Featured Posts

Lagi Patah Hati? Siapa yang pernah merasakan rasanya patah hati? Hmm.. biasanya anak-anak muda pernah nih merasakan yang namanya 'patah hati' entah itu karena ditolak gebetan, karena tiba-tiba diputusin pacar, atau mungkin...

Read more

Tekhnik Membelah Roti Pelajaran hari ini adalah bagaimana cara membelah roti coklat dengan benar menjadi 2 bagian yang adil. Alat yang dibutuhkan tentu saja pisau yang tajam. Bagaimana kita tahu kalau pisaunya cukup tajam?...

Read more

Jadilah Tenang Hari ini, pas lagi membaca sebuah buku, ada sebuah cerita yang menarik bagiku, agak sedih sih, tapi kita bisa belajar sesuatu dari kisah ini. ... Seorang janda miskin bernama Siu lan memiliki seorang...

Read more

Yang Meringankan Segalanya Kejadian 29:20 "Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel." Wah, karena cintanya...

Read more

Mengampuni Orang Yang Menyakiti Kita? Enggak Adil! Mengampuni masalahnya bukanlah pada siapa yang menyakiti, tapi pada sakit hati itu sendiri. Yang menyakiti kita bisa siapa saja, bisa orang asing, bisa pendeta, bisa keluarga atau bahkan orangtua kita...

Read more

twitter

Follow on Tweets

  •  

Cerpen : (Mungkin) Aku Tidak Bisa..

Category : FOSters Creativity

Tak lama kemudian tangisnya pecah dan ia berlari dengan mata terpejam. Karena matanya terpejam dan kakinya terus berlari, ia tersandung. Ia tersandung dan yang lain tertawa kian keras. Ia tersandung maka ia menangis kian keras. Aku diam, tak tertawa, tak menangis. Kusaksikan Tasya di teriakkan “monster kelinci” karena kedua gigi depannya lebih besar dari gigi yang lain, dan karena tubuhnya lebih besar bahkan dari anak laki-laki. Itu terjadi tiap hari sampai Tasya pindah rumah. Tak ada lagi teman bermain “ibu-ibu-an”. Dan aku tak bisa berbuat apa-apa, karena aku masih kecil, masih tujuh tahun.

Aku bukan satu-satunya yang tahu di dunia ini. Tapi semua orang hanya diam. Saat gambar tangan kepala sekolah menempel jelas pada pipi Michael, kami hanya menarik napas tertahan. “Bukan Michael yang pakai uang tabungan kelas kami selama satu tahun, Bapak Kepala Sekolah. Bukan!! Yang pakai Pak Joni wali kelas kami!!”, aku ingin berteriak begitu, tapi aku tidak bisa. Karena aku murid SMP dan dia guru.

Masih merah dan basah. Rupanya ia begitu kesal dan marah hingga ia mencakar-cakar lengannya tanpa sadar bahwa itu sakit. Katanya ia sayang ibunya dan ibunya sayang padanya. Hanya saja saat itu ibunya mabuk dan untuk kesekian kalinya ibunya menyeretnya untuk tidur di halaman, tanpa bantal. Tiga minggu kemudian seorang yang lain menunjukkan luka di nadi tangannya. Ia bilang ia hampir mengiris uratnya, tapi tidak jadi karena ia takut, sangat takut. Ia juga bilang beberapa hari belakangan ia tidur dengan pisau dapur di bawah bantalnya, kalau-kalau Ayahnya mengamuk lagi, maka keputusannya sudah bulat untuk mengiris uratnya. Tiga kesamaan dari mereka adalah: mereka berdua perempuan, mereka berdua sahabat baikku, dan kami sembilan belas tahun. Aku hancur, karena aku tak bisa melakukan apa pun, aku tak bisa mencampuri masalah keluarga orang lain.

Ku lihat tangannya masuk ke tas pengunjung toko itu. Sebuah dompet ungu dengan hiasan bunga mawar berpindah dengan cepatnya ke dalam jaket kulitnya. Aku tak bisa mencegahnya. Karena dia laki-laki dan aku perempuan.

Bibirnya gemetar dan napasnya tersengal. Ia bilang ia ingin bercerai karena suaminya seringkali memukulnya. Aku tidak bisa mengatakan apa pun. Ini antara anaknya dan suaminya.

