FOSters, kali ini kita mau ngobrol-ngobrol bareng nih sama salah satu Youth Inspirator kita, kak Alex Nanlohy yang saat ini aktif menjadi pimpinan cabang PERKANTAS di Jakarta juga sibuk melayani banyak kaum muda, baik melalui pelayanan pribadi, KTB, maupun pelayanan mimbar. Kak Alex bercerita bahwa momentum kehidupan Kristennya adalah ketika ia mengikuti retreat kelas 1 SMA, sejak saat itulah hubungan pribadinya dengan Tuhan semakin mendalam. Kak Alex yang pernah mengambil gelar S2 jurusan Master of Art in Global Issues of Christian Ministry di Redfield College, UK ini memiliki passion dalam pelayanan kaum intelektual muda yang Tuhan percayakan melalui siswa dan mahasiswa.

Yuk kita baca obrolan kita lebih lanjut dengan kak Alex Nanlohy, topik yang kita angkat kali ini adalah

“Kekristenan, Monument atau Movement?”

Q : Hal apa sih kak yang paling dominan di hidup kakak, yang membuat iman kakak tetap bertumbuh dalam segala kesibukan yang dialami?

Yang paling berpengaruh bagi saya adalah relasi dengan Tuhan dan juga dengan rekan-rekan seiman…
Dalam hal ini, prinsip yang paling penting adalah belajar MENYISIHKAN waktu, bukan MENYISAKAN waktu untuk berelasi dengan Tuhan secara pribadi setiap harinya.

Q : Kak, di negara-negara Eropa kekristenan terlihat mulai pudar, bahkan anak-anak muda di sana sepertinya tidak tertarik dengan kekristenan. Apa yang kakak ketahui tentang hal ini menurut pengalaman kakak, dan kira-kira apa penyebabnya?

Setelah saya studi selama 1,5 tahun di Eropa, saya pernah menuliskan refleksi saya akan hal ini dalam Majalah DIA (terbitan Perkantas) bisa dilihat di-link berikut ini.

Intinya kekristenan adalah relasi dengan Tuhan. Dan ketika kekristenan hanya menjadi sebuah budaya tanpa berakar dalam “relasi dengan Tuhan”, maka akan sangat mudah digoyahkan. Agama hanya sebagai budaya dan kebiasaan tanpa penghayatan yang dalam.

Memang tidak semua orang di Eropa meninggalkan Tuhan. Di tengah-tengah pudarnya kekristenan, masih ada juga sejumlah anak-anak muda yang bersekutu memuliakan Tuhan. Memang ada banyak gereja yang sampai dijual dan dijadikan museum atau bar. Tapi juga ada gereja yang kebaktiannya dipenuhi oleh anak-anak muda yang mau mencari Tuhan.

Saya melihat sendiri fenomena ini terjadi ketika saya studi di Eropa (2004-2005). Bahkan ada gerakan yang bertajuk “HOPE for EUROPE”, yang ingin mengembalikan Eropa kepada Tuhan. Saya pikir untuk kita di Indonesia, kita pun harus berjuang membangun kekristenan yang sungguh-sungguh berelasi dengan Tuhan. “Christianity is not about Religion, Christianity is your relationship with GOD.”

Q : Kak kami pernah baca nih menurut buku JR. Woodward dikatakan bahwa awalnya kekristenan dimulai di Palestina sebagai sebuah persekutuan, berpindah ke Yunani dan kekristenan berubah menjadi filosofi, lalu ke Roma dan kekristenan menjadi sebuah institusi, menyebar ke Eropa dan menjadi pemerintahan, hingga akhirnya menyebrangi Atlantik lalu tiba di Amerika dan menjadi sebuah ‘perusahaan’

Bagaimana pendapat kakak mengenai hal ini?

