Ferry FelaniFerry Felanitrisno atau lebih dikenal dengan Kak Ferry Felani adalah seorang Youth Inspirator kita kali ini. Mungkin FOSters banyak yang udah kenal ya, apalagi kalo kalian ikut acara FEC tahun lalu, pasti udah enggak asing lagi sama khotbah-khotbahnya yang menginspirasi. Nah gimana kalo sekarang kita mengenal Youth Inspirator yang satu ini lebih dekat lagi!

Ferry Felani yang lahir di Jakarta, 7 Februari 1982 ini punya hobi membaca buku, belanja, sharing, jalan-jalan, main dan dengerin musik. Suami dari Vania Valencia ini juga memiliki kesibukan menggembalakan dan mengembangkan gereja serta tidak pernah berhenti untuk belajar. Ayat favorit dari Kak Ferry adalah Yohanes 6:63 “Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.”

Ketika ditanya mengenai tujuan hidupnya, Kak Ferry Felani menyebutkan 3 hal utama; 1. Disempurnakan oleh Tuhan Yesus supaya bisa melakukan dan menyelesaikan rencana-Nya dalama generasi ini dengan cara membapai orang-orang yang Tuhan berikan. 2. Merintiskan dan mengembangkan pelayanan komunitas. 3. Membagikan kasih karunia dan mengimpartasikan kebenaran sama ke bangsa-bangsa.

Sebagai seorang Youth Inspirator (seseorang yang menginspirasi kaula muda) Kak Ferry juga punya visi loh di dalam hidupnya.. Visi atau mimpi terbesarnya adalah:

1. membangun gereja komunitas yang besar dan tersebar dengan banyak pemimpin berkualitas yang dilahirkan
2. membuat konferensi yang besar untuk memperlengkapi tubuh Kristus
3. menjadi pembicara konferensi di bangsa-bangsa
4. melihat kebangunan rohani terjadi di sekolah-sekolah dan kampus-kampus di Indonesia, terutama Jakarta.

Wah luar biasa yah Guys! Kita doakan semoga seluruh visinya dapat terlaksana^^.

Setelah kita membaca sedikit mengenai profilnya, yuk sekarang kita simak wawancara  yang dilakukan oleh FOS bersama Kak Ferry dengan tema “Memperbaiki hubungan kita dengan Tuhan dan sesama.”

FOS Community (FOSCom) :  Kak Ferry sekarang lagi sibuk apa?

Kak Ferry Felani (KFF) : Sekarang Kak Ferry lagi sibuk belajar jadi suami yang maksimal (seperti pesan papi mertua waktu sebelum menikah)… Hehehe… Buat Kak Ferry menjadi suami merupakan peran yang sama sekali baru. Tapi sangat menyenangkan! Tidak seburuk yang orang katakan tentang pernikahan. Terutama jika kita mau mencintai 4 kata ini: Tanggung Jawab, Disiplin, Fokus dan Prioritas. Kak Ferry lagi belajar banyak tentang 4 hal ini.

Selain itu Kak Ferry juga sedang sibuk untuk fokus mengembangkan penggembalaan di Kelapa Gading. Mengembangkan struktur gereja, departemen-departemen pelayanan, membagikan visi-misi-nilai, membangun network, memobilisasi kelompok sel sambil terus mengembangkan gereja yang ada di Jakarta Timur. Karena kesibukan ini, Kak Ferry memutuskan untuk tidak banyak melayani di luar. Kecuali hari biasa (weekdays). Tapi kalo weekend (sabtu-minggu), Kak Ferry memfokuskan diri untuk gereja yang Kak Ferry sedang gembalakan (kecuali ada tuntunan tertentu dari Bapa).

FOSCom : Kapan Kak Ferry memutuskan untuk melayani Tuhan pada masa muda, ceritain dong kisahnya?