Cucuku menjerit. Cucuku sakit, kanker. Jarum suntik menusuki tubuhnya, senantiasa. Ia masih sembilan tahun, ia perempuan, dan ia cucu yang paling ku sayang. Biarkan tubuhku yang hancur, tapi jangan cucuku! Aku yang renta tak bisa berbuat apa-apa. Aku bukan Tuhan.

Disini aku terbaring. Setiap kali aku menarik napas, aku serasa mengangkat seember cucian. Mataku tak dapat melihat dengan jelas, hanya terdengar desah napas suamiku yang duduk di kananku. Sepi sekali disini, dan aku dapat mencium aroma bunga pemakaman.

Tanpa sadar, pikiranku melayang bebas ke masa lalu. Seandainya, waktu itu aku dapat berlari mengejar Tasya, dan mengatakan kalau aku lebih suka bermain ibu-ibuan dengannya dibanding bermain dengan anak-anak yang selalu mengejeknya. Seandainya aku melakukannya, mungkin, hanya kemungkinan, Tasya tidak akan pindah dan aku tidak akan menangis.

Seandainya aku mengatakan Pak Joni yang memakai uang kelas, mungkin Michael tidak akan dipermalukan, dan hatiku tidak akan retak melihat laki-laki pertama yang kusayangi difitnah seperti itu.

Kalau saja aku memberikan waktu sedikit lebih banyak, seandainya aku lebih sering mengunjungi mereka, seandainya aku lebih memilih berbicara dengan mereka dibanding mengerjakan artikel yang saat itu kupersiapkan untuk kukirim ke koran, mungkin kedua sahabatku tidak melukai tubuh mereka dan mencoba untuk mati.

Aku rindu sahabatku, anakku, cucuku, bahkan orang-orang yang tidak kukenal. Air mata mereka jatuh ke bahuku, dan aku tak dapat berkata apa pun, tidak melakukan apa pun. Kini aku kesepian, dan dalam waktu dekat suamiku juga akan kesepian. Dalam diam, aku menangis dan merasa hancur. Apa yang dapat kulakukan untuk suamiku? Tidak ada, karena aku hampir mati.

Seringkali kita memutuskan “aku tidak bisa. Tidak bisa karena aku masih muda, karena aku perempuan, aku terbatas, aku tidak kaya”, dan daftar panjang lainnya. Kini pikir kembali, benarkah demikian? Sebelum terlambat , pikirlah! Yang berlalu tidak akan kembali, dan yang terlambat akan sangat sulit diobati. Penyesalan akan sesuatu yang tidak kita lakukan akan terasa berkali lipat lebih menyakitkan dibandingkan bila kita melakukan hal yang kita yakini, walaupun hal itu tidak diingat orang, walaupun hal itu terasa tak berharga. Nah, sudahkah kita mengambil keputusan?

Pengkhotbah 6:12 “Karena siapakah yang mengetahui apa yang baik bagi manusia sepanjang waktu yang pendek dari hidupnya yang sia-sia, yang ditempuhnya seperti bayangan? Siapakah yang dapat mengatakan kepada manusia apa yang akan terjadi di bawah matahari sesudah dia?”

Ditulis Oleh ENS_FOS Community

Cerpen – Hatimu, Ibu..

Category : inFOStainment

Untuk semua Mama, selamat “Hari Mama”. Pelbagai wejangan yang kami (benar, kami semua) terima, membuat kami semakin dewasa. Walaupun sedikit banyak kami membuat hari-hari Mama menjadi sepuluh kali lebih berat, Mama asyik2 saja tuh. Mama bukan Mama yang sempurna, tapi pasti yang terbaik yang kami miliki *Sejuta sayang dari kami untuk semua Mama*

Ibu, kita hidup dalam dunia patriarki, dimana kaum Adam lebih tinggi dari kaum Hawa. Lebih tinggi dari derajat, hak, dari cita-cita hidup. Apakah derajat? Hanya manipulasi yang mengatasnamakan kemanusiaan dalam hal tinggi dan rendah hidup manusia. Bahkan hak terdengar sebagai gema tanpa getaran, tak ada dampak, tak ada keseimbangan.

