KEHADIRAN ROH KUDUS

MENGEMBALIKAN MANUSIA  PADA RENCANA ALLAH

(Yer 2:13-17, Yeh.36-37, Rm.8)

Pendahuluan

          Saat kondisi di dalam hidupnya berantakan, manusia seringkali berpikir bahwa Tuhan tidak mau turut campur tangan membenahi kondisi itu. Atau sebagian lainnya berpikir bahwa karena ia terlalu berdosa, maka Tuhan telah membuang dirinya dari rencana-Nya.

          Benarkah Tuhan ”membuang” manusia? Pada prinsipnya Tuhan tidak pernah menganggap manusia sebagai sampah sekalipun manusia telah jatuh ke dalam dosa. Dosa itu sendirilah yang Tuhan benci, bukan manusianya. Kasih sayang Tuhan tetap nyata atas hidup seluruh manusia dengan bukti bahwa Ia selalu menuntun manusia untuk kembali kepada kebenaran, kekudusan, dan kepenuhan rencana-Nya, bahkan menebus manusia dari dosa.

          Dosa itu sendirilah yang membuat manusia ”terbuang” dari rencana Allah. Dalam sebuah pertandingan, atlet yang tidak mengikuti peraturan-peraturan pertandingan akan dengan sendirinya ”terdiskualifikasi” dari pertandingan itu.

daily-image-031313

 Latar Belakang

         

   Sepanjang sejarah setidaknya bangsa Israel pernah ”terbuang” dari tanahnya sebanyak 2 kali.

  1. Bangsa Israel terbuang ke Babel pd tahun 586 SM
  2. Bangsa Israel terpencar ke seluruh penjuru dunia setelah Yerusalem dihancurkan oleh Romawi di bawah pimpinan Jenderal Titus pd tahun 70 Masehi

Eksposisi: Bagaimana dosa membuang kita keluar dari rencana Allah?

Apakah yang menyebabkan bangsa Israel terbuang dari tanahnya?

Imamat 18:24-28 mencatat Tuhan berfirman:

”Janganlah kamu menajiskan dirimu dengan semuanya itu, sebab dengan semuanya itu bangsa-bangsa yang akan Kuhalaukan dari depanmu telah menjadi najis. Negeri itu telah menjadi najis dan Aku telah membalaskan kesalahannya kepadanya, sehingga negeri itu memuntahkan penduduknya. Tetapi kamu ini haruslah tetap berpegang pada ketetapan-Ku dan peraturan-Ku dan jangan melakukan sesuatupun dari segala kekejian itu, baik orang Israel asli maupun orang asing yang tinggal di tengah-tengahmu, –karena segala kekejian itu telah dilakukan oleh penghuni negeri yang sebelum kamu, sehingga negeri itu sudah menjadi najis– supaya kamu jangan dimuntahkan oleh negeri itu, apabila kamu menajiskannya, seperti telah dimuntahkannya bangsa yang sebelum kamu.

Dosa membuat bangsa-bangsa yang ada di Kanaan dimuntahkan keluar dari tanah itu sebelum akhirnya Tuhan memberikan tanah itu kepada bangsa Israel sebagai tanah Perjanjian, yang sudah dijanjikan sebelumnya kepada Abraham.

”Tetapi keturunan yang keempat akan kembali ke sini, sebab sebelum itu kedurjanaan orang Amori itu belum genap.”(Kej.15:16)

          Orang Amori sebagai penduduk asli Kanaan adalah keturunan Ham, anak Nuh. Dari dosa yang terlihat sepele, ternyata membawa suatu kejahatan yang semakin besar pada keturunan-keturunan selanjutnya. Bangsa Amori melakukan segala kekejian di hadapan Tuhan seperti dosa-dosa seksual dengan sesama jenis, membunuh dan membantai, serta banyak kejahatan lainnya sebagai gaya hidup sehari-hari. Bangsa ini membiasakan diri memberontak terhadap Tuhan.

          Dalam janji Tuhan kepada Abraham, terlihat bahwa ada suatu kurun waktu yang Tuhan sudah berikan kepada bangsa Amori untuk bertobat, namun justru mereka melakukan kejahatan yang semakin besar. Sehingga akhirnya, dosa mereka membuat mereka tercabut keluar dari tanah itu. Sikap hidup bangsa Amori adalah perwakilan dari seluruh penduduk asli tanah Kanaan yang terbiasa berbuat dosa di hadapan Tuhan. Semua kekejian itu membuat akhirnya mereka dimuntahkan dari tanah itu.

          Bangsa Israel kemudian menerima Tanah Kanaan sebagai tanah perjanjian. Dalam perjanjian Tuhan, ada syarat untuk setia mengikuti Tuhan sepanjang hidup bangsa Israel. Namun yang terjadi kemudian adalah bangsa Israel dalam perjalanan mereka sebagai bangsa, akhirnya mulai melupakan Tuhan dan mengikuti cara hidup dari penduduk asli Kanaan, yaitu menjadi penyembah Baal.

