidup kita.

Setelah kita selalu memaksimalkan hidup kita, jadilah jawaban bagi orang di sekelilingmu. Kadang kita sebagai orang Kristen kalau ada salah seorang temen atau sahabat kita yang curhat sama kita, kita malah makin membuat keadaan menjadi kacau bukan malah menenangkan dan memberi solusi. Kita malah membuat masalahnya tambah besar. Padahal seharusnya kita bisa menenangkan dan memberi solusi. Guys, dalam 2 Raja-Raja 6:1-7 di situ dibilang kalau nabi Elisa mengambil mata kapak seseorang yang menebang pohon yang tenggelam dengan menggunakan sebatang pohon dan timbullah mata kapak itu di permukaan air. Kenapa nabi Elisa memakai sebatang pohon untuk mencari mata kapak yang tenggelam? Kenapa nabi Elisa tidak nyebur berenang untuk mencari mata kapak itu? Jawabannya – Karena nggak semua hal dipercayakan Tuhan sama kita oleh sebab itu kita harus tetep fokus pada pelayanan kita yang udah Tuhan percayakan untuk kita kerjakan. Serta karena Tuhan mau kita dipakai lebih lagi Seperti itu juga Tuhan nggak hanya pakai pendeta atau hamba-hanba Tuhan lainnya. Dia juga mau pakai kita untuk terlibat dalam kegerakan-Nya walaupun kita nggak dikenal atau nggak di perhitungkan tetapi kita bisa membawa solusi bagi sekeliling kita seperti sebatang kayu yang digunakan oleh nabi Elisa. Apa arti sebenarnya sebatang kayu itu? Kayu berasal dari pohon yang hidup. Ketika kita mengambil sedikit dari batang pohon yang hidup itu lepas dari tubuhnya berarti itu yang disebut kayu. Kayu itu bukan batang pohon yang hidup lagi. Kayu hanyalah sebuah batang pohon yang sudah mati. Begitu juga diri kita, Tuhan mau semua kedagingan kita mati, diremukkan dan disobek. Agar kita bisa menjadi solusi atau jawaban seperti ketika nabi Elisa melemparkan batang kayu itu ke sungai untuk mencari mata kapak yang tenggelam. Memang benar hanya Tuhan yang selalu memberikan jalan keluar atas masalah kita, tapi kita tetap harus membawa solusi dan memberikan rasa aman ketika seseorang membagikan masalahnya kepada kita.

So Guys, kiranya kita mau diremukkan oleh Tuhan, mau menyobek-nyobek dosa kita, mau dibentuk dan diproses dalam memaksimalkan hidup dan jadi seperti batang kayu yang bisa menjadi solusi bagi setiap orang yang membutuhkan..

Khotbah Ps. Ferry Felani

Ditulis kembali oleh R.S

Pario dan Puigi, Si Tukang Ledeng

Category : Pojok Tukang Bakmi, Simply Articles

Pshhhh…psshhhhhh…psssshhhhhh

Kota Jamur sedang dalam keadaaan darurat, suara ini terdengar dimana-mana. Dari setiap rumah penduduk terdengar bunyi “ Pshhh” dan seruan gusar pemiliknya. Suara apakah ini? Suara itu keluar dari kran air di wastafel, di kamar mandi dan dimana-mana. Suara air mengalir yang biasanya kinidigantikan oleh bunyi angin yang mengalir di saluran ledeng. King Kappa, musuh kota itu, berhasil menghancurkan sistem saluran air bersih ke Kota Jamur. Dan akibatnya penduduk kota tidak bisa mendapatkan air untuk minum, mandi dan mencuci pakaian. Dalam sekejap kota itu menjadi kota yang sangat kotor, dimana-mana orang-orang berbibir kering dan memakai baju berbau keringat yang lama tidak dicuci. Harapan kota ini hanya terletak pada Pario dan Puigi bersaudara, tukang ledeng kota itu.

“ Pario, kita harus menyelamatkan penduduk kota ini. Lihat betapa kehausan dan kotornya baju mereka…belum lagi bau asem yang membuat besi-besi berkarat.”

“ Kau benar, Puigi. Kita harus pergi ke Sumber Air dan menyambungkan pipa ledeng ke kota kita”

Dan mereka berdua pun pergi ke gunung Hore- Hore, tempat Sumber Air berada.

Di kaki gunung, mereka menemukan sebuah tangki yang terlihat indah dan mengkilap.

“Pario, mungkin ini tangki air yang kita cari. Biar kucoba membuka salurannya”

“ WUUUUUSSSSSSSSHHHHHHHHH…..”, dari saluran keluar tangki itu bertiup angin yang kencang.

“ Puigi, ini bukan tangki air tapi tangki udara. Tangki ini mungkin akan menyejukkan penduduk Kota Jamur untuk sementara, tapi tangki ini tidak akan bisa membersihkan kekotoran kota”.

Di pertengahan gunung, mereka menemukan tangki yang tampak besar dan kokoh.

“ Pario, mungkin ini tangki air yang benar. Biar kucoba membuka salurannya”

“ BLOOOPPPPPPPP..”, dari saluran keluar tangki itu keluar adukan semen kental.

“ Puigi, ini adukan semen. Kalau penduduk kota mandi memakai ini, mereka tidak akan bersih. Justru mereka akan semakin betambah berat dan tidak akan bisa melangkah ketika semen ini kering”.

Di puncak gunung, mereka menemukan tsebuah tangki yang tidak terlihat indah, tidak juga terlihat besar dan kokoh. Tangki itu terlihat biasa saja, hanya saja sepertinya tangki itu tertanam dalam dan kokoh ke gunung itu. Ada sebuah papan petunjuk yang bertuliskan “ Sumber Air Yang Tak Akan Pernah Habis”.

