Alkisah di sebuah tempat diadakan sebuah resepsi. Makanan prasmanan telah tersedia secara lengkap, ada kambing guling, somay, chicken cordon bleu sampai es cincau pun ada semua. Dan tidak lupa minuman yang paling diunggulkan yaitu anggur yang terbaik, mungkin telah disimpan selama puluhan tahun untuk menambah rasa dari anggur tersebut telah disiapkan dalam resepsi itu.

Puluhan bahkan ratusan orang telah diundang dan telah datang menghadiri acara tersebut, mulai dari kaum muda, orang tua, kaum sudra, ksatria hingga brahmana bahkan seorang pejabat penting setempat ikut meramaikan acara tersebut.

Puluhan pelayan makanan, panitia acara, pager ayu dan pager bagus serta penerima tamu telah dipersiapkan dan didandani setampan dan secantik mungkin. Acara berjalan hikmat, dimulai saat mempelai memasuki pelaminan, doa, kata sambutan dan akhirnya ramah-tamah. Namun disinilah kegelisahan dan kekacauan terjadi, ternyata tamu membeludak, di luar perkiraan, yang hadir melebihi jumlah undangan. Hal yang amat sangat memalukan kalo seandainya para undangan tidak terlayani dan mendapat makanan sebaik mungkin.

Dan saat puluhan pelayan panik, panitia sibuk memikirkan rencana cadangan, datang seorang ibu yang memberitahukan kepada mereka kalo dia tau masalahnya, dan menyuruh mereka untuk melakukan satu hal.

“Pak, kalo orang itu menyuruh melakukan sesuatu lakukan ajah ya, jangan banyak tanya !!” (sembari menujuk sosok seseorang yang terlihat tenang tapi tampak tidak banyak membantu).

“…..” jawab pelayan itu dengan muka heran sekaligus bingung.

….

Ada yang pernah tau cerita ini, yuph ini cerita modernnya dari perjamuan pernikahan di Kana, dimana Yesus membuat mukjizat untuk pertama kalinya.

Ada sebuah ayat menangkap perhatianku, dan mungkin sedikit membuat diriku agak gimana gitu. Plus bingung dan terheran-heran juga, walaupun ayat ini sudah terlalu sering di baca atau mungkin tidak diperhatikan. Cuplikan acara diatas dapat kita bayangkan kalo kita membaca Yohanes 2:1-11.

Tetapi Ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan “apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”. (ayat 5)

Bagiku itu lebih dari sebuah perkataan iman, tetapi perkataan iman yang membangkitkan iman. Yang aku maksud adalah iman Ibu Yesus membangkitkan iman para pelayan, yang sama sekali tidak mengenal Yesus. Dan yang terjadi di akhir cerita ini adalah happy ending, dimana pelayan senang, para panitia acara senang, para tamu senang, mempelai senang dan Yesus senang.

Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!

Sebuah ucapan iman yang terlontar yang aku yakin bukan secara spontan dari mulut seorang ibu, seseorang yang mengenal sosok Yesus yang adalah anaknya sendiri, seseorang yang mungkin ingin mendeklarasikan lagi imannya, seseorang yang akan naik kelas dalam hal iman, dan seseorang yang tidak akan menyangka-nyangka bahwa hal dahsyat akan terjadi.

Dan yang terjadi adalah seorang, bahkan mungkin lebih dari satu orang, yang belum mengenal Yesus, yang bahkan sama sekali tidak terpikirkan untuk meminta bantuan Yesus, yang sedang dalam ketakutan kegelisahan dan dalam kondisi terpojok, akhirnya bisa memiliki iman untuk melakukan sesuatu yang bahkan dirinya tidak dapat memahaminya.

Berubahlah air itu menjadi anggur

Berubahlah ketakutan menjadi ketenangan

Kemustahilan menjadi kepastian

Dan masalah menjadi mukjizat

Seandainya kalian bisa memilih manakah yang kalian pilih? Seseorang yang mengatakan perkataan iman itu, atau seseorang yang terpengaruh karena perkataan iman itu? Seseorang yang ingin mengkonfirmasikan sesuatu atau seseorang yang tiba-tiba melihat mukjizat ?

Kalo aku sih pengennya bukan hanya menjadi seorang yang happy ending saat sebuah pesta berakhir tetapi happy ending saat aku diundang untuk masuk dalam pesta yang kekal, bersama Yesus.

to_faith_in_sand_1oec

BY : K.S.W_FOSters

Comments

comments