“Blugrrr…Durrr… Bouuumm…. Mbehehehe… Miaaauww… Guk..Guk…!” suara tanda bahaya telah kota Yerusalem dalam bahaya dan “Duaaaaaar” tembok Yerusalem pun runtuh dan Bait Allah pun terbakar! Siapa penyebabnya? Tega banget sich? Wiiih, ternyata raja Nebukadnezar, raja Babel biang keladinya! Dia serang bangsa Israel dan naklukin mereka. Bukan cuma diserang, seisi kota dijarah abis dan dibakar. Saat itu Yerusalem dipimpin oleh raja Zedekia, yang selalu ngelakuin hal-hal yang jahat dimata Tuhan. (2 Taw 36:11-21). Bahaya banget, kota Yerusalem gak terlindungi tembok lagi, bukan cuma itu aja, bait suci juga kebakar habis!

Keadaan ini menyedihkan banget. Kalo bahasa alkitabnya, kota Yerusalem udah dalam “keadaan tercela”. Kenapa tercela? Saat itu, kalo satu bangsa perang sama bangsa lainnya, itu berarti juga peperangan antar “dewa” or “ilah” yang mereka sembah. Kalo bangsa Israel kalah perang sama Babel, bisa kita bilang kalo Allah Israel “kalah” sama dewa Babel. Yang paling nyebelin banget buat bangsa Israel (iih, sebel deh, hehe), adalah bangsa Babel ngejek mereka katanya “Allah Israel udah kalah”. Benarkah? Nggak lah, Tuhan ijinin bangsa Israel kalah supaya bangsa Israel belajar mencintai Tuhan dan ninggalin semua dosa-dosanya. Tapi bangsa Israel gak bertobat juga, makanya mereka dibuang ke Babel, sampai mereka bertobat, baru Tuhan kirim mereka pulang. Mereka nggak dipulangin sekaligus, tapi dalam tiga kelompok.

“Kloter pertama” (hehe, emangnya udah ada pesawat?), bangsa Israel dikirim pulang ke negerinya di bawah pimpinan Zerubabel bin Sealtiel. Tuhan minta mereka buat ngebangun lagi bait suci yang udah kebakar habis. Kloter kedua, bangsa Israel dipulangin di bawah pimpinan Imam Ezra, mereka punya tugas dari Tuhan buat nyelesaiin pembangunan bait suci yang nggak selesai-selesai (lagi-lagi karena mereka tuh keras kepala banget). Nah, yang terakhir dipulangin ini di bawah pimpinan Nehemia bin Hakhalya. Mereka punya tugas buat ngebangun tembok Yerusalem yang roboh buat ngelindungin kota.

Hal inilah yang ngebuat seorang Nehemia bin Hakhalya ingin ngebangun lagi tembok Yerusalem itu. Fungsi sebuah tembok adalah untuk ngelindungin komunitas yang berada di dalam sebuah kota, dan kalo tembok itu hancur, bisa jadi komunitas yang ada di dalamnya akan ngalamin kehancuran juga.

Saat tembok Yerusalem runtuh, Nehemia berada di Puri Susan ( Neh 1:1 ), dia dapet berita runtuhnya tembok Yerusalem dari saudaranya namanya Hanani. Temen-temen tau apa respon Nehemia setelah denger kabar itu??? APA??? Yup, betul banget, Nehemia langsung duduk menangis dan berkabung selama beberapa hari, dan memanjatkan doa kepada Allah (Neh 1:4). Inilah yang jadi pergumulan Nehemia, dia akuin segala dosa yang udah orang Israel perbuat, dosanya sendiri, dan dosa yang udah diperbuat kaum keluarganya (Neh 1:6).

Seandainya kita berpikir buat apa dia ngelakuin semuanya itu, dia bisa aja titip uang yang dia punya kepada Hanani buat ngebangun lagi tembok itu, tetapi dia nggak ngelakuin hal itu. Dia buat yang lebih dari itu, Nehemia mau terlibat buat ngebangun lagi Tembok Yerusalem, coz dia tau bahwa itu adalah bagiannya. Pergumulannya nggak cuma sampai disitu, dia juga berdoa sama Tuhan supaya raja mau memberi izin buat ngebangun kembali tembok itu (Neh 1: 11). Akhirnya Nehemia pun memulai ngebuat rencana untuk itu, hal-hal yang dia lakuin adalah:

Pertama, Menempatkan Tuhan dibagian yang paling pertama (Bahasa kerennya Put Jesus First). Inilah yang pertama Nehemia lakuin, dimana saat dia denger kabar tentang Yerusalem dia langsung berdoa sama Tuhan. Dia nggak melakukan hal-hal yang lain dulu.