“ Pario, sepertinya ini bukan sumber air yang kita cari. Kelihatannya ini cuma tangki biasa yang tidak ada istimewanya. Lagipula mana mungkin airnya tidak terbatas? Pasti suatu hari nanti habis. Mari kita pergi ke gunung berikutnya.”

“ Tidak,Puigi. Bukankah di sana tertulis “ Sumber Air Yang Tak Akan Pernah Habis “? Kita percaya saja pada tulisan itu dan mari kita buka salurannya.

“ CCCUUUURRRRRRR….”, air menyemprot dengan deras dari tangki itu.

“ Tapi, Pario…mana mungkin airnya tidak pernah habis? “

“ Kita percaya dan lihat saja, Puigi. Sekarang mari kita sambungkan sumber air ini ke kota kita. Kemarikan pipa ledengmu”.

Puigi mengambil sesuatu dari sakunya dan menyerahkannya pada Pario.

“ Puigi, ini sedotan…kenapa kau memberiku sedotan? Yang kuminta itu pipa ledeng yang besar dan kuat.

“ Maafkan aku Pario, tapi pipa itu berat dan sulit dibawa. Jadi aku mengambil pipa paling kecil yang mudah dibawa.”

“ Puigi, kita bertanggung jawab untuk membawa Air ini ke kota. Kalau pipa yang kita bawa kecil, sebesar apapun sumber air disini, tetap saja waktu sampai ke kota airnya tidak akan cukup. Baiklah, aku akan memakai pipa yang kubawa”

Pario dan Puigi bekerja keras membangun jaringan ledeng dari sumber air ke kota. Ketika mereka berhasil memasang ledeng dari puncak gunung ke kota, kesulitan lain muncul. Kran ledeng utama kota berkarat dan sulit digerakkan, walaupun saluran ledeng sudah terbentuk tapi air tetap belum bisa mengalir.

“ Puigi , kita harus memutar kran air ini supaya air mengalir. Ayo kita kerahkan tenaga untuk memutarnya”.

Dengan sekuat tenaga mereka memutar kran itu, tapi kran itu tetap tidak bergerak.

“ Pario, ayo semangat. Ingat penduduk kota kita, bukankah kita menyayangi mereka? Bukankah kita tidak ingin melihat mereka kehausan dan hidup dalam kekotoran”.

“ Kau benar Puigi, mereka kelurga dan teman-teman yang kita kasihi. Kita harus berusaha demi mereka.”

Dan dengan kata-kata itu, kran air yang berkarat bergerak dan air mengalir masuk ke dalam kota. Dan setiap orang yang kehausan minum, dan setiap orang yang kotor membersihkan dirinya.

Tangki udara yang indah adalah agama yang berisi kata-kata manis dan indah, menyegarkan untuk sementara tapi tetap tidak akan membersihkan dosa.

Tangki adukan semen adalah agama yang dipenuhi dengan hukum dan aturan yang memberatkan diri kita, tapi tidak satupun dari hukum itu yang membersihkan kita dari dosa.

Tangki “ Sumber Air Yang Tak Akan Pernah Habis” adalah Tuhan kita, Yesus. Dia mungkin tidak terlihat indah atau kuat, tapi kasihNYA tertanam dalam dan tidak akan pernah goyah.

Kita adalah saluran air berkat dan kuasa, kalau kita tidak melatih diri kita dan tidak memurnikan iman kita, sebesar apapun kapasitas sumber air itu, semuanya akan percuma kalau diri kita kapasitasnya kecil.

Dan yang terakhir, semua kuasa dan berkat memang hebat, tapi tanpa kasih semuanya tidak berguna. Karena kasih adalah kran yang membuka saluran kuasa dan berkat dan mengalirkannnya pada orang-orang yang membutuhkan.

PS : Nama tokoh sebenarnya disamarkan untuk menghindari pelanggaran hak cipta ^^

Ditulis oleh : Tukang Bakmi

Cara Dia Membangun

Category : Simply Articles

Bayangkan jika hidup kita ini adalah sebuah rumah dengan banyak kerusakan dimana-mana. Lalu kita mengundang Sang Ahli Bangunan – Yesus untuk memperbaiki rumah kita. Awalnya kita begitu bahagia dengan apa yang Dia lakukan, Dia mulai memperbaiki banyak bagian yang rusak di dalam rumah kita, Yesus mulai membersihkan rumah kita, mulai memperbaiki ledeng yang bocor, memperbaiki atap-atap yang bolong. Semuanya berjalan dengan sangat baik.

Hingga suatu ketika Ia melakukan hal yang mengejutkan, Ia mulai merobohkan beberapa bagian tembok rumah kita, Ia mulai melepaskan bagian-bagian lantainya, Ia terlihat melakukan penghancuran dimana-mana. Dan kesemuanya itu  begitu menyakitkan. Kita tidak mengerti apa yang sedang Ia lakukan. Kita berpikir bahwa Ia sedang menghancurkan kita, padahal, apa yang sedang Yesus lakukan adalah membangun rumah kita menjadi sebuah bangunan yang mewah, Yesus melakukan berbagai penghancuran karena Yesus ingin memperluas, ingin meninggikan dan membangun sebuah istana.

Saat kita mengundang Yesus ke dalam rumah kita, kita hanya berpikir bahwa Ia akan memperbaiki kerusakan rumah kita. Kita hanya berharap menjadi sebuah rumah sederhana yang diperbaiki. Tapi ternyata bukan itu tujuan utama-Nya, Ia tidak sekedar hanya ingin memperbaiki tapi ia ingin membangun kembali sebuah rumah sederhana menjadi sebuah istana yang megah dan tinggal di dalamnya.