KFF : Kak Ferry memutuskan untuk terjun ke pelayanan sejak kelas 2 SMU. Pada saat itu Kak Ferry merasa terpanggil untuk melayani Tuhan sepenuh waktu. Hal tersebut dikonfirmasi oleh bapa rohani Kak Ferry, namanya Roy Angga Wijaya. Sejak SMU Kak Ferry sudah pelayanan. Pelayanannya antara lain: main gitar, pemandu OHP, penerima tamu dan petugas kolekte. Baru mulai diundang khotbah di gereja, pada usia 20 tahun. Lebih dari itu, Kak Ferry dari dulu suka bersaksi sama teman-teman, sehingga ada yang dimenangkan bagi Yesus. Sejak SMU Kak Ferry sudah senang membaca buku-buku rohani (bahkan buku teologi) milik Ko Roy. Karena dipicu oleh rasa ingin tahu, Kak Ferry sangat suka belajar. Sebagai hasilnya, Kak Ferry suka menjelaskan segala sesuatu yang Kak Ferry pelajari dari alkitab kepada teman-teman yang lain.

FOSCom : Kak, pernah nggak mengalami rusaknya relasi dengan Tuhan dan sesama? Share sedikit dong Kak salah satu kisahnya?

KFF : Wah pernah banget! Kalo dengan Tuhan, pernah mengalami kendornya jam doa. Meskipun sedang sekolah di STT. Pernah juga ketika diawal-awal menggembalakan. Dalam pengalaman Kak Ferry, relasi yang rusak dengan Tuhan dikarenakan: Hati, pikiran dan waktu kita disita oleh sesuatu yang sangat kita sukai. Bisa film, benda, hubungan, dll. Kak Ferry ingat 2 momen dimana Kak Ferry mengalami kehancuran jam doa karena Kak Ferry lagi gandrung dengan serial film Fist of Fury (serial film kung fu yang diperankan oleh Donny Yen, pernah ditayangkan di TV) dan serial film Meteor Garden. Walaupun keliatannya sepele, tapi Kak Ferry sempat mengalami kekeringan rohani karena runtuhnya kehidupan doa. Masalahnya bukan sekedar tidak punya waktu untuk berdoa. Melainkan hati dan pikiran Kak Ferry terlalu dikuasai oleh segala sesuatu yang Kak Ferry sukai. Sudah sampai tahap penyembahan berhala. Karena fokus penyembahan salah, akibatnya hubungan dengan Tuhan jadi rusak.

Kalo dengan teman, Kak Ferry pernah mengalami konflik di dalam pelayanan yang menyebabkan hubungan yang akrab jadi renggang. Ada sikap-sikap yang kurang dewasa, kesalahpahaman, sikap tidak mau mengampuni, egois dan tidak mau merendahkan diri untuk mengakui kesalahan dan minta maaf. Tapi puji Tuhan, sekarang hubungan tersebut dipulihkan oleh Tuhan.

“Jikalau TUHAN berkenan kepada jalan seseorang, maka musuh orang itupun didamaikan-Nya dengan dia.” (Amsal 16:7).
“Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini.” (Amsal 21:1).
“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Roma 12:18).
“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Matius 7:12).

*Ini merupakan ayat-ayat pegangan Kak Ferry dalam hal relasi dengan manusia.

FOSCom : Ceritain dong Kak masa-masa Kak Ferry diproses dalam hal memperbaiki hubungan dengan sesama?
KFF : Salah satu proses yang harus Kak Ferry jalanin dalam masalah hubungan ialah: kerendahan hati. Kakak sangat sering disalahpahami oleh orang lain, sehingga akhirnya muncul konflik. Karena Kak Ferry merasa tidak bersalah, Kak Ferry sering bersikap pasif. Menunggu orang lain minta maaf. Tapi Tuhan mengajarkan Kak Ferry melalui Mat 7:12, bahwa apa yang kita kehendaki orang lain perbuat pada kita, kita perbuat dulu untuk dia. Simple-nya, jadilah orang pertama yang berani melakukan apa yang benar. Akhirnya Kak Ferry belajar untuk berani minta maaf di dalam hubungan. Dengan kerendahan hati, masalah lebih cepat selesai.

