Sambil berjalan perlahan, dengan kaki yang sudah keriput dan tidak lagi bertenaga, Abraham pergi ke belakang kemahnya. Di sana tampak segundukan tanah dengan batu besar di atasnya. Sambil terdiam, Abraham berdiri di depan gundukan tanah itu dan meraba-raba batu besar itu, hanya terdiam dan menghela nafas.

Setiap hari Abraham mengunjungi gundukan tanah itu dan berharap ada keajaiban. Terkadang ada hari dimana dia percaya akan ada keajaiban dan ada hari-hari dimana Abraham ingin melupakan segalanya. Dan seiring bertambahnya garis-garis keriput di mukanya, hari-hari di mana dia merasa putus asa terasa lebih sering dan lebih panjang.

Abraham mengusap lagi batu besar itu, hanya ada sebaris kata-kata di batu itu. Kata-kata yang diukirnya sendiri…. “Di sini terbaring mimpi Abraham untuk mempunyai anak.”

Daud tidak ingin melihat gundukan tanah itu. Kalau bisa, dia tidak ingin dekat-dekat dengan gundukan tanah itu. Tapi, gundukan tanah itu ada di tempat kerjanya, tempat dia menjaga para penggembala domba dari serangan perampok.  Setiap hari dia bangun dan pergi dan duduk di depan gundukan itu, berusaha melupakan tapi setiap beberapa saat matanya selalu tertuju kembali ke sana.

Tidak ada yang tahu dan tidak ada yang peduli pada gundukan tanah kecil di tengah-tengah padang rumput. Para gembala berjalan di atasnya dan domba-domba menginjak-injak gundukan itu. Hanya Daud yang tahu, hanya dia yang tahu apa yang terkubur di bawah gundukan tanah itu.

Ketika dia terusir ke padang ini, menjaga domba di siang hari dan bersembunyi di goa di malam hari, Daud mengubur batu putih kecil di gundukan itu. Satu dari beberapa batu kali yang dulu dipungutnya sebelum menghajar Goliath.

Dan Yusuf berharap ruang penjaranya lebih luas, atau paling tidak lebih gelap. Pokoknya dia ingin sejauh mungkin dari salah satu pojok ruangan itu, atau paling tidak segelap mungkin supaya dia tidak bisa melihat pojok ruangan. Tidak ada preman menyeramkan di pojok ruangan atau roh penunggu dari penghuni penjara sebelumnya, hanya ada seonggok kerikil dan tanah kering di sana.

Tapi bukan kerikil dan tanah kering yang dijauhinya, tapi cabikan kain yang tersembunyi di bawah onggokan itu yang tidak ingin dilihatnya. Warna kain itu sudah pudar dan kotor, tapi kain itu dulu bagian dari sebuah jubah yang indah, jubah yang pernah dipakainya dengan bangga. Terkadang Yusuf ingin membuang potongan kain itu, tapi kain itu adalah kenangan masa lalunya dan harapan dari masa depannya.

Kebanyakan dari kita punya kuburan di belakang rumah, atau gundukan tanah, atau onggokan kerikil. Mimpi yang terkubur, harapan yang tersembunyi dan iman yang hampir padam adalah kata-kata yang tertulis di batu besar. Kita berusaha melupakan, tapi dari sudut mata kita melihatnya. Berusaha menganggapnya hanya masa lalu, tapi sedikit berharap akan ada keajaiban.

“Kupikir, Tuhan akan memanggilku menjadi…..”
“Seandainya dulu…..”
“Apakah rencana Tuhan sungguh ada…?”
“Hallo, Tuhan….masih ingat saya?”
“Hoiii…..”

Dan kita bertanya-tanya, kemanakah rencana Tuhan yang indah itu? Kemanakah mimpi-mimpi yang Tuhan berikan? Apakah semua itu hanya idealisme sesaat? Apakah kita hanya berkhayal? Ketika berhadapan dengan dunia nyata, dengan kekecewaan dan keputusasaan, mimpi kita runtuh dan harapan kita pudar. Dengan kecewa, kita kubur harapan dan mimpi itu di belakang rumah. Tapi, kita tidak pernah bisa benar-benar melupakannya. Batu itu terlalu besar, tulisan itu terlalu jelas dan sudut mata kita selalu menangkap bayangnya.

Dan kita bertanya-tanya, mungkinkah keajaiban terjadi, kuburan terbelah dan apa yang terkubur di bawahnya bangkit kembali?

Bagi seorang gadis remaja berusia 13 tahun bernama Bethany Hamilton, jawabannya adalah ” YA”! Bethany lahir di Hawaii, ombak adalah temannya dan menjadi peselancar profesional adalah impiannya. Dan dalam umurnya yang masih muda, apa yang akan menghalangi mimpinya itu? Tidak ada, kecuali seekor hiu harimau berukuran 4 meter.

Tanpa peringatan dan hanya dalam sepersekian detik, Bethany yang sedang berbaring di atas papan selancarnya sambil berenang merasa tangan kirinya tertarik. Dan detik berikutnya yang dilihatnya adalah darah yang mengalir dan tangan kirinya tidak ada lagi. Dalam keadaan shock dan kehilangan 60% darahnya, Bethany dibawa ke rumah sakit. Paramedis di ambulan yang membawanya memegang tangannya dan berbisik, “Tuhan sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau”.

Ketika terbangun dari operasi, yang dilihatnya adalah tangan kirinya yang sekarang lenyap….dan mimpinya yang juga hilang. Tapi, Tuhan memang tidak meninggalkannya. Dalam segala ketidakpastian, Tuhan tetap menuntun tangannya. Seperti Abraham, Daud dan Yusuf, keajaiban terjadi, kuburan terbelah dan mimpi yang lenyap dipulihkan. 2 tahun kemudian Bethany menjuarai turnamen nasional dan 2 tahun berikutnya mimpinya untuk menjadi peselancar profesional terwujud.

Dan Bethany tidak hanya menjadi salah satu dari sekian banyak peselancar profesional yang bersaing di turnamen, tapi dia juga adalah peselancar profesional yang membagi kisahnya tentang Yesus ke seluruh dunia dan menjadi inspirasi bagi banyak orang. Tuhan mewujudkan mimpinya bukan saja hanya untuk menyentuh piala nasional, tapi juga menyentuh dunia, sesuatu yang jauh lebih besar dari mimpinya semula.

Kalau hari ini ada mimpimu yang terkubur, Tuhan berkata, “masa depan itu sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang (Ams 23:18). Dan kenyataan yang akan Tuhan jadikan dalam hidup kita, akan jauh lebih besar dari mimpi kita saat ini.

Ditulis Oleh Tukang Bakmi

Comments

comments