Mengapa tidak apa bila Ibu mencuci pakaian di rumah tetangga untuk makan hari ini, dan haram bila Ayah melakukan hal yang sama? Mengapa Ibu berkeringat dan Ayah tidur-tiduran di depan TV? Mengapa cap merah tangan Ayah boleh tergambar dalam pipi Ibu sedangkan Ibu hanya boleh diam, mengeluarkan air mata diam-diam?

Kita ini laksana pemain cadangan dalam sebuah pertandingan sepakbola, yang setelah berpeluh dan berlatih habis-habisan bahkan tak pernah menjejak rumput dalam satupun pertandingan. Kita ini bak karyawan yang duduk paling belakang dalam sebuah rapat yang kurang penting (karena bila rapat penting, jangan harap kita diundang) yang setelah lembur berminggu-minggu dan kantong mata lebam, bengkak, tak kunjung disebut namanya.

Ibu memasak. Ibu memperbaiki atap. Ibu mencuci di rumah tetangga. Ibu di dapur, di kamar, di kebun, di atap, Ibu dimana-mana. Ibu tidak makan, tidak apa-apa. Ayah belum disiapkan makan, ini bahaya.

Tak pernah Dinda sesalkan Ibu adalah seorang perempuan. Dinda hanya hancur, hanya tak berdaya. Apakah revolusioner yang menyerukan pembebasan? Kita ini masih terkungkung dalam sebuah tembok batako yang bernama keluarga, yang beratap kekhawatiran tentang apa yang akan kita makan. Kita kaum feodal, dipimpin oleh para bangsawan. Sistem tirani, jangan pernah sebut demokrasi!

Oalah Ibu, hentikan cintamu! Ayah tak akan pulang, hari ini, esok, lusa. Mengapa Ibu masih bersimpuh dan menyebut “suamiku” sambil meringis? Pikiran Dinda bias. Katakan pada Dinda dengan pelan dan lambat-lambat agar Dinda mengerti, kenapa Dinda harus menyapanya dengan kata “Ayah”? Ooh tidak Ibu, Dinda tidak membencinya, karena bahkan Dinda tidak mengenalnya.

Sekali lagi Ibu, tolong hentikan cintamu. Lutut Ibu sudah lecet dan harus segera diobati. Hati Ibu patah dan harus segera dilem. Dinda sudah mencoba untuk waktu yang cukup lama menyebut “Ayah” sambil bersimpuh, namun pintu tak kunjung terbuka dan menampakkan bayangnya. Mengapa Ibu, hatimu sekeras baja? Pikirmu seteguh tanduk rusa? Imanmu, ahh bagaimana Dinda menggambarkannya? Apakah Ayah akan pulang Ibu? Ahh, Dinda jadi berharap lagi…

***

mum_2Dinda, Ayah dan Ibu adalah satu, jadi bagaimana Ibu dapat berhenti lalu bersantai sambil minum kopi sedangkan separuh dari Ibu sedang mencari-cari jalan pulang? Ayah bukannya tak mau pulang, Ayah hanya sedikit lupa jalan pulang. Ibu tak boleh tertidur, karena saat Ayah pulang nanti, Ibu harus sudah ada di pintu untuk menyambutnya masuk. Ibu dan Ayah akan sangat senang bila Dinda mau bersama-sama menyambut Ayah di pintu. Kami adalah satu, kami sudah berjanji. Oh iya,  soal mencuci itu tidak jadi soal, bagaimana ya Dinda, habis Ibu senang melakukannya. Ahh Ibu jadi berdebar-debar, siapkan dirimu sayang, Ayah segera pulang.

Lengkung Sempurna

Category : story

Rena kecil bersandar pada kursi kesayangannya. Matanya yang bulat bercahaya memandang rintik-rintik hujan yang turun dengan rapi dari langit. Rambutnya bak tirai hitam kemilau tertimpa sinar lampu, beberapa helai rambut terurai pada pipinya yang lembut dan merah jambu. Bibir tipisnya melantunkan lagu yang dikarangnya sendiri. Dua ibu jari tangan yang dimilikinya, hanya dua dari sepuluh yang seharusnya, bergerak-gerak seirama seturut alunan lagu yang dinyanyikannya.

