Sebuah buku percikan tinta Grace Suryani dan Steven Halim – Tentang DIA, Aku, dan Kau, dalam Satu Cinta.

Begitu menyenangkan! Itulah kesan pertama yang akan pembaca dapati ketika membaca lembar-lembar awal dari buku bersampul merah dengan tinta warna emas ini. Dan lembar-lembar selanjutnya, kesan pembaca akan bertambah-tambah menjadi begitu mengagumkan, begitu patah hati, begitu menyebalkan, kemudian ,“waw! Bagaimana bisa bagian dari bab ini, bab itu dan bab selanjutnya adalah saya sekali?”

Tuhan Masih Menulis Cerita Cinta adalah buku keempat Grace Suryani yang diterbitkan oleh Gloria Graffa. Dan seperti buku-buku sebelumnya, Grace tetap menggunakan bahasa yang sederhana dengan gaya “muda”. Salah satu hal yang menarik adalah ikut sertanya Steven Halim, alias suami Grace, dalam penulisan buku ini. Jadi sepasang suami istri menulis buku? Ah, bukankah itu biasa? Nanti dulu! Buku ini bukan sekedar kata-kata indah sepasang kekasih, tapi juga harapan, impian, luka, dan doa.

Kisah cinta Grace dan Halim juga adalah kisah cinta mereka dengan Tuhan. Setelah hati yang berkali-kali patah, mereka bertemu dan menjalani hubungan yang indah. Benarkah? Tidak juga! Berkenalan lewat dunia maya, pertemuan pertama di bandara, bukan awal yang sangat istimewa. Tapi hal-hal biasa inilah yang membuat mereka mengenal satu sama lain lebih dekat, dalam Tuhan.

Steven alias Tepen bukan tipe idaman Grace, pada awalnya. Namun Tuhan tidak pernah salah, demikian Ia menyatukan mereka dalam cinta-Nya. Sebelum Grace dan Tepen menjadikan buku ini sebagai suvenir pernikahan, mereka mengalami berbagai kejadian yang mereka tuliskan dengan jujur dan apa adanya. Inilah yang membuat cita rasa tersendiri dalam buku ini. Bila marah, mereka menulis kemarahannya, juga ketika sedih, kecewa, sakit hati, dan berbagai rasa manusia.

Grace menulis, “….Hati aku sakit. Sekarang lagi-lagi ini cuman sebuah impian yang mungkin harus kandas. Aku takut kecewa lagi, rasanya ada rasa nyeri di hati aku….” dan “…. Kadang aku merasa begitu cape. Begitu letih… Aku cape mencintai seseorang, dan kemudian harus meninggalkan perasaan itu. Kadang aku engga pengen jatuh cinta lagi…. Kadang aku begitu tergoda untuk menutup hatiku….

Dalam penantian, Grace dan Tepen terombang-ambing. Mungkinkah mereka akan memiliki pasangan? Mengapa jawaban Tuhan terasa lambat?

Doa Tepen, “….Tuhan, aku ingin punya pasangan hidup… sampai sekarang rekor kehidupan cintaku jelek sekali Tuhan. Masa iya aku akan single terus? Mama bilang aku pasti menikah karena aku sudah disekolahin tinggi-tinggi. Tapi kenyataanya, semua wanita menjauhiku… Tuhan, aku ingin tahu…, aku bakal menikah ngga sih? Kalo iya, sama siapa?….

Saat mereka kecewa, Tuhan tetap berbicara pada mereka. Mereka memiliki hari-hari penuh pengaharapan pada Tuhan, walaupun hal itu terasa sulit. Dalam buku ini, Grace juga menulis bagaimana ia menjalani hari-harinya sebagai seorang wanita dalam penantian. Bagaimana memiliki hubungan yang akrab dan mesra pada Tuhan, juga hal yang sangat penting dalam mengisi masa-masa dreaming time.

Cinta menjadi hal yang lucu dan seru dalam pena Grace dan Tepen, dengan inspirasi dari Tuhan tentunya. Maka tak heran bila mata pembaca berkaca-kaca, lalu tak lama kemudian bibir membuka dan membentuk sebuah tawa.

Grace berkata, “…. Aku… melihat… pacar aku… … memakai kaos singlet. Kreeeekkkk… praaannkkk. Bunyi retaknya suatu “bayangan” di otak aku… Hehehe. Aku bengong … Hah… retak sudah bayangan ksatria keren dengan pakaian rapi jali ala esmud (haree giniii pake “shining armor” mah, bisa dijadiin tontonan orang sekampung)….

Namun, dalam kebimbangan mereka, dalam impian yang hancur, Tuhan tetap memberikan mereka penghiburan lewat orangtua, sahabat, dan rekan-rekan mereka. Grace dan Tepen tetap memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan, dan walaupun mereka memiliki impian untuk pasangan hidup, mereka tetap menyerahkan keputusannya pada Tuhan.

Buku ini bukan sekedar tumpukan kata yang mencapai 128 halaman. Buku ini sebagai pengingat Grace dan Tepen akan cinta mereka, untuk orang-orang yang dalam penantian ataupun yang sedang menjalani hubungan dengan pasangan masing-masing, serta sebagai ucapan syukur kepada Tuhan yang luar biasa.

Dalam tangis dan tawa, Grace dan Tepen toh akhirnya tetap berserah pada Tuhan.

