Banyak wanita zaman sekarang hanya mengetahui sebagian kecil mengenai Perjanjian Lama. Apa yang tertulis di dalamnya terjadi sudah sangat lama. Bagaimana hal itu dapat diterapkan pada kehidupan saat ini? Persamaan apa yang dimiliki wanita-wanita tersebut dengan saya yang hidup 2000 tahun setelah mereka?

Mungkin wanita-wanita ini hidup 2000-4000 tahun yang lalu, namun mereka masih tetap sama seperti kita. Mereka memasak, mencuci dan membesarkan anaknya. Mereka memiliki tanggung jawab di dalam maupun di luar rumah. Mereka juga mengalami fluktuasi hormon, PMS (Pre-Menstrual Syndrome) dan menopouse. Mereka tertawa bersama anaknya, berdebat dengan suaminya dan menangis saat yang dicintainya meninggal. Pada suatu titik, mereka mengalami periode umur yang sama dengan kita (20-an, 40-an, 60-an dan seterusnya). Rambut mereka juga disisir dan ditata, dan akan memutih ketika mereka tua.

Mereka juga mengalami ketakutan pada berbagai saat dalam hidup mereka seperti yang kita rasakan. Ketakutan nyata (dalam bahasa inggris: real fear) dan ketakutan semu (imagined fear) yang timbul saat dikepung musuh, saat suami dan anak-anak sakit dan saat persediaan makanan habis. Mereka menjumpai kreditur dan tamu yang tidak diundang. Mereka bahkan memiliki hari yang buruk, semua tidak berjalan dengan baik akibat keputusan yang telah mereka buat sendiri. Gambaran inilah yang juga kita jumpai saat ini, sebagai wanita masa kini.

Dengan mempelajari hidup mereka, kita akan melihat “Allah yang Setiabertindak. Dia, Allah yang setia yang tidak pernah berubah. Dia tetap setia dari dahulu sampai pada saat ini, di setiap keadaan dalam kehidupan kita. Kita percaya akan keberadaanNya dan keterlibatanNya secara aktif, sekalipun kita tidak dapat melihat Dia. Dan, ketahuilah ini, kita dapat mempercayaiNya saat kita takut. Itulah perjalanan iman kita–beranjak dari ketakutan menuju iman.

Allah dalam Perjanjian Lama

YHWH (diucapkan “Yahweh”) adalah pribadi dan nama perjanjian dari Allah dalam Perjanjian Lama. Dalam terjemahan Inggris, Allah sering disebut dengan “LORD” (huruf besar semua). Dalam Keluaran 3:14-15 saat Musa menanyai Allah tentang siapa namaNya, Allah berkata, “AKU ADALAH AKU. Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU (YHWH) telah mengutus aku kepadamu.” Inilah nama yang dikehendaki Allah untuk diketahui dan disembah oleh Israel. Nama tersebut mencerminkan karakter Allah yang dapat diandalkan dan setia serta layak mendapatkan kepercayaan penuh dari umatNya sebagai pengampun dan Tuan dari perjanjian.

Dalam Yohanes 8:58-59 (dan kutipan lain), Yesus mengenakan nama Allah (“AKU”) pada dirinya, serta menyatakan diriNya sebagai Tuhan. Dia memaparkan kekekalan dari keberadaanNya dan kesatuanNya dengan Allah, Sang Bapa. Jadi kesetiaan Allah, berupa penepatan janjiNya dalam Perjanjian Lama diwujudkan dalam Tuhan Yesus Kristus (Lord Jesus Christ) dalam Perjanjian Baru dan selamanya.

Perjanjian Lama

Periode sejarah Tahun sebelum masehi Wanita yang dipelajari
Kerajaan terpecah 900-722 Janda dari seorang nabi, wanita Sunem, Janda Sarfat
Kerajaan menyatu 1000-900 Abigail dan Batsyeba
Zaman Hakim-Hakim 1400-1000 Hanna, Ny. Manoah, Naomi dan Ruth, Debora dan Yael
Keluaran dan penaklukan tanah perjanjian 1450-1400 Rahab dan Miriam
Israel di Mesir 1800-1450 Yokhebed
Patriarki 2100-1800 Sarah

 

Dengan mengikuti perjalanan wanita pada zaman Perjanjian Lama yang beranjak dari ketakutan menuju iman, kita akan melihat kebenaran yang konsisten yang dapat kita terapkan dalam perjalanan iman kita dalam kehidupan sehari-hari. Dalam setiap masalah, kita tahu bahwa Allah mencintai mereka. Dia tahu apa yang sedang terjadi dalam hidup mereka. Dia dapat melakukan sesuatu. Dalam perjalanan iman mereka, Allah yang mencintai mereka terkadang mengatakan “tidak” pada beberapa hal. Namun, mereka memilih untuk mempercayai Dia daripada tunduk kepada ketakutan. Allah menghadiahkan mereka berkat yang melimpah oleh karena iman mereka. Demikian juga, Allah mungkin tidak memilih untuk menyelamatkan Anda dari apapun yang mengancam Anda. Tetapi kiranya dalam segala situasi, ingatlah pernyataan-pernyataan ini:

  • Allah mencintai saya.
  • Allah tahu apa yang terjadi dalam diri saya.
  • Allah dapat berbuat sesuatu mengenai hal tersebut.
  • Saya percaya akan kebaikanNya apapun hal yang dibuatNya.

“Perjalanan dari ketakutan menuju iman” Anda dimulai dari pernyataan-pernyataan ini dan kepercayaan terhadap pernyataan tersebut.

Comments

comments