***

Analogi dari George Macdonald di atas mengajarkan bahwa, seringkali kita mungkin bertanya-tanya kenapa Tuhan banyak mengijinkan hal yang menyakitkan terjadi dalam hidup kita. Padahal saat kita mengundang Yesus ke dalam hidup kita, kita hanya berharap Dia akan memulihkan seluruh luka hati kita, memulihkan keadaan hidup kita, tapi ternyata Dia punya rencana yang jauh lebih besar dari itu. Yesus ingin memperbesar kapasitas hati kita, ingin mengubah hidup kita yang sederhana menjadi hidup yang luar biasa. Ia ingin tinggal di dalam hati kita, karena itulah Ia ingin hidup kita merepresentasikan Siapa yang tinggal di dalamnya. Dan seringkali hanya melalui proses-proses yang menyakitkanlah Ia dapat membangun hidup kita menjadi luar biasa.

Mungkin kita enggak selalu mengerti bagaimana cara Tuhan membangun kembali kehidupan kita. Tapi saya terlalu yakin, kalo Yesus adalah Sang Ahli Bangunan terpercaya, Arsitek Jenius yang akan membangun segala sesuatu di dalam hidup kita menjadi jauh lebih menakjubkan dari apa yang dapat kita pikirkan ^^

Ditulis Oleh LNY_FOS Community

Ayahku Frankenstein

Category : Pojok Tukang Bakmi, Simply Articles

Malam gelap, halilintar bersahut-sahutan, suara tawa sinting dari seorang profesor. Bunyi rantai dan mesin-mesin yang bergemuruh diselingi kilatan-kilatan bunga api listrik. Dan di malam itu, sebuah papan besi dengan sebentuk mahluk di atasnya yang tertutup kain dinaikkan ke atas puncak bangunan. Dan ketika petir menyambar, jari-jari tangannya bergemeretak. Dan di malam itu lahirlah ayahku…

Bohong dong…saya emang ga kenal papa saya tapi pastinya sih masih manusia normal. Sebenernya, saya ga pernah kenal papa saya. Waktu saya lahir, mama saya meninggal dan saya diangkat anak oleh temennya. Dan berdasarkan cerita mama angkat saya ini, papa saya yang asli kabur waktu mama saya hamil dan mungkin sudah meninggal entah dimana. Mama angkat saya masih muda, tapi karena dia terlalu sibuk mengurus saya dan engkong saya plus ngusahain toko, akhirnya mama angkat saya ga pernah menikah. Karena itu saya ga punya sosok ayah dalam hidup saya.Engkong saya adalah satu-satunya sosok pria yang paling dominan, tapi dia tetap bukan sosok ayah.

Waktu saya bertobat di masa SMA, saya menemukan banyak pembimbing yang kemudian menjadi contoh buat saya bagaimana seharusnya seorang pria berperilaku. Pembimbing – pembimbing saya punya sifat yang berbeda – beda dan mengajarkan pengalaman hidup yang berbeda juga. Ada yang mengajarkan doa, ada yang mengajarkan kesetiaan, ada yang mendampingi waktu saya masih kecil secara rohani. Bahkan ada satu pelayan gereja senior yang berteduh dari hujan di kost saya mengajarkan bagaimana cara membaca Alkitab seperti mencari harta tersembunyi. Saya yakin dia sendiri pasti sudah lupa, tapi buat saya itu adalah sepotong dari sosok ayah yang terbentuk.

Seperti Frankenstein yang dibentuk dari potongan tubuh yang berbeda-beda, sosok ayah dan sosok pria sejati dalam hidup saya dibentuk dari potongan –potongan hidup banyak orang yang membimbing saya. Dan saya bersyukur karena hal itu, walaupun tidak sempurna tapi ayah Frankenstein ini mengajarkan banyak hal yang baik dan mengenalkan saya pada Tuhan. Tapi mereka tetap bukan sosok ayah yang saya rindukan. Dan perlu waktu cukup lama bagi saya untuk mengakui kalau saya memang membutuhkan seorang ayah.

Mama saya sering ribut dengan saudara – saudaranya dan sejak saya kecil mama saya sudah sering cerita ke saya masalahnya. Saya tahu mama saya ga bermaksud buruk, tapi hal itu membuat saya merasa ga aman dalam keluarga. Keluarga bagi saya bukanlah tempat aman, tempat berlindung dan bermanja, tapi rumah dengan banyak masalah yang harus saya tanggung di masa depan nanti. Dan entah sejak kapan saya berhenti mengandalkan keluarga dan menanggung semua masalah sendiri. Dan disinilah masalah bermula……

Yang ga saya sadari, walaupun dalam hati saya bilang ga butuh ayah, saya tetap mencari rasa aman yang seharusnya ditawarkan seorang ayah ke tempat lain. Saya mencari di gereja, tapi tentu saja saya kecewa. Pembimbing saya baik -  baik, tapi mereka juga punya masalahnya sendiri, punya keluarga sendiri dan sedekat apapun saya dengan mereka, saya tetap bukan anaknya dan mereka bukan ayah saya. Dan sikap saya sendiri ga banyak membantu. Ketika saya menemukan pembimbing yang saya hormati, saya cenderung bersikap keras dan mendebat mereka. Bukan karena saya benci, tapi karena saya ingin pamer kehebatan otak saya. Singkatnya, saya ingin dipuji tapi lewat cara yang menyebalkan ^^.

