Featured Posts

Lagi Patah Hati? Siapa yang pernah merasakan rasanya patah hati? Hmm.. biasanya anak-anak muda pernah nih merasakan yang namanya 'patah hati' entah itu karena ditolak gebetan, karena tiba-tiba diputusin pacar, atau mungkin...

Read more

Tekhnik Membelah Roti Pelajaran hari ini adalah bagaimana cara membelah roti coklat dengan benar menjadi 2 bagian yang adil. Alat yang dibutuhkan tentu saja pisau yang tajam. Bagaimana kita tahu kalau pisaunya cukup tajam?...

Read more

Jadilah Tenang Hari ini, pas lagi membaca sebuah buku, ada sebuah cerita yang menarik bagiku, agak sedih sih, tapi kita bisa belajar sesuatu dari kisah ini. ... Seorang janda miskin bernama Siu lan memiliki seorang...

Read more

Yang Meringankan Segalanya Kejadian 29:20 "Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel." Wah, karena cintanya...

Read more

Mengampuni Orang Yang Menyakiti Kita? Enggak Adil! Mengampuni masalahnya bukanlah pada siapa yang menyakiti, tapi pada sakit hati itu sendiri. Yang menyakiti kita bisa siapa saja, bisa orang asing, bisa pendeta, bisa keluarga atau bahkan orangtua kita...

Read more

twitter

Follow on Tweets

  •  

Gadis Korek Api

Category : renungan, story

little match girlDesember sudah datang dan suasana natal sudah mulai terasa di mana – mana. Di suatu kota, orang – orang berlalu lalang dengan membawa banyak belanjaan. Toko – toko penuh dengan cahaya lampu dan hiasan natal. Di pojokan jalan, tampak seorang gadis kecil sedang menawarkan barang dagangannya ke orang-orang yang lewat, walaupun sepertinya tidak banyak yang peduli pada tawarannya. Apa yang dijualnya? Ternyata yang dijualnya adalah korek api. Tidak banyak orang yang mempedulikan apalagi membeli barang dagangannya.

Seorang bapak-bapak tua dengan pakaian yang bagus menghampirinya dan berkata,

“ Hai gadis kecil, untuk apa kau menjual korek api? Itu barang yang tidak berguna. Kau lihat lampu neon yang kubeli ini? Ini barang teknologi tinggi yang jauh lebih berguna daripada korek api yang kau jual. Dan aku punya cukup uang untuk membeli teknologi ini, dan teknologi yang kubeli ini membuat rumahku terang dan aman. Tinggalkan saja korek api tu dan ikutlah ke rumahku dan kita bisa mengagumi hasil karya manusia yang membuat rumahku terang dan aman ini”.

Tapi gadis kecil itu tersenyum dan menolak dengan sopan.

Seorang pemuda yang berpakaian perlente dan sibuk berbicara di telepon genggamnya datang menghampirinya.

“ Hai gadis kecil, kenapa kau berdiri kedinginan di malam seperti ini menjual produk yang tidak menguntungkan?  Produk yang kau jual itu tidak menarik bagi masyarakat sekarang, di masa lalu mungkin itu laris tapi tidak di masa kini. Kalau tujuanmu ingin mendapat keuntungan, kenapa kau tidak mengikutiku saja? Aku akan memberikan produk yang lebih baik, yang lebih sesuai untuk selera masyarakat sekarang untuk kau jual. Dan aku yakin kau akan mendapat keuntungan yang banyak. Bagaimana? “

Tapi gadis kecil itu juga menolak dan tersenyum.

Seorang remaja yang berpakaian modis datang menghampirinya dengan muka heran.

“ Jaman sekarang masih ada yang jualan korek api? Kau ini benar-benar ketinggalan jaman. Sekarang bukan jamannya lagi anak muda berjualan korek api, ini jaman modern. Sama sekali ga keren jualan korek api itu. Kenapa kau tidak ikut denganku? Aku akan mengajarimu bagaimana seharusnya seorang anak muda hidup di jaman modern ini. Aku jamin pasti akan lebih menarik daripada berjualan korek api.”

Tapi, lagi-lagi gadis kecil itu tersenyum dan menolak.

Dan ketiga orang itu pu semuanya pergi dan gadisk kecil itu tetap berjualan.

Dan pada malam itu, terjadilah pemadaman listrik PLN ( yang sepertinya semakin sering mendekati akhir jaman ini ^^ ).

Dan lampu yang semula terang mendadak padam. Rumah yang terang dan aman mendadak menjadi gelap dan dingin.

Di usianya yang semakin tua ternyata tetap tidak membuat mata bapak tua itu menjadi lebih tajam, bahkan sebaliknya. Kegelapan membuatnya tidak dapat berjalan kemana-mana.

