Suatu saat aku diajak mampir sama papa untuk beli makanan burung. Di tempat itu, banyak sekali burung-burung yang dikurung dalam sangkar. Dan beberapa dari burung itu aktif berloncatan, ke kiri, ke kanan, ke atas, dan ke bawah, sembari mengepak-ngepakan sayap mereka.

Tiba-tiba terpikirkan suatu hal, seandainya burung itu dikurung dalam sangkar begitu lama, bahkan mungkin semasa hidupnya, kira-kira saat dilepaskan dari sangkar ke alam liar, apakah mereka dapat terbang dengan baik dan leluasa ?? Apakah sayap-sayap mereka masih bisa berfungsi dengan baik yah ??

Hayooo dijawab atuh, kira-kira bisa nggak yah ??

Jawabannya adalah BISA, karena aku melihat dengan mataku sendiri, burung yang telah lama dikurung dalam sangkar, saat dilepaskan, dia terbang, walaupun butuh beberapa menit untuk melatih sayapnya.

Burung itu bisa terbang, karena memang pada hakikatnya burung itu makhluk yang diciptakan untuk terbang (tentu saja selain burung penguin dan burung unta yah..hehehe). Burung memang diciptakan Tuhan untuk menghiasi langit dengan keindahan bulu dan sayapnya. Entah seberapa lama burung itu dikurung dalam sangkar, yang bahkan kecil sekalipun, yang mengkungkung kebebasannya untuk dapat terbang, pada saatnya dia dilepaskan atau melepaskan diri dari sangkar itu, dia pasti akan terbang juga. Itulah gunanya sayap pada burung.

Fosters, pernah terpikirkan nggak di benak kamu, apakah pembunuh sadis yang melakukan mutilasi pada setiap korbannya bisa menangis saat ada seseorang yang mengasihi dia, atau bahkan bisakah seorang mafia bayaran bengis dan terkenal kejam menunjukan kasihnya kepada nenek renta untuk menyebrang jalan ?

Aku percaya bahwa kasih adalah hakikat kita, sama seperti burung yang memilik sayap untuk bisa terbang, Tuhan memberikan kita hati untuk bisa mengasihi. Allah adalah kasih, dan karena kita segambar dan serupa dengan Dia, maka harusnya kita juga mewarisi kasih itu. Kasih itu bersifat kekal dan itulah hakikat kita.

Kadang permasalahan hidup yang berat, berada dalam keluarga yang sama sekali tidak menunjukan kehangatan kasih keluarga, berada di lingkungan kerja yang saling sikut dan bos yang galak, jauh dari orang tua, jauh dari rumah, jauh dari sahabat-sahabat yang mengasihi dan kita kasihi, dan belum menemukan pasangan hidup yang dari Tuhan, membuat kita tidak bisa “mengepak-ngepakkan” sayap kasih kita. Semua itu mengekang kita, membuat hati kita beku, membuat kasih seakan-akan jauh dari hidup kita, dan nggak jarang membuat kita frustasi bahkan beberapa orang rela mengakhiri hidupnya hanya karena tidak ada yang mengasihinya atau karena cintanya ditolak sang pujaan hati. Belenggu-belenggu dan “sangkar” itu acapkali membuat kita lupa bagaimana mengasihi dan mengerti apa kasih itu. Kasih menjadi dingin, hati menjadi mati rasa dan hidup menjadi sangat tidak nyaman. Tidak ada yang betah di dalam “sangkar”, bahkan burungpun ingin bebas dari sangkar.

Tapi jangan lupa, kalo kasih itu bersifat kekal di hidup kita, karena kasih adalah hakikat kita, Love is a life. Have a love to get a life, and have a life to give a love. Selama masih ada hati, kita masih sangat mungkin untuk mengasihi. Akan ada saatnya pintu “sangkar” itu dibuka, dan kita bisa dengan bebas “mengepak-ngepakan” hati kita untuk kembali merasakan kasih itu. Bahkan saat kita di dalam “sangkar” itupun toh kita masih bisa melatih “mengepak-ngepakkan” sayap kasih kita.

Seberat apapun masalah mengurung hati kita, sebesar apapun “teralis-teralis” kehidupan berusaha mematikan kasih kita, jangan sampai kasih kita menjadi dingin. Bukalah hatimu selebar-lebarnya di dalam sempitnya “sangkar” yang ditempatkan untuk kita. Karena dibalik masalah yang menghimpit dan cukup sempit itu ada kasih yang senantiasa ada untuk kita, Kasih yang besar dan tak terhingga.

Kita ada karena kasihNya. Dan kita ada untuk mengasihi Dia dan sesama kita, tidak peduli “sangkar” apa yang coba mengurung kita. Karena kasih adalah hakikat, dan kasih itu melampaui segala sesuatu.

Selama burung masih memiliki sayap, dia masih dapat terbang walaupun terkurung sedemikian lama. Selama kita masih memiliki hati dan memiliki Yesus yang akan mengasihi kita selama-lamanya, selama itulah kasih itu akan dan harus terpancar dalam hidup kita.

Karena Allah adalah kasih, dan kita adalah anakNya.

“Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. “ (1 Yohanes 4:7-8)

Ditulis oleh KSW_FOS Community

Comments

comments