Ketika saya punya pacar ( akhirnya…diucapkan dengan penuh rasa syukur), saya mengulangi pola yang sama. Saya mencari sosok orangtua yang melindungi, memanjakan, mendorong dan seseorang yang berkata, “ Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja” di dalam diri pacar saya. Tapi, tentu saja pacar saya bukan orangtua saya dan dia ga bisa memenuhi harapan saya. Perlindungan yang saya cari bukan dalam bentuk perempuan berotot berdompet tebal tentu saja, tapi lebih ke arah seseorang yang lebih dewasa secara mental. Dan walaupun saya berusaha menghargai komitmen pacaran ga boleh putus, tapi akhirnya kita putus juga setelah 8 tahun berpacaran. Memang perkara ini bukan satu-satunya masalah yang bikin kita putus, tapi paling tidak sekitar 30% karena masalah ini.

Sampai saat ini saya lebih menyukai perempuan yang lebih tua umurnya, ga sampe beda 20 tahun lah, sekitar 2-3 tahun. Dan sebaliknya, sementara umumnya pria lebih suka “daun muda”, saya ga tertarik dengan perempuan yang lebih muda. Dan dalam hal pemimpin, ketika saya sadar kalau saya tidak bisa berharap dari orang-orang gereja, saya berbalik polaritas. Saya berhenti mengharapkan apapun dari gereja, tentu saja saya masih melakukan semua pelayanan yang menjadi tanggung jawab saya, tapi saya berhenti meminta bantuan apapun dari gereja. Dan saya mengulang pola yang sama, pada akhirnya gereja menjadi keluarga sumber masalah yang tetap harus saya tanggung. Bagi orang lain mungkin itu terlihat sebagai kemandirian, dan mungkin sebagian memang benar. Tapi sebagian lagi adalah keputusasaan pada gereja.

Saya belajar dalam pelayanan konseling, anak-anak yang kehilangan atau kekurangan kasih sayang semasa kecilnya akan terus mencari kasih sayang itu ketika mereka dewasa. Dan seperti saya, mungkin mereka memamerkan kepintaran atau kekayaan untuk mendapat kasih sayang. Dan walaupun pria yang menyukai perempuan lebih tua tidak umum, tapi cukup banyak perempuan yang tertarik pada pria yang jauh lebih tua. Kita mencarinya pada diri pacar kita, teman-teman atau kelompok kita yang pastinya akan selalu berakhir dalam kekecewaan karena, tentu saja, mereka bukan orangtua kita. Terkadang, orang-orang mencari kasih sayang ini sampai ke tahap yang ekstrim, misalnya dengan memakai seks untuk membeli kasih sayang, baik pria maupun wanita.

Saya percaya Tuhan itu ada, dan saya tahu Dia baik, tapi sampai sekarang saya masih melihat Tuhan sebagai majikan dan diri saya sebagai anjing pekerja yang terpisah dari kawanan anak domba di sekeliling Yesus. Lihat? Saya ,mengulang lagi pola yang sama…Tuhan bukan lagi menjadi tempat perlindungan tapi setumpuk tugas dan visi. Tentu saja saya melihat bagaimana Tuhan menjaga hidup saya selama bertahun-tahun. Tapi rasa tidak aman itu membuat saya meragukan kebaikan Tuhan. Dan pergumulan antara separo diri saya yang mengatakan Tuhan itu baik dan separo lagi yang mengatakan kalau Tuhan tidak bisa diandalkan terus berlanjut.

Saya sadar kalau jawaban dari masalah kasih sayang saya adalah Yesus, tapi harus diakui kalau sampai saat ini saya masih bergumul. Bagaimanapun, saya tahu suatu hari nanti, rasa tidak aman dan perlindungan yang saya impikan itu akan saya dapatkan dari Tuhan. Kenapa? Karena hanya Tuhan satu-satunya jalan yang tersisa, saya cukup mengerti untuk tidak berharap pada manusia untuk memenuhi kekurangan kasih ini. Dan seluruh masa depan saya, saya gantungkan pada harapan ini.

PS : Artikel ini adalah bagian pertama dari 3 artikel. Artikel pertama merupakan kesaksian pribadi, artikel kedua menceritakan Cinderela dan artikel ketiga membahas lebih dalam soal konseling.

Ditulis Oleh Tukang Bakmi

Makan Malam Biasa dengan Sajian yang Tidak Biasa!

Category : Simply Articles, inFOStainment

Malam itu bukanlah malam yang biasa. Makan malam yang sungguh sangat istimewa. Bukan karena di tempat istimewa, dengan harga istimewa atau dengan kekasih yang istimewa. Hanya sebuah tempat makan murah, ala kadarnya, dengan harga yang ringan di kantong, di pinggir jalan, dengan sebutan khas  “nasi pus-pus”.

Yang membuat istimewa bukanlah nasinya, bukan juga pus-pus (walaupun banyak kucing di situ.. hehehe…) bukan juga lauk pauknya, sambelnya atau minumannya. Tapi karena di malam itu, di tempat itu, Tuhan mengijinkan aku merasakan sesuatu dan melakukan sesuatu.

Makan malam yang biasa ini menjadi tidak biasa saat datang seorang pemuda dengan perawakan yang tidak biasa. Di tangannya memegang sebuah kantong bekas bungkus permen yang di dalamnya ternyata ada beberapa uang logam. Sesaat kemudian dia sudah duduk di hadapanku, siap memesan makanan dan minuman, dengan segenggam uang logam di tangannya, yang terlebih dahulu dihitungnya. Dengan sedikit malu ia memesan sebuah nasi dengan sambal di dalamnya, dengan lauk sebuah gorengan dan air putih dingin. Hanya itu? Yah, hanya itu, dan dia makan dengan sangat lahap.

Kulihat dia menghabiskan sisa nasi dan bakwan terakhir di piringnya. Dan kembali mengeluarkan “dompetnya” kembali menghitung logam demi logam, dan kembali memesan. Sebuah nasi dengan sebuah gorengan, menu yang sama dengan harga yang sama. Dan ia kembali makan.