Matanya terbelalak kagum saat seberkas warna pelan-pelan muncul di langit. Melengkung sempurna dengan kemilau jingga, hijau, merah jambu dan biru. Rena kecil menempelkan wajahnya pada kaca jendela, ingin melihat lebih jelas rupanya. Rena kecil berusaha turun dari kursi kesayangannya, tapi ia tidak punya jemari kaki, juga telapak kaki. Beruntung sang Ibu datang tepat waktu dan membawa Rena kecil menuju beranda untuk melihat lengkung sempurna di langit.

window rainbow

“Ibu, siapa yang menggambar langit dengan crayon?” Rena kecil bertanya pada Ibunya.

“Oh, Seorang yang sangat luar biasa”. Ibunya menjawab sambil membelai rambutnya bak tirai hitam kemilau yang tertimpa sinar lampu.

“Benarkah?”

“Tentu sayang”.

“Mengapa Dia menggambar di langit? Rena punya buku gambar yang bagus”.

“Mengapa? Agar semua orang dapat melihat keindahannya, Rena sayang”.

“Rena senang melihatnya”.

“Ya, Ibu juga”.

“Oh, Rena ingat sekarang. Pasti yang menggambar itu adalah Tuhan yang seringkali Ibu ceritakan. Benar kan Bu?”

“Benar, Rena anak pintar”.

“Rena tidak bisa menggambar seindah itu, tapi Tuhan bisa. Pasti ada yang membuat-Nya senang. Rena bisa gambar bagus kalau Rena sedang senang”.

Ibunya tersenyum dan menjawab, “Ya sayang, ada hal besar yang terjadi di Sorga dan membuat-Nya senang. Tahukah Rena apa yang membuat-Nya senang?”

Rena kecil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“Karena ada seorang anak cantik yang sedang melihat ke langit dan senang melihat gambar-Nya”.

“Benarkah Ibu?”

“Tentu sayang, dan apakah Rena tahu yang lebih indah dari warna-warna di atas sana?”

Rena kecil kembali menggeleng kuat-kuat.

“Oh, adakah yang lebih indah lagi Ibu?”

“Tentu Rena sayang, yang jauh lebih indah dari warna-warna itu, adalah Rena sendiri”.

Rena kecil terbelalak heran.

“Benarkah Ibu? Rena lebih indah?”

Ibu mengangguk, tersenyum dan berkata, “Tuhan menggambar warna-warna itu untuk Rena, untuk anak tercantik yang sangat disayangi-Nya”.

Rena kecil kembali memandang warna-warna di langit, senyumnya mengembang, lebih indah, jauh lebih indah dari warna-warna di langit sana.

Rena kecil kini sudah besar. Tumpukan diagram dan kertas-kertas penuh garis mengisi hari-harinya. Rena tidur larut, Rena bangun pukul tiga pagi, Rena tenggelam dalam diagram dan kertas-kertas penuh garis. Rena besar bersandar pada kursi kesayangannya, menarik napas sepanjang yang ia mampu. Hujan yang rapi turun dari langit, membawa warna-warna yang membentuk lengkungan dari ujung ke ujung langit yang lain. Rena besar meletakkan penanya dan memandang ke langit. Beberapa kali ia melihat warna-warna di angkasa, tapi semua lengkungan warna tak lagi terasa istimewa pada masa-masanya belakangan. Ia rindu, sangat rindu, memandang warna-warna itu dari mata seorang gadis kecil, memberi waktu yang tulus untuk warna-warna di langit. Ia ingin, sangat ingin, melihat warna-warna menakjubkan dari hati gadis kecil, tak ada kesombongan, hanya kekaguman.

Mutiara menitik dari mata Rena yang bulat bercahaya. Rena rindu hari-harinya yang teduh, Rena rindu Ibu. Seperti bunga mawar dengan tetesan embun, Rena tersenyum dan berkata, “Ibu, suatu hari nanti kita akan menikmati kembali warna-warna di langit, bukan hanya kita berdua Bu, tapi kita bertiga. Rena, Ibu, dan Tuhan”.

Rena besar terlelap dalam sejuknya hari setelah rintik-rintik hujan yang rapi.  Lengkung sempurna di langit turun ke bumi, dan menetap dalam senyum Rena.

