Siapa yang pernah denger kata-kata:

“Next stop, Bunderan Senayan. Check your belongings and step carefully.”?

Kamu-kamu yang tinggal di Jakarta pasti pernah denger kata-kata di atas tadi, ‘coz kata-kata itu ngetop banget di telinga para pengguna angkutan yang juga paling ngetop di Jakarta: Busway!

Waktu saya bikin tulisan ini, agak bingung juga yah, kok bisa ya Tuhan pake busway buat ingetin saya bikin artikel rohani. Terus kenapa juga harus busway, kenapa nggak kisah perjalanan bangsa Israel aja atau kisah peperangan Daud dan Goliat, dan semacamnya gitu, kenapa harus busway?

“Tuhan…, Tuhan nggak lagi bikin promosi busway kan?” Haha, ya nggak lah. Tuhan emang kreatif.

Busway mengingatkan saya tentang banyak hal yang Tuhan lakukan bagi hidup anak-anakNya. Naik busway kalo kita mau lihat secara rohani, rasanya seperti berpetualang mengikuti rencana Tuhan. Kok bisa?

Ehmmm. Minggu lalu di acara FOS Community Fellowship di Puncak tepatnya tanggal 7-9 Maret 2009, ada satu sesi yang saya bawakan tentang “percepatan” next-stopyang akan dialami anak-anak Tuhan menjelang kedatanganNya. Di situ Tuhan bicara jelas banget sama kami semua bahwa anak-anak Tuhan akan ditarik keluar dari zona nyaman masing-masing. Mereka yang menetapkan hatinya untuk mengikuti Tuhan akan mengalami yang namanya “terobosan” dalam iman. Terobosan apa? Melalui masalah-masalah itu, kita akan naik kelas ke level iman yang lebih tinggi dalam arti akan ada banyak banget hal yang Tuhan singkapkan dan beritahukan bagi kita, lebih dari itu setiap batasan yang menghalangi kita untuk memiliki pengalaman pribadi dengan Tuhan akan dipatahkan. Contohnya kita bisa mengalami Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal yang tadinya kita bilang sebagai hal yang sekuler, nggak ada hubungannya sama rohani, nggak nyambung sama alkitab, ternyata akan Tuhan pakai supaya mata kita bisa melihat Tuhan “di luar hari Minggu.”

Saya nggak bilang kalo kita nggak perlu baca alkitab lagi ‘coz Tuhan juga berbicara melalui hal-hal di sekitar kita. No, kita harus tetep baca alkitab. Itu penting! Tapi saya mau bilang bahwa hal-hal rohani akan semakin banyak kita temukan di keseharian kita. No more border between “rohani” and “sekuler”. Bukan karena hal-hal rohani itu “tercemar” oleh hal-hal sekuler, tapi karena saat kita naik kelas dan menemukan hati Allah, kita diberikan mata yang baru, hati yang baru, paradigma atau cara pandang yang baru sehingga kita melihat bahwa Tuhan ingin kita memandang bahwa dunia kita adalah milik Tuhan, semuanya. Hari Senin sampai Minggu, itu semua punya Tuhan. Kuliah kita, sekolah kita, kerjaan kita di kantor, tempat kita maen futsal, warnet tempat kita chatting, pe-er kita, buku pelajaran akuntansi, perjalanan kita ke mall, metro mini, kopaja, itu semua punya Tuhan. Termasuk busway… Haha, jangan pernah berpikir kalo Tuhan itu cuma ada di gereja, nggak ada di mall, jangan pernah berpikir kalo kita naek angkot yang ugal-ugalan dan kebut-kebutan, kuasa Tuhan nggak ikutan bekerja menyelamatkan kita dari “kuasa” si sopir angkot yang membawa penumpangnya tanpa berpikir kalo mereka itu deg-degan. Jangan pernah berpikir kalo Tuhan nggak tau apa yang kita browse dari internet, karena Tuhan ‘kan “nggak pernah main ke warnet”. Waduh, kasian amat Tuhan ya, Cuma boleh ada di gereja en persekutuan. No, God is Present. Everywhere, everytime.

