winners_diceBerkali-kali kita udah bahas berbagai sisi tentang perjuangan anak-anak Tuhan. Kita tau kalo setiap anak Tuhan pasti ngalamin yang namanya pertempuran secara rohani (Artikel Everyone’s Battle), kemudian kita bahas dari dua sisi supaya adil antara pertempuran yang dihadapi oleh setiap kaum cowok (Every Boy’s Battle) dan pertempuran yang dialami oleh setiap kaum cewek (Every Girl’s Battle). Bahkan sebelum itu juga kita tau kalo keinginan daging itu berperang melawan keinginan roh, tapi kita harus pilih untuk menang (Choose To Win) melawan kedagingan dan tunduk pada keinginan roh.

Masalahnya adalah…

Banyak anak Tuhan akan mulai bertanya-tanya, gimana kalo aku kalah? Gimana kalo aku gagal lagi ngadepin pertempuran ini? Gimana kalo aku nggak kuat?

Pasti yah setiap kita pernah ngalamin kegagalan dalam peperangan melawan kedagingan kita. Nggak jarang juga loh kita jatuh untuk yang kedua kalinya, ketiga kalinya, bahkan untuk yang kesekian kalinya dalam kesalahan yang sama. Saat kita jatuh, satu hal yang muncul dalam pikiran kita adalah “duh aku nggak layak”, atau “Tuhan pasti marah banget sama aku.”

Jujur, saya agak sedih juga ngelihat anak-anak Tuhan masih bergumul dengan perasaan bersalah yang sangat parah saat ia jatuh ke dalam suatu kesalahan lagi, dan dia berpikir kalo Tuhan lagi pegang rotan siap untuk mencambuk dia. Kalo begitu, dimanakah sebenarnya letak kasih Allah yang besar itu? Di manakah arti kemerdekaan yang udah Tuhan Yesus beri saat Dia mati di atas kayu salib? Apakah kita masih belum ngerti tentang kasih karunia?

Sahabat, coba baca ayat ini:

Kamu dahulu sudah mati oleh pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Sebenarnya dahulu kami juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkanNya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita – oleh kasih karunia kamu diselamatkan – (Efesus 2:1-5)

Pada dasarnya, nggak ada seorangpun di antara kita yang cukup layak untuk jadi pemenang. Nah, bicara soal kemenangan dalam peperangan kita melawan dosa, masihkah kita berpikir bahwa kekuatan kita sendiri mampu membuat kita hidup berkenan di hadapan Tuhan?

Kemenangan kita adalah karena Tuhan Yesus telah memenangkan peperangan itu buat kita!

Sekalipun kita bergumul melawan kedagingan kita tiap-tiap hari, saat kita jatuh, bukan berarti kita ini pecundang. Kita ini lebih dari pemenang, karena sebelum kita menghadapi masalah dan pergumulan kitapun, Tuhan Yesus telah menyatakan bahwa yang memenangkan pertandingan ini adalah anak-anakNya.

Guys, Tuhan Yesus itu penyembuh, amin? Trus apakah hanya kesembuhan secara fisik yang Dia berikan? Nggak. Saat kita bertempur melawan dosa, kedagingan, tabiat buruk, lalu kita mengalami luka-luka, apakah Tuhan Yesus menganggap kita pecundang? Dia justru mengangkat kita, menggendong kita, membalut luka-luka kita dan menyembuhkan kita. Saat kita jatuh, Tuhan nggak biarkan kita tergeletak. Namun seandainyapun kita kalah dalam pertempuran dan mengalami “kematian secara rohani”, apakah Yesus tidak sanggup membangkitkan kita dari kematian? Dia sanggup!

Sahabat-sahabatku, inilah kemenangan yang sesungguhnya dalam setiap pertempuran yang kita hadapi. Kemenangan terjadi saat kita tahu bahwa Bapa telah menganggap kita sebagai pemenang oleh karena Tuhan Yesus telah menang bagi kita. Kemenangan ini adalah kemenangan yang sejati, karena nggak ada seorangpun atau suatu kuasa apapun yang bisa membatalkan kemenangan yang telah kita terima dalam Yesus (Yoh 10:28). Kalo ada yang berpikir bahwa kemenangan atas dosa itu bisa batal karena suatu kesalahan yang kita buat, berarti dia menganggap bahwa kemenangan yang Yesus berikan di atas kayu salib itu bukan kemenangan yang sempurna.

Guys, kita udah jadi pemenang. Tuhan minta kita hidup dalam kekudusan, semakin diperbaharui dalam karakter yang baik, cara pikir yang dewasa, tutur kata yang membangun, sikap keseharian yang menjadi berkat, itu semua bukanlah untuk merebut kemenangan yang belum pasti, tapi semua itu untuk menunjukkan gaya hidup seorang pemenang.

Seorang pemenang mengerti bahwa kemenangannya itu membuat dia dilihat oleh banyak orang, dan karena itu, kemenangannya harus diikuti oleh gaya hidup yang baru; gaya hidup yang membuat orang tidak bisa membantah bahwa dia memiliki kemenangan yang sejati. Gaya hidup pemenang inilah yang harus dimiliki oleh anak-anak Tuhan.

Pada akhirnya, saya percaya orang yang mengerti kasih karunia akan selalu merasakan kemenangan itu. Seorang pemenang mengerti arti hidup dalam kemenangan dan nggak akan dengan sengaja menyerah pada hal yang rendahan seperti dosa. Kemenangan telah direbut bagi kita, apakah kita masih diikat oleh rasa ketidakmampuan dan bayang-bayang kegagalan dan penghukuman dari Tuhan? Bagi anak-anak Tuhan, perubahan hidup itu adalah bagian dari kemenangan yang telah diperoleh. Sadari itu, dan alami sendiri dalam hidupmu.

“Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” (Roma 8:37)

“Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang…” (Efesus 5:8)

Comments

comments