Road far up

Tuhan…
Beberapa hari ini aku benciiii banget sama hidup aku!!!
Di sekolah temen- temen tuh nyebelin semua… sikapnya pada egois… Silsa juga nyebelin, sahabat dari aku SMP, tapi cuma karena masalah kecil, bisa-bisanya dia gak negor aku selama seminggu!
Di rumah juga sama nyebelinnya! Barusan aku berantem sama adikku si Rivan, tu anak nyebelin banget sih, setiap hari pasti aja ada kerjaan dia buat ngerusak hidup aku… mama yang udah tau kalo Rivan yang salah, malah marahin aku yang katanya gak bersikap dewasa… aku sebel banget sama mama, udah tiap hari jarang di rumah, sekalinya di rumah pasti ngomelin aku…
Coba papa masih ada pasti mama gak akan sering marah- marah kaya gitu… aku kangen papa…Selain papa udah gak ada lagi yang sayang sama aku di dunia ini…
Aku pengen pergi kaya papa…
Pergi jauh dan gak akan pernah kembali…
Aku benci hidup ini…
Maafin aku ya Tuhan.. Keputusanku sudah bulat..

 Arin menutup buku hariannya – yang selalu ia tulis dalam bentuk surat untuk Tuhan – dengan tangisan yang tak henti. Rasa rindunya kepada papanya yang meninggal 2 tahun lalu membuatnya berpikir untuk mengakhiri hidupnya juga. “Udah gak ada yang peduli sama hidup aku, aku juga udah cape ngejalanin hidup yang kaya gini.” Pikiran Arin melayang, matanya pun tertuju pada sebuah cutter di meja belajarnya. Ia ingin segera meninggalkan dunia yang menurutnya tidak bersahabat dengannya. “Kalo aku mati sekarang, pasti semua orang yang gak peduli sama aku bakal menyesal karena telah memperlakukan aku dengan tidak baik… tapi…..” Sejenak ia berpikir ulang mengenai keputusannya untuk bunuh diri, “Hmmm, besok aja deh aku bunuh dirinya aku mau hidup satu hari lagi aja buat bikin kesan yang tak terlupakan buat orang- orang di sekitar aku. Supaya mereka tambah ngerasa bersalah karena kepergian aku… Ya, besok aku mau pergi jauh dan gak akan pernah kembali…” Dan malam itu Arin pun menetapkan bahwa besok pada pukul 11 malam ia baru akan melaksanakan rencananya. Lalu iapun tertidur menunggu hari terakhirnya tiba sebelum ia benar- benar akan pergi jauh, masih 24 jam lagi waktu tersisa.

Pagi Hari, Pukul 06:15

“Pagi Mah.. pagi Van…!” Arin begitu ceria menyambut hari yang rencananya merupakan hari terakhirnya di dunia. “Tumben kamu Rin, kok kayanya kamu ceria banget hari ini?” Tanya mamanya dengan nada heran, karena sudah lama putrinya ini tidak pernah seceria itu. “kesambet kali mah…” Arin hanya tersenyum mendengar komentar Rivan adiknya, dalam pikirannya, “Van lo bakal jadi orang yang paling ngerasa bersalah hari ini karena kepergian gue liat aja entar…”

Pukul 07:00, di Sekolah

Dan pagi itu, keceriaan Arin masih terus berlangsung hingga ia tiba di sekolah. “Pagi Monty… ” dengan senyuman hangat di pagi hari, Arin menyapa teman sekelasnya yang baru saja tiba. “Pa… pagi Rin.” Monty menjawab sapaan Arin dengan rasa kaget campur heran, Karena walau dari kelas satu sampai kelas dua ini Monty selalu sekelas dengan Arin, tidak pernah sekalipun Arin menyapanya. Dan keanehan itu tidak saja dirasakan oleh Monty seorang, hampir seluruh siswa kelas 2-2 SMA Bakti Bangsa Mulia, merasa bahwa hari ini kepribadian Arin berubah, menjadi pribadi yang lebih menyenangkan. Tidak seperti Arin yang biasanya, yang selalu mengeluh, mudah marah, dan jutek. Hari ini Arin begitu ramah, selalu tersenyum, baik, pokoknya benar- benar berbeda!.

Pada saat jam istirahat…

Arin yang sedang menuju kantin berpapasan dengan Silsa, Arin pun tersenyum ke arah Silsa… Arin berpikir tidak ada salahnya tersenyum untuk yang terakhir kalinya kepada seseorang yang pernah menjadi sahabat terbaiknya.