E.N.S

Ketika.. Berubah..

Category : inFOStainment

“Mitaaa!! Tau gak siiih? Rena udah punya cowo loh!!”

“Hah! Yang bener Na?”

Mataku melotot tanda tak percaya. Luna mengangguk penuh semangat.

“Gak nyangka ya Ta, temen baik kita, si Rena yang kalem banget itu punya cowo juga. Gue kira dia bakal jadi perawan seumur idup. Hehe..”

Aku hanya tertawa garing.

“Kemaren gue ketemu Lulu di mall, ya ampuuun Ta, sekarang dia charming banget! Rambutnya di smoothing, pake high heels, oke deh!”

Aku diam saja.

“Oiya, katanya si Dodo udah jadian sama Mona. Lu tau gak Ta?”

“Oh, tau”, aku menjawab singkat. Luna melanjutkan celotehannya.

“Dodo yang item, belo, jadian juga Ta!! Hahaha.. Sorry sorry gue bukannya ngejek Dodo, tapi bener kan Dodo itu, emm.. Apa ya? Kurang cakep, hehehe… Udah gitu dia kan grogi banget kalo deket-deket Mona. Dari jaman SMA kelas 2 cintanya sama Mona tak lekang oleh waktu! Hahaha..”

Aku hanya menghela napas panjang.

“Lu kenapa Ta? Magh lu kambuh?”

Aku menggeleng.

“Jangan-jangan… Lu naksir Dodo yaa?!”

Aku menghela napas lagi. “Gak lah Na”.

“Terus?”

Beberapa menit aku diam saja sambil sesekali menghela napas. Luna menunggu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Luna memang agak cerewet, aku benar-benar yakin dia akan menjadi salesgirl yang sukses besar seandainya dia mau jadi salesgirl. Tapi di sisi lain Luna adalah gadis yang sabar, bijak, benar-benar pendengar yang baik.

“Gue… Gue kangen Na sama yang dulu”.

Luna tetap diam. Aku melanjutkan kata-kataku.

“Hhh… Gue ngerasa semua orang udah berubah. Jadi orang-orang yang beda, yang gak lagi gue kenal. Maksud gue, Dodo, Mona, Tasya, Citra, Rena, mereka… Lu ngerti kan Na?”

Luna mengangguk kecil.

“Seminggu yang lalu gue ketemu Ratna. Gue udah heboh nyapa dia, setahun gak ketemu wajar lah gw excited banget. Terus dia datar aja gitu nyapa gue. Dan lu tau? Dia cuma ngomongin soal merk sepatu, tas, dan sebagainya yang boring abis!”

Aku meneguk habis orange juice yang dihidangkan Luna, lalu melanjutkan keluh-kesahku.

“Gue pengen balik ke jaman SMA Na, waktu kita masih kompak, masih ngerjain school project, masih aktif di Rohkris, makan di kantin, bahkan gue kangen sama ulangan  fisika yang bikin gue demam tiga hari dua malam.”

“Gue gak pernah berubah Na, sayang gue ke mereka gak pernah berubah. Lu percaya kan Na?”

Luna tersenyum simpul. Manis sekali.

“Lu inget gak Na waktu kita keujanan, si Rena doang yang bawa payung. Akhirnya kita berlima pake itu payung, sama aja boong lah! Terus waktu si Ratna kekunci di kamar mandi kolam renang, sampe kita harus manggil mas-mas penjaga kolamnya buat nyelamatin si Ratna! Hahahaha!”.

Luna ikut tertawa.

“Terus Na, si Tasya pake kaos kaki warna-warni pas upacara. Sebelah kiri putih, yang kanan merah menyala. Huahahaha”.

Kami berdua tertawa histeris.

Setelah aku berhasil mengendalikan diri, aku melanjutkan kata-kataku.

“Tapi sekarang semuanya berubah. Gue… Gue…”

Luna menggenggam tanganku. Matanya teduh.

“Gue salah ya Na kalo kangen sama masa dulu? Berharap mereka gak pernah berubah?”

