Beberapa tahun sudah berlalu sejak peristiwa runtuhnya istana kaca dan raja terdahulu sudah kembali ke tahtanya dan meredakan kekacauan. Dan sang raja yang gagal, kembali ke kehidupannya semula sebagai petani. Jika dulu dia selalu mengomel tentang hidupnya, petani ini sekarang perlahan-lahan mulai mensyukuri hidupnya dan berbahagia mengolah ladang kecil di pojok kerajaan.

Sampai tiba harinya raja datang kembali ke rumahnya. Kali ini petani tidak kaget lagi, dia justru takut dan cemas karena dia tahu apa tujuan raja datang ke rumahnya. Dan ketakutannya memang menjadi kenyataan karena raja memintanya untuk bertukar tempat dengannya lagi. Berbeda dengan dulu dimana petani langsung menyambar kesempatan ini tanpa pikir panjang, kali ini petani justru enggan untuk menyetujui pertukaran ini.

“ Aku sudah puas dengan kehidupanku sekarang. Memang tak banyak yang bisa kulakukan tapi hidupku tenang dan damai. Kenapa aku harus mengambil kehidupan sebagai seorang raja?”

“ Karena kau tidak ditakdirkan untuk hal yang biasa-biasa saja tapi ada takdir besar yang menunggumu. Tentu saja menjadi petani pun hal yang baik, tapi kau mempunyai potensi yang melebihi hal itu dan akan sangat menyedihkan kalau kau menyia-nyiakan potensi itu”, jawab raja.

“ Haruskah aku kembali ke kerajaanmu? Tidak bisakah aku pergi ke kerajaan lain? Mungkin penduduk di kerajaan lain tidak akan mengetahui kegagalanku dan mungkin mereka akan menerimaku dengan baik?”

“ Kau bisa saja pergi ke kerajaan lain dan memulai pemerintahan baru disana, tapi itu tidak berarti kerajaanmu akan aman. Lagipula peristiwa runtuhnya menara kaca itu menjadi berita hangat dimana-mana. Kau tidak akan pernah tahu apakah berita itu sampai ke kerajaan lain atau tidak. Dan mungkin suatu hari nanti berita kegagalanmu akan membuat mereka menghancurkan lagi istana kaca yang kau diami disana”

“ Tapi jika aku kembali ke kerajaanmu, bagaimana aku bisa memerintah? Pendudukmu sudah mngetahui kegagalanku dan mereka akan menolakku. Apa gunanya aku menjadi raja kalau mereka menolakku?”, tanya petani itu.

“ Kalau kau mau, aku bisa menggunakan otoritasku sebagai raja untuk membuat mereka mematuhimu sebagai penggantiku. Tapi, kau harus tahu, mereka akan mematuhimu bukan karena otoritasmu tapi otoritasku. Mereka akan mematuhimu bukan karena mereka menghormatimu tapi karena kedudukanmu sebagai raja yang kuwariskan”

“ Bagaimana aku bisa meminta mereka untuk menghormatiku?”, tanya petani itu lagi.

“ Kau tidak bisa meminta mereka untuk menghormatimu. Orang terhormat tidak perlu meminta ntuk dihormati orang lain. Kalau dia memang orang terhormat, tanpa diminta pun orang akan menghormatinya. Orang yang meminta dihormati bukan orang terhormat, melainkan orang yang gila hormat”

“ Tapi, bukankah kau sendiri yang mengatakan kalau tanpa kepercayaan rakyat tidak akan ada negara? Jangankan menghormatiku, mereka bahkan melemparkan batu ketidakpercayaan padaku. Bagainana aku bisa meminta mereka mempercayaiku?”

“ Betul, mereka tidak percaya lagi padamu. Reruntuhan istana kaca itu adalah bukti yang sangat nyata atas ketidakpercayaan mereka. Kau harus mengerti, kepercayaan bukanlah sesuatu yang diminta dan diberikan. Kepercayaan adalah sesuatu yang harus kau usahakan. Kau tidak meminta seseorang mempercayaimu, kau berusaha menunjukkan kalau kau bisa dipercaya.”

“ Tapi, bagaimana aku bisa membuat mereka mempercayaiku? Apa yang harus kulakukan untuk membuat mereka mempercayaiku lagi?’

“ Kali ini aku tak bisa membantumu, itu sesuatu yang harus kau pikirkan sendiri. Tapi akan kuberi beberapa petunjuk, mengakui kesalahanmu dan meminta maaf adalah langkah awal yang benar. Kegagalanmu akan menyertaimu sepanjang hidupmu dan orang akan selalu membicarakan hal itu. Menutupi hal itu dan berharap orang melupakan sama saja dengan menyiapkan tumpukan batu siap lempar di depan istana kaca yang akan kau bangun”.

“ Dan kau harus melakukan sesuatu yang berharga yang melebihi semua kegagalanmu. Seberapa besar kegagalanmu, sebesar itu jugalah kau harus menanggungnya dan melakukan hal yang melebihi kegagalan itu. Sampai suatu hari nanti orang bisa berkata tentang dirimu bukan lagi “ dia orang gagal” melainkan “ Dulu dia orang gagal, tapi sekarang…..”. Kegagalanmu di masa lalu tak akan pernah hilang, tapi bukan berarti masa kini dan masa depanmu hilang”

Petani itu merenungkan hal itu. Dia tahu kalau dia bisa memilih untuk hidup tenang di pertaniannya atau pergi ke kerajaan lain. Tapi dia juga tahu kalau itu hanya mengubur kegagalannya dan menjauhi takdirnya. Dia tahu apa yang harus dia lakukan sekarang tapi dia juga tahu kesusahan yang akan menimpanya.

Esok harinya, sementara raja tidur di pondoknya, petani ini pergi ke kota untuk melakukan apa yang harus dia lakukan.Tentu saja penduduk kota mengenali bekas raja mereka yang gagal ini dan mereka mengolok-oloknya, beberapa bahkan mencoba mengusirnya pergi. Tapi petani ini tetap pergi ke tempat dia harus pergi, yaitu ke reruntuhan istana kacanya. Istana kacanya yang dulu megah sekarang hanya tersisa puing-puing.

Tanpa mempedulikan penduduk kota yang mengejeknya, petani ini mengambil puing-puing kaca satu demi satu dan merekatkannya kembali. Berhari-hari dia melakukan hal itu, merekatkan pecahan kaca dan membangunnya kembali. Seringkali bangunan yang baru dibangunnya itu kembali harus hancur karena ada penduduk kota yang melempar batu ketidakpercayaan, tapi petani ini mengambil kembali serpihan kaca yang hancur dan merekatkannya.

Sampai tiba harinya dimana kehormatan dipulihkan dan kepercayaan dinyatakan adalah hari dimana istana kaca kembali berdiri. Dan raja sejati memenuhi takdirnya.

Ditulis oleh Tukang Bakmi

Comments

comments