Ini tahun ke-sembilan belas saya hidup. Sesuai ingatan, sebandel-bandelnya, saya gak pernah dipukul ortu (sekali dipukul mama, itu juga lebay ah kalau nyebut “naro tangan di paha saya” sebagai pukulan) Sekarang, entah kenapa rasanya hal itu malah menyedihkan. Melihat kelakuan saya, rasa-rasanya saya emang perlu dipukul. Saya sadar, saya tumbuh sebagai anak yang kurang berdisiplin… dan manja.

Alkitab bilang, orang tua perlu untuk “menghajar” anak mereka. Bagi saya, masa kecil adalah masa yang sangat menyenangkan tanpa hajaran orang tua. Bukan berarti saya mendukung aksi diskriminasi dan kekerasan, saya hanya berpikir, “coba dulu mama atau bapa mukul waktu gue begini, mungkin gue ga bakal…”. Saya pikir, hukuman itu perlu untuk mendisiplinkan anak. Bukan yang selalu “fisik”, tapi tetap berjudul hukuman dalam batas “waras”. Tapi kalau sekarang ortu menghukum saya, mungkin saya akan marah besar. Dan kemanjaan itu akan tetap berlangsung, namun…

Tuhan mendidik saya lewat ekonomi yang berubah, drastis!
Sebagai anak terakhir dari lima bersaudara, saya selalu “melimpah ruah”. Itu dulu, sekarang semuanya tinggal kenangan *hiks*. Saya gak tahu apa gunanya emas mengelilingi jari, pergelangan tangan, dan leher saya. Lah, dulu kan saya masih polos *haha*. Dan emas-emas itu berubah menjadi kayu bakar buat masak. Ya, ya, ya, krisis ekonomi keluarga bermula waktu saya kelas 5 SD. Sejak kelas 6 SD rumah harus dijual dan saya tinggal di rumah kakek yang ukurannya jauh lebih mini dari rumah yang dulu *hoho* Dulu mah, pembantu aja punya kamar, waktu berlalu, abang saya sampe harus tidur di ruang tamu karena kamarnya cuma ada dua (buat enam orang kan kagak cukup) Bahkan abang tiri saya harus ke Jawa, salah satu sebabnya ya karena gak ada tempat untuk membaringkan raga.

Sekarang, ekonomi keluarga saya jauh lebih baik dari jaman sebelumnya. Rumah juga udah dibangun lewat tabungan abang dan kakak saya ^^ Sebagai seorang gadis muda belia, jujur saja banyak hal (baca: banyak barang) yang saya butuhkan (dan inginkan ^^) Namun, saya harus berlapang dada melepas sepatu dan baju yang sangat menggiurkan T_T. Well, Tuhan tak berhenti sampai sisi ekonomi, karena…

Tuhan mendidik saya lewat pelayanan, yang butuh kesabaran ekstra!
Pelayanan adalah medan yang sangat mendidik saya. Melayani dalam sekolah minggu mengajarkan saya banyak hal. Saya pernah nanya sama Ibu Gembala, “boleh gak kita nyubit anak sekolah minggu?” *huahahaha* Nyatanya, gak semua anak kecil itu lucu, imut, menggemaskan! Apalagi gereja tempat saya melayani gak ada ruangan terpisah untuk tiap kelas. Jadi guru-guru ngajarnya sambil teriak-teriak (kelas saya, Isakhar, cuma berjarak dua meter dari kelas Benyamin) Pernah waktu saya bersama tim ngajar kelas kecil yang terdiri dari anak batita sampai TK, anaknya kabur semua. SEMUA! Jadinya kami ngejar anak-anak yang tertawa senang karena mereka kira lagi main kejar-kejaran. Ampuuuuun…

Bukan cuma sekolah minggu, pelayanan sebagai singers dan worship leader juga sangat membentuk karakter saya, terutama pelayanan dadakan karena pelayan yang bertugas gak bisa datang. Hal ini juga berlaku bahkan sebagai pembuat jadwal! Jam sepuluh malam baru ngasih kabar bahwa worship leader untuk sekolah minggu esok hari gak bisa melayani. Lah, udah jam sepuluh malam saya mau cari penggantinya kemanee? Yang bikin tambah panas hati, saya tahu kabar ini dari orang lain, dan worship leader ini bahkan gak ngasih alasan! Sebagai pembuat jadwal, jadilah saya yang gantiin. Hadooooh… Belum, Tuhan belum berhenti karena juga…

Tuhan mendidik saya melalui persahabatan, yang tidak selalu menyenangkan!
Masa mekar sekaligus masa labil saya rasakan bahkan sampai sekarang Sujud syukur pada masa ini, saya memilki sahabat-sahabat yang menguatkan dalam Tuhan. Waktu pikiran saya mulai “menggila” karena ujian sekolah maupun ujian kehidupan *hehe* mereka memberikan saya kesegaran yang baru lewat keberadan, perkataan, maupun pertolongan mereka. Tapiiii… Bohong ajee kalau saya bilang sahabat selalu ada buat saya Nyatanya, kita semua manusia yang memiliki keterbatasan, punya kehidupan masing-masing. Inilah yang membuat saya bersyukur memiliki sahabat manusia (bukan ibu peri) karena dengan demikian, saya menempatkan Yesus sebagai sahabat sejati yang selalu ada buat saya :). Selain itu…

Tuhan mendidik saya melalui hati yang patah… Ini menyakitkan!
Kenapa yaa saya jatuh hati pada para pria yang salah? Hiks T_T Yang beda agama lah, yang berandalan lah, sediiiih… Kagum mah sering, bisa main alat musik, ganteng, pelayanan pula, bergetar hati ini *hehe* Terbenamnya matahari juga kagum itu bisa langsung menguap. Tapi sekalinya suka, aduuuh lama kian hilangnya. Berganti kalender, tetap rasa itu lekat pada hati saya *hahaha*.