Beberapa saat kami hanya diam, lalu Luna menjawab lembut, “Lu gak salah kok Ta, kangen sama temen-temen deket kita, berarti lu bener-bener sayang mereka. Berharap mereka gak berubah, itu karena lu kenal baik sama mereka, karena mereka udah jadi temen-temen yang baik dan berarti buat lu tanpa mereka harus jadi orang yang berbeda.”

Aku tertunduk diam.

“Tapi Mita sayang, setiap orang punya jalan hidup masing-masing, dan selalu ada pilihan di jalan itu.”

Aku berkata lemah, “iya ya Na, dan pilihan gue adalah terikat pada masa lalu.”

“Padahal”, Luna melanjutkan.

“Padahal gue punya pilihan untuk jadi Mita yang gak melulu mengenang, yang gak selalu berharap semua orang harus jadi sesuai keinginan gue.”

“Dan?” Luna kembali melanjutkan.

“Dan ngelanjutin jalan hidup gue tanpa tersiksa sama kenangan masa lalu”.

Luna tersenyum lebar. Dia merangkul bahuku.

Aku kembali berkata “Semua temen-temen kita pasti lagi berjuang buat masa depan mereka. Ratna yang kuliah di Bandung, Rena calon bidan, Dodo calon arsitektur, Tasya calon direktur…”.

“Mita calon dosen”, Luna memotong perkataaanku sambil nyengir lebar. Aku tertawa geli.

“Nah, kita juga harus berjuang buat masa depan kita, jangan mau kalah sama jagoan-jagoan yang tadi lu sebutin”. Luna mengepalkan tangannya sebagai tanda memberikan semangat. Aku kembali tertawa.

“Sekarang tau kan apa yang harus kita lakuin?” Luna berkata sambil tersenyum simpul. Aku mengangguk penuh semangat.

Di kamar Luna, aku dan Luna bersama berlutut. Kedua tangan kami terlipat, kami bersama berdoa.

Doaku, “Tuhan Yesus, sungguh kami bersyukur untuk setiap waktu dan kesempatan yang Kau berikan pada kami. Saat ini kami mau berdoa untuk Ratna, Rena, Tasya, Dodo, Mona, dan semua teman-teman yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Bapa, kiranya kau berkati hari-hari mereka, masa depan, harapan mereka, dan jadikan mereka menjadi seperti yang Bapa mau. Juga berkati Luna yang selalu menjadi sahabat baikku. Untuk setiap kenangan, cinta, dan semua orang yang Bapa tempatkan dalam hidup kami, kami berterima kasih. Kuatkan dan teguhkan kami ya Tuhan, walaupun orang-orang di sekitar kami berubah, satu yang pasti, yang kami rasakan dan percaya, kasih-Mu tak pernah berubah untuk selama-lamanya. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Haleluya, Amin.”

Tak Akan Pernah Sama

Category : FOSters Creativity

sad_silhouette

“Gua udah enggak percaya lagi kalo Tuhan itu ada Ren..”

Faren masih mengingat jelas kata-kata terakhir yang diucapkan Destin sahabatnya. Masih terekam jelas bagaimana pandangan nanar Destin dan matanya yang sembab saat mengucapkan kalimat itu. Saat itu ia mencoba menguatkan dan menyadarkan Destin dengan segenap kata-kata yang dapat ia ungkapkan. Tapi hasilnya Destin tetap diam, teguh pada pendiriannya. Peristiwa ayah ibunya yang tiba-tiba dibunuh oleh para perampok membuat dia kehilangan kepercayaan bahwa Tuhan itu ada. Selama ini ia merasa percuma melayani Tuhan yang ternyata membiarkan kejadian buruk terjadi dalam hidupnya. Ia kecewa. Sangat kecewa.

Semenjak itu Destin mengundurkan diri dari pelayanan dan tidak pernah lagi hadir ibadah kaum muda ataupun ibadah minggu. Banyak yang mau mencoba mengunjunginya, tapi semuanya ditolak.. Beberapa bulan setelah kejadian itupun Destin pindah rumah bersama adiknya dan tidak ada yang pernah tahu keberadaannya. Contunue Reading

Aku, Yang Baru

Category : FOSters Creativity

beach-flightJendela kamarku bergetar saat aku membanting pintu kamar dengan rasa kesal yang tak tertahankan lagi. Bantal mickey mouse kupakai sebagai peredam tangisku. Sebenarnya aku dapat menangis sepuasnya, sekerasnya, sampai aku mual, berguling dari satu pojok ke pojok yang lain dalam kamar  ini. Tapi aku sudah terbiasa menangis dalam diam, bahkan saat tak ada seorang pun dalam rumah ini. Aku terbiasa sendiri, itu menjadi bagian hidupku.