Teman bisnis yang berbicara dengannya di telepon juga tidak dapat membantunya menunjukkan arah.

Dan teman-teman sepermainannya sama-sama kebingungan dalam gelap, dan seperti orang buta menuntun orang buta, mereka semakin jauh tersesat.

Dan saat itu, tampak satu nyala api kecil di kejauhan. Ketiga orang yang tersesat ini melihat dan menghampiri terang itu yang ternyata gadis kecil tadi yang menyalakan korek api yang dipegangnya.

“ Kenapa kau masih berjualan di sini?”, tanya mereka.

“ Kami pikir kau sudah menyerah dan pulang, kenapa kau masih bertahan menjual korek api di tengah kegelapan seperti ini?”

“ Karena Terang paling dibutuhkan di dalam gelap”, jawab gadis kecil itu.

match__“ Aku tahu tidak banyak orang yang mencari Terang ketika kedaan tampak cerah dan aman. Karena itu, yang kulakukan adalah mempromosikan daganganku, supaya ketika gelap datang, orang-orang tahu kemana mereka harus mencari Terang. Dan sebagai penjual Terang, aku harus siap ketika orang-orang datang da meminta Terang yang kupunya.”

“ Tapi, orang-orang tidak mempedulikan dan mengejekmu. Apa kau tidak merasa sedih?”

“ Tidak apa. Aku tahu resiko pekerjaanku sebagai penjual Terang, seperti rumah sakit yang dijauhi kala sehat dan didatangi ketika sakit, aku tahu kalau orang hanya mencariku ketika gelap datang.”

“ Dan sekarang gelap telah datang, dan kami melihat nyala Api yang kau nyalakan”

“Jadi, sekarang bawalah Korek Api ini dan bawalah Terang ke rumah dan keluargamu, ke tempat kerja dan rekan bisnismu, kepada teman-temanmu supaya tidak ada lagi orang yang tersesat dalam gelap dan terhilang ke dalam gang sempit kotor dimana pencuri siap untuk merampas segala miliknya”

PS: Cerita gadis korek api ini sebenarnya berasal dari cerita anak-anak karangan Hans Christian Andersen yang kemudian saya modifikasi. Kalau mau baca cerita aslinya, ini link di wikipedia http://en.wikipedia.org/wiki/The_Little_Match_Girl.

Selamat Natal dan Tahun Baru buat semua.

Tukang Bakmi

Lengkung Sempurna

Category : story

Rena kecil bersandar pada kursi kesayangannya. Matanya yang bulat bercahaya memandang rintik-rintik hujan yang turun dengan rapi dari langit. Rambutnya bak tirai hitam kemilau tertimpa sinar lampu, beberapa helai rambut terurai pada pipinya yang lembut dan merah jambu. Bibir tipisnya melantunkan lagu yang dikarangnya sendiri. Dua ibu jari tangan yang dimilikinya, hanya dua dari sepuluh yang seharusnya, bergerak-gerak seirama seturut alunan lagu yang dinyanyikannya.

Matanya terbelalak kagum saat seberkas warna pelan-pelan muncul di langit. Melengkung sempurna dengan kemilau jingga, hijau, merah jambu dan biru. Rena kecil menempelkan wajahnya pada kaca jendela, ingin melihat lebih jelas rupanya. Rena kecil berusaha turun dari kursi kesayangannya, tapi ia tidak punya jemari kaki, juga telapak kaki. Beruntung sang Ibu datang tepat waktu dan membawa Rena kecil menuju beranda untuk melihat lengkung sempurna di langit.

window rainbow

“Ibu, siapa yang menggambar langit dengan crayon?” Rena kecil bertanya pada Ibunya.

“Oh, Seorang yang sangat luar biasa”. Ibunya menjawab sambil membelai rambutnya bak tirai hitam kemilau yang tertimpa sinar lampu.

“Benarkah?”

“Tentu sayang”.

“Mengapa Dia menggambar di langit? Rena punya buku gambar yang bagus”.

“Mengapa? Agar semua orang dapat melihat keindahannya, Rena sayang”.

“Rena senang melihatnya”.

“Ya, Ibu juga”.

“Oh, Rena ingat sekarang. Pasti yang menggambar itu adalah Tuhan yang seringkali Ibu ceritakan. Benar kan Bu?”

“Benar, Rena anak pintar”.

“Rena tidak bisa menggambar seindah itu, tapi Tuhan bisa. Pasti ada yang membuat-Nya senang. Rena bisa gambar bagus kalau Rena sedang senang”.

Ibunya tersenyum dan menjawab, “Ya sayang, ada hal besar yang terjadi di Sorga dan membuat-Nya senang. Tahukah Rena apa yang membuat-Nya senang?”

