Ilustrasi diambil dari disneypictures.net

Ilustrasi diambil dari disneypictures.net

Menganggap dirinya seorang super hero, seorang anak bernama Leo Fernando melompat dari jendela kamarnya yang terletak di lantai 2 rumahnya. Leo yang berusia 2 tahun ini jatuh dari ketinggian sekitar 6 meter setelah berpikir dirinya bisa terbang seperti Buzz Lightyear. Kejadian ini terjadi di London tahun 2013 lalu. Puji Tuhan, Leo hanya mengalami luka ringan setelah kejadian ini. Tapi pernah ngga kita coba berpikir atau bahkan meneliti, berapa banyak kejadian seperti ini yang terjadi dan memakan korban di berbagai tempat? Leo adalah seorang anak kecil yang belum mengerti dampak dari suatu pemikiran. Tapi tanpa kita sadari di dalam kehidupan kita setiap hari, kita dapat menemukan orang-orang dewasa yang bahkan ngga pernah berpikir bahwa: “Dalam setiap ide atau pemikiran kita, selalu terdapat konsekuensi.”

Jutaan orang di dunia ini hidup tanpa benar-benar merenungkan dan memahami apa yang sedang mereka jalani dalam kehidupannya. Bahkan saya pun pernah terjebak dalam keadaan di mana saya ngga merenungkan hidup saya dengan baik, memahami apa yang saya percayai, dan ngga ambil pusing dengan anjuran untuk mempelajari nilai-nilai kehidupan ini dengan baik. Sampai saya tiba di suatu bagian dalam perjalanan hidup saya, di mana Roh Kudus menuntun saya untuk mulai mempelajari Alkitab lebih sungguh.

Nggak pernah merenungkan dengan baik tentang apa yang kita percayai akan menuntun kita perlahan-lahan kepada begitu banyak penyesalan dalam kehidupan. Kenapa saya katakan “menuntun kita perlahan-lahan”? Karena sebagian orang mungkin aja nggak langsung mengalami konsekuensi dari pemikirannya saat ini, dan nggak menyadari arah yang sedang mereka tuju dalam segala pemikirannya. Nah, saatnya mereka sudah tersesat barulah mereka sadar akan kesesatannya plus keterlambatan untuk putar balik kehidupan ke arah yang benar karena hidup mereka sudah di ambang ajal, dan pengaruh yang sudah terlanjur tersebar luas dari kesesatan pribadinya kepada banyak orang lainnya.

Mungkin kita pernah mendengar Charles Darwin yang menyadari kekeliruan atas teori evolusi yang diyakininya sepanjang hidupnya. Setelah dia ngga bisa menemukan kaitan yang hilang (missing link) tentang gimana monyet bisa berubah jadi manusia, di masa-masa akhir hidupnya dia menarik kata-katanya dan mengakui kalo teori evolusi itu ngga sepenuhnya benar. Masalahnya banyak orang sudah terlanjur mempercayai teori evolusinya itu, dan nggak semua mereka tahu kalo Charles Darwin sudah mencabut teorinya itu.

Atau mungkin kita pernah mendengar tokoh yang bernama Friederich Nietszche yang sepanjang hidupnya sangat membenci kebenaran tentang adanya Tuhan, dan menuliskan pandangannya bahwa “Tuhan itu sudah mati.” Bertahun-tahun kemudian pandangannya ini memunculkan Marxisme, Komunisme, bahkan Naziisme yang melakukan pembantaian atas banyak orang. Sebuah ide yang fatal ini sudah terlanjur diikuti banyak orang, dan orang-orang ini tidak menyelidiki bahwa akhir hidup Nietszche itu sangat mengenaskan. Sebelas tahun terakhir hidupnya ia mengalami sakit jiwa serta mengidap penyakit kelamin yang sangat parah dan menggerogotinya sampai akhir hidupnya yang miskin dan kesepian karena ditinggalkan semua orang. Semua gaya hidup yang dia lakukan di masa mudanya karena nggak mempercayai Allah menuntunnya perlahan kepada kebinasaan yang menyakitkan.

