EVERYONE’S BATTLE

Memilih untuk menang! Itu hal yang pasti setiap kita inginkan dalam hidup kita sebagai anak-anak Tuhan. Kita pasti kepingin banget hidup menyenangkan hati Tuhan, kepingin banget hari-hari kita memberi makna yang lebih, kepingin banget bisa bertahan punya hati yang on-fire, tapi lagi-lagi masalahnya kita sering banget menemukan kondisi yang membuat kita berkata: “Aku ingin lakukan yang baik, tapi kenapa selalu hal buruk yang aku perbuat?” Kita jatuh lagi, down lagi, kecewa lagi, bahkan kata-kata “bosaaan!!” mulai muncul di hati kita. “Aduh, berhenti berjuang aja deh, toh akhirnya gagal lagi-gagal lagi.”

Guys, seorang hamba Tuhan berkata “Kemenangan di alam roh, menentukan kemenangan di alam nyata.” Tanpa kita sadari, seringkali faktor  tidak memperhatikan kebenaran itulah yang membuat kita jatuh, karena kita hanya berpikir apa yang kelihatan aja. Sahabat, kita nggak hidup di dunia hampa kuasa, setiap hari selalu ada kuasa Allah dan kuasa iblis yang saling berperang di dunia ini, dan kita terlibat di dalamnya! Bohong banget kalo ada orang bilang “Gw ga ikut Tuhan, tapi juga ga ikut setan. Gw berjalan dengan kekuatan gw sendiri dan usaha gw sendiri!”.

Kenyataannya adalah sebagai anak-anak Tuhan, kita nggak pernah lepas dari pengaruh pekerjaan iblis dalam hidup kita sehari-hari. lman akan Yesus memungkinkan kita mau nggak mau juga ikut “berperang” melawan Setan yang berjuang dalam sejarah hidup manusia. Dalam iman yang sama, kita hidup sebagai “orang Kristen”. Tapi, kualitas iman anak Tuhan yang satu dengan yang lain berbeda-beda. Kualitas iman anak Tuhan yang ala kadarnya menjadi lahan subur bagi Setan untuk menjerat mereka.

Pertama-tama, Setan selalu kepingin mencari keuntungan dan kesempatan atas diri kita (2 Korintus 2: 11; Efesus 4:27) supaya kita nggak hidup di dalam kebenaran, yaitu keadaan manusia dalam hubungan yang semestinya dengan Allah. Lalu setan juga akan membuat kita saling menuduh sesama anak Tuhan, saling menyalahkan, saling benci karena menganggap kelakuan mereka itu salah karena mereka sendiri. Padahal jika kita tahu kalo anak-anak Tuhan semuanya sedang berperang, kita nggak akan selalu men-judge kesalahan orang-orang di sekitar kita. Itu semua nggak lain disebabkan karena banyak di antara mereka mengalami kekalahan dalam peperangan di zona rohani hidupnya. Masalahnya nggak banyak di antara kita yang peduli dengan sesuatu yang bersifat “rohani”, padahal sangat berbahaya kalo kita mulai membiasakan diri “memperbolehkan” iblis memakai hidup kita tanpa melawannya. C.S. Lewis bilang “cara terbaik bagi setan untuk menjerat manusia adalah dengan berkata pada manusia bahwa setan itu tidak ada!” Faktanya, kita nggak bisa lepas dari peperangan melawan Setan setiap hari. “Karena “Iblis telah turun kepadamu, dalam geramnya yang dahsyat, karena ia tahu, bahwa waktunya sudah singkat.” (Wahyu 12:12).

Mau tau cara Setan menguasai manusia?

Kuasa Setan mencengkeram hidup manusia dalam banyak cara yang sering kali nggak kita sadari. Segala usaha yang dilakukan Setan untuk menjerat manusia untuk melawan Allah adalah ciri khas dan misi Setan. Sayangnya nggak setiap orang peduli akan hal ini. Ada pandangan umum bahwa kerasukan ya kerasukan, titik. Asal ada orang yang aneh, ditandai dengan macam-macam hal yang bukan miliknya, atau yang menguasai tubuh, itulah yang sering dinamakan dengan kerasukan. Kita harus hati-hati sekali menanggapi beberapa pendapat yang sering diterima umum dalam hikmat dan pengajaran yang nggak begitu dalam. Dalam tradisi Gereja dibedakan taraf-taraf kerasukan dalam empat macam cara Setan menguasai hidup manusia, dan faktanya, tahap-tahap ini selalu dilalui oleh setan kepada manusia, yaitu obsessio, oppressio, infestatio, dan posessio.

1. Obsessio
(obsideo, rnengurung, menguasai, mengikat, mengintai) adalah usaha Setan menguasai manusia dengan cara membuat pikiran dan karakter yang lumpuh. Di tahap ini, iblis melumpuhkan kehendak bebas dan iman kita akan Allah. Contohnya ada orang yang merasa dirinya “pemarah” dan itu “tidak bisa diubah, titik!” Itu adalah wujud keterikatan pertama manusia pada iblis. Begitu juga dengan sifat sensitif berlebihan, gampang tersinggung, pemurung, stress, selalu kuatir, memendam kepahitan, cengeng, penakut, pendendam, cenderung ingin membalas, keras kepala, suka pornografi, kecanduan seks, dan semua sifat-sifat lainnya yang “Alkitab nggak bilang bahwa itu baik, tapi kenapa masih dilakukan juga?”, nah itu tahap pertama kekuasaan yang kita berikan buat iblis menguasai kita. Tapi, sayang banget dalam hal ini banyak orang nggak peka untuk mencermatinya. “Wajar, gw orang suku B yang dasarnya pemarah” atau “wajar, gw emang orangnya gampang tersinggung karena adat daerah gw begitu”. Itu adalah tanda “silakan masuk, dengan senang hati” buat si iblis!