Rena kecil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“Karena ada seorang anak cantik yang sedang melihat ke langit dan senang melihat gambar-Nya”.

“Benarkah Ibu?”

“Tentu sayang, dan apakah Rena tahu yang lebih indah dari warna-warna di atas sana?”

Rena kecil kembali menggeleng kuat-kuat.

“Oh, adakah yang lebih indah lagi Ibu?”

“Tentu Rena sayang, yang jauh lebih indah dari warna-warna itu, adalah Rena sendiri”.

Rena kecil terbelalak heran.

“Benarkah Ibu? Rena lebih indah?”

Ibu mengangguk, tersenyum dan berkata, “Tuhan menggambar warna-warna itu untuk Rena, untuk anak tercantik yang sangat disayangi-Nya”.

Rena kecil kembali memandang warna-warna di langit, senyumnya mengembang, lebih indah, jauh lebih indah dari warna-warna di langit sana.

Rena kecil kini sudah besar. Tumpukan diagram dan kertas-kertas penuh garis mengisi hari-harinya. Rena tidur larut, Rena bangun pukul tiga pagi, Rena tenggelam dalam diagram dan kertas-kertas penuh garis. Rena besar bersandar pada kursi kesayangannya, menarik napas sepanjang yang ia mampu. Hujan yang rapi turun dari langit, membawa warna-warna yang membentuk lengkungan dari ujung ke ujung langit yang lain. Rena besar meletakkan penanya dan memandang ke langit. Beberapa kali ia melihat warna-warna di angkasa, tapi semua lengkungan warna tak lagi terasa istimewa pada masa-masanya belakangan. Ia rindu, sangat rindu, memandang warna-warna itu dari mata seorang gadis kecil, memberi waktu yang tulus untuk warna-warna di langit. Ia ingin, sangat ingin, melihat warna-warna menakjubkan dari hati gadis kecil, tak ada kesombongan, hanya kekaguman.

Mutiara menitik dari mata Rena yang bulat bercahaya. Rena rindu hari-harinya yang teduh, Rena rindu Ibu. Seperti bunga mawar dengan tetesan embun, Rena tersenyum dan berkata, “Ibu, suatu hari nanti kita akan menikmati kembali warna-warna di langit, bukan hanya kita berdua Bu, tapi kita bertiga. Rena, Ibu, dan Tuhan”.

Rena besar terlelap dalam sejuknya hari setelah rintik-rintik hujan yang rapi.  Lengkung sempurna di langit turun ke bumi, dan menetap dalam senyum Rena.

E.N.S

Cerita Tentang “Stand Up for Jesus”

Category : story

stand up for jesus

stand up for jesus

Ini adalah kisah yang terjadi di USC. Disana ada seorang profesor filosofi yang mengaku ateis.

Tujuan utamanya selama kelas semester adalah berusaha membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada.

Para mahasiswanya selalu takut untuk berargumentasi dengan dia karena logikanya yang sangat masuk akal. Telah 20 tahun berselang ia mengajar kelasnya dan tidak seorang pun berani menentangnya.

Beberapa mahasiswa memang pernah mencoba, tapi tidak seorangpun berhasil karena reputasinya. Di akhir setiap semester, pada hari terakhir, dia selalu berkata dihadapan 300 orang mahasiswanya, “Bila ada yang masih percaya pada Yesus, silahkan berdiri!” Selama dua puluh tahun, tidak seorang pun yang berani berdiri.

Mahasiswanya sudah tahu apa yang akan dilakukan profesor tersebut selanjutnya. Ia akan berkata, “Siapapun yang percaya pada Tuhan adalah seorang yang tolol. Bila Tuhan memang ada, Ia mampu memberhentikan kapur ini jatuh mengenai lantai dan tidak pecah. Contoh sederhana untuk membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan, dan memang Ia tidak dapat melakukannya.”

Dan setiap tahun, profesor tersebut menjatuhkan kapur ke lantai dan kapur itu pecah menjadi ratusan potongan. Semua mahasiswanya tidak dapat berbuat apa-apa selain diam dan menyaksikannya. Kebanyakan mahasiswanya terlalu takut untuk berdiri.

Beberapa tahun kemudian seorang mahasiswa muda mendaftarkan diri Pada kelas profesor tsb. Ia adalah seorang Kristen dan sudah mendengar cerita tentang bakal profesornya. Ia wajib mengikuti kelas profesor tersebut dan dia merasa gentar menghadapinya. Untuk 3 bulan semesternya, ia berdoa setiap pagi supaya ia dimampukan untuk berdiri, apapun yang akan dikatakan profesor dan yang dipikirkan oleh rekan-rekannya. Tidak ada yang dapat melemahkan imannya, ia hanya berharap. Contunue Reading