Hari ini enggak sengaja aku memperhatikan tingkah kecoa. Karena sebal melihat kecoa yang sibuk bolak-balik di depan pas aku sedang makan, akhirnya dengan kaki kutendang dia. Ternyata karena tendangan itu badannya jadi terbalik gitu. Dengan susah payah dia berusaha untuk membalikkan badannya lagi, pas udah balik kutendang lagi jadinya terbalik lagi deh, begitu seterusnya sampe 3 kali (kejamnya dunia…hahaha). Dan pada akhirnya sang kecoa udah pasrah sama keadaannya yang terbalik itu dan enggak berapa lama akhirnya sang kecoapun meregang nyawa alias pergi untuk selamanya.

Guys, kalian tau, ternyata untuk matiin kecoa enggak perlu beli semprotan kecoa yang mahal, enggak usah beli racun kecoa yang dijual di emperan jalan (emang ada yah?), enggak perlu beli raket listrik buat nyetrum kecoa sampe mati atau mengotori tangan kita dengan memukul  kecoa sampai benyek. Cara paling simpel adalah dengan membalikkan saja tubuh si kecoa itu, pasti deh kalo memang kecoa itu enggak bisa membalikkan tubuhnya lagi, sudah dipastikan beberapa menit kemudian malaikat maut siap menjemputnya… heheheh

Waduh, jijik bin jorok nih, kok ngomongin kecoa sih… kan atut….hahaha..

Karena penasaran kenapa kalo badannya terbalik kecoa bisa mati, aku cari di google penyebabnya. Ternyata enggak banyak alasan logis yang bisa didapat kenapa kecoa bisa mati hanya dengan dibalikkan saja tubuhnya. Pada akhirnya kusimpulkan bahwa kecoa itu mati karena berhenti berusaha, bukannya karena terlalu lelah berusaha. Saat tubuh kecoa itu terbalik, mungkin dia akan merasa pusing, mual, jantung berdebar-debar, seluruh cairan tubuhnya menjadi terbalik dan fungsi-fungsi kelenjar/organnya menjadi terhenti (nii masih mungkin yah…hehehehe…) dan akhirnya matilah dia.

Satu hal yang kupelajari dari sang kecoa, selama dia masih mau dan berusaha menggerak-gerakan tubuhnya untuk mengembalikan posisi tubuhnya, selama itulah dia masih memiliki peluang untuk selamat bahkan untuk hidup. Dan saat dia udah menyerah, berhenti berusaha karena kelelahan mungkin atau karena terlalu berat baginya, maka bisa dipastikan sang kecoa akan menemui ajalnya.

Aku jadi berpikir ada persamaan juga yah dalam hidupku dengan kecoa itu. Mungkin bukan secara harafiah badanku terbalik, tetapi bisa saja tiba-tiba kondisi ekonomi keluargaku berbalik 1800, atau kondisi imanku berada di level terendah, atau mungkin studiku lagi kacau balau, hubunganku dengan orang lain (pacar, orang tua atau sahabat) lagi kacau karena suatu masalah, dan “posisi” terbalik lainnya. Bukankah sama aja yah kondisinya?

Berjuang hingga akhir, mungkin itulah yang bisa aku pelajari dari sang kecoa sebelum dia menemui ajalnya (makasih yah kecoa….hehehehhe). Kecoa itu gigih berusaha walaupun akhirnya aku balikan lagi tubuhnya, hingga akhirnya dia terlalu lelah untuk berusaha. Tetapi jangan salah, ada juga loh kecoa yang aku “begitukan”, berhasil membalikan tubuhnya dan lari dari kejaranku, dan tetap hidup!

Perjuangan memang sangat berat, akan tetapi perjuangan itu pasti menghasilkan. Perjuangan memberikan kita kesempatan untuk tetap “hidup”.

Aku coba membayangkan seandainya aku berhenti berjuang untuk tugas akhirku, mungkin besok atau sampai kapanku aku enggak akan bisa sidang untuk kelulusan. Seandainya saja aku berhenti berjuang untuk belajar mungkin aku enggak akan bisa mendapatkan sesuatu yang berharga. Seandainya aku berhenti berjuang untuk memperbaiki hubunganku dengan orang-orang terdekatku, pasti aku telah kehilangan mereka. Dan seandainya aku berhenti untuk berjuang mengejar pemulihan mungkin untuk selamanya aku dalam keterpurukan.

Kayaknya segala sesuatu butuh perjuangan deh, bahkan hal sederhana seperti bernafas juga membutuhkan perjuangan, berjuang untuk mendapatkan oksigen sebanyak dan secukup mungkin untuk paru-paru kita. Seandainya saja kita merasa malas untuk bernafas apa jadinya coba?

Untuk sebuah hubungan, akan sangat terasa perjuangan itu. Bagaimana kita berusaha untuk tetap kontak dengan orang terdekat kita (pacar, keluarga, sahabat, de el el). Bagaimana kita berusaha untuk saling menjaga hubungan kita satu sama lain. Berjuang untuk tidak menyakiti satu sama lain secara sengaja maupun tidak dan berjuang untuk memperbaiki hubungan yang agak retak, retak atau sudah hancur sama sekali. Dan enggak jarang lho yang pada akhirnya cenderung untuk menyerah dan pasrah pada keadaan.

Saat kecoa itu pasrah dan menerima keadaan, maka bisa dipastikan sang kecoa itu mati. So gimana dengan kita, apakah saat kita menyerah dan pasrah kita akan mati juga?

Bisa iya, bisa tidak. Saat kecoa itu sudah kelelahan, dia diam tergeletak tak berdaya dengan tatapan memohon belas kasihan ke aku (hahaha… masa sih). Bisa jadi selamat karena aku berbaik hati membalikan tubuhnya lagi, atau karena aku menyemangati dia untuk berusaha lagi (wahhh..lebay deh….hehehehhe)

Ternyata saat memandang ke pribadi yang tepat, saat itulah muncul pengharapan baru, kekuatan baru mungkin kesempatan untuk “hidup” yang baru. Saat kita memandang kepada Dia, bisa jadi Dia dengan cepat membalikan “tubuh” kita. Bisa juga dia kasih semangat ke kita untuk tetap berusaha segenap tenaga.

Seringkali kita menunggu untuk menjadi terlalu lelah dulu baru bersandar kepada Dia. Padahal kalo saja kita memandang Dia lebih cepat, lebih cepat juga kita akan pulih dan lebih cepat kita akan mampu membalikkan “tubuh” kita.

FOSters, kalian tahu kalo Allah sanggup membalikan keadaan kita yang terpuruk dengan cepat, Dia sanggup melakukan pemulihan dengan cepat, bahkan Dia sanggup bukan saja mengembalikan kondisi kita, tetapi membawa kita ke level yang lebih tinggi.

Tetapi kenapa kadang seakan-akan God “menunggu” untuk melakukan semuanya itu, Apa sih yang Dia tunggu? kenapa Dia harus “menunggu” untuk melakukan semuanya itu?

Bagiku 2 hal, pertama ada karakter yang sedang dia bentuk dan yang kedua adalah Dia menunggu supaya kita terlalu lelah mengandalkan kekuatan diri sendiri, sehingga pada akhirnya kita memandang dan berseru kepada Dia. Itulah yang Dia tunggu.

Pertanyaannya adalah apakah yang sedang engkau tunggu?

Ditulis Oleh KSW_FOS Community

Comments

comments