Jika mengampuni dan melupakan tidak datang dalam satu paket yang sama, maka itu belum bisa disebut pengampunan. Kemungkinan, Itu hanya paket basa-basi biasa agar segalanya terlihat baik-baik saja :)

 

Semudah apa?

Mengampuni sih gampang tapi melupakan kesalahan orang yang menyakiti kita?? No way!! Emangnya otak kita ini program komputer apa? Bisa segampang itu delete file kekecewaan.exe dan kumpulan-kejadian-buruk.zip?? Nyatanya saat kita mengampuni seseorang, kita masih bisa mengingat kejadian yang bikin kita sakit hati itu kan? Kecuali mungkin kalau kita mengalami amnesia karena kesenggol mobil atau tertimpa batu bata *ala sinetron Indonesia*. Hal ini wajar karena otak kita memang tidak didesain untuk semudah itu ‘lupa’ akan kejadian-kejadian signifikan dalam hidup kita. Dan karena kita tahu itu wajar tanpa kita sadari kita juga mewajarkan kata-kata “Gue udah mengampuni, tapi maaf, kalo untuk melupakan itu perkara yang berbeda.”

Melupakan terlihat seperti sesuatu yang mustahil dilakukan. Padahal melupakan dalam paket pengampunan itu artinya bukan melupakan kejadian tersebut tapi sebenarnya melupakan sakit hati yang ditimbulkan oleh kejadian tersebut. Kita mungkin enggak akan pernah lupa teman yang mengucapkan kata-kata sindiran tajam ketika sedang bercanda, sahabat yang membocorkan rahasia kita ke seluruh kelas, kekasih yang tiba-tiba meninggalkan kita tanpa alasan, atau papa yang menampar kita di depan umum, tapi kita bisa memilih untuk melupakan sakit hati yang ditimbulkan oleh kejadian itu.

Apakah mudah? Enggak.. tapi kalau kita sudah memutuskan untuk mengampuni itu berarti kita mau melupakan sakit hati tersebut. Saat kita mau melupakannya, Roh Kudus yang akan selanjutnya membantu kita. Tetapi ketika menolak untuk melupakan dan bertahan dengan ego kita, maka tidak ada yang bisa memaksa kita. Kita yang sepenuhnya memutuskan. Jangan lupa kalau kekecewaan dan sakit hati itu sangat tajam, jika kita menggenggamnya terlalu erat, kita hanya akan melukai diri kita sendiri.

Untuk mereka yang bahkan tidak tahu…

Untuk saya pribadi, mengampuni dan melupakan kesalahan orang yang dengan tulus minta maaf itu mudah! Yang sulit itu, jika orang yang menyakiti hati kita bahkan tidak tahu kalau mereka sedang menyakiti hati kita. Yang sulit itu, jika ada orang yang melakukan kesalahan tapi justru malah kita yang balik disalahkan dan dibenci. Yang sulit itu, jika kita mengampuni dan melupakan kesalahan orang yang berpotensi melakukan kembali kesalahan yang sama!!

Terus gimana dong? Sampai kapan kita harus terus menerus mengampuni orang? Sabar kan ada batasnya!

Waktu Petrus nanya ke Tuhan “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” (Mat 18:21) Dan jawaban Tuhan Yesus sangatlah mencengangkan! “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Mat 18:22) pastinya Petrus waktu itu langsung bengong karena enggak nyangka dapet jawaban yang berlipat kali ganda^^

70×7 bisa merupakan kiasan yang digunakan Yesus untuk menunjukkan bahwa kita harus mengampuni orang dengan tidak terbatas. Tapi kalaupun seandainya kita hitung secara harfiah 70×7 itu berarti 490 kali! Tetap merupakan jumlah yang sangat banyak, karena biasanya sesabar-sabarnya kita paling hanya mau mengampuni orang 3-4 kali. Di sinilah Tuhan Yesus mau mengubah pandangan Petrus dan tentu saja pandangan kita, kita selalu berpikir bahwa pengampunan itu ada batasnya, tapi yang Yesus mau bilang – pengampunan adalah sebuah proses  yang terus-menerus, pengampunan adalah komitmen, pengampunan adalah keputusan untuk tetap mengampuni bahkan ketika yang orang yang kita ampuni berpotensi untuk melakukan kesalahan yang sama berulang kali.

Tuhan Yesus tahu kalau itu sulit bagi kita, tapi Dia pun tahu ketika kita mengambil keputusan untuk  mengampuni dan melupakan kesalahan orang yang bahkan tidak tahu bahwa mereka menyakiti hati kita atau mereka yang tidak pernah meminta maaf untuk hal itu maka karakter kita akan semakin disempurnakan, kita akan belajar level baru dari kerendahan hati. Dan jauh di atas segalanya Dia tahu bahwa kita akan menjadi lebih berbahagia. Dia tidak memberikan perintah mengampuni berulang kali untuk menyiksa kita tapi justru karena Dia ingin kita berhenti menyakiti diri sendiri. Karena Dia terlalu mencintai kita dan tidak ingin melihat kita menderita.

Memilih untuk tidak mengampuni membuat kita berhenti, berhenti untuk merasakan sukacita. Memilih untuk tidak melupakan sakit hati membuat kita lelah, lelah karena harus menanggung rasa pahit. Tapi memilih untuk melepaskan pengampunan berarti memberikan bagian terbaik dari hati kita untuk ditempati oleh Kristus.

Ditulis Oleh: LNY_FOS Community

Comments

comments