impactingfriendshipHalo sahabat, pa kabar nih pada? Tetep luar biasa donk ya…

Kenapa sih anak-anak Tuhan tetep luar biasa? You know something guys… Anak-anak Tuhan bisa hidup dengan sukacita dan menjalani hari-harinya dengan luar biasa bukan karena dia mampu menjalani hidup dengan kekuatannya sendiri. Rahasianya adalah, anak-anak Tuhan selalu memperoleh kasih yang didapatnya dari orang-orang di sekitarnya, dan terutama pastinya dong dari Tuhan.

Tuhan Yesus selalu mengajar kita supaya hidup dalam kasih. Demikian juga Kekristenan bukanlah agama, Kekristenan adalah komitmen untuk menerima kasih Allah sepenuhnya dalam Tuhan Yesus, komitmen untuk mengasihi Tuhan dan sesama, dan juga komitmen untuk selalu tinggal dalam kasih tiap-tiap hari. Nah sekarang coba kita bayangin, gimana hari-hari kita nggak luar biasa kalo kita nggak pernah kekurangan kasih?

Guys, dalam kasih ada suatu hal yang nggak pernah bisa kita hilangkan. Hal yang nggak bisa lepas dari hidup mengasihi itu adalah adanya sebuah relasi. Kasih bukanlah kasih yang nyata jika kita nggak punya relasi dengan orang yang kita kasihi. Kita bisa memberi tanpa mengasihi, memuji tanpa mengasihi, melakukan sesuatu bagi orang lain tanpa mengasihi. Tapi kita nggak akan pernah bisa mengasihi tanpa memberi, menerima, memaafkan, melakukan sesuatu bagi orang yang kita kasihi, dan memiliki relasi yang dekat dengan orang yang kita kasihi. Begitu juga halnya hubungan kita dengan Tuhan, apakah bisa dibilang kita mengasihi Dia, sedangkan kita nggak kenal Dia, nggak punya relasi sama Dia, nggak pernah melakukan sesuatu buat Dia, nggak menerima Dia? Pastinya dong kasih kita itu jadi dipertanyakan.

Dalam dunia ini, kita bisa temukan begitu banyak bentuk relasi. Baik itu relasi antara orang tua dengan anak, pendeta dengan jemaat, antar partner bisnis, antar guru dengan murid, dan masih banyak lagi bentuk-bentuk relasi yang lain. Tapi salah satu bentuk relasi yang paling indah di dunia ini adalah persahabatan. Loh, kenapa persahabatan itu adalah relasi yang indah? Karena persahabatan adalah salah satu bentuk relasi yang bisa saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing, yang nggak kenal pamrih, yang bukan dikendalikan oleh satu kepentingan yang sama atau cita-cita yang sama atau hobi yang sama, tapi toh relasi itu tetap ada dan bertahan.

Aku melihat suatu gambaran yang unik banget tentang persahabatan. Persahabatan itu di satu sisi bisa sangat membangun, tapi di sisi lain bisa sangat merusak. Ada orang yang hidupnya sukses, berhasil, berkarakter baik, karena menjalani hubungan persahabatan yang benar. Tapi ada juga yang jatuh ke dunia dosa, dikhianati, bahkan bunuh diri gara-gara persahabatannya. Di satu sisi kita nggak bisa bandingkan persahabatan dan menilainya sejajar dengan hubungan kita sama ortu, pacar, atau hubungan lain yang bagi kita juga berarti. Tapi di sisi lain, saat kita punya masalah sama ortu atau pacar, tempat pengaduan yang pertama bukanlah hotline 112 atau care center konseling gereja. Pasti orang pertama yang kita telepon atau sms, atau kita datengin rumahnya adalah sahabat kita.

Setelah aku perhatiin gambaran-gambaran itu, aku jadi ngerti dimana masalahnya. Begini loh, terkadang kita berpikir bahwa “persahabatan” itu adalah hubungan kita dengan teman kita yang seumuran. Ternyata sebenarnya persahabatan itu juga bisa terjadi dalam hubungan-hubungan lainnya. Kita bisa kan bersahabat sama papa atau mama kita. Kita bisa juga bersahabat sama adik atau kakak kita. Kita juga bisa koq jadikan pacar kita sebagai sahabat kita, bukan sebagai lawan berantem kita setiap hari tempat menumpahkan semua emosi. Nah yang terakhir ini aku sering banget temuin. Seseorang cenderung lebih deket dengan sahabatnya (yang bukan pacarnya, bukan ortunya, bukan kakaknya atau adiknya), sehingga dia lebih sering menghabiskan waktunya untuk mereka, dan melupakan waktu-waktu mereka yang berharga dengan ortu, kakak atau adik, dan pacarnya (yang sebetulnya juga bisa jadi sahabat mereka). Nggak heran deh dengan pemikiran seperti ini, pertengkaran lebih mudah timbul antara kita sama ortu, kita sama adik or kakak, dan kita sama pacar, ketimbang kita sama sahabat kita.

So, kita masuk lebih dalam sekarang dengan paradigma yang baru kalo persahabatan bisa terjadi di setiap hubungan. Tapi apa yang membuat kita menganggap seseorang sebagai sahabat kita?

