SIMPLE

Maz 116:6

“TUHAN memelihara orang-orang sederhana; aku sudah lemah, tetapi diselamatkan-Nya aku.”

Renungan ini kami dapatkan dari advisor rohani kami, kak Oky Arfianto. Sebuah insight yang menarik untuk sama-sama direnungkan oleh anak-anak Tuhan.

Firman Tuhan ini bilang “Tuhan memelihara orang-orang sederhana”. Apa artinya “orang-orang sederhana” di sini? Ternyata Firman Tuhan nggak memaksudkan “sederhana” dalam artian miskin atau nggak punya apa-apa. Kita lihat arti kata “orang-orang sederhana” ini dalam alkitab bahasa Inggris terjemahan NIV dan KJV.

New International Version (©1984)

The LORD protects the simple-hearted; when I was in great need, He saved me.

King James Bible

The LORD preserveth the simple: I was brought low, and He helped me.

Ternyata kata-kata “orang-orang sederhana” dalam alkitab bahasa Inggris menggunakan kata-kata “simple-hearted” dan “the simple”.

Firman Tuhan ini mau bilang sama kita bahwa Tuhan menjaga orang-orang yang “simple”, baik secara hati, maupun secara sikap. Artinya menjadi “simple” adalah “tidak complicated” atau “tidak rumit.”

Guys, kalo hati kita mulai jadi “complicated”, kita akan kehilangan rasa pemeliharaan dari Tuhan. Karena apa? Karena kita mulai mengukur segala sesuatunya berdasarkan kerumitan hati kita itu, bukan lagi pada suara Tuhan yang me-rhema saat kita berserah pada Bapa dan bilang “up to You, Lord. Here I am as simple as You want.” Sekalipun Tuhan tetap menjaga dan memelihara kita, tapi akan sulit bagi kita untuk merasakan pemeliharaan-Nya itu. Saat itulah kita mulai “menjadi lemah”, tetapi itu adalah cara Bapa untuk mengembalikan hati kita supaya bisa “simple” lagi, seperti yang Firman-Nya katakan “I was brought low, and He helped me.”

I was brought low…” dalam bahasa Indonesia “Aku sudah lemah”, menunjukkan betapa letihnya kita membawa hati yang “complicated”. Hati yang rumit akan membuat kita kehausan akan penerimaan, kehausan akan perhatian, kehausan akan penjelasan untuk segala hal yang terjadi, dan kebutuhan yang besar untuk dipuaskan; “I was in great need”. Dan, hal ini sangat melelahkan.

Apa jadinya jika kita punya sahabat yang begitu “complicated”? Persahabatan itu akan terasa melelahkan buat kita, juga buat sahabat kita sendiri. Sahabat kita akan selalu menuntut untuk ini dan itu, sedangkan kita tidak akan mampu memenuhi segala kehausannya itu. Kalo kita yang menjadi sahabat yang “complicated”, dengan siapapun kita membangun hubungan, hubungan itu akan selalu diwarnai keributan, perselisihan, ketidakpuasan, dan tuntutan yang tiada habisnya. So, tidakkah kita lelah dengan keadaan itu? Mulailah memiliki hati yang “simple”.

Dengan hati yang “simple”, kita akan lebih menikmati hidup karena merasakan pemeliharaan Bapa dengan sempurna tanpa terhalang hal-hal yang rumit dalam hati kita. Dengan begitu juga, kita akan menikmati hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita yang kita kasihi. Kalo Firman Tuhan bilang “ampuni”, maka ampunilah saat itu juga, tanpa harus memperdebatkan siapa yang salah. Kalo Firman Tuhan bilang “kasihi”, maka kasihilah tanpa syarat apapun. Sesederhana itulah hidup Kristen berjalan, jangan membuat rumit pada apa yang sederhana.

Keep simple… be powerful! God bless us.

Comments

comments