Aku tahu ini malam yang tidak biasa, karena sebelum duduk makan, ia berkata kepadaku,

“ Bang, Makan..”

“Oh, abangnya di belakang..” Jawabku. Mungkin dia pikir aku yang berjualan.

Dan saat logam demi logam ia keluarkan, jantungku berdegup kencang, What should I do?

Aku mengacuhkan degupan jantungku,

“Ahh, hal biasa !!!” kataku dalam hati.

Tapi saat kulihat dia mengeluarkan logam dan menghitungnya untuk kedua kalinya, aku tidak tahan lagi. Bahkan sempat kudengar orang yang makan di sebelahku berkata “Kasihan”.

Saat kudengar kata “kasihan” kedua kalinya, aku semakin tidak tahan. Aku kumpulkan segenap tenaga dan kasih untuk berdiri, mengambilkan sepotong telur dadar, kutempatkan pada piring pemuda itu, kuambil sebuah nasi lagi dan sebuah bihun goreng untuknya.

“Makan aja, gw yang bayar. Santai aja bro.” sebuah senyum kulemparkan kepadanya.

Entah darimana kekuatan dan keberanian itu datang, tiba-tiba aku sudah berada di samping pemuda tadi, dan ngobrol dengan dirinya. Dan kutahu bahwa dia ngamen di angkutan umum untuk membantu ibunya di rumah. Dia tidak dapat merasakan bangku kuliah, bahkan bangku sekolah. Dan ternyata DIA BERUMUR SAMA DENGANKU !!!

Setelah selesai makan, kutawari lagi dia, ternyata dia sudah kenyang dan terpikir olehku untuk membawakan dia makanan untuk bisa dimakan dia dan ibunya di rumah. Setelah itu dia pamit dan mengucapkan terima kasih.

Dengan tersenyum ada sebuah kalimat melintas di dalam hatiku, “Kasih lebih dari sekedar kasihan.” Dan Tuhan mengajarkan langsung hari ini, sebuah malam yang luar biasa, makan malam yang istimewa.

“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” 1 Yohanes 3:18

Tapi sayangnya ada sebuah kalimat yang lupa aku ucapkan kepadanya, yang membuatku menyesal hingga saat ini.

Seandainya aku mengucapkan kata itu. Seandainya aku menatap dia penuh yakin dan berkata mengenai ini saat itu. Dan Seandainya aku berkata, “ Yesus mengasihimu.” Mungkin pemuda itu akan memiliki kesempatan untuk tau, bahwa Yesus mengasihi dirinya, sama seperti Yesus mengasihiku.

Aku harap dia bisa mendengar itu lain kali, baik melalui diriku maupun melalui orang lain.

“Yesus mengasihimu Dani !!!”

Ditulis oleh KSW

Siapa yang jahat? Ayo ngaku!

Category : Pojok Tukang Bakmi, Simply Articles

Pernahkah kita berkenalan dengan seseorang dan kita bilang ke teman kita sambil berbisik-bisik ,” Sepertinya dia bukan orang baik- baik”. Atau mungkin kita bilang sebaliknya ,” Sepertinya dia orang baik”. Apa yang menjadi dasar buat kita menilai seseorang baik atau jahat? Bagi sebagian orang, mungkin itu intuisi, perasaan tidak enak yang muncul sewaktu berkenalan dengan seseorang. Mungkin juga bentuk muka dan penampilan orang itu misalnya, alis miring ke atas, bertato jangkar di tangan kanan, bertato naga di punggung, berkacamata hitam dan membawa pedang kayu? Atau mungkin garis keturunannya? Apa sebenarnya yang membedakan orang jahat dan orang baik? Kenapa kita menyebut seseorang baik seperti malaikat dan jahat seperti iblis?

Lombroso berpendapat bentuk muka seseoranglah yang menunjukkan seseorang jahat atau baik. Tepatnya namanya Cesare Lombroso, seorang mantan dokter bedah tentara di kota Pesare di Itali bagian utara. Lombroso berpendapat bahwa seorang kriminal bisa langsung dikenali dari bentuk mukanya. Kriminal cenderung mempunyai rahang yang lebar,tulang pipi yang tinggi, tangan yang panjang ( bukan, bukan perumpaman tapi memang ukuran tangannya panjang) dan kuping yang besar. Teorinya cukup terkenal di abad 19 walaupun pada akhirnya ditinggalkan karena, tentu saja, tidak ada data ilmiah yang menjadi dasarnya.

Lombroso bukan orang pertama yang mengemukakan teori ini. Di abad sebelumnya, abad 18, seorang dokter dari Vienna bernama Franz Joseph Gall percaya bahwa sifat seseorang ditunjukkan oleh bentuk tengkorak kepalanya.
Mungkin garis keturunan kalau begitu? Kalau ayahnya kriminal ya anaknya kriminal juga? Kalau iya, berarti mungkin saya kriminal juga dan memang saya pernah dituduh seperti itu. Pertama kali saya berkunjung ke rumah pacar saya, saya ngobrol-ngobrol dengan neneknya. Saya sendiri lupa bagaimana awalnya, yang pasti neneknya kemudian bilang kalau anak angkat itu biasanya bukan orang baik – baik. Waktu itu saya cuma tersenyum dan tidak ngomong apa – apa. Kenapa? Karena saya sendiri anak angkat. Mama saya meninggal waktu melahirkan saya dan papa saya kabur waktu mama saya mengandung. Dan walaupun saya rasa saya bukan orang suci, tapi kecuali melanggar lampu merah, rasanya saya ga pernah bikin perbuatan kriminal

Saya menemukan fakta yang menarik dari 2 buku mengenai soal orang baik dan jahat ini. Yang pertama buku “ Evil” karangan Roy F. Baumeister dan buku “ People Of The Lie” karangan M. Scott Peck. Menurut Baumeister, orang-orang yang melakukan perbuatan jahat tidak pernah merasa dirinya jahat. Mereka punya banyak cara untuk menjelaskan perbuatan mereka.

