Ah…tangannya melepuh lagi. Pegangan pacul dari kayu itu terlalu kasar bagi kulitnya.

Ah…matahari sudah tinggi dan bajunya lengket menempel karena keringat.

Sambil menghapus keringat dari dahinya, pria di tengah ladang itu memutuskan untuk beristirahat sejenak. Wajahnya tampan dan kulitnya putih, bukan penampilan seorang petani. Parasnya lebih cocok sebagai putra bangsawan atau anak orang kaya. Dan sebenarnya, dia memang tidak terlahir sebagai petani.

Beberapa tahun yang lalu, hidupnya tidak sesulit ini.Dia tidak perlu bersusah payah mengolah tanah ini. Di rumah ayahnya,segala sesuatu yang dia inginkan tersedia. Tak ada kesusahan dan kelelahan, luka dan rasa sakit. Yang dia tahu hanya sinonim dari kata nyaman, tapi tak pernah sedetikpun dia belajar antonim dari kata itu.

Tapi, semua itu sudah lewat bertahun-tahun yang lalu.

Semuanya karena kesalahan salesman licik itu. Dia datang ke rumahnya, menawarkan keuntungan yang luar biasa kalau saja dia mau mengkhianati ayahnya. Salesman itu membujuknya untuk menyingkirkan ayahnya dan mengambil alih pengelolaan perusahaan ke tangannya sendiri. Untuk menentukan sendiri kemana dia harus membawa perusahaan itu daripada mendengarkan instruksi ayahnya.

Oh, harusnya dia sadar betapa berbisa lidah ular salesman itu.
Tapi, istrinya yang pertama kali mendengar proposal dari salesman itu tertarik karena tampaknya proposal itu sangat luarbiasa.
Perempuan bodoh, pikir pria itu.
Kalau saja perempuan itu tidak mendengarkan salesman itu, keadaan mereka tidak akan seperti ini. Ayahnya tidak akan mengusir mereka dari rumahnya dan mereka tidak akan terdampar ditempat berdebu ini.
Semua ini salah perempuan itu!

Pria itu menghela nafas.

Tidak, tidak….ini bukan salah istrinya. Dia tahu itu.
Harusnya dia sendiri tahu hal yang lebih baik daripada mendengarkan salesman itu. Harusnya dia melarang istrinya mendengarkan salesman itu. Harusnya dia juga tidak mengikuti saran dari salesman itu. Tapi, dia juga melakukannya. Dan yang lebih parah lagi, ketika ayahnya mengkonfrontasi kudetanya, dia takut dan menyalahkan istrinya.

Oh, seandainya saja dia memilih untuk bersikap jantan dan mengakui kesalahannya daripada bersembunyi di balik punggung istrinya. Kalau saja dia meminta maaf kepada ayahnya, mungkin dia tidak perlu berakhir seperti ini.

Pria itu menghela nafas lebih dalam.

Sekarang, dia harus belajar semua antonim dari kata-kata yang dikenalnya selama tinggal di rumah ayahnya.
Kata – kata yang asing, emosi dan perasaan yang asing yang baru dikenalnya sekarang.
Keringatnya menjadi dingin dan tubuhnya terasa kaku ketika dia melihat kelahiran anak pertamanya. Darahnya terasa berhenti mengalir dan semua indranya menjadi tumpul ketika dia melihat penderitaan istrinya waktu melahirkan. Dan untuk pertamakalinya pria ini berpikir bagaimana kalau seandainya istrinya meninggal ? Bagimana kalau dia harus hidup sendirian di dunia asing ini ? Bagaimana kalau dia kehilangan cinta dalam hidupnya? Perasaan menekan yang pertama kali dirasanya itu tidak pernah dikenalnya. Pria itu memberinya nama, ketakutan.