FOSCom : Pernah nggak Kak Ferry punya suatu momen dimana Kak Ferry merasa ada sesuatu yang salah dengan hidup Kak Ferry, lalu merasa hanya Tuhan yang sanggup memperbaiki. Bisa share sedikit Kak?
KFF : Yes, pernah! Ketika Kak Ferry baru bertobat, Kak Ferry merasa sangat berapi-api krn mengalami kasih mula-mula. Tapi Kak Ferry merasa kasih mula-mula tersebut tidak berlangsung terlalu lama. Padahal Kak Ferry sudah mengusahakan segala sesuatu. Sampai setelah mengalami pergumulan yang panjang, Kak Ferry memahami akar masalahnya. Kehidupan rohani Kak Ferry sangat dipengaruhi oleh apa yang pernah terjadi di masa lalu. Ada banyak luka yang belum dibereskan. Kak Ferry hidup sebagai orang Kristen yang tidak bisa menerima diri sendiri, hidup dengan akar penolakan, minder, susah punya iman, mengalami banyak ketakutan. Sampai akhirnya Tuhan menyingkapkan kebenaran-kebenaran yang memulihkan, sekaligus membawa Kak Ferry bertemu dengan komunitas untuk dapat mengalami kasih, didewasakan dan menghidupi kebenaran.

FOSCom : Apa aja sih yang Tuhan ingin perbaiki dari hidup kita?
KFF : Banyak banget yang Tuhan ingin perbaiki. Semuanya disingkat dengan satu kata: kemuliaan (Roma 6:23). Dosa telah membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah. Manusia memerlukan perbaikan pada: karakter, identitas, rasa berharga, potensi, cara berpikir, prinsip hidup dan tujuan hidup.

FOSCom : Trus Kak, apa sih dampaknya jika kita mau hidup kita diperbaiki oleh Tuhan?
KFF : Dampaknya, kita akan semakin peka terhadap suara Tuhan, dipakai Tuhan dengan penuh kuasa, mampu dipercaya lebih oleh Tuhan…

FOSCom : Melalui apa saja sih Kak, Tuhan itu memperbaiki hidup kita?
KFF : Tuhan memperbaiki kita pertama-tama melalui Firman-Nya. Diperlukan huibungan pribadi dengan DIA agar firman tersebut hidup dan mengubahkan hidup kita dari dalam. Yang kedua, dari komunitas orang percaya di mana kita tertanam, melihat teladan dan mengalami kasih. Yang ketiga, kita diperbaiki melalui masalah dan konflik dengan orang lain. Tentunya diperlukan respon yang tepat supaya hasilnya baik.

FOSCom : Menurut Kak Ferry, apa sih yang melatar belakangi seseorang tidak mau “diperbaiki” hidupnya oleh Tuhan?
KFF : Latar belakang mengapa ada (banyak) orang yang tidak mau “diperbaiki” hidupnya, antara lain karena:

