The Jesus’ Generation Statement of Faith

“Let the earth rejoice, see the risen King

On the clouds of praise, He’s exalted forever

We will rise with Him, Son of Righteousness

And the earth will shake in the glory of heaven…

See the heavens open wide, and His glory like a flood

Fill the earth with Salvation…

See the nations take His hand, and in righteousness they stand

This is Jesus Generation…” (Jesus Generation – Hillsong United “My Best Friend”)

Lagu ini  pertama banget saya dengar waktu SMA dulu. Udah sekitar 6 tahun sejak saat itu, tapi aslinya album ini udah dari tahun 2001. Jadi lagu ”Jesus Generation” ini udah ada dari 8 tahun yang lalu. Beberapa waktu saat saya denger lagi lagu ini, saya jadi inget pertama kali saya denger lagu ini saya menangis terharu. Koq kayaknya mantap banget yah kalo emang kita jadi generasinya Tuhan Yesus seperti yang dinyanyikan di lagu ini, generasi yang memegang tangan-Nya dan berdiri dalam kebenaran-Nya, bahkan generasi yang mengguncang dunia dengan kemuliaan surga.

Awal SMA dulu, jadi momen paling manis kalo dikenang. Saat dimana Tuhan jamah hati saya dan membuat saya menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi. All things seem so beautiful, even the dark clouds can be seen as daylight. Well, waktu berjalan dalam sejarah rohani hidup saya. Akhirnya saya ngalamin juga yang namanya meninggalkan kasih mula-mula itu, hidup terasa hambar, hati jadi kering, ada masalah dikit langsung protes sama Tuhan, ada rasa ingin kembali aja jadi orang biasa yang menjalani hidup lamanya seperti nggak pernah kenal hal-hal rohani.

Saat saya mulai tinggalin kasih mula-mula, saya mulai berhadapan dengan realita bahwa di dunia Kekristenan ini ternyata banyak banget orang munafik, yang akhirnya bikin saya tambah kecewa. Boro-boro punya hati lagi buat berdoa dan nangisin jiwa-jiwa bagi keselamatan mereka, ngurusin sakit hati dan kekecewaan pribadi aja udah nggak kuat.

Heyyy heyyy… kemana semua hal-hal indah yang saya alami tadi waktu kasih mula-mula? Kemana sayup lagu “Jesus Generation” yang sempet bikin saya nangis Bombay tadi? Kemana kerinduan saya buat benar-benar menjadi generasinya Tuhan Yesus?

“Anakku, engkau telah kehilangan pesona kasih-Ku di hatimu. Hatimu pahit, karena engkau menumpuk kekecewaan di dalamnya. Segala hal manis dari-Ku yang Aku ingin supaya engkau bagikan bagi orang-orang di sekitarmu, tidak lagi terasa manis bagimu maupun bagi orang-orang disekitarmu. Karena kepahitan hatimu telah membuat hal-hal manis itu menjadi tawar…”

Yah, God sempet jumpai saya di satu pagi sekitar jam 3.30, di saat saya udah mulai sepelekan yang namanya saat teduh, udah mulai bosan dengan rutinitas pelayanan, doain jiwa-jiwa, jaga hubungan pribadi dengan Tuhan, aaahhh, saya anggap semua itu cuma keindahan sementara, nggak lebih dari sekedar sebuah “screensaver di layar kehidupan saya”. Yup, God bilang kata-kata di atas tadi sama saya.

Deggg!… Sesaat itu saya seolah tersentak banget dengan perkataan Tuhan. Apa benar hatiku pahit? Pagi itu antara bangun dan tidur, saya nangis di tempat tidur saya dan berkata: “Plisss God, aku ingin Engkau lanjutkan kasih-Mu yang dulu pernah ada di hatiku…”

Dan puji Tuhan, sampai hari ini, benar Dia melanjutkan kasih mula-mulanya dalam hidup saya…

Saat lagu “Jesus Generation” kembali saya dengar baru-baru ini, saya inget beberapa temen saya yang dulu juga nangis bareng waktu denger lagu ini, yang dulu doanya paling lama kalo lagi syafaat buat jiwa-jiwa, yang dulu pernah saya kagumi dalam hidup kerohaniannya dan keteguhan imannya, ternyata hari ini nggak lagi memiliki “pesona Yesus” itu di dalam hatinya. Beberapa waktu lalu saya ketemu beberapa dari mereka, ada yang udah merasa hambar dengan imannya, ada yang malah udah ambil keputusan ninggalin Tuhan dan memilih untuk menikah dengan pacarnya yang nggak seiman, setelah sebelumnya mereka melakukan hubungan di luar nikah. Ternyata, lagu “Jesus Generation” tidak lagi berkumandang dalam hati mereka…

Wake up guys,, ini bukan drama Korea! Ini realita! Banyak banget temen-temen saya yang dulu terima Tuhan Yesus bareng saya 8 tahun lalu, sekarang udah say “daddda bubbbye” sama Tuhan Yesus. Mereka ngerasain banyak banget “screensaver” rohani yang akhirnya membuat mereka kecewa. Ya nggak kuat karena tekanan ortu lah, ya nggak kuat karena kecewa sama sahabat-sahabat rohani lah, ya nggak kuat karena bosan lah, jenuh lah, karena ikutin maunya pacar lah, karena ngerasa kurang diperhatiin lah, atau karena kecewa langsung sama Tuhan, inilah, itulah…

Kenapa banyak banget alasan untuk ninggalin Tuhan?… Hah? Answer that!