Persahabatan muncul karena dua hal. Pertama, karena adanya rasa nyaman saat kita dekat dengan seseorang (yang seringkali kita sebut “chemistry”). Yup, persahabatan membutuhkan kedekatan dan perasaan yang mendalam. Ada juga kedekatan-kedekatan yang mendalam pada hubungan yang lain, tapi kita bisa bedain dari tujuannya dan statusnya. Pacaran juga membutuhkan kedekatan, tapi tujuannya adalah pernikahan (udah pasti buat pernikahan loh ya, bukan buat have fun doang) dan pasti harus lain jenis kelamin (jaman sekarang itu perlu diungkapkan loh). Ortu dan anak juga punya perasaan mendalam, tapi jelas ada status yang membuat hal itu. Kedekatan dan rasa nyaman yang timbul dalam persahabatan sebenarnya nggak jauh berbeda dari hubungan-hubungan lainnya, tapi jelas tujuan persahabatan bukan untuk pernikahan, dan persahabatan nggak menentukan harus dengan sesama jenis atau beda jenis kelamin. Persahabatan juga nggak selalu timbul karena kita punya status yang sama. Jadi sampai disini kita tahu arti kedekatan dalam persahabatan.

Kedua, persahabatan timbul karena adanya dampak yang positif yang kita alami dari seseorang. Harus positif? Ya, harus positif. Aku rasa nggak ada seorangpun mau memulai suatu hubungan yang dekat dengan seseorang, kalo kita tau orang itu akan merusak hidup kita (misalnya kita bersahabat sama seorang pembunuh bayaran yang diutus buat ngebunuh kita, mau nggak? Atau sahabatan sama seorang pencuri yang selalu mencuri barang-barang kita, mau?).

Seorang sahabat yang “disebut sahabat” adalah seseorang yang selalu menaburkan hal-hal yang baik bagi sahabatnya. Kalo ada orang yang bilang mereka sahabatan tapi pergi ke dugem bareng, nonton blue film bareng, atau mulai saling menjerumuskan satu sama lain, aku pastikan itu bukanlah persahabatan, coz you know guys? Itulah yang iblis sedang lakukan terhadap manusia, berpura-pura menjadi sahabat, tapi menjerumuskan.

Apakah hal terbaik dalam hidupmu? Jika kamu menjadi seorang sahabat, aku yakin hal itulah yang akan kamu bagikan dengannya. Hal terbaik dalam hidupku adalah mengenal Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatku, dan memutuskan untuk dipimpin oleh-Nya setiap hari. Nah, kalo kamu jadi sahabatku, itulah yang akan aku bagikan untuk kamu.

“Apa yang kamu tabur, itu yang kita tuai”. Kata-kata itu berlaku mutlak dan pasti terjadi dalam persahabatan. Kalo kita bersahabat dengan seseorang (termasuk dengan ortu, kakak-adik, dan pacar ya) selama bertahun-tahun, tapi sifat-sifat egois, gampang ngambek, marah tanpa sebab, dosa-dosa lama, dan karakter buruk itu nggak berubah-berubah dari diri kita atau sahabat kita, yang perlu kita tanyakan adalah “Jangan-jangan dalam persahabatan kita, kita nggak saling menaburkan hal-hal baik?” Atau kita membantah pernyataan itu dengan ucapan “Kita emang bersahabat, gue terima lo apa adanya, lo juga terima aja gue apa adanya, nggak usah saling mengubah satu sama lain (termasuk dalam pacaran).” Guys, let me tell you something: Hubunganmu itu berarti hubungan yang “hambar”. Coba deh kita berpikir “masa sih hubungan bertahun-tahun nggak ada dampaknya apa-apa?”

Persahabatan yang terbaik sekali lagi aku tekankan adalah sebuah hubungan yang memiliki kasih di dalamnya sebagai tanda bahwa kita menginginkan hal-hal terbaik terjadi dalam hidup kita dan sahabat kita, sebuah hubungan yang pasti menghasilkan dampak bagi kehidupan yang disentuhnya.

Anak-anak Tuhan semestinya adalah sahabat-sahabat yang terbaik, karena kita udah belajar dari seorang sahabat sejati yang nggak pernah meninggalkan kita, menerima kita apa adanya tetapi membentuk kita dalam kasihNya sehingga hidup kita berubah. Anak-anak Tuhan harus menjalin relasi dengan orang lain dan menjadi sahabat bagi setiap mereka yang membutuhkan Tuhan Yesus. Selain itu, kita juga akan terus menerus diperbaharui karena “dampak” yang timbul dari persahabatan kita dengan sesama anak-anak Tuhan. Karena anak-anak Tuhan bukanlah Superman yang bisa melakukan segala sesuatunya sendirian dan jadi pahlawan buat semua orang, atau Batman yang tinggal di goa-nya karena identitasnya nggak mau diketahui. Anak-anak Tuhan yang memiliki sahabat adalah anak-anak Tuhan yang membiarkan dirinya terus ditegur, dikoreksi, dipengaruhi dan disentuh oleh pembentukan Tuhan, dan yang nggak menyembunyikan “terangnya” di bawah gantang, tetapi membiarkannya terpancar buat semua orang.

_Y.K.T_

Comments

comments