Dahulu kala ada dua orang yang hidup sebagai murid Kristus. Keduanya pernah melayani bersama untuk beberapa waktu lamanya.

Lalu datanglah saat di mana keadaan menjadi sulit dan ketekunan diuji. Orang pertama merasakan dinginnya rantai penjara Roma. Dari sana ia menulis:

“Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah MENCAPAI GARIS AKHIR dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku MAHKOTA KEBENARAN yang akan dikaruniakan kepadaku OLEH TUHAN…”

Kita semua mengenal orang ini dengan baik. Paulus, sang pelayan Kristus yang mengabdi dengan begitu setia sampai akhir hidupnya. Pada saat yang sama, ia menceritakan tentang orang kedua, sahabat yang pernah melayani Tuhan bersama, anak rohaninya, dan seorang muda yang pernah begitu menyala2 dlm imannya:

“Demas telah MENCINTAI DUNIA ini dan MENINGGALKAN AKU. Ia telah berangkat ke Tesalonika.” (2Tim 4:10)

Why we left Christ, slowly...

Paulus dan Demas. Orang yang satu telah bertahan hingga akhir pertandingan, serta menantikan mahkota kemuliaan. Orang satunya mengubah fokus kepada apa yang kelihatan saja, kepada dunia yang terlihat lebih menjanjikan, keluar dari rencana Allah, dan meninggalkan sahabat sepelayanannya.

Paulus fokus pada MAHKOTA KEMULIAAN, hal yang tak terlihat, namun ia percayai. Demas pergi untuk MENCINTAI DUNIA ini, yang lebih logis utk ia kejar.

Demas tidak menjadi orang jahat, ia tetap “orang baik”, hanya menjadi lebih realistis saja. Namun, bukankah “manusiawi” saja tidak cukup bagi nilai2 “Kerajaan Surgawi”?

Demas tidak tiba-tiba terbangun di suatu pagi dan menemukan prinsipnya sudah berubah 180 derajat. Tetapi yg terjadi adalah secara perlahan-lahan dunia menyeretnya tanpa disadarinya. Inilah juga yang membuat banyak “manusia sorgawi” berubah menjadi “manusia duniawi” saja.

Setiap kita memiliki tahun2 terbentang di hadapan kita sebagai pilihan, GARIS AKHIR seperti apa yg kita sedang tuju. Siapa yang kita layani? Jika DIA memang cukup layak bahkan sangat layak atas kesetiaan kita, maka berikanlah KESETIAAN HINGGA AKHIR kepada-Nya.

“Orang2 rohani menilai segala sesuatu secara rohani…” (1Kor2:14-15)

by: YKT

Comments

comments