Tapi kenapa nggak ada alasan buat sebagian besar dari kita untuk ninggalin satu episode aja dari drama Korea yang udah jadi berhala kita selama bertahun-tahun? Kenapa nggak ada alasan untuk ninggalin emosi, kecewa, ngambek, dan tabiat-tabiat hidup lama kita yang udah kita pertahankan selama bertahun-tahun? Trus kenapa dengan mudahnya kita bisa tinggalin Tuhan, tinggalin hal-hal rohani, tinggalin sahabat-sahabat rohani kita, tinggalin kerinduan kita untuk menangin jiwa-jiwa, tinggalin komitmen yang pernah kita buat di hadapan Tuhan waktu kita bilang “Tuhan, apapun yang terjadi, aku mau ikut Engkau, aku mau dewasa rohani, aku mau bertumbuh dalam karakter-Mu”, padahal mungkin aja baru seminggu yang lalu kita ucapin kata-kata itu, kenapa hari ini kita mulai lagi “packing-packing barang” untuk siap-siap pergi tinggalin Tuhan?

Seorang hamba Tuhan dapat penglihatan yang menyedihkan, di mana Tuhan berdiri di satu sisi bukit berhadapan dengan iblis di sisi bukit lainnya. Dalam penglihatannya itu, iblis mengejek Tuhan karena di belakang iblis berdiri para pengikut setianya yang kebanyakan adalah anak-anak muda yang luar biasa cantik-cantik dan ganteng-ganteng, bintang film, artis-artis, pengusaha terkenal, bahkan terlihat ada beberapa “mantan” hamba Tuhan yang pernah jadi pengikut setia Tuhan. Sedangkan di belakang Tuhan hanya berdiri sekelompok orang yang lusuh, tua, opa-oma yang pakai tongkat, dan beberapa anak-anak muda yang bahkan sudah mulai bimbang untuk berganti pihak ke seberang.

Kenapa kita mau bahkan bahagia banget melihat air mata Bapa mengalir menangisi kita yang pergi meninggalkan Dia, dan menjadikan Tuhan sebagai bahan tertawaan di depan iblis?

Kenapa sulit bagi anak-anak Tuhan untuk teguh dengan keputusannya mengikut Yesus, sedangkan para pengikut iblis dengan bangga “mendeklarasikan” jati dirinya di dunia ini, padahal dunia ini milik Bapa kita sendiri, yang menginginkan anak-anak-Nya lah yang berkuasa di muka bumi ini memuliakan nama Yesus. Justru anak-anak Tuhan memilih untuk diperbudak oleh iblis, menjadi budak iblis di dunia milik Bapa. Tragis kan?

Brother and sister, aku masih memegang teguh kasih Bapa yang 8 tahun lalu telah membuat aku tersungkur dalam pertobatan, aku masih ingin terus menyanyikan lagu “Jesus Generation” melalui hidupku, meskipun aku juga hidup di dunia seperti kita semua. Seringkali aku bergumul untuk memilih antara jam doa atau box office movie di TV, bergumul antara langsung tidur karena capek dengan kuliah malam atau duduk merenungi Firman Tuhan dan mendoakan jiwa-jiwa. Aku juga bergumul apakah memilih untuk membenci atau mengampuni sahabat-sahabatku yang bersikap menyebalkan, memaki atau mengucapkan berkat bagi mereka yang bersalah terhadap kita – seperti Yesus di kayu salib, menghadapi hari dengan muka cemberut dan hati yang sumpek atau bersikap positif karena tahu Roh Kudus pasti akan menyertai setiap waktu termasuk saat masalah terberat datang. Memilih untuk tenggelam dalam dosa dan mengutuki diri atau bangkit dari kekalahan dan meminta petunjuk Tuhan untuk sebuah kemenangan.

would you standup for jesus

Would you join me to stand up in faith for Jesus? Why don’t you choose to?

Berapa lama kamu sudah mengikut Yesus? 1 tahun? 2 Tahun? Lebih dari 5 tahun? Atau baru seminggu yang lalu? Stand up! Bertahanlah untuk mengikut Tuhan Yesus! Karena waktunya akan tiba di mana Ia memilih bagi-Nya generasi yang dimurnikan, yang rindu hidup kudus, yang memilih kemenangan dalam segala sesuatu, termasuk menang atas diri sendiri dan menundukkannya pada Tuhan.

“Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.” (Why 2:4-5)

Attention plis… Firman Tuhan bilang kalo kita nggak bertahan dan bertobat kembali ke kasih mula-mula, Terang iman kita semakin redup dan nggak bercahaya lagi di tengah dunia ini. Baru-baru ini saya melayani seorang sahabat yang baru aja ikut Yesus. Dia bilang “Banyak orang Kristen nggak dewasa, penginjilannya kelamaan, tabiatnya nggak jadi kesaksian, kalo udah begitu, terpaksa harus Tuhan langsung yang menjangkau saya.”

Jujur, hati saya teriris banget dengernya. Di mana kita saat Injil seharusnya diberitakan buat mereka? Helllooo, where are we? Masih ngurusin jatuh bangun kita dalam tabiat hidup lama yang nggak berubah-berubah? Now let’s stand up guys, stand up for Jesus! Stand up for souls! Berdirilah teguh bagi Yesus! Berdirilah teguh bagi jiwa-jiwa! Nah loh, saya jadi kayak kampanye gini…

Ok, that’s all. Yuk buat komitmen lagi sebagai “Jesus Generation”. Iman kita punya kapasitas buat terus di-upgrade, bukan malah mengalami penyusutan nilai ekonomis kayak barang elektronik. Berdoa, baca Firman Tuhan, miliki gaya hidup itu dan kita akan mampu bertahan.

“…Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat.” (1 Yohanes 2:14)

_YKT_


Comments

comments