Kedua, setelah dia menempatkan Tuhan dibagian pertama akhirnya dia mendapat visi yang jelas dari Allah (Neh 2:12). Visi inilah yang menggerakan Nehemia untuk membangun kembali tembok Yerusalem

Ketiga, adalah tekad yang kuat, setelah Nehemia mempunyai visi yang dari Allah maka, Nehemia “mentransfer” visi itu sama teman-temannya yang lain (Neh 2:17). Karena semua yang ingin membangun kembali mempunyai satu visi yang sama, yaitu yang berasal dari Tuhan, maka timbul sebuah tekad yang kuat untuk membangun kembali tembok tersebut (Neh 2:18).

Keempat, Tindakan yang nyata. Nehemia nggak cuma ngelakuin ketiga hal diatas tetapi juga ada tindakan yang nyata buat membangun kembali tembok tersebut (Neh 3).

Pembangunan yang dilakukan oleh Nehemia dkk nggak semulus jalan tol. Ternyata ada beberapa orang yang nggak suka sama pembangunan tembok itu (nah… ini bagian peran antagonisnya), yaitu Sanbalat dari Horon, Tobia orang Amon, n Gesyem orang Arab (Neh 2:19). Mereka bertiga selalu menghalangi Nehemia dkk buat ngebangun kembali tembok tersebut.

Jadinya saat itu setiap orang yang ikut membangun harus waspada banget, bahkan mereka harus bekerja dengan satu tangan dengan senjata di tangan yang lainnya (Neh 4:17, 23). Sanbala n de gank nggak segan-segan buat ngebunuh Nehemia (Neh 6:2). Tantangan dalam membangun tembok nggak cuma datang dari pihak luar tapi juga dari pihak dalam. Saat pembangunan dimulai datanglah keluhan-keluhan dari rakyat, coz saat itu mereka sedang dalam keadaan kelaparan (Neh 5:3), merekapun sampai ngerelain anak laki-lakinya menjadi budak dan anak perempuannya dimiliki oleh orang lain (emang bener-bener tercela banget yach keadaan mereka…). Tapi “walau badai menghadang” pembangunan tembok itu, pada akhirnya, eng…ing…eng… tembok Yerusalempun kembali berdiri kokoh hanya dalam 52 hari (wow keren yach).

Hal yang penting juga, Nehemia nggak cuma ngebangun tembok, tapi bersama Imam Ezra, dia juga ngadain pembaharuan buat orang-orang Israel. Nehemia dan Imam Ezra membawa bangsa Israel kembali ke hatinya Tuhan, bahkan juga ngebangun suatu komunitas masyarakat yang punya komitmen buat hidup sesuai dengan Firman Tuhan. Wuiih, dahsyat banget!!!

FOSters, sadar atau nggak, kita juga ngalamin saat dimana keadaan anak-anak Tuhan udah tercela banget. Kompromi dengan dosa-dosa yang menyakiti hati Bapa, hidup nggak bener dan nggak jadi berkat buat orang-orang di sekitar kita, pokoknya memalukan deh, bahkan sedihnya lagi, seringkali orang-orang di luar sana yang masih belum kenal Tuhan, gaya hidupnya bisa jadi lebih “perfect” dari kita anak-anak Tuhan. Sedih yach? Sekarang yuk kita merenung, mau nggak kita sebagai anak-anak-Nya membawa perubahan yang positif buat orang-orang yang ada di sekitar kita, berjuang tanpa kenal nyerah, walaupun begitu banyak tantangan, tapi dalam hatinya berseru “aku harus memenangkan generasiku”.

Nehemia bin Hakhalya, yuph, dia udah jadi teladan yang bagus banget tentang gambaran seorang “Community Builder” sejati. Apakah kita mau jadi seperti dia? Yuk kita mulai sekarang!

Ditulis Oleh YKT_FOS Community

Comments

comments