Seorang kapten kapal yang gagah perkasa, dan menunjukan ketegasannya dan kepemimpinannya berdiri di dek kapal besarnya. Dengan suara lantang dia mengkomando para anak buahnya untuk terus berlayar.

“Jalannya stabil !” serunya dengan suara lantang

“Ya tuan!” sahut si Jurumudi dengan siaga.

Tak berapa lama kemudian, datang seorang anak buah dengan panik dan dari raut muka menandakan ketakutan yang amat sangat.

“Kapten !” Serunya dengan suara gemetar

“Kap…ten!”

“Di depan ada Siren !!!!” Teriaknya.

Sang pemimpin langsung menoleh, dan terlihat seluruh awak kapal sangat cemas dan ketakutan. Siren yang melegenda kini ada di depan mereka. Siren, putri duyung yang dapat melantunkan lagu yang sangat indah dengan suara yang sangat merdu, tapi dapat membuat kapal menuju ke bebatuan yang terjal.

Dengan kecemasan dan ketakutan yang melanda seluruh kapal itu, sang kapten bertindak dengan mengeluarkan suatu perintah. Dia menyuruh seluruh awak kapal menyumbat telinga mereka dengan lilin, sedangkan para awak harus mengikat dirinya pada tiang kapal dengan tali sekuat dan sekencang mungkin, dan tidak ada yang boleh melepaskanya. Agaknya sang kapten takut bercampur penasaran ingin mendengar sang siren bernyanyi.

Kapal semakin mendekat dengan Siren-Siren itu, karena para awak telah menutup telinga mereka dengan lilin, maka mereka tidak sama sekali mendengar nyanyian itu, tetapi sang kapten yang dirinya diikat pada tiang kapal dan yang tidak sama sekali menyumbat telingannya sangat jelas mendengar nyanyian itu dan sangat menderita. Karena dia sangat ingin pergi ke tempat siren itu, yang dengan kata lain harus membahayakan dirinya dan kapalnya. Sang kapten sangat terpengaruh dengar nyanyian itu.

Dia meronta-ronta minta dilepaskan, tapi tak ada satupun awak yang menggubrisnya, karena memang telah diperintahkan. Dia sangat menderita menahan gejolaknya karena mendengar nyanyian itu, dan karena teriakat pada tiang. Semakin ia meronta semakin dirinya tersakiti karena tali yang cukup kencang. Dia sangat tahu klo dia mendatangi siren itu, sudah pasti nyawanya melayang, tapi dia sangat tergoda untuk mendekat. Sungguh suatu siksaan yang amat sangat.

Lalu selamatlah kapal itu, karena telah menjauh dari sang siren, dan setelah nyanyian siren tak terdengar lagi, para awak membuka sumbatan telinga mereka, dan mendapati sang kapten dengan muka yang merah padam seperti menahan sesuatu, dengan tubuh yang tergores tali. Setelah tali dilepaskan sang kapten lemas dan langsung jatuh tersungkur.

“Hanya seutas tali dan tiang kapal ini yang menyelamatkanku dari maut”

……

Pernah dengar cerita di atas? karya Homer yang berjudul “Odyssey”. Cerita di atas hampir sama dengan kehidupan kita. Saat kita berusaha bertahan dari godaan-godaan dan cobaan di depan mata kita. Saat kita tahu bahwa godaan itu berujung maut, tetapi kita tetap ingin menikmatinya. Hanya seutas “tali” dan “tiang” yang menyelamatkan kita. Sungguh perjuangan yang sangat melelahkan dan menyakitkan.

Berapa banyak dari kita yang sedang berusaha bertahan dari godaan/cobaan bahkan dari kebiasaan buruk kita. Kita berusaha semampu kita bertahan dengan mengikatkan diri kita pada sebuah “tiang”, tetapi kita tetap menikmati apa yang ada di hadapan kita. Kita tetap menikmati dan “mendengar” semua godaan, cobaan dan kebiasaan buruk kita. Pada akhirnya kita berusaha meronta sekuat tenaga untuk bisa lepas dari tali pengaman yang kini tlah menjadi tali penghalang bagi kita.

Apakah sesulit itukah yang namanya bertahan,

Apakah sesakit itukah yang namanya setia,

Dan apakah kita tidak akan pernah bisa lepas dari dosa, kebiasaan bahkan cobaan yang mengikat hidup kita.

Pornografi, masturbasi, minuman keras, gaya pacaran nggak kudus, hidup dalam kebohongan, gossip, amarah, bahkan mencontek, apapun itu, apapun belenggu dan ikatan yang telah mengikat kita selama bertahun-tahun bahkan seumur hidup. Bisakah kita bebas lepas dari semua itu ?

Jawabannya BISA, dan sangat mungkin. Rahasiannya adalah jangan fokus kepada dosanya, tapi fokuslah kepada Tuhan yang akan membebaskan kita dari hal itu. Dan butuh lebih dari sekadar “tiang” dan “tali” untuk kita bisa bebas telepas. Hal ini yang aku namakan komitmen dan perjuangan, sampai kapan ?? sampai kapanpun !!!

Sesakit itukah perjuangan dan komitmen???

Nantikan kisah selanjutnya….

by : KSW_FOS Community

Comments

comments