1. Ia tidak merasa ada yang salah dengan hidupnya. Ia tidak sadar akan hal-hal yang harus diubah. Ia selalu merasa bahwa masalah-masalah yang terjadi di dalam hidupnya selalu disebabkan oleh orang lain. Jika tidak kita tahu atau mengerti bahwa hidup kita ada yang salah, tentunya kita tidak akan terbuka terhadap perbaikan. Kita memerlukan “pengalaman mata yang terbuka” untuk bisa melihat keadaan diri kita yang sesungguhnya, sehingga mulai menemukan hal-hal yang harus diperbaiki.
2. Hal berikutnya yang menyebabkan seseorang tidak mau diperbaiki ialah kebiasaan membuat alasan atau membenarkan diri. Pernah nggak kita mendengar seseorang yang bilang: “Gue sih orangnya emang kayak gini,” atau “Gue orangnya paling gak bisa digituin,” atau “Gue orangnya emang gini, bawaannya gak sabaran.” Kalimat-kalimat di atas sebenarnya hendak menyatakan bahwa orang tersebut tidak mau berubah. Dia mau orang lain tahu bahwa sifatnya memang seperti itu, dan mereka harus memakluminya. Kebiasaan membuat alasan dan suka membenarkan diri merupakan salah satu penghalang utama untuk seseorang mengalami perbaikan. Akui saja bahwa apa yang kita lakukan salah dan merugikan orang lain. Minta maaflah jika karena sikap kita ada orang yang dirugikan atau dilukai. Dan akui bahwa kita membutuhkan bantuan dan dukungan orang lain untuk berubah.
3. Tidak bersedia membayar harga perubahan. Perbaikan selalu menuntut sebuah harga. Sama seperti perbaikan jalan, menyebabkan macet dan kotornya jalanan, demikian juga perbaikan hidup dapat menyebabkan banyak ketidaknyamanan bahkan rasa sakit. Namun ketidaknyamanan dan rasa sakit yang menyehatkan ini perlu. Seperti halnya pisau operasi yang digunakan untuk mengeluarkan tumor dan kanker. Suatu kali kita harus memilih, apakah kita akan mengalami rasa sakit karena disiplin yang kita usahakan untuk berubah atau rasa sakit karena kehancuran akibat tidak mau berubah.
4. Takut apa kata orang lain. Banyak orang, terutama anak muda, menjadi tidak nyaman untuk “diperbaiki” dan mengenakan gaya hidup yang baru, karena takut akan komentar teman-temannya. Kita harus berani mengambil keputusan yang benar sesuai firman Tuhan, tanpa takut terhadap penilaian orang lain. Jika kita berubah dan hidup kita menjadi maju, tentunya kita akan merasakan keuntungannya. Namun jika kita mengalami kehancuran, teman-teman kita belum tentu mau menolong kita. Kita harus lebih mempertimbangkan apa kata Tuhan, daripada apa kata orang lain tentang kita.

FOSCom : Kenapa ya seringkali proses yang diberikan Tuhan untuk memperbaiki diri kita adalah proses yang tidak menyenangkan untuk dijalani?
KFF : Kak Ferry percaya kalo hidup Kristen itu harus seimbang. Ada saat-saat yang penuh masalah, tapi ada juga saat-saat penuh kemenangan. Proses merupakan agenda Allah yang sangat penting bagi anak-anak-Nya. Allah sangat ingin mendewasakan kita, karena IA ingin mempercayai kita lebih lagi. Untuk menjadi dewasa, kita perlu proses. Pengetahuan Alkitab saja tidak menjadikan kita dewasa. Kita didewasakan ketika kita menghidupi kebenaran yang kita ketahui secara berulang-ulang, dalam setiap kondisi kehidupan, sehingga kebenaran tersebut menjadi daging di dalam kehidupan kita.

“Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (Matius 11:29-30)

Memikulkan kuk-nya Tuhan, itulah proses. Yesus bilang bahwa “kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” Yang membuat proses itu menyakitkan ialah: karena “kedagingan kita.” Hidup yang dikuasai keinginan dan keangkuhan, itulah yang membuat proses itu menyakitkan buat kita. Karena itu ada 2 kunci: lemah lembut dan rendah hati. Dengan hati yang lemah lembut dan memiliki kerendahan hati, kita akan bisa lulus ujiannya Tuhan.

Besarnya rasa sakit tidak menjamin besarnya perubahan. Kak Ferry banyak menemukan orang yang telah mengalami rasa sakit karena prosesnya Tuhan, namun tetap tidak berubah. Terkadang mereka bersembunyi dibalik alasan-alasan yang rohani mengenai keadaan mereka. Kak Ferry percaya bahwa hidup seseorang akan dinilai dari buahnya, bukan sekedar banyaknya dan besarnya penderitaan. Tuhan tidak merancang hidup kita berisi ujian semua. Ada saatnya ujian, ada saatnya memulai pelajaran, ada juga saatnya liburan. Tuhan kita itu seimbang.

