multitalent

Q: Aku ada masalah nih, aku punya adik yang punya talenta yang banyak. Dia cantik, badannya bagus, pandai nyanyi, pandai maen musik dll. Sedangkan aku nggak punya badan bagus, jelek, dan nggak pandai maen musik. Aku cuma punya suara yang bagus. Tapi adikku yang selalu dipanggil untuk nyanyi di gereja, aku iri ama dia, dia juga banyak yang suka, setiap aku kuliah selalu ada yang kirim salam sama dia. Aku iri ama adikku, aku ngerasa nggak ada artinya, aku selalu terabaikan, setiap aku di kampus aku nggak ada yang nyapa jadi aku yang selalu nyapa orang. Kadang aku suka nangis sendirian, kenapa aku dilahirkan seperti ini?

A: Terimakasih karena kamu udah jujur. Kalau ada satu hal yang sangat saya hargai kalo ada orang yang cerita masalahnya, itu adalah kejujuran. Saya percaya langkah pertama untuk menyelesaikan masalah apapun adalah dengan jujur mengatakan apa yang ada di pikiran kita tanpa menutupi supaya terlihat lebih baik. Kamu nggak berusaha untuk menyalahkan Tuhan, paling nggak di dalam pertanyaan kamu, kenapa Dia nggak adil dan memberikan talenta yang lebih banyak ke adik kamu daripada ke kamu. Kamu mengakui kalo kamu iri sama adik kamu, itu satu hal yang menurut saya sangat hebat. Nggak bayak orang yang mau mengakui kalo mereka punya rasa iri, kebanyakan lebih suka mengomel tentang ketidakadilan Allah daripada mengakui kalo masalahnya sebenarnya adalah rasa iri.

Sampai saat ini saya tetep percaya kalo Tuhan itu mutlak dan absolut. Dia nggak pernah salah, sama sekali! Nggak pernah salah sekalipun, mutlak dan absolut pasti selalu bener. Apapun yang terjadi dalam hidup kita itu bukan karena Tuhan ceroboh dan bikin salah, segala sesuatu terjadi dan diijinkan terjadi untuk bawa kebaikan buat kita. Yang menjadi masalah justru cara pandang dan sikap kita terhadap rencana Tuhan. Bagaikan pelanggan yang rewel di restoran, kita mengeluh kalo rencana Tuhan itu nggak enak, salah bikin, kurang asin dan kokinya pasti lagi mabok waktu masaknya. Tapi kalo kokinya mutlak koki terbaik dan paling sempurna yang tau masakan apa yang paling enak buat setiap pelanggannya, berarti bukan masakannya yang ngaco tapi lidahnya.

Ketika segala sesuatu tidak berjalan dengan baik, jangan marah ke Tuhan tapi justru cari tahu apa yang salah dengan kita. Kalo nggak ada yang salah cari tahu bagaimana seharusnya kita menanggapi masalah itu. Seperti yang kamu bilang, kamu iri dengan adik kamu, merasa diabaikan dan nggak tau apa gunanya hidup. Saya nggak bisa ngilangin rasa iri kamu karena itu masalah perasaan dan saya bukan dukun pelet dan nggak pernah jadi dukun pelet jadi nggak bisa ngerubah perasaan seseorang tapi mungkin saya bisa membuat kamu memandang dari sudut yang berbeda. Bagaimanapun, rasa iri dimulai ketika kita menganggap orang lain berada di tingkat yang lebih tinggi dari kita. Masalahnya, seringkali perbedaan itu muncul karena kita menganggap orang itu beberapa tingkat lebih tinggi dari keadaan sebenarnya dan memandang diri sendiri beberapa tingkat lebih rendah dari keadaan sebenarnya.OK, saya akan mulai mendongeng sekarang.

Alkisah, seorang tua yang kaya raya sudah mau pensiun. Dia mempunyai 2 orang anak, tapi dia ga tau siapa di antara kedua anaknya yang akan bisa mengelola warisan kekayaannya yang luar biasa banyaknya. Akhirnya dia memutuskan untuk menguji mereka. Esoknya dia memanggil mereka dan mengatakan bahwa dia akan menguji mereka untuk mengetahui siapa di antara mereka yang bisa berbisnis lebih baik. Dia memepercayakan 1 toko kepada anak yang sulung dan 9 toko kepada anak yang bungsu dan memberi mereka waktu 2 tahun untuk mengembangkan usaha mereka.

Anak sulung merasa sangat heran kenapa ayahnya hanya mempercayakan 1 toko kepadanya tapi memutuskan untuk percaya kepada ayahnya. Walaupun hanya 1 toko, dia mengelolanya dengan sungguh – sungguh. Setiap keuntungan yang diperoleh, dia pakai untuk memperbaiki toko dan meningkatkan gaji karyawannya. Dia mencari distributor terbaik yang bisa memberikan kualitas terbaik dengan harga termurah untuk memuaskan pelanggannya. Pendek kata, dia bener-bener mencurahkan segalanya buat tokonya ini. Hanya dalam waktu singkat, tokonya jadi terkenal dan jadi salah satu toko terbesar di kotanya.