Grace menulis, “…. Dan akhirnya Dia ingin kita mempuyai pengharapan di dalam Dia. Pengaharapan dan iman, bahwa Ia mengasihi kita and He’ll make everything beautiful than anyone can imagine :)…. Grace juga berkata, “….God, as usual… U’re my great big wonderful amazing God. Ini pujian yang dinaikkan di puing-puing reruntuhan impian, tapi seperti biasa You put a smile on my face :)….

Kisah ini bukan hanya kisah Grace dan Tepen, tapi juga kisah Tuhan yang mempersatukan mereka. Masih banyak sekali hal yang menarik, yang haru, lucu, dan mengagumkan. Saat lamaran, persiapan pernikahan, bahkan dialog dua arah antara para penulis dengan Tuhan.

Apakah buku ini benar-benar sebegitu romantisnya? Kalau begitu baca saja, dan nilailah!

Buku Tuhan Masih Menulis Cerita Cinta dapat dipesan online melalui FOSCOM ONLINE SHOP

Komentar dari beberapa FOSters ^^

“Pas pertama kali dapet buku ini.. whuaa aku sampe nunda kerjaan ‘n ngabisin baca buku ini dulu!! Soalnya isinya bikin penasaran banget.. Ringan tapi sekaligus ‘berisi’.. Pokoknya tiap anak-anak muda wajib baca buku ini, satu kutipan yang aku suka..

“Tanpa hubungan pribadi yang dalam dengan Tuhan, kita akan sulit sekali untuk belajar mencintai seseorang. Tanpa hubungan pribadi dengan Kristus, kita akan mudah untuk jatuh dalam kekecewaan, kemarahan, kepahitan dalam hubungan.”

Bener banget tuh^^ itu adalah dasar dari segalanya, dan buku ini mengingatkan kita akan hal itu, menyemangati kita untuk menjalin hubungan dengan ‘cara’nya Tuhan. Sungguh sebuah buku yang sangat inspiratif :)”

>>Leony

“Bikin saya cepet2 buka laptop buat ngetik puisi cinta tentang saya dan Tuhan :D

Mengagumkan dan melekat! Ah, saya tidak sedang menghantarkan puja dan puji, saya hanya tidak bisa menulis komentar yang bertolak belakang dari haru dan kagum saya!”

>>Evi

“Banyak hal yang bisa didapati ketika membaca cerita cinta yang Tuhan tulis dalam hidup Kak Grace. Kisah yang dibawakan begitu natural dan apa adanya, terkadang akan membuat kita larut ddidalamnya sehingga akan muncul senyuman, tawa bahkan haru bagi yang membacanya. Dari setiap sisi, dan dari berbagai sudut pandang pembaca, aku yakin tiap orang akan menemukan suatu hal yang berbeda. Tentu saja, berbagai pelajaran kehidupan yang akan kita peroleh lewat buku ini, bisa diaplikasikan dalam berbagai alur kehidupan lainnya. Tidak hanya dalam penantian pasangan hidup, tetapi juga dalam persahabatan, keluarga, lingkungan sekitar, dll.

So, pastikan Tuhan yang menulis cerita Cinta dalam kehidupanmu. Sebab, didalam Dia, maka Ia akan membuat segala sesuatu indah pada waktu Nya..”

>>Yuvita

“Pertama kali baca bukunya Ci Grace yang Tuhan Mengapa Aku Harus ke Cina, itu mantep banget ‘n menginspirasi banget. Nah, pas baca bukunya Ci Grace yang Tuhan Masih Menulis Cerita Cinta ini lebih mantep lagi, lebih menginspirasi aku sebagai seorang wanita. Gaya ceritanya bertutur seperti orang muda yang gaul, apa adanya, terbuka ‘n gak lebay. Di buku ini banyak mengajarkan hubungan yang penuh kasih dengan Tuhan sehingga kita mampu mengasihi orang lain dengan tulus dan tanpa ragu, juga mengajarkan bagaimana membangun hubungan dengan lawan jenis yang berkenan di hadapan Tuhan. Pokoknya kisah hidup Ci Grace dan Ko Tepen yang ditulis di buku ini sangat memberkati banget! Gak nyesel pernah baca buku ini =D”

>>Yunita

“Buku yang kubaca ini merupakan penghiburan yang Tuhan berikan untukku, karna ceritanya agak mirip. Aku suka doa mengenai pasangan yang diucapkan ci Grace kpd Tuhan, doanya bener2 mantep. Terus mengenai mencintai pasangan dgn cinta yang dari Tuhan, bukan cinta yang berasal dari diri kita sendiri. Belajar mencintai pasangan dengan takut akan Tuhan. Karna seperti yang Tuhan bilang bahwa dia berharga bagi Tuhan sama seperti diri kita yang berharga bagi Tuhan. Dan kita harus terlebih dahulu memahami bahwa kita utuh di dalam Tuhan, bukan utuh setelah kita memiliki pacar, menikah dan memiliki keluarga baru. Dan yang sangat kusuka adalah saat kita memutuskan pacaran dgn seseorang, saat kita yakin bahwa hubungan itu menyenangkan-Nya dan membawa berkat untuk sekeliling kita. Untuk itu lebih selektif dalam membangun hubungan karna hubungan yang kita bangun bukan cuma hubungan antara kita dan dia. Tetapi hubungan antara aku, dia, Dia dan org2 di sekeliling kita.”

>>Rice

Comments

comments