Karena itu, jika bicara tentang penderitaan, kita harus tahu penderitaan itu disebabkan oleh apa? Apakah kesalahan orang lain? Kesalahan kita sendiri? Atau kesalahan kita yang tidak mau kita perbaiki? Setiap anak-anak Tuhan harus belajar untuk tidak merohanikan alasan atas masalah yang mereka hadapi. Kalo nggak tahu, lebih baik bilang nggak tahu. Kalo ditegor oleh pemimpin, harus memiliki kerendahan hati. Jika respon-nya tepat, maka hasilnya pasti akan baik.

FOSCom : Dalam kehidupan pribadi Kak Ferry, ada nggak yang sampai saat ini harus diperbaiki?
KFF : Wah, masih banyak banget yang harus Kak Ferry perbaiki. Di antaranya ialah masalah fokus dan disiplin. Kak Ferry tumbuh menjadi dewasa tanpa diajar untuk memiliki fokus dan disiplin yang baik. Dampaknya sangat terasa dalam kehidupan pribadi dan pelayanan. Ada hal-hal yang Kak Ferry sesali. Anak muda biasanya kurang suka dengan kata “disiplin.” Padahal, jika kita tidak suka dengan rasa sakit karena “disiplin”, kita akan mengalami rasa sakit yang jauh lebih buruk, yaitu rasa sakit karena gagal.

Kak Ferry bersyukur ada isteri, teman-teman dan komunitas yang membantu Kak Ferry untuk belajar lebih lagi mengenai disiplin. Dulu Kak Ferry sangat tidak nyaman setiap kali mendengar kata “disiplin.” Kak Ferry mudah merasa terhakimi dengan kata “disiplin.” Dan tentunya Kak Ferry tidak suka dibilang “tidak disiplin.” Sekarang Kak Ferry belajar mencintai kata “disiplin.” Semua harus diawali dengan BERHENTI MEMBUAT ALASAN (apalagi merohanikan alasan-alasan kita). Jika kita tidak mengakui adanya masalah dalam diri kita, maka kita tidak akan pernah berusaha untuk memperbaikinya. Jadi sekarang ini lagi terus “menabrakkan diri” dengan kebenaran, supaya bisa menjadi suami dan pemimpin yang jauh lebih baik lagi.

FOSCom : Apa sih Kak yang harus kita ingat supaya kita senantiasa mau “diperbaiki” hidupnya oleh Tuhan?

KFF : Jika Daud tidak pernah bertemu Goliath, maka Daud tidak akan menjadi raja. Perjumpaan Daud dengan Goliath membuat kemampuan Daud yang sesungguhnya dikenali oleh semua orang Israel. Dengan menghadapi “raksasa” yang ada dihadapannya, Daud benar-benar membuktikan bahwa dia benar-benar diurapi dan dipilih oleh Allah.
Jangan lari dari tantangan! Hadapilah! Setiap tantangan yang ada dihadapan kita merupakan pintu bagi promosi yang akan Allah kerjakan dalam hidupmu!

FOSCom : Terakhir, apa pesan Kak Ferry untuk para pembaca terutama untuk anak-anak muda?

KFF : Kita disebut umat pilihan Allah, bukan hanya karena Allah memilih kita, tetapi juga karena kita memilih untuk mengasihi dan menyembah Allah melalui pilihan-pilihan yang kita buat setiap hari. Pilihlah untuk terus bertobat, terus intim dengan Roh Kudus, untuk terus mencintai kebenaran, untuk mengasihi orang lain, untuk terus membawa jiwa-jiwa bagi Yesus, untuk melayani sesuai dengan karunia yang telah Allah berikan. Buatlah pilihan-pilihan yang benar dalam hidupmu! Buatlah selalu pilihan yang benar, setelah membuat pilihan yang salah. Pilihlah untuk selalu mengutamakan Yesus dalam hidupmu!

Comments

comments