Yang pertama adalah mengecilkan perbuatan mereka. “ Ah, saya cuma mukul beberapa kali kok, dianya aja yang cengeng. Dipukul dikit aja langsung pingsan”. Bahkan pembunuh berantai yang diwawancara pun meremehkan perbuatan mereka seolah-olah itu tidak seberapa.

Yang kedua adalah, saya tidak punya pilihan dan saya terpaksa melakukannya. Itulah yang dikatakan prajurit – prajurit Jerman yang membunuh orang – orang Yahudi di masa Perang Dunia 2. Mereka mengakui bahwa mereka menembak para penduduk Yahudi tapi kemudian melemparkan kesalahan itu dan berkata, “ Kami diperintahkan untuk itu. Kami terpaksa melakukannya”.

Alasan yang ketiga, kejahatan itu dilakukan untuk kebaikan korbannya. Ketika terjadi kerusuhan etnis di Rwanda, orang-orang dewasa membunuh anak-anak kecil dengan alasan mereka lebih baik mati karena anak yatim piatu tidak akan bisa bertahan di masa perang. Pemilik budak di Amerika mengatakan kalau mereka melakukan kebaikan untuk para budak karena mereka membawa Injil bagi para budak itu.

Sebenarnya masih banyak alasan lain, tapi intinya tetap sama. Sangat jarang ada penjahat yang mengakui kesalahannya dengan terus terang. Kebanyakan dari mereka menghindari untuk mengakui kesalahan mereka dengan berbagai cara dan karenanya menolak untuk bertanggung jawab atas perbuatan jahat yang mereka lakukan. Untuk alasan yang tidak diketahui, manusia mempunyai kecenderungan untuk menolak mengakui diri mereka sebagai orang jahat sekalipun mereka jelas – jelas melakukan kesalahan. Bahkan sampai batas yang bisa membuat orang tidak bisa berkata-kata. Seorang pemerkosa yang diwawancara mengatakan kalau korbannya beruntung diperkosa olehnya karena nama mereka jadi masuk ke koran dan terkenal. Dan ini bukan sekedar menolak mengaku salah karena takut dihukum, tapi alasan-alasan itu dipakai untuk membenarkan diri dan menghilangkan rasa bersalah.

M. Scott Peck bahkan menemukan kasus yang lebih menarik. Sepasang orangtua datang kepadanya untuk meminta pertolongan bagi anak mereka yang bermasalah di sekolah. Setelah diwawancara, ternyata anak ini tidak menyukai sekolahnya dan dia ingin masuk ke jurusan yang lain. Tapi orangtuanya menolak untuk mendengarkan dia dan tetap memaksanya masuk ke sekolah itu. Ketika sepasang orangtua ini mendengar laporan itu, mereka tersenyum dengan sopan dan berkata kalau sekolah itu sekolah yang terbaik. Yang menarik disini bukan saja mereka tidak mengaku salah tapi mereka bahkan tidak mengakui kalau mereka bisa membuat kesalahan. Mereka merasa kalau mereka sudah melakukan yang terbaik untuk anak mereka dan kalau ada masalah pastilah masalahnya bukan di mereka tapi di anak itu sendiri atau di teman dan guru anak itu. Sama sekali tidak terlintas di pikiran mereka kalau mereka juga bisa salah mengambil keputusan.

Buat saya kedua buku ini menarik karena walaupun pengarangnya dua orang yang berbeda dan meneliti orang-orang yang berbeda tapi ternyata hasilnya sama. Orang-orang yang melakukan kejahatan tidak mau mengakui kejahatan mereka. Dan mereka mencari berbagai macam pembenaran untuk perbuatan mereka, dan sedihnya seringkali agama yang menjadi alasan. Paling tidak itulah yang dilakukan tentara perang Salib. Prajurit Kristen yang tertangkap musuh seringkali dibebaskan setelah bersumpah untuk tidak berperang lagi. Tapi ketika mereka kembali ke kelompok mereka, mereka menyadari kalau kelompok mereka kalah dan mereka harus berperang lagi. Tapi mereka juga sudah bersumpah, jadi bagaimana? Jalan keluarnya? Keluarlah peraturan bahwa melanggar sumpah yang diberikan pada orang bukan Kristen bukanlah dosa.

Lalu bagaimana dengan orang suci? Saya pernah membaca satu paradoks mengenai orang suci, “ Orang suci adalah orang yang paling menyadari dosa-dosanya”. Dan setelah saya membaca mengenai orang jahat, saya pikir paradoks ini memang benar. Daud tentu saja bisa diam-diam saja soal perkaranya dengan Batsyeba, bahkan sekalipun nabi Natan menulis hal itu, Daud bisa saja menghapuskannya. Tapi nyatanya cerita Daud tetap bisa kita baca sekarang ini yang berarti Daud mengakui kesalahannya dan tidak berusaha menyembunyikannya. Begitu juga dengan Petrus, hanya Petrus dan Tuhan saja yang tahu soal ayam jago kan? Tapi nyatanya kitab Injil menulis cerita pengkhianatan Petrus. Dan Agustinus, bapa gereja di abad pertama, di masa tuanya menulis bukunya yang paling terkenal, “ Confession” yang menceritakan dosa-dosanya di masa lalu.