          Tuhan mengutus nabi-nabi-Nya untuk memperingatkan mereka bahwa jika mereka tidak bertobat, maka merekapun akan terbuang dari tanah itu. Nabi Yeremia diutus Tuhan untuk menyerukan pertobatan bagi bangsa Israel (Kerajaan Yehuda) dari pemberontakan mereka kepada Tuhan. Pemberontakan apakah yang orang Israel lakukan hingga dianggap begitu serius oleh Tuhan? Ini tercatat dalam Yeremia 2:13

Sebab dua kali umat-Ku berbuat jahat: mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air.

  1. Kejahatan Israel yang pertama adalah bagaimana mereka meninggalkan Tuhan, Sang Sumber Air hidup dengan cara menyembah Baal, dewa kesuburan orang Kanaan (Yer.1:16). Baal dianggap dapat memberi kesuburan, kekayaan, dan kemakmuran. Jumlah berhala bangsa Israel sedemikian banyak, sampai jumlahnya sama banyaknya dengan jumlah kota yang mereka tinggali. Artinya hampir setiap orang memiliki berhalanya masing-masing. Pada hari-hari ini pun kita banyak melihat bahwa banyak orang termasuk orang Kristen meninggalkan Tuhan dengan cara menyembah kesuburan, kekayaan, dan kemakmuran. Orang mulai meninggalkan Tuhan ketika mereka mulai melakukan pengejaran yang sia-sia kepada kekayaan, hobi, dan kesenangan diri semata. Banyak hamba Tuhan juga tidak lagi mengkhotbahkan Kristus, melainkan mengkhotbahkan tentang Baal (Kesuburan, kekayaan, kemakmuran) yang berpusat pada keinginan diri sendiri. Banyak di antara kita tidak bisa membedakan mana passion yang Tuhan beri, mana keterikatan. Identifikasi baik baik kedua hal tersebut, jangan menganggapnya sama lalu membuang waktu untuk terikat pada hal-hal yang sebenarnya bukan dari Tuhan. Kita seringkali membiasakan diri untuk berpaling dari Tuhan dan memberikan fokus yang lebih kepada hal-hal lain, yang akhirnya menjadi berhala dalam hidup kita. Tanpa sadar kita sudah jauh meninggalkan Tuhan, dan rencana Tuhan tidak lagi menarik bagi kita. Di saat itulah kita mulai keluar (menyimpang) dari destiny yang Tuhan ingin untuk kita penuhi dalam kehidupan kita.
  2. Kejahatan Israel yang kedua adalah mereka mulai ”menggali kolam bagi diri mereka sendiri” yaitu kolam bocor yang tidak dapat menahan air. Cara mereka melakukan kejahatan ini adalah dengan melalaikan hukum Sabat. Bangsa Israel menginginkan kemakmuran yang lebih banyak lagi bagi diri mereka sendiri dengan tidak memelihara hari sabat dan tahun-tahun sabat. Nabi Yeremia menegur keras bangsa Israel dengan menyerukan hal ini di setiap pintu gerbang Israel agar bangsa Israel tidak mengandalkan kekuatannya sendiri dan melalaikan sabat (Yer.17:21-27). Jika mereka tidak menaati Tuhan dengan melalaikan sabat, maka akan ada penghukuman berupa serangan dari bangsa-bangsa lain yang akan segera menghancurkan mereka. Melalaikan sabat sama artinya dengan mengabaikan identitas mereka sebagai umat pilihan Allah. Sabat merupakan suatu perjanjian antara Allah dengan umat-Nya, yaitu agar umat-Nya selalu mengingat persekutuan dengan Dia dan di sisi Allah, Ia lah yang berjanji untuk memberkati dan memelihara kita. Dalam dunia modern ini, banyak orang Kristen tidak lagi mengindahkan sabat dengan Tuhan. Memang pengertian sabat dalam artian legalistik (harus di hari Sabtu dengan berbagai hal yang tidak boleh dilakukan) sudah digenapi dalam Kristus. Tapi memiliki waktu untuk bersekutu dengan Tuhan, terlibat dalam komunitas orang percaya, saling melayani, dan beribadah di gereja juga merupakan suatu wujud bahwa kita memiliki kehidupan yang berpusat pada Allah. Orang Kristen yang tidak menghormati Allah melalui waktu-waktu sabat juga berkecenderungan tidak menghormati Allah dalam aktivitas lainnya dalam kehidupannya sehari-hari. Mengandalkan kekuatan diri sendiri hanya akan berakibat kelelahan dan kekeringan rohani yang membuat kita semakin jauh dari rencana Allah.
  3. Kejahatan Israel yang ketiga adalah mereka tidak menyadari bahwa mereka sudah meninggalkan Tuhan dan mengandalkan kekuatan diri mereka sendiri, serta tidak menganggapnya sebagai dosa. Kita memahami bahwa segala yang membuat kita menyimpang dari rencana Allah adalah dosa. Dosa bukan hanya berarti melakukan hal-hal yang dianggap jahat oleh manusia seperti membunuh, berzinah, dan mencuri. Hamartia dalam bahasa Yunani adalah kata yang diterjemahkan sebagai ”dosa”. Kata itu sendiri berarti ”tidak mencapai sasaran”. Jika saat ini kita meninggalkan Tuhan, mengandalkan kekuatan diri sendiri, dan hati kita tidak merasa gelisah karena hal itu, berarti kita sedang melangkah keluar dari rencana Tuhan.

