donkeyandthecarrotAda yang suka baca Donal? Bukan…bukan selebaran paket diskon burger tapi Donal Bebek dan 3 keponakannya. Pertama kali saya baca Donal waktu kelas 1 SD, waktu itu harganya masih 750 perak per majalah. Sekarang sih udah enggak baca lagi soalnya majalah Donal yang sekarang udah enggak serame dulu jadi males mau beli juga.

Apa tulisan saya sekarang bakalan ngebahas Donal? Ngga…saya cuma ngomongin Donal soalnya ada satu cerita di Donal yang pengen saya ceritain. Ceritanya Donal punya 1 keledai yang pemalas dan enggak mau kerja. Biarpun dimarahin dan dipaksa, tetep aja keledai ini enggak mau jalan. Pokoknya keras kepala banget keledai ini sampe Donal putus asa. Untungnya keponakannya, yang selalu lebih pinter dari si Donal ini, punya ide. Mereka gantung wortel di ujung pancingan kemudian wortel ini diayun-ayunkan di depan si keledai. Keledai ini yang ngeliat wortel di depan mata tentu saja jadi pengen makan dan berusaha maju ngambil wortel itu dan akhirnya mau jalan. Tentu saja karena wortel itu digantung di tongkat pancingan, mau jalan sejauh apapun tetep aja mulut keledai itu enggak akan pernah bisa ngegigit wortel yang berayun-ayun di depan matanya.

Pertanyaannya, apakah keledai itu sekarang jadi keledai baik-baik? Apakah keledai itu layak dipuji sebagai keledai yang rajin dan kalau perlu dijadikan teladan bagi para keledai lain? Apakah keledai ini berhak mendapat sebutan Keledai of The Year dan muncul di majalah Time sebagai salah satu Keledai Berpengaruh Abad 21? Atau muncul di acara Oprah sebagai Keledai Yang Peduli Kekeledaian?

Tentu saja keledai ini memang terlihat sangat rajin dan patuh, disuruh jalan ya jalan, disuruh belok ya belok. Masalahnya, keledai ini berjalan karena ada wortel yang berayun di depan matanya. Selama wortel itu masih berayun di depan matanya, bagaimana kita tahu kalo keledai ini bekerja karena memang dia keledai yang baik dan bukannya bekerja karena ingin makan wortel? Tentu saja keledai ini bisa bertapa, ikut seminar pengendalian diri ataupun menyangkal keberadaan wortel tapi selama wortel itu masih tergantung di depan mata, bisakah kita 100% mengatakan kalau keledai ini memang keledai yang tulus bekerja dengan rajin?

Ketika seekor keledai berjalan karena menginginkan wortel, tentu saja ini hal yang wajar, tetapi itu tidak menjadikan pekerjaannya sebagai sesuatu yang spesial dan itu tidak menjadikan dirinya sebagai Keledai Terajin. Kenapa? Karena pekerjaan yang dilakukannya tidak dilakukan karena dirinya rajin tetapi karena dia melakukannya untuk dirinya sendiri, untuk makan malamnya.

Selama kita masih mengejar surga, selama surga itu terus berada di luar jangkauan kita dan berayun-ayun di depan mata kita, perbuatan baik apapun yang kita lakukan enggak akan pernah ada artinya. Inilah penyebab utama kenapa kita tidak bisa memperoleh surga lewat perbuatan baik, karena perbuatan baik apapun yang kita lakukan untuk memperoleh surga pada akhirnya menjadi dosa baru yaitu keegoisan. Ketika seseorang menolong orang lain untuk kepentingannya sendiri, apakah para malaikat bersorak dan Tuhan tersenyum?

Tentu saja kita bisa melatih diri kita dan berusaha tidak egois, masalahnya selama surga itu masih berayun-ayun di depan mata kita, bisakah kita dengan yakin mengatakan kalau kita berjalan sepenuhnya karena kita tulus dan bukannya karena menginginkan surga? Mustahil, selama wortel itu masih bergantung di depan mata, tak ada seorangpun dari kita yang akan bisa yakin kalau motivasi kita untuk berbuat baik sedikit pun bukan karena wortel.

Dan Tuhan tahu itu, sudah terlalu banyak manusia yang datang kepadaNYA dan sambil berlutut, mereka mengeluarkan cincin berlian dan berkata,” Menikahlah denganku. Aku akan memberikan cincin kawin ini untukMU tapi sebagai gantinya Kau harus mengurus rumahku,membersihkan, memasak dan mencucikan bajuku. Terimalah lamaranku…”. Pada dasarnya, yang manusia tawarkan pada Tuhan bukanlah kasih melainkan proses perekrutan pembantu dan negosiasi harga supaya rumah kita tetap bersih, sehat dan aman. Tidak heran Tuhan berkata kalau semua perbuatan kita yang terbaik hanya berupa kain kotor di mataNYA.