Dan saya pikir itulah yang membedakan orang baik dan orang jahat. Orang baik bukanlah orang yang sedikit berbuat salah dan orang jahat banyak berbuat salah. Kita semua sudah berdosa, tidak ada seorangpun yang tidak berdosa. Bedanya hanya sebagian menolak mengakui kesalahan mereka dan hidup dengan pembenaran diri sendiri, sebagian lagi mengakui kesalahan mereka dan mencari pengampunan.

Tentu saja mengakui bahwa kita bersalah saja tidak cukup. Rasa bersalah tanpa pengampunan hanya akan menjadikan seseorang putus asa, sama seperti Yudas. Yudas bunuh diri bukan karena Tuhan tidak mengampuni, tapi karena Yudas tidak mencari pengampunan seperti Petrus memohon ampun. Kita semua berbuat salah, tapi hanya yang mengakui dan meminta ampun akan dikuduskan.

Terakhir, ini sebenarnya pertanyaan pribadi dan ga perlu dipikirin jungkir balik. Saya selalu bertanya-tanya kenapa sesudah Adam dan hawa makan buah, Tuhan tidak langsung menghukum mereka? Tentunya waktu mereka memetik buah itu pun Tuhan langsung tahu kan? Tapi Tuhan tidak langsung muncul, Adam dan Hawa bahkan masih sempat membuat cawat dari pohon ara. Bahkan waktu Tuhan datang pun Tuhan tidak terburu – buru, Tuhan “ berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk’. Bahkan sepertinya Tuhan berpura-pura tidak tahu dan tidak langsung menuduh Adam dan hawa.

Saya bertanya-tanya, seandainya waktu itu Adam langsung mengaku salah dan memohon ampun daripada melemparkan kesalahan pada Hawa “ Perempuan yang kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.’. Seandainya waktu itu Adam meminta ampun, akankah Tuhan mengampuni? Akankah kita dibuang dari firdaus?

Satu hal yang pasti, kita tidak banyak berubah dari jaman Adam. Kita tetap mempunyai kecenderungan untuk menolak mengakui kesalahan dan melemparkan tanggung jawab. Kita berusaha mencapai Tuhan dengan menunjukkan diri kita sebagai orang baik. Padahal yang diinginkan Tuhan sama seperti yang diinginkan Yusuf. Ketika saudara-saudaranya mengakui dosa mereka, Yusuf langsung memeluk dan mengampuni mereka dan memebawa mereka hidup di dalam kerajaannya, jauh dari penderitaan dan kelaparan.

Orang jahat mencari pembenaran, tapi orang suci mencari pengampunan.

Ditulis oleh Tukang Bakmi

Tensoplast di Jari Tuhan

Category : Simply Articles

Aku melihat banyak pintu – pintu di depanku

Pintu – pintu yang menarik dan bersinar

Pintu – pintu yang menjanjikan banyak hal indah di baliknya.

Dan aku melihat banyak orang berdiri di sampingku

Dan aku melihat mereka berjalan menuju tiap – tiap pintu

Dan mereka masuk melewati pintu itu menuju masa depan di baliknya

Aku berdiri termenung di depan pintu – pintu itu

Dimanakah pintu yang harus kulewati?

Dan apakah ada pintu yang terbuka untukku?

Lihatlah, ada pintu yang setengah terbuka

Tapi…pintu itu terlalu bagus..sangat bagus

Pintu itu terlalu bagus bagi orang sepertiku

Mungkin pintu itu terbuka untuk orang lain

Mataku mencari pintu lain…yang lebih sederhana

Mungkin pintu yang terletak di pojok…

Mungkin pintu yang ukurannya paling kecil…

Mungkin pintu kayu polos tanpa hiasan…

Aku berjalan dari ujung ke ujung mencari pintu milikku

Tapi, setiap aku melewati pintu itu, aku selalu bertanya – tanya

Apa yang ada di baliknya?

Bolehkah pintu itu menjadi milikku?

“ Cukup!!!”

“ Pintu yang setengah terbuka itu menggangguku!!”

“ Pintu itu membuatku memimpikan banyak hal yang bukan milikku!!”

“ Lebih baik kututup pintu itu dan berhenti memimpikannya!!”

Kubanting pintu itu sampai menutup…BRAKKKKK……..aduh……

Hmmm…apakah aku mendengar suara orang mengaduh???

Hmmm….mungkin hanya perasaanku???

Dan aku duduk di depan pintu – pintu itu, menunggu pintu milikku terbuka

Dan lihatlah, Yesus datang menghampiriku

Dia memegang tanganku dan menarikku berdiri

Aku terheran –heran ketika melihat tanganNYA

Mengapa ? Karena kulihat ada tensoplast di jari tangannya

Tensoplast bermotif garis – garis kulit zebra

“Tuhan, mengapa jariMU terluka? Siapa yang melukaiMU ?”

“ Oh, jariKU tadi terjepit pintu..”

“ Terjepit pintu? Kenapa itu bisa terjadi Tuhan?”

“ Sebenarnya AKU sedang menunggu seseorang di balik salah satu pintu ini. AKU membukakan sedikit pintu itu untuknya supaya dia tahu AKU menunggu di baliknya. Tapi, dia tidak juga membuka pintu itu. “

“Tadinya akan KUbuka pintu itu lebih lebar tapi waktu AKU memegang pintu itu, tiba – tiba pintu itu terbanting menutup dengan keras. Dan karena itulah AKU memakai tensoplast ini.”