Setiap pagi pria itu pergi ke ladangnya dan mengolah tanahnya.
Setiap pagi dia melihat kuncup-kuncup baru muncul.Kuncup-kuncup yang akan menjadi makanan keluarganya nanti. Dan terkadang pria itu melihat ke langit dan melihat awan gelap bergantung dan hatinya merasa tertekan. Mulutnya terasa kering dan kepalanya tidak bisa berpikir jernih. Bagaimana kalau seandainya awan itu awan badai ? Bagaimana kalau kuncup yang baru tumbuh ini terhapus badai ? Apa yang akan di makan keluarganya nanti ?

Emosi yang asing yang tidak pernah dikenalnya ini meremas hatinya. Dulu, dia tidak pernah berpikir darimana makanannnya akan datang, semua tersedia di rumah bapanya. Tapi sekarang?
Pria itu memberi nama emosi baru ini, kekuatiran.

Dan bagaimana dengan teman-teman berbulu berkaki 4-nya? Teman-teman yang dulu menjadi teman bermainnya tapi sekarang berkeliaran di hutan dekat rumahnya dengan mata merah dan raungan tak ramah. Bagaimana kalau seandainya mereka melukai istrinya? Anaknya? Dunia di rumah ayahnya terasa tenang dan damai. Tapi, dunia yang didiaminya sekarang terasa berbahaya dan mengancam. Perasaan tidak tenang yang membuatnya lelah karena memikirkan hal-hal yang jelek itudiberinya nama, rasa tidak aman.

Emosi paling baru yang dikenalnya bukan dirasakannyasendiri, tapi dilihatnya di mata anak pertamanya. Semuanya bermula ketika kedua anaknya berkunjung ke rumah ayahnya, kakek mereka. Sepertinya, ayahnya lebih menyukai anak keduanya dan anak pertamanya pulang dengan muka murung. Tapi bukan hanya kemurungan yang dilihatnya, tapi juga emosi baru yang dilihatnya di mata anaknya.Emosi yang diberinya nama, iri.

Dan pria itu merasa kuatir, apa yang akan terjadi pada masa depan anak-anaknya ? Dia takut akan apa yang diperbuat anak pertamanya pada anak keduanya. Keluarganya tidak lagi terasa aman karena ada sesuatu yang seolah-olah siap meledak. Sesuatu yangdiberinya nama, kebencian.

Keterpisahannya dari ayahnya membuat semua emosi baru itu muncul. Antonim dari semua yang pernah dikenalnya, rasa takut,kekuatiran akan masa depan, rasa tidak aman di tengah dunia.

Tuhan tahu semua perasaan tidak aman itu muncul karena kita terpisah dariNYA. Seperti anak-anak yang terlepas dari tangan ayahnya dan tersesat di tengah kerumunan orang-orang, kita ketakutan dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi. Kita berjalan mencari ayah kita dan berakhir semakin tersesat di tengah kerumunan. Kita memegang tangan orang lain yang bukan ayah kita dengan harapan dia akan memberi kita rasa aman tapi berakhir dengan penolakan, atau lebih parah, dibawa semakin menjauh dari ayah kita yang sebenarnya.

Yang kita inginkan bukan permen manis, bukan tangan orang asing untuk kita pegang, bukan rasa kebebasan untuk pergi kemanapun. Yang kita inginkan adalah memegang kembali tangan ayah kita dan tahu bahwa segalanya akan baik-baik saja. Bahwa tangan kita dipegangNYA dan kita dituntunNYA melewati kerumunan yang membingungkan ini. Bahwa kita berjalan dengan tujuan dan bukan berputar-putar di tempat yang sama.

Dan Tuhan tahu itu. Karena itu dia berjalan menerobos kerumunan dunia untuk mencari kita, untuk memegang kembali tangan yang dulu melepaskanNYA. Saat kita mengulurkan tangan padaNYA, dia memegang tangan kita dan berkata, “Sebab Aku ini, TUHAN, Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu: Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau” (Yesaya 41:13)

 

Ditulis Oleh Tukang Bakmi

Comments

comments