“Mas…. Makan !!!!”

“Nanti ahh.. belom lapar !!!” kataku setengah menggerutu

Betapa tidak, di umur yang tidak lagi kecil ini masih kerap mendengarkan suara perintah dari bawah sana untuk makan (*dengan banyak tanda seru). Paling bete adalah saat sedang asyik mengerjakan sesuatu, menulis sesuatu, atau menonton sesuatu, tanpa serta merta perintah datang tanpa diduga. Toh juga klo saya lapar, saya akan turun dan mengambil makan sendiri toh? Tanpa disuruh, tanpa ditanya, tanpa diperintah.

Sedikit punya cerita, bahwa saya hidup di keluarga yang nyaris tidak pernah makan semeja di ruang makan. Meja makan kami hanya berfungsi sebagai tempat untuk menaruh lauk dan lainnya, tanpa kursi dan sengaja diletakan diujung sudut ruangan. Tidak ada yang namanya jam makan, duduk melingkar di meja, berdoa bersama, mengambilkan nasi pertama untuk kepala keluarga, bercerita tentang keseharian, dan menutup kembali dengan rasa syukur. Sedikit kecewa? Tidak… saya malah bersyukur karena tidak ada formalitas seperti itu di keluarga kami. Pernah sesekali mengunjungi salah satu pakde di Bandung dimana keluarga mereka melakukan tradisi semacam ini, alhasil sayalah orang yang paling kikuk semeja makan. Betapa tidak, kami harus menunggu giliran untuk mengambil nasi dan lauk, menunggu suapan pertama dengan doa, dan harus sesekali bercerita dengan kondisi mulut kami yang terisi nasi dan lauknya. Ahh, sungguh menyusahkan.

Mangan ora Mangan Seng Penting Kumpul

Makan Di Meja Makan

Kalau lapar saya biasanya segera turun ke meja makan, ambil piring dan sendok, ambil nasi sendiri beserta lauk pauknya. Menuangkan segelas air ke gelas favorit berwarna biru, lalu mengambil sudut ternyaman dengan bersandar ke tembok sembari mencari channel tv yang bisa menambah nafsu makan. Itulah hakikat makan sesungguhnya, bebas, santai dan nikmat. Terkadang ketika saya makan, eh adik juga ikutan makan, mama-pun juga langsung mengambil botok favoritnya, dimana saja kami boleh duduk, tanpa harus berhadap-hadapan, doa masing-masing, dan langsung menuju ke suapan pertama. Sesekali kami mengobrol, tapi tidak harus, tanpa formalitas resmi, tanpa tata aturan baku mengenai undang-undang “makan bersama keluarga di meja makan”.

Mangan ora Mangan Seng Penting Kumpul

Ngambil Makan Sendiri

Beda keluarga, beda budaya. Beda meja makan, beda juga fungsinya. Tapi ada satu hal yang tetap terpelihara, bahwa makan menjadi tradisi dimana keluarga bisa berkumpul dengan santai, minimal sekali sehari pada saat weekend. Di tengah kesibukan yang melanda, weekend menjadi waktu terfavorit untuk bersantai sejenak dengan keluarga. Tapi bukannya menikmati kebersamaan, justru seringnya kami menikmati me time kami masing-masing: mama ke salon, adik mainan tab-nya menonton mat kidding, saya menonton Game Of Throne di laptop, sedangkan papa entah melalang buana kemana saja dia mau. Yah begitulah adanya setiap weekend.

Mangan ora Mangan Seng Penting Kumpul

GOT Time

Mungkin teriakan mama tadi berasal dari sebuah kerinduan terdalam untuk berkumpul santai sebagai keluarga, sekaligus juga mengingatkan bahwa ada nasi yang sudah disiapkan oleh seorang ibu yang bertanggung jawab agar anak-anaknya tidak kelaparan. Sebuah kerinduan untuk mendengar anaknya nguyah nasi, kepedesan karena sambal terasi yang dibuatnya, sedikit keselek dengan sayur terong yang sengaja tidak dipotong-potong, dan berebut ayam terakhir yang ada di meja makan dengan adiknya. Yah memang, pada akhirnya nasilah yang menang, bisa merekatkan kami ditengah me time kami, bisa mengobati rasa rindu kebersamaan kami, bisa menentramkan perut yang semakin kerongcongan ini. Sesuap nasi yang mampu menghadirkan rasa kebersamaan bersama keluarga.

“Okeehh mahh… aku turun… nyam..nyam…nyam”

Mangan ora Mangan Seng Penting Kumpul

Time To Eat

Salam Inspirasi,

Mas_Olo

Comments

comments