Matius 5:39-41

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. “

Ada 3 hal mengenai kasih yang ada di dalam ayat ini. Dan Yesus mengajarkan bagaimana mengasihi yang lebih dalam lagi, yang aku sebut Kasih yang Radikal, kasih yang melampaui akal, dan kasih yang sangat mungkin walaupun terlihat tidak mungkin.

Tamparan di Pipi = Pelecehan

Di dalam budaya Yerusalem pada abad pertama, tamparan di wajah dianggap sebagai penghinaan yang paling memalukan, apalagi dilakukan di tempat umum. Bukan mengenai seberapa keras sebuah tangan menyentuh pipi anda, bukan mengenai seberapa perih rasa sakit yang ditimbulkan di pipi kita, tetapi seberapa perih rasa sakit di hati kita. Rasa perih di pipi mungkin akan hilang beberapa saat kemudian, tetapi rasa sakit di hati akan terus berada di sana berhari-hari, berminggu-minggu, bertahun-tahun, bahkan bisa seumur hidup.

Tamparan berbicara mengenai kehormatan yang dilecehkan, harga diri yang tidak dihargai, dan ingin rasanya segera membalas tamparan itu sebagai bentuk pemulihan harga diri. Secara jujur aku nggak pernah ditampar ataupun menampar seseorang. Jadi aku tidak dapat menggambarkan secara detail bagaimana rasanya mendapatkan atau memberikan tamparan. Yang jelas, bagi yang mendapatkan sungguh pengalaman tidak enak yang luar biasa ,tidak bisa dilupakan. Sedangkan bagi yang menampar adalah penyesalan luar biasa yang tidak dapat dilupakan akibat kemarahan yang diluapkan. Ingin segera membalas, ingin segera mencaci maki, atau paling tidak menyimpan dendam itu dalam hati untuk membalasnya lain waktu.

Tapi apa kata Yesus, “Siapa yang menampar pipi kananmu, berilah pipi kirimu.”

What…… memberikan, nggak salah nih Tuhan, boro-boro memberikan, untuk mengampuni aja udah susah setengah mati, apalagi memberikan diri untuk ditampar lagi. Nggak mungkin ah, nggak logis ahh, mustahil. Tapi sekali lagi Yesus berkata, “Berikanlah…”

Jangan balas menyerang, jangan berteriak pada orang itu, jangan mencaci maki orang itu, bahkan jangan mendedam. Tetapi tataplah mata orang itu, lihatlah jauh ke dalam orang yang menamparmu, jangan lihat pipimu dan tangannya yang menamparmu, lihatlah hatinya. Di balik kemarahannya dan kesewenang-wenangannya orang itu, dia adalah pribadi yang berharga di mata Tuhan. Dan Tuhan sedang mencari orang yang dapat menunjukan kasihNya secara nyata di hadapan dia. Lakukanlah sesuatu yang radikal, yang orang lain mungkin tak dapat lakukan. Lakukanlah kasih itu, tunjukan kasih itu. Jika dengan memberikan pipi yang satu lagi untuk ditampar dapat memberikan kesan mengenai kasih itu, berilah… Its time to give…

Yang Harusnya Kita Dapatkan (Hak-Hak Kita) = Ketidakadilan

Kalau mengenai jubah di Timur Tengah pada zaman perjanjian baru, ternyata kita bisa memahami arti kasih yang radikal yang Tuhan mau. Pada saat itu orang memakai pakaian dalam yang terbuat dari kain lembut yang agak ketat. Biasanya orang memiliki beberapa set, diatas jubah yang lembut ini, mereka memakai jubah yang berat, hangat dan lebih longgar, yang berfungsi ganda. Siang hari sebagai jas atau jaket, malam hari sebagai selimut. Iklim yang ekstrim waktu itu membuat seseorang akan mudah sakit apabila tidak memiliki jubah luar untuk melindungi dirinya.

Dalam perdagangan atau barter, biasanya orang akan mempergunakan jubah ini sebagai jaminan sampai persetujuan dilaksanakan. Dan yang ditahanpun tidak boleh jubah luar, hanya sebatas jubah dalam, karena menahan jubah luar orang melanggar hukum.

Apa yang Yesus ajarkan sekali lagi memberikan lebih dari apa yang diminta. Kalo menurut hukum yang diminta adalah jubah dalam kita, maka kasih yang radikal adalah kasih yang menawarkan jubah luarnya juga. Memberikan lebih daripada yang diminta, bahkan dari yang bisa kita berikan. Menurut Yesus, kasih yang radikal adalah melakukan lebih dari apa yang tertulis di hukum. Kasih tidak melakukan apa yang minimum. Kasih bukan hanya memberikan, bahkan menawarkan apa yang tidak diminta. Sekali lagi, it’s time to give…

Mil yang Kedua = Pemaksaan

Mengenai ilustrasi yang selanjutnya, menggambarkan sebuah pemaksaan, dimana menurut kebiasaan zaman itu, saat Israel dikuasai oleh Roma, para prajurit Roma bertindak sewenang-wenang kepada warga Israel. Bangsa Israel diminta melakukan apapun yang diperintah oleh prajurit, memasak makanan, mencuci baju, memberi tumpangan, atau apapun yang menurut prajurit itu perlu dilakukan.

Hal yang paling dibenci oleh orang-orang Yahudi adalah saat prajurit Roma memaksa mereka membawa barang bawaan. Karena setiap prajurit Roma datang dengan membawa bawaan berat, pasti dia akan datang ke salah seorang Yahudi, menepuk bahunya dan langsung menyuruhnya membawa barang itu, tidak peduli apa yang sedang dilakukan oleh Yahudi itu, dan bagaimana kondisinya. Untuk membatasi kesewang-wenangan prajurit itu, pejabat Romawi akhirnya mengeluarkan suatu peraturan dimana para prajurit tidak boleh memaksa orang yahudi untuk membawa beban lebih dari satu mil setiap harinya. Dan setelah satu mil itu lewat, orang yahudi bisa melakukan apapun yang dikehendakinya, termasuk melemparkan koper itu ke jalanan dan meninggalkan prajurit yang sewenang-wenang itu.

Tetapi apa yang Tuhan bilang mengenai kasih yang radikal? Anda diminta untuk berjalan lebih bagi orang yang paling anda sebali, berjalan satu mil lagi dengan kerelaan hati. Bahkan menawarkan bantuan lebih kepada orang yang sewenang-wenang itu. Dengan berjalan satu mil lagi, anda menunjukan kasih yang Tuhan berikan kepada anda. Dengan berjalan satu mil lagi anda menunjukan bahwa pemaksaan harus dibalas dengan kerelaan. Dan dengan memberikan “satu mil” lagi, kita menunjukan betapa besar kasih yang telah kita terima. Apakah kita mau meMberikan satu mil lagi?? Its time to give….

Jadi sebagai kesimpulan, kasih radikal adalah kasih yang terkadang terlihat tidak mungkin, melampaui akal, dan kasih yang sangat mungkin. Kasih radikal berbicara bagaimana kita memberikan diri saat kita dianggap rendah dan di rendahkan, memberi sesuatu yang lebih saat hak-hak kita diminta arau direnggut, dan menawarkan “mil kedua” saat pemaksaan terjadi. Sanggupkah kita melakukannya, di dalam Tuhan aku sangat yakin kita semua bisa.. it’s time to give,, maukah kita to give and forgive ???

By KSW_FOS Community

Inspiration from “Who You Are When No Ones Looking, Bill Hybels

Comments

comments