Saya melihat pandangan ini ada benarnya. Walaupun di sisi lain terlalu mengeneralisasi. Karena tentunya di sepanjang zaman selalu saja ada upaya mengkomersialisasikan Injil. Jadi ini bukan fenomena baru. Dalam surat-suratnya Rasul Paulus sendiri menegur mereka yang memberitakan Injil dengan motivasi yang tidak murni (termasuk untuk motivasi uang). Jadi semua ini fenomena yang terjadi terus menerus dalam sepanjang sejarah kekristenan sampai hari ini.
Tapi tentunya hal ini bisa menjadi bahan refleksi dan perenungan kita, sampai sejauh ini, keristenan seperti apakah yang sedang kita perjuangkan.

Q : Bagaimana menurut kakak mengenai pergerakan kekristenan di Indonesia? Apa sih tantangan terbesar yang sedang dihadapi kekristenan di Indonesia saat ini?

Secara khusus saya bersyukur melihat berbagai perkembangan yang signifikan bagi umat Tuhan di negeri ini. Ada banyak kebaktian kebangunan rohani yang diadakan. Banyak persekutuan dan gereja yang juga makin bertumbuh dan berkembang. Tapi juga masih prihatin dengan kondisi di beberapa daerah yang masih sulit untuk orang Kristen beribadah dan bertumbuh.

Saya melihat tantangan terbesar bagi kekristenan di Indonesia saat ini bukan datang dari luar tapi dari dalam. Hidup orang Kristen yang belum menyatakan Kristus secara penuh, seringkali merupakan hambatan terbesar bagi pemberitaan Injil. Ketika orang Kristen yang seharusnya menjadi garam dan terang tidak melakukan fungsi mereka di tengah dunia yang makin busuk dan gelap ini, maka ini menjadi tantangan besar. Masih ada juga orang Kristen yang ikut dalam korupsi, percabulan, sihir, perkataan yang kotor, dendam, dll. Saya ingat satu kutipan yang berkata, GOD”S WORDS CAN NEVER BE CHAINED BY IT OPPONENTS, ONLY BY IT’S MESSENGER.” Kiranya orang Kristen di Indonesia makin dipakai Tuhan menyatakan Firman-NYA bukan hanya dalam kata tapi juga daya perilaku dan karya.

Q : Apa yang anak muda bisa lakukan agar kekristenan di Indonesia bukan hanya menjadi sebuah ‘monument’ tapi bisa menjadi sebuah ‘movement’?

Terus berjuang dalam relasi yang hidup dengan Tuhan dan sesama.
Jangan jadikan kekristenan sebagai simbol semata-mata, tapi jadilah orang Kristen yang hidupnya menyatakan bahwa Yesus hidup dalam hidupmu. Monument terjadi ketika kita hanya hidup dalam “memori indah masa lalu”. Tapi movement terjadi ketika kita “terus menerus hidup bergantung kepada Allah”

Q : Adakah pesan-pesan khusus dari kakak untuk pribadi anak-anak muda yang hidup di generasi kita ini kak, khususnya di Indonesia? Mungkin juga pesan-pesan untuk mereka yang dipercayakan Tuhan untuk melayani generasi ini?

Mari terus menjadi MURID Tuhan yang sungguh. Berelasi dengan Tuhan dan sesama. Beri dirimu dilatih menjadi MURID yang bukan hanya TAHU banyak Firman tapi juga mau berjuang MELAKUKAN Firman Tuhan. Tantangan ke depan tidak akan mudah tapi Firman-Nya mengingatkan: “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.” (Mazmur 119:9)

Bagi para pelayan Tuhan di generasi ini, mari kita terus berserah dan taat untuk dipakai melayani DIA di dalam generasi ini. Seperti yang dituliskan tentang Daud, “Now when David had served God’s purpose in his own generation, … Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya, … (Kis 13:36 – NIV – TB)
Biarlah kita juga melayani/melakukan kehendak Allah pada generasi ini.

Editor : LNY

Comments

comments