Okeh, balik lagi ke busway. Jadi tau ‘kan kenapa Tuhan pakai busway buat kasih ilustrasi ke kita? Yup, itu tandanya kita sedang mengalami perubahan paradigma, mulai ada tanda-tanda terobosan yang kita alami dalam cara berpikir kita. Haha…

Busway, adalah salah satu jenis transportasi yang cukup aman buat ukuran kota Jakarta. Saat angkot-angkot pada kebut-kebutan, saat naik bus kota udah banyak copet, saat naik motor di jalan raya udah nggak aman lagi, saat bawa mobil kemana-mana takut diserempet dan dibaret, kebanyakan orang akan memilih untuk naik busway. Busway adalah salah satu bukti bahwa pemerintah kita masih memperhatikan keselamatan warganya dalam hal transportasi. Busway nggak berjalan di sembarang tempat, tapi punya jalur sendiri yang disediakan secara khusus oleh pemerintah. Busway nggak boleh berhenti di sembarang tempat, nggak bisa naik turun penumpang di tengah jalan, tapi busway punya tempat-tempat perhentian yang disediakan khusus dan busway harus mengantarkan setiap orang di dalamnya untuk sampai di tempat yang aman itu sehingga naik dan turunnya penumpang berlangsung aman. Busway nggak cuma sekedar aman, tapi juga mengajar para penumpang di dalamnya buat disiplin. No smoking, no food, no drinks, no ngamen, no minta-minta, no jualan di atas busway, no nyopet dan no nodong. Orang-orang yang biasanya saya liat di angkot-angkot ibukota lainnya sangat nggak memperhatikan kesopanan dan kenyamanan orang-orang di sekitarnya dengan ngerokok sembarangan atau buang ludah sembarangan, di busway mau nggak mau harus jadi orang yang disiplin, nggak jorok, dan memperhatikan keamanan dan kenyamanan setiap orang di dalamnya.

Ambil keputusan buat naik busway, bagi saya adalah seperti mengambil keputusan untuk ikut Tuhan. Saya yang hidup di tengah “bahaya dan kejamnya” dunia dengan hidup sesuka hati saya, setelah hidup di dalam Tuhan, saya belajar untuk melangkah pasti dalam koridor-koridor yang Tuhan sediakan untuk saya bisa berjalan dengan lebih aman. Naik busway, saya nggak bisa seenaknya turun di tengah jalan, harus di halte yang disediakan. Sama, ikut Tuhan juga saya nggak bisa sembarangan keluar dari komitmen saya sembarangan, harus sampai tempat tujuan. Turun di tengah jalan dengan melompat keluar itu terlalu berbahaya. Cuma di next stop yang Tuhan tentukan saya boleh melangkah, artinya ada saat dimana Tuhan ijinkan kita diuji dan kita harus melangkah menghadapi tantangan itu, mengalami pencobaan dari iblis, dan seolah Tuhan menarik kehadiranNya dari kita, tapi Dia tetap ada buat kita, jangan coba-coba mencari pencobaan dari diri kita sendiri, berbahaya. Harga yang harus saya bayar dalam Tuhan pastinya lebih mahal daripada saat saya harus berjalan sesuka hati saya, tapi saya aman.

Dalam Tuhan, saya nggak perlu lagi ikut-ikutan dunia “kejar setoran”, seperti kata pepatah yang dunia bilang “jaman ini jaman edan, nggak ikutan edan berarti nggak makan.” Bagi saya, jaman ini adalah jaman Elia, jaman di mana kuasa dan hadirat Tuhan dinyatakan dan kita dilingkupi oleh kuasa itu, sekeras apapun dunia menekan, kita tetap aman. Jaman ini adalah jaman Daud, jaman di mana Tuhan memulihkan pondok puji-pujian dalam hati setiap anak-anakNya. Jaman ini adalah jaman Musa, di mana Tuhan membangun lagi ruang maha kudus dalam diri anak-anak Tuhan, menjadi tempat pertemuan yang indah dengan Tuhan. Jadi kita nggak perlu ikutan “kejar setoran”.

Walaupun angkot-angkot yang lain harus sikut-sikutan untuk dapet penumpang, tapi busway cukup mengikuti jalur yang ada, mengikuti koridor yang ada, membawa penumpang dengan aman, dan penumpanglah yang antri cari busway, bukan busway yang cari penumpang. Saya yakin, saat kita ikut Tuhan, akan banyak orang yang “antri” untuk mencari kita, karena kita berbeda dengan dunia, karena kita bisa buat orang lain memperoleh keamanan bagi jiwanya dengan keselamatan yang Tuhan berikan. Berkat akan “antri” mencari kita saat kita tetap berjalan dalam jalurNya. Wait and see!

