sky-clouds-3waxPagi ini aku berjalan menyusuri sebuah taman di pinggir jalan, tanpa tujuan, tanpa arah kemana kakiku kan melangkah, hanya ingin larut dalam kesendirian dan menyepi. Saat kutatap langit biru, aku melihat langit begitu indah. Dihiasi sekumpulan awan putih dan di sela-selanya tampak sinar mentari yang menerobos awan itu, membuat langit terlihat semakin mempesona. Angin yang perlahan berhembus hingga sebagian dahan pohon seakan melambai memberikan salam padaku, sesaat aku terkesima. Hidup ini disertai dengan hal-hal yang indah, tapi kenapa hatiku hampa. Langit yang cerah biru tak seperti hatiku yang mendung kelabu, damainya dunia tak sama dalam hatiku, kenapa aku tak bisa menikmati kepuasan hati seperti ketika aku melihat langit pagi ini? Kubiarkan hatiku perlahan-lahan menjadi beku, kususuri jalan perlahan dengan segala gejolak dihati. Aku tak tahu lagi kemana harus kucurahkan isi hati, tertekan dalam keadaan yang membuatku tak berdaya, aku tak tahu harus bagaimana. Aku kecewa karena hidupku, betapa besar harapanku yang aku pinta padaNya, tapi dia seakan diam membisu, ketika hatiku hancur dan membutuhkan kasihNya, aku tak merasakan kehadiranNya. Aku merasa ditinggalkan, merasa sendiri, dan merasa sepi. Kadang aku tak kuat untuk menghadapi tekanan hidup ini, kenapa masalah harus selalu datang bertubi-tubi, buat aku semakin merasa tak berdaya. Dan ketika aku jadi tak berdaya, aku seakan bosan menerima kebenaran KasihNya.

Sudahlah, ingin kusudahi amarah ini, tapi sejujurnya, aku benar-benar sakit hati, luka yang digoreskan oleh perlakuan orang-orang yang merasa dirinya paling benar,yang suka menyalahkan orang lain atas kesalahan yang belum tentu dilakukan, yang memandang seseorang dengan sebelah mata, bahkan menganggap hina dan tak pernah pantas. Aku terluka dengan orang yang tidak menghargai perjuangan hidupku, yang menilai diriku seperti seonggok sampah, tidak berarti bahkan menyusahkan. Aku marah, bahkan pada diriku sendiri. Lalu ku pertanyakan “Apakah aku memang tak berarti seperti yang mereka katakan padaku?” tidak. Tentu saja tidak! Pikirku dalam hati. Bukankah Tuhan menyatakan bahwa aku berharga seperti biji mataNya. Bahkan Ia rela korbankan anakNya yang tunggal, Yesus Kristus untuk mati di kayu salib sebagai ganti atas dosaku??

Aku kembali berpikir, seakan logika dan perasaan beradu peran dalam diriku. Keduanya masih tak bisa sejalan. Kupejamkan mata, kukatakan pada diriku “aku berarti, semua yang kuhadapi hanya masalah hati. Aku memang enggak mengerti rencanaNya saat ini, aku difitnah, aku dihina dan orang-orang menganggap aku tak berarti, tapi saat ini yang kubutuhkan adalah percaya pada hatiNya, ya, I trust You, Lord, jangan biarkan masalah yang kuhadapi membuat aku meragukan kasihMu”

Kemudian seakan terlintas dalam benakku, jawaban atas kasih Kristus yang begitu nyata, yang harusnya bisa kuteladani dalam hidupku. Apa yang kualami saat ini tidak sebanding dengan apa yang sudah Yesus alami dalam karya penyelamatan hidupku. Ya, aku teringat dan membayangkan, ketika Ia ditangkap, difitnah atas perbuatan yang tidak dilakukanNya, makian dan cercaan tak cukup, Ia dihina, diludahi dan diolok-olok. Bahkan disiksa, dicambuk dan didera sampai mati di kayu salib. Ia korbankan diriNya, tanpa perlawanan, tanpa amarah, tanpa rasa sakit hati bahkan saat itupun hatiNya mengampuni. Aku berusaha memahami apa yang Ia rasakan, pasti betapa sakit dan hancur hati Yesus saat itu, betapa tidak, Ia datang tuk mengajarkan dan memberikan kasih yang sejati, tapi bukannya ucapan terima kasih yang didapat, yang ada segala siksaan, baik hati maupun fisik, yang Ia terima. Betapa sulit kumengerti, Ia tetap memilih untuk mengasihi. Sungguh luar biasa kasih yang diberikan buatku, buat kita semua. Aku membayangkan berada dalam posisiNya, pasti aku ga akan pernah sanggup, karena sedikit masalah yang kuhadapi saja sudah bisa membuatku terluka, marah dan kecewa padaNya. Dalam hati kuberseru “Tuhan aku malu, aku sempat marah dan kecewa padaMu atas masalah yang kuhadapi…ternyata apa yang kualami sudah Kau alami lebih dahulu, bahkan lebih, dan terlebih besar sakit yang Kau alami… ampuni aku Tuhan, jadikan aku tuk dapat meneladani kasihMu”

Ya, kini aku baru mengerti, kasih yang Ia ajarkan lewat masalah yang boleh ada dalam hidupku. Harusnya aku mengasihi bukan karena orang lain terlebih dahulu mengasihi aku. Tapi aku harus tetap memberikan kasih, bahkan kepada orang yang tidak mengasihi aku, membenci dan meremehkan aku. Begitupula bagaimana harus menyikapi suatu masalah, bukan dengan amarah, kekecewaan dan sakit hati tapi dengan pengampunan dan penyerahan diri, yaitu percaya kepada rencanaNya.

Thanks God, Kau ajarkanku satu hal yang dulu tak kupahami dalam hidupku. Aku percaya itu semua bukan karena kekuatanku. Tapi anugerahMulah yang membuatku mengerti dan memahami kasihMu. Pagi ini, kutatap lagi langit biru, kurasakan hangatnya sinar mentari pagi menyentuh tubuhku, kuhirup segarnya udara pagi dalam-dalam, rasakan kembali kasihNya didalam hidupku. Aku bersyukur karena kasihNya tak pernah berhenti buatku. Kini, mendung kelabu dihati terganti dengan cerahnya biru, sama seperti langit yang kutatap pagi ini…?

Inspired from the true story of my life….

_vi_

Comments

comments