Anak yang bungsu merasa sangat senang karena ayahnya mempercayakan 9 toko kepadanya. Merasa dirinya sudah pasti menjadi pewaris ayahnya, anak bungsu tidak terlalu serius menangani usahanya. Lagipula, tidak mudah mengurus 9 toko sekaligus dan berharap semua toko itu berhasil, apalagi kalo pemiliknya ga serius. Dalam waktu yang ga lama, ke 9 toko itu terbengkalai dan pelanggannya hanya tersisa para pelanggan lama.

2 tahun kemudian, mereka berdua dipanggil ayahnya untuk melaporkan hasil tes mereka. Anak sulung melaporkan bahwa tokonya sudah menguasai pasar di kotanya dan menjadi toko terbesar di sana dan dalam waktu dekat dia akan membuka cabang kedua di kota sebelah. Anak bungsu dengan lesu melaporkan bahwa dari 9 toko yang ada, 3 diantaranya bangkrut dan 6 toko berhasil tetap bertahan hidup tapi tidak bertambah besar.Pemenangnya sudah jelas dan ga perlu dipertanyakan lagi.

Ayahnya menjelaskan kenapa dia memberi mereka tes itu. “ Aku tidak bersikap tidak adil ketika memberikan 1 toko kepadamu dan 9 toko kepada adikmu. Kalian berdua mempunyai tantangan dan kesulitan masing – masing yang harus kalian hadapi. Kau harus menghadapi rasa rendah diri dan ketidakpercayaanmu padaku karena hanya diberi 1 toko. Jika kau memilih untuk menganggap dirimu tidak mampu karena hanya dipercayai 1 toko dan memilih untuk menganggapku tak adil, kau tak akan pernah jadi pewarisku. Tapi kau memilih untuk mempercayaiku dan mengerjakan apa yang dipercayakan kepadamu dengan sungguh – sungguh. 1 toko yang kau punya sudah menjadi toko yang terbesar di kota ini. 1 pisau yang tajam lebih berguna daripada 12 pisau yang tumpul dan 1 intan yang murni yang digosok dengan baik lebih berharga dari 12 batu kali biasa. Karena kau setia dalam hal kecil, aku akan mempercayakan hal yang besar. Kau akan menjadi pewarisku dan mewarisi seluruh kekayaanku.

Dan kau, katanya kepada anak bungsu, kau harus menghadapi kesombongan dan rasa puas diri. Kau merasa puas karena kau sudah mempunyai 9 toko yang biasa dan dalam kesombonganmu kau tidak merasa perlu untuk mengembangkan toko – toko itu karena kau mersa 9 toko itu sudah hebat. Biarpun kau punya 9 pisau, jika kau tidak pernah mengasah mereka, mereka akan berkarat dan kehilangan nilai mereka.

Cerita di atas berakhir dengan bahagia karena saya lebih suka dengan happy ending. Tapi, cerita asli yang menjadi dasar cerita saya di atas tidak berakhir dengan bahagia. Dalam kisah perumpamaan mengenai talenta yang diceritakan Yesus, hamba yang mendapat 1 talenta menolak untuk mengusahakan talentanya dan diusir dari hadapan tuannya. Hamba ini gagal bukan karena talentanya hanya satu, melainkan karena dia gagal untuk melihat bahwa setiap hamba punya tantangan yang sama. Hamba yang mendapat 5 talenta tidak lebih enak dari hamba yang 1 talenta karena dia bertanggung jawab untuk mengembalikan 10 talenta. Sebaliknya hamba yang yang 1 talenta tidak lebih rendah dari hamba yang 5 talenta karena sebenarnya dia “hanya” bertanggung jawab untuk mengembalikan 2 talenta. Tapi hamba 1 talenta gagal untuk melihat semua ini dan membiarkan rasa iri mengambil alih. Hamba 1 talenta gagal karena dia menginginkan hal besar tapi ga mau setia dalam hal kecil.

Apakah orang yang punya banyak talenta lebih mudah hidupnya? Mungkin, tetapi itu tidak berarti akan lebih mudah untuk mengembangkan talentanya, bahkan akan lebih sulit karena lebih susah mengasah 9 pisau daripada mengasah 1 pisau. Apakah orang yang punya sedikit talenta lebih sulit hidupnya? Mungkin, tapi akan lebih mudah untuk mengasah 1 pisau daripada banyak pisau..

Yang jelas, kalo saat ini kita lebih terfokus pada siapa yang punya talenta yang lebih banyak dan lupa untuk mengembangkan satu-satunya talenta yang kita punya, hasilnya pasti sad ending. 2 Tawarikh 16:9 Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia. Lakukan saja apa yang kita punya dan kita bisa saat ini,

 Dijawab Oleh Tukang Bakmi

Comments

comments