Beberapa waktu yang lalu aku membaca sebuah artikel tentang sepasang suami istri yang mengundang orang-orang yang memerlukan kasih sayang dan kehangatan natal untuk datang ke dalam jamuan makan malam pada saat malam natal, wow…. It’s really a great story.

Jadi ingat, sewaktu kecil, setiap menjelang natal, ada satu hal yang selalu aku minta sama mama atau papa. Yap! Apalagi kalo bukan hadian natal. Rasa senang, bahagia, bangga dan luar biasa tergambar saat dengan semangat saya menyobek kertas kado yang membungkus sebuah kado untuk diriku. Sembari menebak-nebak apa isinya, aku mulai mengucapkan berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus kali ucapan terima kasih kepada mama dan papa karena memberikan hadiah tersebut. Dan begitu hadiah yang kuterima itu terbuka dan terlihat isinya, kebahagiaan terpancar jelas, yap.. sepatu baru, atau baju baru, robot Gundam, boneka Naruto atau Gameboy baru… Apalagi kalau ternyata hadiahnya sesuai dengan yang kita inginkan dan butuhkan, bisa-bisa ucapan terima kasih tiada berhenti keluar dari mulutku.

Beranjak remaja, aku tidak lagi meminta secara lisan hadiah itu, walaupun di hati sangat menginginkan hadiah tersebut. Andai kata ternyata ada hadiah natal yang disiapkan untuk kita dan diberikan ke kita, dengan malu-malu dan gengsi kita sekedar membuka hadiah itu dengan hanya mengucapkan beberapa kata ucapan terima kasih. Setelah kado terbuka hanya ada perasaan bahagia yang tertutupi dengan rasa gengsi, gengsi karena sudah bukan anak-anak lagi, gengsi karena tidak mau dianggap dan diperlakukan seperti anak kecil, dan terkadang keluar keluhan apabila hadiah yang didapat itu mencerminkan seolah-olah saya adalah anak kecil, contohnya dapet kado natal maenan robot-robot-an atau dapet hadiah natal boneka sinterklas.. Hehehehhe… (Plis deh ma, aku kan dah gede…).

Menuju kedewasaan, hadiah menjadi tidak penting lagi. Ada syukur ngak ada juga tetap bersyukur. Yang terpenting adalah kebersamaan bersama keluarga, setelah lelah dengan hari-hari penuh kesibukan yang membuat diriku terpisah dari keluarga dan hampir memadamkan kasih dan kehangatan keluarga. Momen “membuka kado bersama” dijadikan momen penuh kehangatan untuk mengganti waktu-waktu yang terlewatkan. Hadiah tidak lagi dinilai dari bentuk, harga ataupun jenisnya, tetapi dari kasih yang menyertai kado itu, mulai menemukan arti dari memberi dan menerima.

Memiliki pasangan merupakan momen awal untuk mengaplikasi arti dari memberi dan menerima hadiah natal. Mulai sibuk mempersiapkan hadiah terbaik untuk yang terbaik, bersedia berjam-jam menunggu mall buka, memilih dan memilah barang, mengantri di kasir, dan menunggu di depan rumah sang pujaan hati untuk memberikan hadiah natal. Ada kepuasan ganda saat mengetahui ternyata si “doi” juga mempunyai kado spesial untuk diri kita. Seakan kado itu akan disimpan untuk diceritakan ke anak cucu kita sebagai kisah klasik untuk masa depan. Hadiah natal jadi lebih berarti saat seorang pujaan hati memberikan arti terhadap kado tersebut.

Menjadi orang tua? Sepertinya saya masih belum merasakannya, susah untuk mengimajinasikannya. Membelikan hadiah untuk mantan pacar yang kini menjadi istri tercinta yang fisiknya telah dimakan usia tetapi cintanya tetap untuk selamanya. Mencarikan hadiah untuk si Badu yang sedang doyan-doyannya Naruto, mencari hadiah untuk si Udin yang sudah mulai jerawatan dan menunjukan perangai yang aneh, dan juga untuk Lina yang sudah mulai memperkenalkan seorang lelaki bertanggung jawab kepadaku.

Ahh, rasanya waktu cepat sekali berlalu, hadiah demi hadiah telah saya terima dan saya berikan, berikut arti dan makna yang mengikutinya. Selalu berubah setiap bertambahnya umur. Tapi satu hal yang akan selalu saya ingat sedari kecil hingga kini, bahwa hadiah itu selalu diletakan di bawah pohon natal, disamping sebuah palungan kecil dengan domba dan jerami sebagai latar belakangnya, dengan satu pria dan satu wanita mendampingi sebuah palungan dimana “hadiah sesungguhnya” dari natal itu ada. Dan selalu kuingat bahwa saat aku mengambil hadiah untukku, mama dan papa selalu mengajariku untuk mengucapkan terima kasih untuk hadiah sesungguhnya dengan memanjatkan doa sederhana, “Tuhan Yesus terima kasih untuk kelahiranMu dan kasihMu, amin.”

Ahh…… rasanya aku akan selalu teringat momen itu, dan sebisa mungkin akan kubagikan momen itu kepada mereka yang belum pernah dan ingin merasakannya, sama seperti yang dilakukan oleh suami istri di atas, yang ingin berbagi kasih natal dengan jamuan makan malam.

Kapankah gilliranku tiba?

Kapankan giliranmu tiba?

Happy Month of Christmas :)

Ditulis Oleh KSW_FOS Community

Comments

comments