FOSters, aku punya satu pengalaman nih pas di Bandung. Waktu diajak papa ke Bandung, langsung aja kepikiran untuk beli gitar, karena menurut info yang ada gitar-gitar di sana lebih bagus, unik dan lebih murah juga. Setelah keliling kota Bandung, akhirnya dapat juga toko gitar yang menurutku lumayan bagus, dan memang rame juga. Mulai nyari deh tuh gitar yang pas di hati. Setelah melihat-lihat gitar-gitar yang dipajang, akhirnya jatuhlah pilihan sama gitar yang pas di hati. Dari bodinya sih sudah terlihat mempesona hatiku, dan senarnyapun  juga cukup menantang untuk dimainkan. Apalagi ternyata sudah ada tuner-nya terpasang di gitar itu. Pokoknya gitar impian aku deh.

Jreng..jreng.. jreng… yah sedikit memainkan lagu-lagu dan melodi-melodi ringan, dan ternyata makin deg-deg-an aja, sudah kebayang untuk membawa pulang itu gitar. Langsung aja diadakan tawar-menawar harga, dan dapatlah harga yang cocok untuk itu gitar, ditambah dengan sarungnya (case-nya). Pas mau dibayar, ternyata akangnya (berhubung di Bandung jadi dipanggil akang bukan mas..hehehhe) baru memberitahu kalo sarung gitarnya abis. Dan spontan papaku langsung bilang deh nggak jadi beli. Dan aku hanya bisa terdiam seribu bahasa, dengan mulut terbuka dan dengan sejuta pertanyaan dan penyesalan di hati. What, nggak jadi beli?

Cuma gara-gara sarung gitar yang harganya ngga seberapa, tuh gitar gagal dibawa pulang. Tapi setelah mendengar alasan dari papa sih yah bener juga, kan mau dibawa ke Jakarta, naik kereta api pula, kalo tanpa case, apa jadinya tuh gitar. Bisa berubah bentuk tuh gitar. Dan akhirnya dengan mengusap dada aku mengiklaskan tuh gitar. hiks..hiks…hiks…

Cuma gara-gara nggak ada sarungnya, nggak jadi beli deh. Hal yang terlihat sepele, yang harganya jauh lebih murah dari gitarnya, tetapi mampu dengan seketika merubah keputusan, mengubah keadaan, dan membuat hati agak sedikit gondok (ya iyalah…) karena nggak jadi beli  gitar itu.

Sadar nggak sadar, ternyata ada hal-hal seperti itu lho terjadi di dalam sebuah hubungan. Hal-hal yang kita anggap sepele, kita anggap nggak penting, dan bahkan sering kita anggap lumrah sering menggoyahkan hubungan yang sedang terjalin oleh kita, baik itu menjadi baik atau buruk.

Yah contoh simpelnya bahasa SMS deh, yang salah dikirim, atau salah diketik, yang harusnya huruf kecil, jadi huruf besar semua, yang harusnya tanda titik, jadi tanda seru dan kalimat-kalimat yang tidak tepat untuk disampaikan bisa membuat persahabatan kita menjadi renggang. Contoh lain, karena terlambat 5 menit, jadi ada pertengkaran hebat. Atau kalau lupa ngucapin met ultah sahabat/pacar kita sehari aja, waduh bisa-bisa terjadi pertumpahan air mata tuh… hehehhehe…. Trus gara-gara menggerutu karena disuruh orang tua tuk melakukan sesuatu, dan itu terdengar oleh mereka, akhirnya terjadi deh berantem sama mama/papa. Atau juga karena kita kurang memperhatikan saat sahabat, pacar, dan orangtua ketika sedang berbicara karena kita terlalu lelah atau sibuk melamunkan hal yang lain. Dan banyak hal-hal lain yang mungkin tanpa kita sadari sedang menggerogoti hubungan kita, bahkan bisa membuat hubungan kita menjadi renggang.

Yah, mungkin di satu sisi kok kayaknya terlalu menuntut banget yah sebuah hubungan itu, harus memperhatikan sedetail itu, peka sama hal yang se-simpel itu, tapi kalo ternyata kita yang “dibegitukan” toh juga kita juga tak mau diperlakukan seperti itu kan. tapi seandainya keadaan di atas dibalik 180 derajat, seandainya kita bener-bener peka dan memperhatikan hal-hal itu, wuihh, hubungan yang kita jalin akan semakin dekat. Coba aja deh.

Karena dalam sebuah hubungan ada hal penting yang kadang dilupakan, yaitu kepekaan. Peka terhadap hati kita, hati sahabat atau pacar atau orang tua kita, dan peka terhadap hubungan yang sedang kita bangun. Kepekaan akan menentukan sejauh mana kita mengenal orang-orang terdekat kita, kepekaan menentukan sejauh mana kita peduli kepada mereka. Kepekaan juga memperlihatkan sebesar apa rasa sayang kita kepada mereka. Dan sudah tentu kepekaan menunjukan sejauh mana kita dapat meninggalkan ego kita. Jangan sampai dalam sebuah hubungan hanya keluar kata aku…aku…dan aku.. Egocentric, berpusat pada diri sendiri, pokoknya harus dan harus. Waduh… repot tuh, bayangkan jika semua orang di dunia berpikir seperti itu, apa jadinya dunia ini.

Yuk kita belajar bareng untuk bisa menghargai setiap orang yang kita miliki di kehidupan ini, caranya dengan peka dan siap dengan hal-hal yang terlihat sangat sepele. Karena dari hal-hal sepele itulah ditentukan jadi atau tidaknya hubungan yang akan kita bangun, sama seperti sarung gitar, yang menentukan jadi atau tidaknya itu gitar dibeli dan dibawa pulang.

Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala perbuatan jahat. ( Yakobus 3:16)

Start from simple things… Be Blessed…

 

Ditulis oleh KSW_FOS Community

Comments

comments