“ Dan karena orang itu tidak datang menemuiKU, AKU datang menjemputnya untuk bersama-sama melewati pintu itu ke masa depan yang KUjanjikan”

PS : Mungkin kita merasa masa depan kita suram dan Tuhan tidak akan memberikan masa depan yang berkemenangan. Mungkin kita merasa visi yang Tuhan berikan terlalu bagus untuk kita. Jangan tutup pintu itu karena merasa kita tidak layak untuk melewatinya atau karena kita merasa pintu itu bukan untuk kita. Karena Tuhanlah yang membuka dan menutup pintu, bukan kita..

Ditulis oleh Tukang Bakmi

Karena Allah adalah Kasih dan Kita adalah AnakNya

Category : Simply Articles

Suatu saat aku diajak mampir sama papa untuk beli makanan burung. Di tempat itu, banyak sekali burung-burung yang dikurung dalam sangkar. Dan beberapa dari burung itu aktif berloncatan, ke kiri, ke kanan, ke atas, dan ke bawah, sembari mengepak-ngepakan sayap mereka.

Tiba-tiba terpikirkan suatu hal, seandainya burung itu dikurung dalam sangkar begitu lama, bahkan mungkin semasa hidupnya, kira-kira saat dilepaskan dari sangkar ke alam liar, apakah mereka dapat terbang dengan baik dan leluasa ?? Apakah sayap-sayap mereka masih bisa berfungsi dengan baik yah ??

Hayooo dijawab atuh, kira-kira bisa nggak yah ??

Jawabannya adalah BISA, karena aku melihat dengan mataku sendiri, burung yang telah lama dikurung dalam sangkar, saat dilepaskan, dia terbang, walaupun butuh beberapa menit untuk melatih sayapnya.

Burung itu bisa terbang, karena memang pada hakikatnya burung itu makhluk yang diciptakan untuk terbang (tentu saja selain burung penguin dan burung unta yah..hehehe). Burung memang diciptakan Tuhan untuk menghiasi langit dengan keindahan bulu dan sayapnya. Entah seberapa lama burung itu dikurung dalam sangkar, yang bahkan kecil sekalipun, yang mengkungkung kebebasannya untuk dapat terbang, pada saatnya dia dilepaskan atau melepaskan diri dari sangkar itu, dia pasti akan terbang juga. Itulah gunanya sayap pada burung.

Fosters, pernah terpikirkan nggak di benak kamu, apakah pembunuh sadis yang melakukan mutilasi pada setiap korbannya bisa menangis saat ada seseorang yang mengasihi dia, atau bahkan bisakah seorang mafia bayaran bengis dan terkenal kejam menunjukan kasihnya kepada nenek renta untuk menyebrang jalan ?

Aku percaya bahwa kasih adalah hakikat kita, sama seperti burung yang memilik sayap untuk bisa terbang, Tuhan memberikan kita hati untuk bisa mengasihi. Allah adalah kasih, dan karena kita segambar dan serupa dengan Dia, maka harusnya kita juga mewarisi kasih itu. Kasih itu bersifat kekal dan itulah hakikat kita.

Kadang permasalahan hidup yang berat, berada dalam keluarga yang sama sekali tidak menunjukan kehangatan kasih keluarga, berada di lingkungan kerja yang saling sikut dan bos yang galak, jauh dari orang tua, jauh dari rumah, jauh dari sahabat-sahabat yang mengasihi dan kita kasihi, dan belum menemukan pasangan hidup yang dari Tuhan, membuat kita tidak bisa “mengepak-ngepakkan” sayap kasih kita. Semua itu mengekang kita, membuat hati kita beku, membuat kasih seakan-akan jauh dari hidup kita, dan nggak jarang membuat kita frustasi bahkan beberapa orang rela mengakhiri hidupnya hanya karena tidak ada yang mengasihinya atau karena cintanya ditolak sang pujaan hati. Belenggu-belenggu dan “sangkar” itu acapkali membuat kita lupa bagaimana mengasihi dan mengerti apa kasih itu. Kasih menjadi dingin, hati menjadi mati rasa dan hidup menjadi sangat tidak nyaman. Tidak ada yang betah di dalam “sangkar”, bahkan burungpun ingin bebas dari sangkar.

Tapi jangan lupa, kalo kasih itu bersifat kekal di hidup kita, karena kasih adalah hakikat kita, Love is a life. Have a love to get a life, and have a life to give a love. Selama masih ada hati, kita masih sangat mungkin untuk mengasihi. Akan ada saatnya pintu “sangkar” itu dibuka, dan kita bisa dengan bebas “mengepak-ngepakan” hati kita untuk kembali merasakan kasih itu. Bahkan saat kita di dalam “sangkar” itupun toh kita masih bisa melatih “mengepak-ngepakkan” sayap kasih kita.

Seberat apapun masalah mengurung hati kita, sebesar apapun “teralis-teralis” kehidupan berusaha mematikan kasih kita, jangan sampai kasih kita menjadi dingin. Bukalah hatimu selebar-lebarnya di dalam sempitnya “sangkar” yang ditempatkan untuk kita. Karena dibalik masalah yang menghimpit dan cukup sempit itu ada kasih yang senantiasa ada untuk kita, Kasih yang besar dan tak terhingga.

Kita ada karena kasihNya. Dan kita ada untuk mengasihi Dia dan sesama kita, tidak peduli “sangkar” apa yang coba mengurung kita. Karena kasih adalah hakikat, dan kasih itu melampaui segala sesuatu.

Selama burung masih memiliki sayap, dia masih dapat terbang walaupun terkurung sedemikian lama. Selama kita masih memiliki hati dan memiliki Yesus yang akan mengasihi kita selama-lamanya, selama itulah kasih itu akan dan harus terpancar dalam hidup kita.

Karena Allah adalah kasih, dan kita adalah anakNya.

“Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. “ (1 Yohanes 4:7-8)

Ditulis oleh KSW_FOS Community