Tuhan tidak pernah membuang manusia dari rencana-Nya, namun dosa-lah yang membuat kita terbuang dari rencana-Nya. Dosa mendiskualifikasi kita keluar dari track nya Tuhan. Dosa membuat kita lari semakin jauh dari Tuhan dan menahan kita untuk tetap jauh dari Dia, membutakan mata rohani kita, menulikan telinga rohani kita, dan membuat kita mati rasa terhadap panggilan Tuhan. Dosa menciptakan suatu sistem dalam hati kita yang bertentangan dengan hukum-hukum-Nya. Dosa membuat kita memilih jalan kita sendiri dan menganggapnya sebagai yang terbaik.

Upah dosa adalah maut! Maka akan ada kematian karena dosa. Tapi Tuhan bisa menggunakan ”kematian-kematian kecil” itu sebagai jalan untuk mengembalikan kita pada kehidupan yang semestinya. Bagi Israel, walaupun mereka terbuang ke Babel, Tuhan menggunakan kesempatan itu untuk mendidik Israel agar kembali ke jalan-Nya. Tuhan lebih suka melihat impian kita mati daripada kita mencapai impian itu dengan terus melakukan dosa. Tuhan lebih suka melihat usaha / bisnis kita mati daripada kita sukses bergelimang dosa. Tuhan lebih suka melihat kita bertobat walaupun harus melalui ranjang rumah sakit, daripada kita binasa dalam dosa. Tuhan lebih memilih untuk Anak-Nya mati disalib agar kita beroleh kehidupan yang baru di dalam Dia!

Semua pemulihan akan terjadi dalam hidup kita jika kita menerima pengorbanan Yesus Kristus Sang Anak Allah dan kita menerima kehidupan yang baru oleh Roh Kudus. Hidup tanpa Roh Kudus akan membuat kita selalu memberontak pada Tuhan dan rencana-Nya. Namun jika Roh-Nya ada dalam hidup kita, maka kita akan dimampukan untuk berjalan dalam rencana-Nya. Ketika Anak Allah mati disalib dan kita menerima pengorbanan-Nya, di situlah manusia lama kita turut disalibkan sehingga kita diberi hidup yang baru dan Roh Kudus berdiam dalam diri kita.

Nabi Yehezkiel mencatat bahwa Tuhan memberikan perjanjian yang baru bagi umat-Nya. Kita akan diberikan hati yang baru dan roh yang baru, yang mampu taat kepada Allah hanya jika Roh Allah berdiam di dalam kita (Yeh.36:26). Roh Kuduslah yang mengerjakan pemulihan dalam diri manusia. Yehezkiel 37 juga mencatat bahwa melalui Roh dan Firman-Nya, maka tulang-tulang kering (gambaran kehidupan yang mati karena dosa) akan dibangkitkan bahkan menjadi barisan tentara Allah (gambaran fungsi Ilahi dan kuasa yang Ia berikan dalam kehidupan manusia). Bukan hanya itu, melalui perubahan hati kita yang mulai taat kepada Allah, maka pemulihan akan terjadi di segala bidang seperti:

  1. Tuhan membuat kota-kota yang tandus dikerjakan kembali (Yeh. 36:34)
  2. Tuhan membuat kota-kota yang ditinggalkan sunyi sepi didiami kembali bahkan menjadi kota yang kuat (Yeh.36:35)
  3. Tuhan membuat nama-Nya dimuliakan melalui kehidupan kita (Yeh.36:36)
  4. Kita beroleh kesempatan untuk meminta yang terbaik dari Tuhan atas hidup kita (Yeh.36:37-38)

Pemulihan yang dikerjaledbyspiritkan Roh Kudus adalah terutama mengubah hati kita agar kembali kepada Tuhan. Dalam perubahan itu, maka pemulihan dalam berbagai bidang kehidupan akan mengikuti. Tidak ada mujizat yang Roh Kudus kerjakan bagi manusia tanpa perubahan terlebih dahulu di hati kita. Mujizat sejati adalah hasil dari apa yang Roh Kudus kerjakan di level terdalam. Hati yang taat, pikiran yang taat, hidup yang mengandalkan Tuhan, itulah yang Roh Kudus kerjakan. Kehadiran Roh Kudus mengembalikan kita pada kepenuhan rencana Allah.

Comments

comments