Lanjutan artikel – Nyanyian Merdu Berujung Maut

Jauh di belakang, ternyata ada sebuah kapal lagi yang sedang melintas. Seorang kapten kapal yang juga sangat gagah dan juga berwibawa tampak sedang berdiri di ujung dek kapal, sembari sesekali melihat melalui teropongnya.

“Belum….” kata sang kapten.

“Belum terlihat….” kembali sang kapten berkata setelah melihat melalui teropongnya.

Beberapa anak buah kapal itu terlihat begitu antusias tapi juga waspada. Menunggu instruksi selanjutnya dari sang kapten, dan sepertinya sudah tau apa yang harus dilakukan saat sang kapten memerintahkan sesuatu.

“Siaga, sang legenda terlihat…. siren terlihat…” teriak salah seorang kru kapal yang berada di menara pengintai, yang memang ditugaskan untuk melihat apa yang ada di depan.

Sungguh di luar dugaan, bukan kepanikan dan kegelisahan yang melanda kapal itu. Seluruh awak, bahkan seandainya tong-tong itu hidup, mungkin akan melakukan apa yang dilakukan oleh seluruh manusia yang ada di kapal itu.

“Horreeeeee……” terdengar jelas dan sangat keras teriakan dari kapal itu.

“Anak buahku…. Siren yang melegenda telah ada di depan kita, siapkah kalian dengan itu??” Tanya sang kapten dengan suara tegas dan berwibawa.

Dan dengan segera sang kapten mengeluarkan sebuah kotak, dan ternyata saat dibuka berisi sebuah alat musik yang tidak kalah indahnya dibandingkan kotak itu, bahkan lebih indah. Sang kapten mengeluarkan alat musik itu, yang disambut dengan tepuk tangan dari seluruh anak buah kapal.

Sayup-sayup terdengar suara nyanyian sang siren, yang melegenda itu, dan sebelum semakin terdengar jelas dan menghipnotis seluruh orang di kapal itu, sang kapten memberikan tanda untuk hening sejenak. Sebuah tarikan nafas, lalu sang kapten mulai memainkan alat musik yang maha indah itu. Dan terdengarlah alunan nada yang sangat indah, jauh lebih indah dari suara sang siren. Walaupun terdengar seperti saling mendominasi, tapi agaknya alunan musik dari sang kapten-lah yang telah masuk ke dalam telinga, hati dan sanubari di seluruh kapal.

Semakin mendekat dengan siren, justru semakin terhanyut dalam alunan nada, yang bukan dinyanyikan oleh siren tapi dari sang kapten. Sambil memenjamkan mata dan menikmati setiap alunan nada yang tercipta dari sentuhan tangannya ke alat musik itu, sang kapten memaikan sebuah nada yang menjadi lagu. Kadang lembut, lambat, kadang menjadi cepat. Melembut lagi dan tiba-tiba cepat, begitu seterusnya sampai tak terasa kapal telah melalui bukit terjal dimana siren tersebut berada, dan kapal itu telah berhasil menang melawan nyanyian berujung maut itu, telah menang dari sang penggoda dan telah berhasil selamat.

***

Guys, buat kalian yang menyimak cerita sebelumnya — Nyanyian Merdu Berujung Maut, apa perbedaan mendasar dari kedua kisah ini. Kedua kapal itu sama-sama melewati lautan yang luas, sama-sama melihat bahaya yang menghadang di depan, sama-sama merasakan nyanyian sang siren, dan sama-sama selamat dari bahaya maut.

Yang menjadi perbedaan adalah cara dan sikap untuk selamat dari nyanyian siren itu. Bagaimana sang kapten berhasil membawa kapal tersebut melewati siren tanpa harus terpengaruh nyanyian itu yang berujung maut. Bagaimana sang kapten mempersiapkan anak buahnya untuk menghadapi legenda yang mungkin ada atau mungkin tidak, dan bagaimana sang kapten mengalahkan “nyanyian merdu” tersebut.

Apakah yang akan kalian pilih, “tali” dan “tiang”, “sumbat telinga” atau “nyanyian yang lebih merdu”. Kisah kedua menceritakan bahwa untuk mengalahkan “nyanyian merdu” adalah bukan dengan menahan diri dari nyanyian itu, bukan dengan bersikap sok kuat, atau bahkan sok acuh dengan “nyanyian merdu” itu, tapi dengan mendengarkan “nyanyian yang lebih merdu”. Mengalahkan nyanyian dengan nyanyian. Bukan hanya sekadar bertahan, tapi memfokuskan diri pada sesuatu yang lebih daripada itu.

That’s the point, seperti yang sudah aku bilang, jangan fokus terhadap godaannya, tapi fokuslah kepada Tuhan yang membuat kita bisa lepas dan menang atas godaan itu. Carilah dan dengarkan “nyanyian yang lebih merdu” itu.

“Tali” dan “tiang” mungkin bisa membuat kita selamat dan bertahan dari godaan-godaan, dari dosa-dosa yang membelenggu kita, tapi ingat itu sangat menyakitkan. Dan seandainya tali dan tiang itu rapuh dan rusak, apa jadinya kita.

Ubahlah fokus dan dengarlah “nyanyian yang lebih merdu” itu, apapun yang sedang kamu perjuangkan, jangan lihat kepada apa kita sedang berperang, tetapi kepada “Siapa yang akan membuat kita menang”. Tingkatkan keitiman kamu dengan Tuhan, bangun hubungan yang mungkin pernah retak dengan Tuhan lagi, Baca Firman, jangan lupakan saat teduhmu, dan berdoalah kepada Tuhan untuk setiap perjuangan dan komitmen yang sedang kamu lakukan. Saat kita fokus pada “nyanyian yang lebih merdu”, percayalah bahwa kita akan bisa bebas, selamat dan melewati setiap tantangan dan setiap dosa yang membelenggu kita secara sadar, tanpa perlu terpengaruh lagi, tanpa siksaan dari “tali” dan “tiang”, dan tanpa perlu jatuh bangun lagi.

Yuph, emang susah dan ngga mudah, akupun merasakan semuanya itu. Tapi karena susah dan ngga mudah itulah aku semakin yakin dan percaya kalo dengan kekuatan sendiri ngga mungkin bisa, jadi semakin aku mengandalkan kekuatan dari Tuhan.

So untuk kalian yang sedang berjuang melawan godaan apapun itu, percayalah kalian ngga berjuang sendiri, dan aku percaya bahwa di dalam Tuhan ada kemenangan, selama kita mendengarkan “nyanyian yang lebih merdu”.

God be with you….

KSW_FOS Community

Comments

comments