Setelah minum empat gelas air putih, aku merasa lebih baik. Namun, rasa kesal dalam hatiku tak juga hilang. Meyna, teman yang dahulu kuanggap bak malaikat , lagi-lagi membuatku muak! Saat pulang kuliah tadi, Meyna meminta Andrew untuk mengantarnya pulang. Dan Andrew dengan muka malu-malu, mengiyakannya. Segera saja kutarik tangan Meyna, dan meminta penjelasannya di pojok tempat parkir. Tentang fotonya dan Andrew dalam dompet pinknya, tentang sms dari Andrew, tentang kebenaran gosip yang beredar kalau dia dan Andrew sudah jadian, bahkan Meyna sendiri yang menyatakan cinta! Lututku lemas saat Meyna dengan senyum di bibir mungilnya mengatakan padaku bahwa itu semua benar. Dia juga bilang bahwa ia menyesal. Menyesal karena Andrew memilihnya, menyukainya, bukan memilihku yang telah memendam rasa pada Andrew selama dua tahun ini!

Semua kesalahan dan kelicikan Meyna, tiba-tiba saja  berdesing dalam otakku. Dia menumpahkan vanila latte di rok biru kesayanganku, menjiplak karya ilmiahku, mematahkan pensil mickey mouse milikku. Ingin sekali aku meninggalkannya sendiri di hutan Kalimantan, dan tertawa terbahak-bahak saat dia berteriak-teriak karena takut ulat-ulat pohon dan takut dicakar singa. Contunue Reading

Mendung Kelabu Dan Cerahnya Biru

Category : FOSters Creativity

sky-clouds-3waxPagi ini aku berjalan menyusuri sebuah taman di pinggir jalan, tanpa tujuan, tanpa arah kemana kakiku kan melangkah, hanya ingin larut dalam kesendirian dan menyepi. Saat kutatap langit biru, aku melihat langit begitu indah. Dihiasi sekumpulan awan putih dan di sela-selanya tampak sinar mentari yang menerobos awan itu, membuat langit terlihat semakin mempesona. Angin yang perlahan berhembus hingga sebagian dahan pohon seakan melambai memberikan salam padaku, sesaat aku terkesima. Hidup ini disertai dengan hal-hal yang indah, tapi kenapa hatiku hampa. Langit yang cerah biru tak seperti hatiku yang mendung kelabu, damainya dunia tak sama dalam hatiku, kenapa aku tak bisa menikmati kepuasan hati seperti ketika aku melihat langit pagi ini? Kubiarkan hatiku perlahan-lahan menjadi beku, kususuri jalan perlahan dengan segala gejolak dihati. Aku tak tahu lagi kemana harus kucurahkan isi hati, tertekan dalam keadaan yang membuatku tak berdaya, aku tak tahu harus bagaimana. Aku kecewa karena hidupku, betapa besar harapanku yang aku pinta padaNya, tapi dia seakan diam membisu, ketika hatiku hancur dan membutuhkan kasihNya, aku tak merasakan kehadiranNya. Aku merasa ditinggalkan, merasa sendiri, dan merasa sepi. Kadang aku tak kuat untuk menghadapi tekanan hidup ini, kenapa masalah harus selalu datang bertubi-tubi, buat aku semakin merasa tak berdaya. Dan ketika aku jadi tak berdaya, aku seakan bosan menerima kebenaran KasihNya.