Semua pemikiran kita pasti mengandung konsekuensi. Pemikiran kita sesederhana apapun yang ngga pernah kita evaluasi dan pelajari dengan baik bisa fatal dampaknya di kemudian hari. Lebih lagi apakah kita pernah merenungkan apakah pemikiran kita ini adalah pemikiran yang berkenan di hadapan Tuhan? Saking pentingnya tentang hal ini, Daud pernah berdoa seperti ini: “Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku , ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku. (Mazmur 19:14)

Seorang teman saya yang juga seorang Kristen pernah berkata seperti ini: “Gw memang bukan teolog. Tapi menurut pandangan gw, Tuhan itu punya banyak jalan keselamatan untuk nyelamatin manusia. Jadi ngga masalah kalo gw pindah keyakinan.”

Teman saya ini orang yang sikapnya baik, tapi sayang pemikirannya dalam kalimat yang diucapkannya itu salah dalam dua hal. Pertama dia bilang dia bukan teolog, tapi sebenarnya dia sedang berpikir tentang Tuhan. Setiap kita yang berpikir tentang Tuhan sebenarnya adalah seorang Teolog. Dari mulai abang-abang yang nongkrong di warung kopi, pembawa acara talk show di televisi, sampai para pendeta di mimbar, kalo mereka membicarakan tentang Tuhan, mereka adalah Teolog. Ya, kita semua adalah Teolog. Hanya masalahnya apakah yang kita pikirkan tentang Tuhan itu benar? Kondisi sesungguhnya adalah ada orang-orang yang memikirkan tentang Tuhan secara hati-hati dan mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari kebenaran Firman Tuhan dengan baik di dalam Alkitab sebagai sumber yang benar, sedangkan sebagian lainnya hanya memegang apa yang dia “rasa” benar dengan kepercayaan tentang Tuhan yang asal comot dan acak-acakan.

Nah kondisi asal comot dan acak-acakan ini menuntun pemikiran teman saya itu pada kesalahan kedua, yaitu subjektivitas kebenaran: “Tuhan punya banyak jalan keselamatan”. Kekristenan percaya bahwa hanya ada Satu jalan keselamatan yaitu melalui Tuhan Yesus Kristus. Pernyataannya yang bilang kalo Tuhan punya banyak jalan keselamatan adalah pemikiran yang nggak berdasarkan Alkitab sebagai satu-satunya otoritas iman tertinggi dalam hidup kita sebagai orang percaya. Pemikiran ini juga menyatakan kalo dia ngga sedang tunduk pada kebenaran, justru dialah yang sedang coba menciptakan kebenaran versinya sendiri.

Teman saya ini adalah satu dari sekian banyak orang Kristen yang nggak memahami apa yang dia percayai dengan baik. Kita bisa menemukan dimana-mana tentang pemikiran yang seperti teman saya. Mungkin aja banyak juga di antara kita yang mengaku dirinya anak Tuhan yang mengalami hal ini, kita berpikir bahwa membaca dan mempelajari Alkitab hanyalah tanggung jawab para sarjana Teologi aja. Padahal kecintaan akan “merenungkan Firman Tuhan” (baca Mzm 1:1-5, Mzm.119:9) adalah hal yang paling utama dalam hidup orang percaya setelah mengalami anugerah keselamatan dalam Tuhan Yesus.

Nah sahabat-sahabatku dalam Kristus, bentuk dari ide yang kita punya dalam pemikiran kita seringkali juga menular tanpa kita sadari melalui apa yang kita lakukan setiap hari. Update status di facebook, twitter, dan blackberry mu juga adalah bentuk dari ide-ide yang tanpa kamu sadar sudah bisa mempengaruhi banyak orang.  Hidup kita dapat memancarkan air yang jernih dan segar hanya jika kita memiliki Sumber yang benar. Tapi semua pemikiran sesat yang sering kita tuliskan dalam pesan-pesan media kita tanpa kita sadari bermula karena kita ngga merenungkan dan mempelajari dengan baik setiap pemikiran kita.

Masa muda adalah saat yang paling baik untuk kita mulai mempelajari, merenungkan, menghayati, dan membagikan apa yang benar. Di masa muda kita juga bisa lebih lagi mengenal apa yang kita percayai. Kita akan tertanam lebih baik jika kita mulai menancapkan akar sejak kita muda, dan bertumbuh dengan pengajaran Firman Tuhan dan keintiman dengan Roh Kudus. So come on, guys, kita mulai arahkan hati dan pemikiran kita sepenuhnya pada kebenaran sejak saat kamu membaca tulisan ini. Tuhan Yesus memberkati.

“Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya pada Kristus,” (2 Korintus 10:5)

Ditulis Oleh YKT

Comments

comments