Dalam suatu perjalanan busway, entah berapa banyak orang keluar masuk, dan nggak setiap orang kenal dengan sopir buswaynya. Tapi kenal atau nggak, si sopir busway tetap membawa mereka sampai ke tujuan masing-masing dengan selamat. Berapa banyak orang keluar masuk dalam hidupmu? Banyak banget kali ya, baik yang akhirnya jadi teman kita, sahabat kita, pacar, atau ada juga yang sekedar “numpang sebentar” lalu turun lagi. Kenal nggak kenal, kita harus tetap memberkati hidup mereka dan membawa mereka menemukan arah hidup mereka. Jika itu menjadi tugas kita, antarkanlah mereka ke tempat yang aman. Itulah tugas kita sebagai pemberita Injil. Bisa nggak kita jadi busway? Yaitu saat orang-orang yang tadinya hidup berantakan, setelah mereka bergaul dengan kita, mereka jadi orang-orang yang mulai hidup tertib, memperhatikan keadaan satu sama lain, bisa nggak kita bawa dampak bagi hidup orang-orang ini? Suatu saat mereka akan bilang “waktu saya “naik angkot lain”,  saya merasa nggak aman, banyak copet, saya jorok, buang ludah sembarangan, dsb, tapi setelah saya naik busway, saya nggak bisa lagi lakukan kebiasaan-kebiasaan itu.” Artinya mereka akan ngerasain dengan bergaul dengan anak-anak Tuhan, hidupnya berubah dan terberkati.

Hmmm…

Ini pelajaran yang paling saya dapet tentang naik busway. Tentang next stop. Dalam hidup kita, Tuhan pakai semua hal yang membuat kita aman untuk membawa kita semakin dekat dengan tujuan kita. Makanya selalu ada ibadah minggu, retreat, KKR, kamp pemulihan, dan sebagainya. Seperti FOS Community Fellowship kemarin, kita semua mengalami pemulihan, mengalami banyak hal baru di dalam Tuhan, mengalami persahabatan, mengalami keutuhan sebuah keluarga di dalam Tuhan, mengalami indahnya hadirat Tuhan. Di sana kita ditarik keluar dari hiruk-pikuk dunia yang berbahaya, ditarik keluar untuk dipulihkan dan mengalami perjalanan ke “tempat yang aman”. Tetapi segera kita akan mendengar suara “Next stop, reality. Check your faith and step carefully.”

Setelah retreat, KKR, atau apapun bentuknya, Tuhan ingin kita menghadapi hidup kita sehari-hari. Sebaik apapun si sopir busway, dia nggak ingin ada penumpang tinggal di busway dan ikutan muter-muter rute busway dari pagi sampe malem. Si sopir busway berharap si penumpang punya suatu tujuan, dan ia tahu bahwa ia akan sampai di suatu tempat untuk melakukan pekerjaannya di tempat tujuan itu. Yup, Tuhan juga nggak ingin anak-anakNya nggak menghadapi realita hidup dan selalu ingin kenyamanan retreat. Banyak anak-anak Tuhan berpikir kalo setelah retreat, on fire-nya akan cukup untuk berbulan-bulan atau bertahun-tahun ke depan. Bahkan ada seorang artis di tv di sebuah acara kuliner hari senin, makan nggak berdoa dulu, pas diingetin sama pacarnya untuk berdoa dulu, dia malah bilang “kan hari minggu kemaren udah ke gereja”, no guys, nggak pernah Tuhan bilang ibadah minggu cukup buat seminggu. Nggak ada aturannya kalo udah retreat kamis-jumat-sabtu, terus minggunya nggak ke gereja lagi. Nggak pernah bisa deh kita dewasa dalam iman dan punya bekal yang cukup untuk melangkah ke realita kalo kita cuma sesekali mencari Dia. Tapi sebenarnya kita harus tetap mencari Dia setiap hari, jangankan seminggu atau sebulan setelah Fellowship di puncak kemarin, walaupun baru sehari setelahnya, kita harus cari Dia lagi, bangun pagi, saat teduh, baca alkitab, pergi sekolah atau kuliah atau kerja, menghadapi masalah lagi, menghadapi semua tantangan yang terjadi. Kesusahan sehari, cukuplah untuk sehari. Kemenangan sehari, cukuplah juga untuk sehari. Kemenangan hari ini, bukan berarti kemenangan esok hari. Kegagalan kemarin juga belum tentu kegagalan hari ini. Selalu ada next stop di mana kita berhadapan dengan sesuatu, dan pastinya kita akan melanjutkan lagi perjalanan kita. Halte yang satu, belum tentu sama dengan halte yang lain. Perjalanan yang satu belum tentu seperti perjalanan yang lain, tetapi kita terus maju dan membuat progress dalam hidup kita. Kalo kita gagal menghadapi masalah kemarin, mungkin saja hari ini adalah kesempatan kita untuk berhasil. Jangan pernah memutuskan untuk berhenti di tengah jalan, jangan pernah menyerah untuk melanjutkan perjalananmu. Maju terus dalam Tuhan.

So FOSTERS, after FOS Community Fellowship: “Perhentian selanjutnya, realita kehidupanmu. Periksa bekal imanmu, dan melangkahlah hati-hati.”

Written by:

Yoseph K. Tandian

Youth Minister, Counselor, Writer

FOS COMMUNITY

Artikel ini diikutsertakan dalam Writing Competition CIBFest 2009

Comments

comments