Sudahlah, ingin kusudahi amarah ini, tapi sejujurnya, aku benar-benar sakit hati, luka yang digoreskan oleh perlakuan orang-orang yang merasa dirinya paling benar,yang suka menyalahkan orang lain atas kesalahan yang belum tentu dilakukan, yang memandang seseorang dengan sebelah mata, bahkan menganggap hina dan tak pernah pantas. Aku terluka dengan orang yang tidak menghargai perjuangan hidupku, yang menilai diriku seperti seonggok sampah, tidak berarti bahkan menyusahkan. Aku marah, bahkan pada diriku sendiri. Lalu ku pertanyakan “Apakah aku memang tak berarti seperti yang mereka katakan padaku?” tidak. Tentu saja tidak! Pikirku dalam hati. Bukankah Tuhan menyatakan bahwa aku berharga seperti biji mataNya. Bahkan Ia rela korbankan anakNya yang tunggal, Yesus Kristus untuk mati di kayu salib sebagai ganti atas dosaku??

Aku kembali berpikir, seakan logika dan perasaan beradu peran dalam diriku. Keduanya masih tak bisa sejalan. Kupejamkan mata, kukatakan pada diriku “aku berarti, semua yang kuhadapi hanya masalah hati. Aku memang enggak mengerti rencanaNya saat ini, aku difitnah, aku dihina dan orang-orang menganggap aku tak berarti, tapi saat ini yang kubutuhkan adalah percaya pada hatiNya, ya, I trust You, Lord, jangan biarkan masalah yang kuhadapi membuat aku meragukan kasihMu”

Kemudian seakan terlintas dalam benakku, jawaban atas kasih Kristus yang begitu nyata, yang harusnya bisa kuteladani dalam hidupku. Apa yang kualami saat ini tidak sebanding dengan apa yang sudah Yesus alami dalam karya penyelamatan hidupku. Ya, aku teringat dan membayangkan, ketika Ia ditangkap, difitnah atas perbuatan yang tidak dilakukanNya, makian dan cercaan tak cukup, Ia dihina, diludahi dan diolok-olok. Bahkan disiksa, dicambuk dan didera sampai mati di kayu salib. Ia korbankan diriNya, tanpa perlawanan, tanpa amarah, tanpa rasa sakit hati bahkan saat itupun hatiNya mengampuni. Aku berusaha memahami apa yang Ia rasakan, pasti betapa sakit dan hancur hati Yesus saat itu, betapa tidak, Ia datang tuk mengajarkan dan memberikan kasih yang sejati, tapi bukannya ucapan terima kasih yang didapat, yang ada segala siksaan, baik hati maupun fisik, yang Ia terima. Betapa sulit kumengerti, Ia tetap memilih untuk mengasihi. Sungguh luar biasa kasih yang diberikan buatku, buat kita semua. Aku membayangkan berada dalam posisiNya, pasti aku ga akan pernah sanggup, karena sedikit masalah yang kuhadapi saja sudah bisa membuatku terluka, marah dan kecewa padaNya. Dalam hati kuberseru “Tuhan aku malu, aku sempat marah dan kecewa padaMu atas masalah yang kuhadapi…ternyata apa yang kualami sudah Kau alami lebih dahulu, bahkan lebih, dan terlebih besar sakit yang Kau alami… ampuni aku Tuhan, jadikan aku tuk dapat meneladani kasihMu”

Ya, kini aku baru mengerti, kasih yang Ia ajarkan lewat masalah yang boleh ada dalam hidupku. Harusnya aku mengasihi bukan karena orang lain terlebih dahulu mengasihi aku. Tapi aku harus tetap memberikan kasih, bahkan kepada orang yang tidak mengasihi aku, membenci dan meremehkan aku. Begitupula bagaimana harus menyikapi suatu masalah, bukan dengan amarah, kekecewaan dan sakit hati tapi dengan pengampunan dan penyerahan diri, yaitu percaya kepada rencanaNya.

Thanks God, Kau ajarkanku satu hal yang dulu tak kupahami dalam hidupku. Aku percaya itu semua bukan karena kekuatanku. Tapi anugerahMulah yang membuatku mengerti dan memahami kasihMu. Pagi ini, kutatap lagi langit biru, kurasakan hangatnya sinar mentari pagi menyentuh tubuhku, kuhirup segarnya udara pagi dalam-dalam, rasakan kembali kasihNya didalam hidupku. Aku bersyukur karena kasihNya tak pernah berhenti buatku. Kini, mendung kelabu dihati terganti dengan cerahnya biru, sama seperti langit yang kutatap pagi ini…?

Inspired from the true story of my life….

_vi_