Kembali kepada keledai tadi, sekarang pemiliknya udah ganti, bukan Donal lagi tapi Yesus. Dan apa yang Yesus lakukan? Dia mengambil wortel di ujung pancingan dan memberikannya pada keledai tadi. Astaga, bodo banget??? Kalo gitu kan keledainya enggak akan mau jalan lagi kalo udah enggak ada wortel di depan mata. Bahkan bukan cuma enggak mau jalan tapi mungkin malah hidup seenaknya. Mungkin keledai tadi malah sibuk ngejar-ngejar keledai betina dan bukannya kerja. Atau malah beli obat yang engga-engga dari keledai berjaket kulit,berkacamata hitam dan bertato di belokan jalan ( catatan: tidak berarti semua keledai berjaket kulit,berkacamata hitam dan bertato pengedar…) .

Tentu saja Tuhan tahu itu, ketika dia memberikan surga dengan syarat yang amat sangat super duper kebangetan gampang sekali yaitu cukup mengakui Dia sebagai Tuhan, tentu saja Tuhan tahu resikonya. Tapi yang Dia inginkan adalah manusia yang datang kepadaNYA karena mengasihiNYA dan bukan manusia yang datang dengan membawa formulir perjanjian pembantu.

Dan ketika wortel itu Tuhan hilangkan dari hadapan mata kita, sekarang kita bisa melihat dengan jelas. Kita bisa memutuskan apakah kita ingin mengikut Tuhan karena kita ingin mengikut Dia atau karena wortel di sakuNYA.Apakah kita keledai baik-baik ataukah keledai oportunis. Keputusan Tuhan untuk memberikan keselamatan di tangan kita dengan gratis membuka pintu bagi kita untuk menjadi manusia yang lebih baik. Untuk menjadi seperti Tuhan yang melakukan segala sesuatu karena kasih dan bukan karena keegoisan. Untuk memberikan cincin pertunangan berlian dan bukannya formulir perjanjian. Dan untuk mengatakan “Aku mengasihi Tuhan” tanpa harus menggigit lidah sendiri.

Mungkinkah kita sepenuhnya menjadi manusia yang tidak egois? Enggak mungkin juga, sampai kita mati pun kita enggak akan pernah mempunyai hati yang bener-bener murni. Apapun perbutan baik yang kita lakukan, sedikit banyak pasti akan selalu disertai keinginan –keinginan lain. Mungkin kita tidak lagi melakukan perbutan baik untuk mencicil KPR kita di surga, tapi mungkin kita melakukan perbuatan baik karena mengharapkan berkat, karena kita menginginkan penghormatan dan penerimaan orang lain, karena kita ingin menjadi seseorang yang berarti dan nama kita terukir dengan tinta emas dalam sejarah.

Kalau begitu apa bedanya kita dengan orang lain yang melakukan perbuatan baik untuk mencapai surga, bukankan pada akhirnya kita semua makhluk egois? Nope, ada perbedaan yang sangat jelas. Sama jelasnya dengan perbedaan seseorang yang membayar pelacur dan seorang suami yang memberikan hadiah pada istrinya. Membayar surga dengan perbuatan baik membatasi kita untuk selamanya dalam hubungan jual beli. Hubungan ini enggak akan pernah menjadi hubungan kasih karena pada dasarnya memang jual beli, aku memberi A dan Kau memberi B. Tapi, ketika wortel itu dihilangkan, hubungan kita dengan Tuhan bukan lagi jual beli karena enggak ada barang yang harus Tuhan berikan pada kita dan enggak ada barang yang harus kita berikan pada Tuhan. Hubungan kita dengan Tuhan sekarang menjadi hubungan kasih dan kita punya kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik yang mengikut Tuhan karena kita mengasihiNYA. Tentu saja akan ada keegoisan dalam hubungan kasih kita dengan Tuhan tapi berapapun keegoisan itu enggak akan bisa merubah hubungan kasih menjadi jual beli. Sama enggak mungkinnya berapapun kasih yang terlibat bisa merubah hubungan jual beli menjadi kasih.

Sebagai tambahan, ada satu pertanyaan lagi yang pengen saya share. Seandainya perbuatan baik enggak bisa menebus surga, bagaimana dengan hukuman? Bisakah kita menebus surga dengan hukuman? Mungkin dengan cara menyakiti diri sendiri atau mungkin diam di neraka beberapa ratus tahun? Well, kita ganti saja wortelnya dengan tendangan. Apakah keledai tadi berjalan karena tendangan atau karena dia keledai baik-baik? Apakah kita menjalani hukuman karena kita menyesali kesalahan kita ataukah karena keegoisan kita mengejar surga? Dan seandainya kita mau menerima hukuman bukan karena menyesal melainkan karena keegoisan kita, bukankah dosa egois ini juga harus dihukum? Dan jika kita mau menerima hukuman dosa egois ini karena kita menginginkan surga bukankah berarti kita melakukan dosa double egois? Dan bukankah dosa double egois ini juga harus dihukum? Dan seandainya kita menerima hukuman dosa double egois ini karena kita menginginkan surga bukankah berarti kita melakukan dosa triple egois? Dan bukankah dosa triple egois ini juga harus dihukum? Dan seandainya kita mau menerima hukuman dosa triple egois ini………………….

Info tambahan : Wortel banyak mengandung vitamin A dan baik untuk mata.  Keledai enggak

Tukang_Bakmi

Comments

comments