Beberapa waktu yang lalu, forum yang saya ikuti membagi-bagikan handphone gratis kepada membernya. Respon saya? Kaget campur seneng! Aslinya sih saya tidak begitu aktif di dalam forum tersebut, setelah menerima handphone gratis langsung deh dengan semangat ’45 ikut aktif berpartisipasi dalam forum tersebut, yang tadinya cuma login sebulan sekali, sekarang jadi login setiap hari, yang tadinya nggak terlalu antusias ikut diskusi forum sekarang jadi sering mengikuti diskusi. Wah beda banget deh dari sebelum dan sesudah menerima gratisan.

Sebenarnya forumnya sendiri memberikan ponsel gratis tanpa syarat apapun, tanpa keharusan untuk saya menjadi lebih aktif di forum setelah menerimanya. Tapi yah, namanya dikasih benda berharga yang cukup mahal saya merasa harus mengungkapkan rasa terima kasih saya terhadap forum tersebut. Nah, satu-satunya cara yang saya bisa ya dengan lebih aktif dalam forum itu dan dengan sungguh-sungguh mendukung kemajuan forum tersebut.

Waktu lagi semangat-semangatnya berpartisipasi aktif dalam forum, saya jadi berpikir tentang satu hal… Kalo karena handphone gratis aja saya bisa seantusias ini, kok saya kadang suka lupa yah sama yang memberikan saya sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekedar smartphone gratis? Kok saya kadang nggak se-antusias ini sama Pemberi Sejati yang sudah mengaruniakan saya sesuatu yang seumur hidup tidak akan pernah bisa saya dapatkan sendiri.. Yep, sesuatu itu adalah keselamatan, keselamatan yang diberikan kepada saya secara cuma-cuma, Keselamatan yang membuat saya memiliki pengharapan di tengah kekacauan dunia, keselamatan yang bekerja di dalam pengampunan akan dosa-dosa saya, keselamatan yang terlalu mahal harganya dan tidak sepantasnya diberikan kepada saya…

Sebagai manusia sepertinya kita sering lupa tentang hal ini, tentang betapa besarnya pemberian Bapa bagi kita, seberapa besar Dia begitu mengasihi kita, dan kepada Siapa seharusnya fokus hidup kita berada. Karena seharusnya ketika kita tahu bahwa apa diberikan kepada kita itu sangat mahal dan berharga bukankah setidaknya kita harus berterimakasih kepada yang memberi? Apalagi ketika itu diberikan atas dasar kasih yang luar biasa.

Coba ingat-ingat apa yang sedang menjadi fokus hidup kita saat ini, Materi? Masalah yang tidak kunjung selesai? Pasangan hidup? Sakit-penyakit? Kesuksesan? Kekuatiran akan masa depan? Kekecewaan? Ketika fokus hidup kita bukan lagi Kristus, bukankah hanya lelah yang akan kita dapatkan? Kembalilah pada fokus hidup yang benar, utamakan Dia dalam tiap langkah hidupmu :)

Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas,

melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.

1 Petrus 1:19-20

 Ditulis Oleh LNY

Comments

comments