Dan sesaat setelah Arin tiba di kantin, “Rin, maafin gue yah…” tiba- tiba Silsa menghampiri Arin yang sedang duduk di kantin sambil mengulurkan tangannya tanda permohonan maaf, “Eh… i… iya… gue juga minta maaf Sil, gue juga salah…” Arin reflek menjawab sambil menerima uluran tangan Silsa. “Rin, sorry ya gue gak negor lo, abisnya gue pikir lo masih marah sama gue…” “Loh gue pikir lo yang masih marah sama gue selama ini, makanya gue juga diem aja.” Dan tanpa terasa percakapan mereka terus berlanjut menjadi percakapan yang biasa mereka lakukan sebelum mereka terlibat perang dingin kemarin, hingga bel tanda istirahat berakhir pun berbunyi. “Rin gue ke kelas dulu yah! Eh iya, besok lo ke rumah gue ya! Nyokap gue ultah Rin.” Silsa menyudahi percakapan mereka, sambil bergegas menuju kelasnya, “i… iya Sil..” Arin menjawab dengan ragu, karena dalam pikirannya hari esok itu tidak akan ada…

Pukul 14:00 di rumah – 9 jam lagi menuju perjalanan jauh Arin.

Dugh…! sebuah lemparan kaos mengenai kepala Arin, kaos berwarna ungu itu masih terbungkus rapih di plastik, “Apa- apaan sich lo Van!” Teriak Arin kepada Rivan adiknya yang paling menyebalkan itu, “kaos buat lo tuh! Tadi ada produk minuman promosi di sekolah gue, terus gue menang lombanya, eh dapatnya malah kaos warna ungu, buat lo aja deh, lo khan suka warna ungu.” Sesaat Arin terdiam, ia tidak pernah menyangka kalau ternyata adiknya itu tahu warna kesukaannya, adiknya yang sikapnya paling menyebalkan sedunia ternyata punya perhatian juga untuknya “Thanks.” Jawab Arin singkat.

Pukul 19:00 – 4 jam lagi menuju perjalanan jauh Arin.

“Mah,arin sayang mama…” tiba- tiba Arin mengucapkan kata- kata spontan tersebut saat menyambut mamanya yang baru pulang kerja, pikirnya ini mungkin kata- kata terakhir yang ingin ia ucapkan untuk mamanya. Sejenak mamanya terdiam, lalu memeluk Arin, “Iya, mama juga sayang Arin, maafin mama ya kalau akhir- akhir ini mama sibuk di kantor, mama jadi jarang deh merhatiin kamu sama Rivan.” Arin berusaha menahan air matanya sambil berkata “Iya, gak apa- apa kok mah..” Dan setelah kejadian singkat itu Arin segera masuk ke kamarnya dan menutup pintu,

Pukul 22:00 – 1 jam lagi menuju perjalanan jauh Arin.

Arin kembali memperhatikan cutter yang tergeletak di meja belajarnya, Arin kembali mengingat betapa kemarin malam tekadnya sudah sangat bulat untuk pergi dari dunia ini, ia lalu membuka kembali buku hariannya dan mulai menulis…

Tuhan Yesus…

Hari ini seharusnya hari terakhir aku di dunia.
Kemarin, aku begitu membenci kehidupan aku. aku marah sama orang-orang di sekeliling aku, karena aku ngerasa kalo mereka semua egois.

Tapi hari ini,
Dengan cara-Mu Engkau menunjukkan, bahwa selama ini bukan mereka yang egois, tapi aku…
Aku yang selalu merasa nasib aku paling menderita sedunia…
Aku yang selalu berharap orang- orang mau mengerti perasaan aku…
Aku yang selalu bersikap gak dewasa…

Dan sikap akulah yang sebenernya salah, tapi aku terus- menerus menganggap  sikap orang lain yang harusnya berubah… Dan hari ini aku melihat dunia dari sudut pandang yang lain, saat aku berubah ternyata kehidupan aku sama sekali gak buruk, malah hidup aku tuh indah banget… Dan hari ini aku sadar, kalo aku gak mau pergi jauh.. aku mau tetap disini…
Ampuni aku ya Tuhan untuk niatku yang kemarin :)

Pukul 23:00 – perjalanan jauh Arin DIBATALKAN…

Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

1 Korintus 10:13

Ditulis Oleh LNY_FOS Community

Comments

comments