2. Oppressio
(opprimo, menindih, melemaskan, menghancurkan, memegang kuat-kuat tanpa melepaskan) berarti pelbagai siksaan fisik yang mengerikan berbentuk penderitaan, kesakitan fisik, tidak umum, menyangkut kesehatan badan, gerak dan perasaan dan relasi dengan orang lain. Peristiwa oppresio sangat biasa kita saksikan dalam hidup sehari-hari, misalnya orang yang tiba-tiba sakit dan nggak terdeteksi secara medis. Berapa di antara kita yang tahu bahwa “migrain” atau “sakit kepala sebelah” itu disebabkan karena stress berlebihan? Atau berapa yang tahu bahwa memendam kepahitan bisa menyebabkan penyakit paru-paru dan tuberculosis? Atau berapa yang tahu bahwa penyakit kanker adalah “sel tubuh manusia yang berontak terhadap dirinya sendiri”, sebab itu rasa tertolak, tidak mengampuni, dan hidup dalam ketakutan, bisa mempercepat penyebaran sel kanker? Ini tahap kedua, dan pastinya seringkali relasi kita dengan orang lain pasti berantakan karena hal ini.

3. lnfestatio
(infesto, rnerusak, menyerang, rnenjadikan tidak aman), lebih kuat dari pada oppresio. Roh-roh jahat itu biasanya bekerja dalam diri manusia dan mengikat kebebasan manusia untuk bertindak sesuai dengan keinginannya. Cara awal yang dilakukan adalah merusak apa yang asasi dalam diri manusia, yaitu kehendak bebas untuk bertindak dan imannya akan Allah. Ada orang yang karena dari kecil hidup dalam penyiksaan oleh orangtuanya atau trauma karena sesuatu, dia bisa menjadi orang yang dalam bahasa psikologinya “berkepribadian ganda” atau punya “alter ego”. Guess what? Ya, segala yang berkaitan dengan kerusakan kejiwaan atau masalah psikologi, itu adalah hasil kerja dosa dan iblis. Nggak percaya? Coba pikirkan, kenapa orang seperti itu bisa membunuh orang lain tanpa sadar? Apakah nggak ada hati nurani bekerja? Apalagi tuntunan Roh Kudus yang kita harapkan “berbicara jelas” bagi orang-orang ini, wah, sulit tuh.

4. Posessio
(possideo, memiliki, menguasai, menempati) merupakan “bentuk kerasukan paling berat yang berakibat dengan kehadiran Setan di dalam tubuh manusia, walaupun gejala kehadiran itu nggak tampak terus-menerus. Ada saat kritis ada saat rileks. Tampak suatu gejala sementara menguasai pikiran, kehendak dan perasaan manusia. Bisa muncul reaksi yang kuat sekali. Orang bisa berbicara dengan bahasa yang tidak ia kenal, sering menampakkan kekuatan fisik yang luar biasa, pengetahuan akan hal-hal yang tersembunyi dan akan pikiran orang lain, mengungkapkan kebencian yang luar biasa terhadap semua yang suci, ketidakmampuan untuk berdoa dan gejala yang lain. Kerja Setan yang tinggal dan menempati serta menguasai tubuh manusia sebagai miliknya inilah yang sering disebut a diabolo possideri (kerasukan setan). Kerasukan jenis inilah yang sering disaksikan oleh banyak orang. You know guys? Orang bisa kerasukan seperti ini bukan tanpa sebab, tapi melalui tahap-tahap dulu. Walaupun mungkin ia nggak melalui semua tahap, tapi ia pasti melalui tahap “obsessio” sebagai pembuka jalan bagi iblis. Tumpang tangan dan berkata “Dalam nama Yesus! Pergi!” atau pelepasan sampai berguling-guling di lantai, seringkali nggak akan menyelesaikan masalah kerasukan orang itu selama akar permasalahannya belum dicabut yaitu masalah keterikatan secara “obsessio” yang biasanya harus melalui sesi konseling yang panjang banget dan kelas-kelas pemulihan luka batin dan semacamnya, serta komitmen yang baru untuk tunduk pada pengajaran dan pemuridan di sebuah komunitas yang bisa menjaganya.

Melihat keempat cara Setan menguasai manusia berarti kita harus membuka hati untuk menyadari bahwa banyak perbuatan yang selama ini tanpa kita sadari menjadi celah bagi berkuasanya iblis dalam diri kita. Janganlah kita memandang rendah segala bentuk cara Setan – halus maupun kasar – menguasai hidup kita, dan jangan biarkan diri kita diikat, Tuhan nggak suka segala bentuk keterikatan bagi anak-anak-Nya. Memang, dunia cenderung membiarkan diri diikat oleh lblis. Namun, sebagai anak-anak Tuhan, apakah kita masih mau diikat iblis? Setiap hari, adalah peperangan bagi kita anak-anak Tuhan, dan setiap anak-anak Tuhan wajib berperang melawan iblis. Ini wajib militer kita, this is everyone’s battle!

Untitled-1

Comments

comments