Saya pernah berkomitmen gak mau pacaran untuk satu jangka waktu. Tapi kenapa oh kenapa, malah muncul seorang yang menggetarkan komitmen saya? Kenapaaaa?!! *lebay* Saat itulah saya belajar tentang pasangan hidup, dan puji Tuhan, persekutuan dalam Allah dan persahabatan, tetap menguatkan komitmen saya ^^

Berhubung belum ada pria yang menarik hati saya seperti pria di masa lalu, saya jaraaaaaaang banget cerita tentang pria ke teman kampus saya. Jadilah teman-teman kampus menggoda saya sebagai penyuka sesama jenis (saya malah bikin godaan itu bertambah panas dengan menyebut beberapa teman perempuan sebagai para selir). Tuhan, di jurusan kampusku kan cowonya dikiiit, isinya juga para aktivis yang gemar ngibarin bendera di depan DRR. Sampe kapan mau jombloo?! Ini aje udah digosipin yang macem-macem. Hiks… Dan lagi…

Tuhan mendidik saya, lewat bus kota!
Dari SD sampai SMP, saya jalan kaki ke sekolah, secara dekeeet. SMA, ke sekolah paling dua puluh menit naik angkot. Nah masuk kuliah, kampusnya nun jauh di mata! Ada dua jenis bus yang ongkosnya lebih murah, tapi nunggunya bisa tiga puluh menit sampai sejam, sungguh! Salah satu jenisnya, sekarang cuma ada tiga biji (ini pernyataan langsung dari sang supir) Naik bus yang lain, jaraknya bisa lebih jauh dan lebih mahal. Naik bus apapun, tetap aja kalau pagi dan sore penuuuuh banget!! Beberapa kali saya berdiri di tangga bus, tanpa ada orang lain di belakang saya (serasa jadi kenek). Bahkan kaki saya gak bisa berdiri lurus karena bisnya udah penuuuh!!

Copet lah, orang gila lah, abang-abang bau keti lah,  lengkap di bus kota. Hampir kecelakaan beruntun, hampir jungkir balik di bus karena supirnya ngerem mendadak, bikin saya ngelus dada. Turun dari bus, tak lupa mengucap, “thx God”.

Dulu saya memang manja, tapi Tuhan sudah memulihkan saya dan kemanjaaan itu menguap tanpa sisa seturut usia saya. Well, saya pengen banget nulis itu sebagai kalimat penutup dalam tulisan ini, tapi nyatanya saya belum juga lepas dari kemanjaan saya… Hiks :’(

Mama masih menemani saya ngerjain PR bahkan sampai subuh. Kalau gak ditungguin, saya gulung kertas dan milih tidur. Suatu kali setelah ibadah keluarga, sendal saya putus. Saya tetap milih pakai sendal putus dibanding bertelanjang kaki, akhirnya saya pakai sendal Mama, dan Mama bertelanjang kaki sambil nenteng sendal putus. Saya masih sangat sulit menerima kritikan yang (agak) tajam, walaupun masukan itu baik bagi pertumbuhan rohani saya. Saya lebih suka membentak, dan bakalan ngambek untuk jangka waktu yang tidak dapat ditentukan kalau saya dibentak. Saya masih sulit untuk berdisiplin. Dan karena itu, mungkin ada baiknya, dulu… Dulu, saya dipukul saja :’)

Bagaimana Bila…
Bila saya gak pernah mengenal Yesus? Ah, mungkin saya tetap menjadi seorang putri manja yang mengangankan mawar di setiap jejak langkah saya, mungkin saya akan menggenggam tangan setiap “pangeran” yang mendekati saya, mungkin saya gak kuliah.

Tapi lihat! Ia memilih saya, dan saya menyukai ini, bahwa Bapa gak pernah membiarkan kemanjaan itu membelenggu saya. Ia membentuk saya menjadi seorang perempuan yang harus berdisiplin. Dan saya bersyukur karena kayu bakar, sahabat yang menyebalkan, anak-anak kecil yang berlarian, pria berandalan, bahkan untuk bus kota. Saya gak tahu medan apalagi yang Tuhan persiapkan buat saya, namun seperti medan yang telah dan sedang saya alami, Tuhan selalu memberikan senyuman pada bibir saya.

Bapa memroses saya bukan hanya dengan ribuan tetes air mata, tapi juga tawa yang bikin saya berguling-guling. Ia mendidik saya, sekaligus memanjakan saya lewat cara-Nya. Dan saya sangat suka kenyataan bahwa… Bahwa saya anak kesayangan-Nya :)

Ditulis oleh ENS_FOS Community

Comments

comments