Peduli amat dengan peluluhan huruf  k, t, s, p! Gak penting juga antonim dan sinonim. Menarik apanya dari konjungsi? Tapi toh, saya tetap duduk dengan mata terkantuk-kantuk mendengar dosen berceloteh tentang hierarki gramatika, linguistik! Mencari-cari tulisan sastrawi di perpustakaan yang sampulnya robek dan debu setumpuk yang sukses bikin batuk dan gatel-gatel. Bergadang sampai subuh untuk makalah yang revisi untuk kesekian kalinya. Berdesakan di bus yang gak ada matinya!


“Ngapain masuk Pendidikan Sastra dan Bahasa Indonesia? Kenapa gak Inggris atau Perancis gitu?” Simple, waktu SMA saya pernah juara dua baca *cuma baca doang* cerpen. Selain itu, praktek pidato saya okeh, drama dari SD, SMP, SMA, dapat tepuk tangan meriah, dan saya maunya jadi guru Bahasa Indonesia, bukan Inggris atau Perancis :D.


Apa saya menikmatinya? Gak juga. Di beberapa bagian, enggak sama sekali malahan. Saya gak bersahabat sama sastra. Buku sastra Indonesia kebanyakan patriarki, menindas feminis! Bahasanya ribet, gak to the point. Sebenernya mah, saya gak terlalu suka baca buku =P. Sejarah dan teori sastra bikin ngantuk. Meskipun demikian, saya belajar untuk mencintai sastra. Saya harus mencintainya!


Dan walah, teori pendidikan ngebosenin. Tapi harus update untuk isu-isu pendidikan. Debat dan diskusi tentang bobroknya sistem belajar dan mengajar. Saya ditempa jadi guru yang profesional, dan canggih *baca: mutakhir*. Profesional? Bikin silabus (rencana pengajaran) ajee revisi empat kali. Wakakakakak!


Dan, miris juga karena bakat sastrawi temen-temen saya okeh-okeh bangeeet! Apresiasi sastranya, teorinya, tulisan-tulisannya, makalahnya, wow! Sastra, pendidikan, bahasa, dari berbagai segi, mereka tuh bikin saya pengeeeeen bisa kayak gitu =P.


Saya tidak pernah lupa, saat nama saya tercantum di koran, lulus SNMPTN untuk jurusan yang saya geluti sekarang di UNJ. Orang tua saya sama sekali gak ngasih selamat, mereka mau saya masuk UI. Perasaan saya? Langsung ngambek lah *hehe*. Setelah itu, barulah mereka memberi selamat. Tapi kata-kata ortu masih terngiang, saya harus seperti kayak-kakak saya, saya harus pintar, saya harus dikirim ke luar negeri seperti mereka, begini, begitu. Apa yang harus saya lakukan?


Saya mengetuk pintu bertuliskan UI. Menggedor, menggebrak, tapi gak kebuka. Walaupun saya gak tau pasti untuk apa saya ambil jurusan Psikologi dan Tata Niaga UI, pokoknya yang penting masuk UI. Ujian masuk perguruan tinggi yang pertama berjudul UMB, saya gak lolos. Akhirnya banting stir ngambil IPS (saya jurusan IPA) di ujian masuk SNMPTN. Pilihan terakhir yang baru saya pilih di ruang BK (Bimbingan Konseling, tempat daftar perguruan tinggi) untuk SNMPTN adalah jurusan yang saya geluti sekarang :D.


Apa ini untung-untungan? Gak sama sekali! Meskipun banyak orang yang bertanya, mau jadi apa saya nanti dengan pendidikan yang saya ambil, gak perlu diambil hati. Yang saya angankan, nanti, ya nanti, saya akan menjadi pendidik yang mengasihi anak-anak murid saya. Sambil menulis, musikalisasi puisi dengan gitar, hal-hal yang menyenangkan buat saya, adalah hari yang saya jalani dan nantikan. Kenyatannya, walau beberapa hal membuat saya bosan dan lelah, saya tetap menikmati bagian yang lain. Debat, pidato, musikalisasi puisi yang menggelikan. Di tempat mana lagi satu kelas bikin seminar yang pembicara, pantia, peserta, pencari dana, adalah saya dan teman-teman saya sendiri? Saat ini, saya ingin sekali menikmati semua bagian, mata kuliah yang membosankan, makalah yang bikin repot, bus yang laris manis, teman-teman yang asyik, dosen yang ganteng, mata kuliah yang bikin semangat, semuanya, jadi satu paket yang benar-benar saya nikmati dan syukuri.


Saya ingin, menjalani panggilan hidup saya dengan seratus milyar semangat. Saya ingin jadi pendidik yang menjadi berkat. Saya ingin bekerja bukan demi uang, tapi karena saya menikmati dan mencintai pekerjaan itu, karena saya rindu panggilan itu genap.


Kalau dipikir, bagaimana mungkin saya bakal kangen dengan masa kuliah saya? Sekarang udah harus mikirin skripsi, menjelajah ke sekolah-sekolah bagiin kuesioner. Belum lagi suasana rohani yang kering kerontang di kampus (walaupun teman-teman saya asyik sekaliii, tapi saya adalah minoritas). Tapi, saya akan kangen! Pasti! Jadi nikmati saja, syukuri. Hari-hari depan adalah hari yang berkemenangan, damai sejahtera.


Ah, setelah dua bulan libur semester, tanggal 30 Agustus masuk kuliah lagi :D. Semangaaaaat!!!! ^^. Untuk itulah tulisan ini saya buat, untuk mengingat, betapa saya mencintai hari-hari yang Tuhan rancangkan dalam hidup saya. Terlepas dukungan maupun kata-kata yang membuat lutut saya lemas, saya harus bersemangat! Ini bukan demi kertas sakti (baca: Ijazah), tapi ini demi Dia, yang tercinta ^^.


Cerita penutup: Di dunia kodok, sedang terjadi perlombaan yang sangat seru!! Para kodok yang (terlatih dan tidak terlatih) berlomba untuk menaiki menara yang sangat tinggi. Para penonton riuh rendah, bersorak, mengutuk, di pinggir garis batas perlombaan. Saat para kodok mulai naik, sorakan yang bercampur kutukan, menjadi satu suara yang menjatuhkan. Ya, para penonton mulai sehati untuk membuat para peserta lomba patah arang. “Kamu gak bakal bisa naik ke atas”. “Kalian adalah para kodok yang lemah!!”. “Booooo!!” “Wuuuuu”. Para peserta lomba mulai kehilangan semangat, satu persatu mulai jatuh dari menara yang mereka naiki. Peserta yang jatuh, juga mengutuki peserta yang masih berusaha untuk naik. Dan jatuhlah semua peserta lomba, kecuali satu… Satu kodok berhasil naik ke puncak menara!! Bagaimana bisa? Ternyata, kodok itu tuli.

Selamat datang kembali, ev! Selamat datang di kampus gersang, kampus dengan banyak orang-orang menyebalkan. Tutup saja telingamu untuk kata-kata yang menusuk-nusuk waktu bergadangmu. Selamat datang, ev!  Selamat datang di hari penuh harapan. Di kampus yang menyenangkan. Bersama Tuhan, selamat meraih impian!! ^^. 

Ditulis Oleh ENS

Comments

comments